Mana Suka Siaran Niaga


Saya dalam Kamera Ed Zoelverdi

BLOKABAR

Wah, saya masuk nominasi Anugerah Sagang lagi, untuk kategori yang sama dengan tahun lalu: ANUGERAH SERANTAU. Tahun ini saya "bersaing" dengan 1. Abdul Kadir Ibrahim (Tanjungpinang)2. Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (Jogjakarta) 3. Tusiran Suseno (Tanjungpinang), dan 4. Yayasan Panggung Melayu (Jakarta). Awal bulan depan, pemenang akan diumumkan. Saya tentu saja menghargai kerja serius panitia dan juri dari Yayasan Sagang. Tapi, ah tetap saja belum merasa telah berbuat apa-apa (stay hungry, stay foolish, kata Steve Jobs) dan dengan begitu saya juga merasa tak berhak untuk mengharap apa-apa.

INI blog saya yang kesekian setelah blog SEJUTA PUISI yang terkenal itu ;-)

hasanaspahani search engine, cobalah! .:. Saya menambahkan dua kategori tulisan, yaitu BLOWJOKE dan INSPIRIT - yang pertama lelucon-lecucon semoga saja bisa menggelitik kecerdasaan humor. Yang kedua tulisan-tulisan yang semoga saja mencerahkan .:. SELAMAT DATANG di BULAN RAMADAN 1429 H. Allah itu Baik. Ia ciptakan PUASA, sebuah rangkaian ibadah yang UNIK. Terima Kasih, Ya Allah .:. Wawan Eko Yulianto yang kini sedang di Arkansas berkomentar: SATU LAGI PENYAIR HADIR DI FACEBOOK. Sebenarnya saya sudah lama punya akun di mainan hebatnya bocah Zuckerman itu, cuma gak tahu harus diapakan. Sekarang tampaknya bakal keasyikan. Di antara teman-teman baru facebooker saya: Nirwan Dewanto dan Hermawan Kertajaya.

ATAS undangan Ministry of Information, Culture and Arts (MICA) Singapura, saya akan berada di negeri itu 27 Oktober hingga 1 November 2008. Saya diundang sebagai jurnalis, bukan sebagai penyair, dan tentu juga bukan sebagai blogger. Semoga akan banyak oleh-oleh menarik dari sana.

Oktober 10, 2008

Jaga Lima, Sebelum Lima

HAFALKAN empat puluh hadist, engkau akan terbebas dari siksa kubur. Saya ingat kalimat itu dulu diucapkan oleh guru sekolah arab kami dulu di kampung, nun di Kalimantan sana. Ia mengutip dari sebuah hadist. Di kampung kami dulu setiap anak harus sekolah arab di sore hari. Bercelana panjang dan berpeci. Pagi kami sekolah melayu. Ya, begitulah orang-orang tua kami membedakan jalur pendidikan. Sekolah melayu adalah sekolah dasar yang guru-guru, bangunan sekolah, bangku-meja, dan buku-buku, semua disediakan oleh pemerintah. Sekolah arab itu madrasah yang sepenuhnya swadaya. Gedung, honor guru, buku-buku, diupayakan sendiri oleh orang-orang kampung.




Saya merasakan, bagi orangtua kami saat itu, kedua sekolah itu penting. Ilmu yang didapat di sekolah melayu untuk bekal mengejar kehidupan yang baik di dunia, sedangkan ilmu di sekolah arab untuk sangu kehidupan kelak di akhirat. Kami didorong untuk disiplin di kedua sekolah itu. Meskipun ya namanya juga anak-anak, kami rada indisipliner saat sekolah sore.

Saya tak tahu kenapa kami menyebutnya sekolah arab. Mungkin karena sebagian besar ilmu yang diajarkan berasal dari kata arab. Mungkin itu diadaptasi dari pelajaran di pesantren, karena sebagian guru-guru sekolah arab adalah lulusan pesantren. Sejarah Islam disebut Tarikh, Bahasa Arab disebut Logat, menulis indah namanya Khot. Kami juga belajar Fikih, Tauhid, Adab dan Akhlak, Alquran dan Hadist, dan Hisab. Yang terakhir itu ilmu berhitung dalam aksara arab. Semacam matematika.

Pelajaran yang paling saya sukai di sekolah arab itu Khot dan Alquran dan Hadist. Khot itu menulis indah. Kami harus meraut mata pensil sedemikian rupa sehingga tulisan yang dihasilkan bergradasi tebal tipis. Garis tegak tipis, garis datar tebal. Ya, ini ilmu kaligrafi. Saya selalu mendapatkan nilai bagus untuk pelajaran ini. Mininal ponten saya dapat angka delapan-lah.

Saya juga menggemari pelajaran hadist, karena dalam pikiran saya dan kawan-kawan - para bocah yang belum lagi akil balig - targetnya mudah. Kami harus hafal empat puluh hadist. Supaya lepas siksa kubur. Kalau setiap minggu kami menghafal satu hadist maka dalam setahun target tercapai. Tentu saja guru pengajar menjelaskan intisari dari hadist yang diajarkan. Dia juga menjelaskan apa sebab nabi mengatakan sesuatu, melakukan sesuatu, atau berdiam saja terhadap sesuatu sehingga sebuah hadist pun tercatat.

Salah satu hadist favorit kami adalah: jaga lima perkara sebelum datang lima perkara, sehat sebelum sakit, lapang sebelum sempit, muda sebelum tua, kaya sebelum miskin, dan hidup sebelum mati. Maaf, barangkali saya mengutip hadist ini tidak urut.

Betulkah dengan hafal 40 hadist maka kami akan lepas dari siksa kubur? Padahal hadist itu kan ribuan jumlahnya? Kami tidak pernah bertanya waktu itu. Tapi, kini saya kira bukan hafalnya yang penting tapi bagaimana kami bisa mengamalkan ajarannya dalam kehidupan.

Tak usah mengamalkan 40 hadist, satu saja deh pasti selamat. Satu saja, saya pilihkan hadist tentang lima sebelum lima itu. Saya percaya hadist tadi cocok untuk diajarkan sedini mungkin kepada anak-anak, seperti kami dahulu. Anak-anak memiliki lima hal yang harus dijaga sebelum datang lima perkara berikutnya. Anak-anak punya harapan kehidupan, jelas masih muda, punya waktu lapang dan panjang, sehat, dan kalaupun kami lahir dari keluarga yang tidak kaya, kami tentu tidaklah terlalu miskin. Kalaupun orangtua kami tidak kaya, kami toh punya harapan untuk meraih kehidupan yang lebih beruntung.

Sekarang pun setiap kali melangkah saya sering mengukur diri dengan lima perkara itu. Jika ingin menunda suatu pekerjaan, maka saya bilang pada diri saya sendiri, ayolah kerjakan sekarang mumpung masih lapang, kalau sudah kepepet nanti malah tak sempat lagi. Jika saya malas belajar, saya akan ingatkan diri saya, ayolah jangan malas, selagi muda, kerja otak masih beres, ingatan masih kuat, otot masih kencang, belajarlah.

Lantas bagaimana kalau kita sekarang sudah sibuk tak lapang lagi, sudah tua tak muda lagi, miskin tak kaya lagi, sakit tak sehat lagi? Hei, kita kan masih punya satu hal yang paling penting, kita masih hidup bukan? "Ini kunci dari segalanya. Kalau kita masih hidup kita masih bisa melakukan hal-hal yang baik," kata guru saya.

Kini saya bisa membandingkan betapa makna hadist itu saya temukan dalam roh manajemen modern: manajemen waktu, manajemen aset, manajemen sumberdaya manusia. Saya kira ini bonus, spirit manajemen dalam hadist itu mendukung profesionalitas kerja saya, dan bersama 39 hadist lain yang masih saya hafal hadist ini menyelamatkan saya dari siksa kubur. Amin.

Hadist itu mengilhami Raja Dangdut Rhoma Irama menggubah sebuah lagu. Liriknya dimulai begini: pesan Nabi kepada semua umatnya...(langsung diselingi solo gitar).. Jaga lima sebelum datangnya lima... Lagunya berirama menggugah. Temponya cepat dan menghentak-hentak. Dinyanyikan dengan sangat bergairah. Beda sekali dengan kelompok nasyid Raihan yang belakangan juga melagukan hadist itu. Gubahan Raihan lebih lembut, mengalun pelan dan syahdu. Saya tidak perlu menilai mana kedua lagu itu yang lebih baik.

Setahu saya belum ada kelompok musik lain yang melagukan hadist itu. Bagus juga kalau Gigi menyanyikan lagi lagu tersebut dengan aransemen baru. Kalau lagu Perdamaian milik kelompok GNR (bukan Gun 'n Roses, tapi Grup Nasyida Ria) saja cocok dibawakan oleh Gigi, saya yakin lagu Bang Haji Rhoma juga pasti pas. Meminjam istilah juri Indonesian Idol Indra Lesmana, saya kira Armand pasti dapat soul-nya lagu itu.

Nah, kalau lagu Raihan saya kira lebih cocok dibawakan sama Ungu. Pas banget. Bayangkan suara Pasha melagukannya:.... Ingat lima perkara sebelum lima perkara, sehat sebelum sakit. Lapang sebelum sempit. Muda sebelum tua. Kaya sebelum miskin. Hiduuuuup sebeeeeelum matiiiii.***

0 blokomentar: