Mana Suka Siaran Niaga


Saya dalam Kamera Ed Zoelverdi

BLOKABAR

Wah, saya masuk nominasi Anugerah Sagang lagi, untuk kategori yang sama dengan tahun lalu: ANUGERAH SERANTAU. Tahun ini saya "bersaing" dengan 1. Abdul Kadir Ibrahim (Tanjungpinang)2. Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (Jogjakarta) 3. Tusiran Suseno (Tanjungpinang), dan 4. Yayasan Panggung Melayu (Jakarta). Awal bulan depan, pemenang akan diumumkan. Saya tentu saja menghargai kerja serius panitia dan juri dari Yayasan Sagang. Tapi, ah tetap saja belum merasa telah berbuat apa-apa (stay hungry, stay foolish, kata Steve Jobs) dan dengan begitu saya juga merasa tak berhak untuk mengharap apa-apa.

INI blog saya yang kesekian setelah blog SEJUTA PUISI yang terkenal itu ;-)

hasanaspahani search engine, cobalah! .:. Saya menambahkan dua kategori tulisan, yaitu BLOWJOKE dan INSPIRIT - yang pertama lelucon-lecucon semoga saja bisa menggelitik kecerdasaan humor. Yang kedua tulisan-tulisan yang semoga saja mencerahkan .:. SELAMAT DATANG di BULAN RAMADAN 1429 H. Allah itu Baik. Ia ciptakan PUASA, sebuah rangkaian ibadah yang UNIK. Terima Kasih, Ya Allah .:. Wawan Eko Yulianto yang kini sedang di Arkansas berkomentar: SATU LAGI PENYAIR HADIR DI FACEBOOK. Sebenarnya saya sudah lama punya akun di mainan hebatnya bocah Zuckerman itu, cuma gak tahu harus diapakan. Sekarang tampaknya bakal keasyikan. Di antara teman-teman baru facebooker saya: Nirwan Dewanto dan Hermawan Kertajaya.

ATAS undangan Ministry of Information, Culture and Arts (MICA) Singapura, saya akan berada di negeri itu 27 Oktober hingga 1 November 2008. Saya diundang sebagai jurnalis, bukan sebagai penyair, dan tentu juga bukan sebagai blogger. Semoga akan banyak oleh-oleh menarik dari sana.

Oktober 15, 2008

Ganti Gigi

Oleh Hasan Aspahani

SAYA bukan manajer yang baik bagi gigi-gigi saya. Manajemen pergigian saya kacau. Tidak, saya bukan ingin bikin pengakuan bahwa saya orang yang malas menggosok gigi. Saya menggosok gigi sama dengan orang lain. Tapi saya harus akui bahwa gigi saya bukanlah bagian yang bisa saya banggakan.




Sejak kecil gigi susu saya sudah tidak beres. Ini pasti gara-gara keseringan menggugut tebu. Di kampung dulu kami makan tebu dan mangga dengan langsung mengupasnya dengan gigi, tanpa pisau, lalu mengunyahnya langsung seperti mesin giling. Bayangkan kulit tebu yang keras itu beradu dengan gigi-gigi susu kami. Lama-lama rompal juga. Kebiasaan menggugut tebu dan mangga berlanjut sampai gigi-gigi baru kami tumbuh dan hasilnya sama saja, lapiran email gigi pun lama-lama menipis dan jebol juga akhirnya.

Kondisi pergigian kami pun tambah buruk karena bagi kami yang tinggal di kampung kawasan pesisir dulu tak ada pilihan untuk berkumur dan menyikat gigi kecuali air sumur yang payau atau air hujan. Karena berkumur dengan air payau sungguh tak nyaman, rasanya gigi tak kunjung bersih, pilihannya sering kali jatuh pada air hujan yang nol kalsium dan dengan kejam menggerus lapisan gigi. Akibatnya, ya sama juga, rata-rata orang kampung kami giginya tidak beres.

Gigi dewasa saya mulai tampak rapuh sejak SMA, dan ketika kuliah saya harus mengenakan gigi palsu. Gigi depan saya yang asli patah ketika mengudap tempe goreng bersalut tepung. Ini makanan murah dan gurih plus lauk yang bergizi. Sebenarnya alasan utama jatuh pada tempe karena ya murahnya itu. Mungkin karena keseringan makan tempe gigi saya protes, maka patahlah dia. Gigi saya yang patah itu sesungguhnya masih bisa ditambal karena patahnya kurang lebih separo saja. Tapi uang kuliah dan fotokopi diktat lebih penting daripada gigi. Biaya menambal gigi waktu itu sama dengan SPP setahun. Maka, dicarilah alternatif termurah: bikin gigi palsu. Patahan gigi yang tersisa dipotong habis tanpa dicabut. Saya harus membolos kuliah dua hari sampai gigi palsu itu jadi. Pada hari pertama dengan gigi baru itu, saya melangkah ke kampus sambil menghibur diri dengan mengatakan bahwa Ratu Elizabeth I dari Inggris dan Presiden George Washington dari Amerika Serikat adalah tokoh yang memakai gigi palsu juga.

Bertahun-tahun saya hidup dengan satu gigi tambahan yang saya dapat dari tukang gigi di Bogor itu, sampai hari ini. Nah, sementara itu kerusakan pada gigi-gigi saya menjalar. Dua geraham bawah masing-masing di kiri dan kanan sudah lama dicabut juga. Kini dua geraham kiri atas dan dua geraham kanan atas juga tak bisa diselamatkan lagi.

Dan minggu-minggu ini saya pun berada di ruang dokter gigi lagi. Tak baik menakut-nakuti orang, tapi saya harus bilang berada di ruang dokter gigi itu seperti nonton film horor yang pemain korban utamanya kita sendiri. Dua kali kunjungan saya belum diperkenankan mencabut gigi sebab tekanan darah saya tinggi sekali. Mungkin karena tegang membayangkan bagian tubuh saya dilepas paksa, tekanan darah saya naik sampai 170. Setelah ditenangkan pun hanya turun sampai 150. Padahal saya punya kecenderungan darah rendah. Dua bulan sebelumnya, ketika cek tekanan darah saya hanya 90.

Bayangkan adegan 'horor' ini: saya hanya terbaring, dengan sorot lampu terang yang memaksa kita harus memejamkan mata - saya kira itulah fungsi utamanya, membuat silai pasien dan bukan untuk menerangi lorong mulut -, dengan mulut terbuka, dan terus terbuka selama gigi-gigi saya digarap. Saya tak bisa menyaksikan bagaimana alat-alat itu menjelajah gigi-gigi dan mulut saya. Saya hanya bisa mendengar suara bor, dan suara gigi dicongkel, dikerik, dan suara pengisap jika cairan di mulut saya telah penuh. Suara-suara menyeramkan itu, sialnya, terdengar amat jelas, sebab terjadinya di rongga kepala yang sama dan hanya beberapa senti dari gendang telinga.

Untungnya dokter dan asistennya yang mengurus gigi-gigi saya sekarang bisa mengurangi atmosfer horor itu. Sepanjang dua jam lebih berbaring - untuk menambal dua gigi pada kunjungan kedua saya malam kemarin - mereka ngobrol dan bertukar cerita macam-macam sambil sesekali menyebut-nyebut istilah medis yang tak saya mengerti tapi saya pastikan itu berkaitan dengan kondisi parah gigi-gigi saya. Komunikasi saya dengan mereka selama itu hanya dengan mengangkat tangan bila bor telah menyentuh ujung syaraf dalam gigi dan saat itulah terasa ngilu. Istri saya bilang, para dokter itu memang begitu. Ia dapat pengalaman itu dari dua kali operasi caesar. Pada operasi kedua, dia dibius separo. Dokter Iman T Rahman dan Dokter Joni Kurnadi (alm), sambil membedah malah ngobrol tentang orang demo dan akhirnya ngomong tentang makanan. Istri saya heran, di depan darah dan tembuni - yang lebih 'horor' itu - kok membicarakan makanan.

Dua jam setengah? Ya, itulah waktu yang diperlukan untuk menambal dua gigi depan saya. "Lama, Pak ya? Allah sekali kun fayakun jadi deh semua gigi kita, bagus lagi," kata Dokter Reffi yang seperti maestro seniman patung merekonstruksi gigi saya itu. Dalam hati saya, "ya, bagus dan Allah menggratiskan pula gigi-gigi bagus itu!" Ah, jadi ingat sebuah ayat Quran yang berulang-ulang menyebut, "nikmat Tuhanmu yang mana yang kamu dustakan?" Lewat nikmat gigi saja, saya tak akan pernah cukup mengucapkan rasa syukur.

Urusan gigi saya masih jauh dari beres. Saya harus beberapa kali lagi datang ke Apotik Vitka Farma tempat praktek dokter tersebut. Dan nanti setelah gigi terakhir yang harus disingkirkan telah dicabut, maka saya harus menunggu dua minggu sebelum merancang pelat gigi palsu yang baru.

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kalau saya hidup pada tahun-tahun sekitar 700 SM. Pada tahun itulah, menurut penelusuran pada dan catatan sejarah gigi palsu mulai dikenal. Pada masa itu gigi palsu terbuat dari gading, tulang ikan paus atau tulang kudanil.

Ada pada suatu masa, ketika orang miskin yang putus asa menjual gigi aslinya, untuk dibeli dan dijadikan gigi palsu oleh orang kaya yang kebetulan gigi aslinya tanggal, atau patah. Jual beli ini tidak langsung, sangat mungkin lewat semacam pialang atau calo gigi yang saya bayangkan untung besar. Beli dari orang miskin dengan harga murah, jual ke orang kaya dengan harga tinggi. Kepada orang kaya tentu dia akan mengarang cerita siapa pemilik asli gigi asli itu - yang pasti tidak akan dimiskin-miskinkan amat. Supaya harga komoditi giginya melonjak tinggi. Oh, ya kadang pialang gigi palsu tapi asli itu juga mendapat pasokan dari gigi mayat korban perang. Huh, tak terbayang kalau saya memakai gigi palsu dari mayat korban perang.

Gigi palsu dan ban mobil ternyata bersaudara. Tak percaya? Ini ceritanya. Gigi palsu yang murah dan nyaman seperti sekarang diciptakan pada 1839 oleh Nelson Goodyear. Nelson membuat gigi dari karet keras atau vulcanite. Dia ini orang Amerika dan bersaudara kandung dengan Charles Goodyear - pengusaha yang terkenal dengan pabrik ban Goodyear-nya. Gigi palsu made in Nelson laku keras dan dibuat besar-besaran dan Nelson kaya raya dari royalti atas paten atas ciptaannya ini. Tapi hak paten itu dilepaskan saja oleh Nelson pada tahn 1881 setelah pengacaranya Josiah Bacon tewas di tangan seorang dokter gigi yang kesal karena sang pengacara kelewat rajin menagih royalti.

Saya tentu tak perlu membayangkan gigi baru saya nanti terbuat dari gading, tulang ikan paus, tulang kuda nil, dan tak perlu pula saya membayar royalti pada Nelson Goodyear. Saya juga tak akan memilih emas untuk gigi baru saya itu. Dulu di kampung orang-orang Bugis suka memakai gigi emas. Sampai timbul seloroh, kalau musim laut ganas, maka gigi emas itu digadaikan karena kebanyakan pendatang Bugis di kampung saya hidup sebagai nelayan. Bila musim angin selatan, ombak besar, mereka tak bisa melaut. Saya tak tahu apakah Pegadaian sekarang mau menerima gigi emas untuk digadaikan.

Emas atau bukan emas, gigi itu mahal. Apalagi kalau gigi inplant seperti pernah saya baca dari tulisan Pak Dahlan Iskan beberapa tahun lalu jauh sebelum dia ganti hati, setelah dia sendiri menjalani proses ganti gigi di China.

Zig Ziglar bahkan menyebut gigi-gigi yang rata adalah aset sejati. Maka, dia pun tak pernah merasa rugi berinvestasi bagi gigi-giginya dan gigi-gigi empat anaknya. Investasi itu dia sebut dalam buku kecilnya "Something Else to Smile About" berupa kawat gigi. Dia sampai pada sebuah kesimpulan (saya setuju 100 persen pada kesimpuan ini) begini: "Luruskan gigi Anda maka Anda akan memiliki senyum kemenangan. Luruskan dan kuatkan karakter Anda, maka kehidupan akan tersenyum kepada Anda".***

1 blokomentar:

humas mengatakan...

Mohon maaf, sampai saat ini Pegadaian tidak menerima gigi emas sebagai jaminan kredit. Kecuali emas tersebut telah dilebur dan tentunya terlepas dari gigi, dengan alasan agar diketahui berapa berat dan kadar emas murninya. Sedangkan gigi yang dilapis emas untuk sementara bisa dimodifikasi menjadi liontin, siapa tahu justru menjadi barang antik yang lebih mahal dari emas pelapisnya.
Terima kasih...