<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053</id><updated>2011-09-24T14:02:41.100+08:00</updated><category term='reportase'/><category term='karikatur'/><category term='jurnalistik'/><category term='perkartunan'/><category term='siaran pers'/><category term='INSPIRIT'/><category term='kolom'/><category term='Buku dan Aku'/><category term='blowjoke'/><title type='text'>HASAN ASPAHANI</title><subtitle type='html'>Jurnalis, Penyair, Kartunis, dan (tentu saja) juga Blogger</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>88</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-1152889736595583569</id><published>2009-06-17T16:18:00.000+08:00</published><updated>2009-06-17T16:19:44.569+08:00</updated><title type='text'>Kéré “Paman Tyo” Kêmplu</title><content type='html'>DULU, dia tampil di balik nama dan sosok samaran. Ia menyebut dirinya Kéré Kêmplu. Siapa dia? Pada zaman “kegelapan” itu, di blognya (gombal.blogdrive – yang sampai detik ini masih bisa diklik) yang top markotop itu ia jelaskan (tapi sama sekali tak menjelaskan, namanya juga samaran) bahwa dia adalah  seorang opas tua pada sebuah kantor partikelir di Jakarta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Supaya meyakinkan dia pun memasang foto seorang lelaki tua, berkaca mata tebal dengan pose yang mantap, khas pasfoto zaman dahulu kala. Saya kok lupa bertanya, siapa foto itu sebenarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai dengan nama blognya: Gombal, maka ia menyebut tulisannya sebagai gombalan. “Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tiada mengenal tenggat. Berisi tulisan dangkal, naif, dan membingungkan,” begitu katanya. Gombal, bukan? &lt;br /&gt;Kredo blognya adalah ‘Catatan Ringan Angin-anginan’. “Anda jarang kemari akan ketinggalan. Anda rajin bertandangan saya yang keteteran,” katanya lagi. Lagi-lagi kalimat tengil yang amat gombal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Pada suatu hari, saya pun tersesat ke sana. Sebagai blogger hina dina, tentu saja saya juga amat penasaran dibikin oleh blog dan bloggernya itu. Pertanyaan paling menggoda adalah, “dia ini siapa sebenarnya?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya dia sengaja sedang mempermainkan orang banyak dengan menyamar di balik nama dan sosok fiktif. Rasanya dia ini kok orang hebat yang namanya sudah amat terkenal, dan  sedang menyamar. Rasanya dia ini pernah saya baca  tulisannya…. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun ikut-ikutan arus besar umat blogger kala itu yang sibuk menebak sosoknya, sambil terus menikmati gombalan-gombalan yang ia bagikan. Mula-mula saya kira dia Arswendo Atmowiloto. Soalnya, tulisannya itu mengingatkan saya pada kolom Arswendo dulu di Kompas, ketika dia ikut mengisi kolom Asal Usul bergantian dengan almarhum Mahbub Junaidi. Tebakan pertama salah total… &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya melacak lagi. Pada suatu hari lainnya, di blog itu ada juga ditampilkan koleksi label unik. Aha, saya  lansung ingat dengan sebuah kolom di majalah Jakarta-Jakarta. Kolom itu ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma. Kolom itu selalu dihiasi ilustrasi macam ragam label unik. Saya tebak lagi, jangan-jangan di Kéré Kêmplu ini adalah Seno. Tebakan itu juga dia bantah. Tapi, ah itulah gombalnya dia ini, tak juga dia mau berterus-terang siapa dia sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kali lain, blog ini menampilkan koleksi merek rokok yang lucu-lucu dan di kota-kota kecil di Jawa banyak sekali. Saya tidak kapok. Saya ingat pernah baca tulisan tentang rokok pinggiran itu di Kompas. Yang menulis Butet Kertaredjasa. “Sampeyan Butet, ya?” saya tebak lagi lewat e-mail. Lagi-lagi saya salah.&lt;br /&gt;Seperti orang kurang kerjaan saja, semakin lama upaya mencari tahu siapa beliau ini semakin mengasyikkan. Saya putar strategi. Saya akhirnya mencari tahu lewat blogger lain yang pasti sudah ada yang tahu siapa dia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya untuk itu harus berterima kasih kepada blogger Totot “Pakde” Indrarto (pakde.com), pekerja kreatif iklan yang bertahun-tahun kerjaannya bolak-balik naik panggung Citra Adipariwara. Penerima Piala Citra untuk kritik film ini memberi beberapa isyarat kunci. Aha, akhirnya saya pun berhasil menebak siapa dia. Dalam e-mail, saya sertakan nomor ponsel. Dan siang itu dia menelepon.&lt;br /&gt;“Halo Hasan, saya Antyo Rentjoko….” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialah yang oleh sejuta umat blog di Indonesia kini dikenal sebagai Mas Paman, Mase, dan yang paling akrab (dan dia tampaknya rela belaka dengan panggilan itu) adalah Paman Tyo! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu lalu, bersama Enda “Bapak Blog Indonesia” Nasution (sosok yang layak diceritakan lebih panjang lewat tulisan lain), Paman Tyo hadir di acaranya Batam Blogger Community. Saya – dengan besar kepala -  mendampingi kedua selebritas blog itu plus Wakil Walikota Batam Ria Saptarika dalam pertunjukan omong-omong di BCS Mall.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini bukan pertemuan pertama kami. Di Jakarta, di sela-sela dinas, saya selalu berusaha menyempatkan ngobrol dengannya. Pertama kali, kami bertemu di Kafe Oh Lala. Kami berempat: saya, Pakde Totot, Windede (blogger top asal Kalimantan yang kala itu atas nama dinas, sudah bermukim di Jakarta juga), dan Paman Tyo.  Bagi saya, ngobrol dengan orang-orang hebat itu, sama saja dengan me-recharge otak dan mengokang senjata kreativitas.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira, Paman Tyo adalah salah satu orang yang paling bertanggung atas mewabahnya blog dan blogger di Indonesia. Lewat blognya, orang banyak terinspirasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini bukan kata saya. Ini kesaksian seorang pengunjung blognya. Katanya, "(siapa) yang dalam fase 'malas-posting' ada baiknya LEBIH SERING berkunjung ke bloGombal! Banyak sumber inspirasi yang bisa anda temukan (walau nyelip...)." Nah, kan? &lt;br /&gt;Ya. Inspirasi, dan kegairahan menjadi blogger. Itulah yang terus-menerus ia tularkan. Apalagi, setelah masa “penyamarannya” berakhir. Blog Gombal versi lama mengumumkan posting terakhir pada tanggal 1 Agustus 2006. Pindah kontrakan, katanya. Sejak itu dia  bemukim di blogombal.org. Lihat itu, ekstensi blognya pun (dot)org, bukan (dot)com atau (dot)net.Seakan-akan ia mau bilang bahwa dia adalah seorang pengorganisir kegombalan! Gombal benar!  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Anda yang belum punya blog dan ingin jadi blogger, Anda yang sudah punya blog tapi belakangan malas ngeblog, atau Anda yang sekedar heran kenapa ada orang keranjingan blog, ada baiknya membaca “6 Alasan untuk Ngeblog”. Ini saya contek sepenuhnya dari blog lama Paman Tyo. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengantar tulisannya itu begini: Iya ya, kenapa saya ngeblog. Bila melakukan kegiatan online lain saya dapat faedah, maka dengan bermain blog saya juga dapat manfaat. Jadi, apa dong alasan buat ngeblog?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan enam alasan itu pun ia uraikan. Begini: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1]. Membuang lamunan, supaya benak jadi enteng. Baik lamunan di jalan, selagi nongkrong di kloset,  maupun lagi apa saja. Ibaratnya, blogging adalah nge-flush otak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2]. Belajar menulis.  Jangan geli, sejak SD saya memang sudah diajari guru untuk menulis, tapi sampai setua ini proses penulisan saya belum lancar. Maunya nulis kilat tapi enak dibaca. Nggak seperti undang-undang: nyiapinnya lama, dibacanya nggak enak. Sekarang sih kilatnya sudah [sedikit], tapi enaknya belum. Termasuk bagian dari belajar menulis adalah belajar berbahasa, dalam arti menata pikiran karena bahasa adalah alat kesadaran dan instrumen berpikir [uh, muluk-muluk].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3]. Berbagi. Apa yang saya nyatakan juga dibaca oleh orang lain, sama seperti saya membaca tulisan mereka. Ini lebih menarik daripada menulis surat pembaca di koran, yang pemuatannya tergantung kesudian editornya [mana nggak dapat honor pula]. Dari blog lain saya sering mendapatkan informasi berharga, bahkan bahan renungan. Intinya saya dapat hikmah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4]. Bertambah teman virtual. Betul, ketemu saja nggak pernah [dan mungkin nggak perlu ya? hahaha!], tapi dengan blogger tertentu rasanya ada semacam ikatan untuk saling memperhatikan. Bentuknya? Saling mengapresiasi kalau memang layak apresiasi, saling koreksi kalau memang ada yang harus dikoreksi [termasuk salah ketik saya], saling mendukung kalau ternyata dukungan memang lagi diperlukan. Juga, dari sisi saya, kesiapan menuai kritik pedas maupun kecaman jika pandangan saya ternyata tak cocok di hati maupun benak orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5]. Bisa disambi. Blogging adalah jenis kegiatan yang bisa disambi. Lain dengan chatting, yang kadang harus real time kita tongkrongi, karena sekali kita online dan menyatakan diri online tapi nggak kasih respon maka kita akan dipanggil-panggil terus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6]. Terhibur, menghibur. Saya sering mendapatkan keriangan saat membaca blog lain. Jadi, saya terhibur. Ketika menulis untuk blog saya sendiri, saya juga sering mendapatkan rasa senang. Bisa dikatakan blog saya ini punya fungsi terapetik untuk kesehatan jiwa saya. Saya nggak tahu apakah blog saya juga menghibur bagi orang lain. Bisa saja buat saya menghibur, tapi buat orang lain ngeselin -- dan rasa kesal itu tak dilarang oleh undang-undang manapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saya tak tahu, apakah kini alasan dia ngeblog berubah. Saya kira ya. Soalnya, ah… lain kali sajalah saya ceritakan. Tetapi, enam alasannya itu dulu saya amini semua. Saya setuju, menambahkan satu dua alasan, dan itu membuat saya tidak menyesal telah ngeblog juga sejak Desember 2003.  Terima kasih, Paman Tyo!***    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-1152889736595583569?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/1152889736595583569/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=1152889736595583569' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/1152889736595583569'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/1152889736595583569'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2009/06/kere-paman-tyo-kemplu.html' title='Kéré “Paman Tyo” Kêmplu'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-6933326232028254730</id><published>2009-02-05T23:55:00.000+08:00</published><updated>2009-02-05T23:57:35.862+08:00</updated><title type='text'>Mengambil Telur Tuhan</title><content type='html'>MARI bicara lagi tentang sajak. Kali ini kita bicarakan sajak presiden penyair Indonesia: Sutardji Calzoum Bachri. Konon, gelar presiden itu ditabalkan oleh sahabatnya Abdul Hadi WM. Di Taman Ismail Marzuki, keduanya mabuk. Sambil berangkulan Abdul Hadi bilang, “Dji, malam ini kau kuangkat jadi presiden, dan aku wakilnya…” Esoknya koran-koran menulis: Sutardji jadi Presiden Penyair Indonesia. Sejak itu gelar presiden penyair seakan menempel padanya. Tapi, gelar wakil presiden penayir bagi Abdul Hadi sama sekali terlupakan. Ah, memang, jadi wakil presiden itu tidak enak rupanya. Gampang dilupakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, kita bicarakan saja sajaknya. Sajak dari buku "Atau Ngit Cari Agar" (2008).  Saya kira kita beruntung punya Sutardji Calzoum Bachri (SCB) yang menulis sajak dalam rentang waktu yang panjang. Kita catat dulu, ia lahir tahun 1941. Tahun ini 68 umurnya. Nah, mari kita manfaatkan keberuntungan kita itu dengan membandingkan dua petikan sajak. Dua sajak berjarak 30 tahun! Sajak pertama dia tulis ketika dia berusia 35 tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sajak kedua dia tulis pada usia 64 tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petikan I: &lt;em&gt;sepasang burung darah / sepasang burung gairah / terbang / ke langit diri / membuat telur teduh / yang tenang / yang tuhan / dalam sarang / di langit diri // maka / seorang tarji / calzoum / bachri / terbang / mengambil / telur tuhan / mencoba / menetaskannya / diri //&lt;/em&gt; (Sarang, 1976)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petikan sajak pertama ini terbit dalam buku Atau Ngit Cari Agar. Sajak itu ditulis pada periode Kapak, yaitu 25 sajak yang ia tulis dalam selang waktu 1976-1979.&lt;br /&gt;Kenapa SCB tidak memasukkan sajak ini dalam kumpulan Kapak sehingga jadi 26? Apa salah sajak ini? Sebentar, masih ada lima sajak lain di buku Atau… yang juga bertahun dalam selang itu, tapi juga tidak di-kapak-kan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa dia tidak menyusulkan saja sajak itu kemudian, bukankah buku kumpulan O Amuk Kapak dicetak pada tahun 1981? Lalu kenapa juga masih ada dua sajak bertahun 1975 yang juga tidak digabungkan ke kumpulan O (sajak-sajak 1973-1976).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dugaan saya ini bukan karena SCB menganggap sajak itu buruk. Toh, akhirnya sajak itu tiga puluh tahun kemudian dibukukan juga. Saya menduga perkaranya adalah kesatuan tema. Dalam pengantar Kapak, SCB menulis: Tidak seperti sajak-sajak saya yang terdahulu yang banyak dengan pencarian ketuhanan, dalam sajak-sajak selanjutnya maut lebih mempesona saya. Nah, sajak yang kita petik tadi temanya adalah pencarian ketuhanan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira dengan sajak-sajak itu dia hendak menyiapkan sesuatu, menyiapkan puncak lain, sehingga sajak-sajak itu ia simpan saja dahulu. Atau bisa jadi dia sudah sangat puas dengan O Amuk Kapak, kumpulan yang ia sebut sebagai tiga puncak kepenyairannya, lalu ia gamang bila lompatan berikutnya tidak mencapai puncak lain yang lebih tinggi dari tiga puncak itu, sehingga sajak-sajak itu akhirnya hanya tersimpan lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang mari kita simak petikan sajak kedua: &lt;em&gt;retak / katakata tumbang / runtuh / porak poranda / koyak moyak kamus / makna hapus // dalam banyak tenda / para korban keruntuhan kata / menjerit tanpa kata // negara asing tak sanggup bantu / mustahil selamatkan korban / lewat asing kata / bahkan terjemahan / pun / tak //&lt;/em&gt; (Gempa Kata, 2005)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang terasa setelah menyanding dan membandingkan kedua sajak itu? Pertama saya setuju dengan sahabatnya  Abdul Hadi, wakil presiden penyair yang terlukapan itu. Ia menilai kecenderungan sufistik pada Sutadji ada sejak sajak-sajak awalnya. Tetapi kecenderungan itu terhalang oleh skeptisisme dan nihilisme yang begitu kuat menggoda perasaan penyair. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, ada usia 35 tahun, Tardji sepertinya masih berada dalam pencarian, ia merindukan Tuhan, ia menuju Tuhan, tetapi pada saat yang sama ia menolak cara-cara bertemu dan berhubungan dengan Tuhan yang telah diajarkan padanya. Ia ingin menemukan caranya sendiri. Ia sebut itu sebagai tindakan mengambil telur Tuhan dan menetaskannya sendiri. Menetaskan telur Tuhan baginya adalah menetaskan diri sendiri. Bila dirinya telah menetas, bila ia telah menemukan dirinya sendiri, dia berharap dari diri sendiri itu dia bertemu Tuhan yang ia rindukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah, betapa Sutardji bahkan menghadirkan diri sendiri dalam sajak dengan menyebut lengkap namanya: Sutardji, Calzoum, Bachri. Tak banyak penyair yang melakukan itu, tidak pada Goenawan, tidak pada Sapardi, tidak pada Joko Pinurbo. Chairil Anwar melakukan itu – dengan modus penyebutan yang amat berbeda - pada sajak Mirat Muda, Chairil Muda. Empat kali dia sebut Chairil, antara lain dalam bait Ketawa diadukannya giginya pada mulut Chairil. Rendra pun tak seberani itu, dalam satu sajak ia menyebut dirinya sebagai Willy, nama panggilannya. Penyair yang lebih kini yang melakukan hal itu sepembacaan saya adalah Sitok Srengenge. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita kembali ke Sutardji. Kondisi kejiwaan dan keruhanian yang sudah amat berbeda tampak pada periode setelah tahun 2000-an, seperti terwakili dengan petikan sajak kedua itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia sepertinya telah menuntaskan pencariannya. Ia yang sudah berumur 64 tahun mulai memalingkan perhatian pada kehidupan orang banyak, ia mulai prihatin pada nasib bangsa. Sepanjang usianya ia telah melihat, menghayati, menjadi saksi perjalanan sebuah bangsa, dan ia tidak bisa untuk tidak memberi komentar, nasihat, atau peringatan pada orang banyak atas kondisi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, seorang penyair besar dengan karya-karyanya, terus berproses, menggali tema, memperluas perhatian, menuntaskan pencarian, bertahan pada intensitas yang tak tertandingi, dan itu adalah pelajaran penting bagi kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna sajak-sajaknya sendiri adalah karya yang amat pantas menjadi renungan. Tengoklah petikan kedua sajak yang kita bicarakan di sini. Ia sedang menghantam kehidupan kita kini yang semakin lama semakin mudah jatuh pada pemujaan pada yang permukaan, tanpa kedalaman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup kehilangan makna, tanpa tujuan. Ibarat kata-kata yang retak, tumbang, runtuh, porak-poranda. Kamus - barangkali itu bisa kita anggap sebagai metafora dari kitab rujukan moral - tak lagi diindahkan. Kita pun lantas hidup tanpa tujuan, hidup tak lagi bermakna. Siapa yang bisa menyelamatkan kita dari kehancuran ini? Bukan orang lain. Tapi kita sendiri, bahasa kita sendiri, bukan nilai-nilai orang lain yang asing, meskipun itu telah disuai-suaikan ke dalam bahasa kita sendiri. Negara asing tak sanggup bantu. Mustahil selamatkan korban lewat asing kata. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-6933326232028254730?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/6933326232028254730/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=6933326232028254730' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/6933326232028254730'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/6933326232028254730'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2009/02/mengambil-telur-tuhan.html' title='Mengambil Telur Tuhan'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-1813172019336222972</id><published>2009-02-05T23:46:00.000+08:00</published><updated>2009-02-05T23:47:45.695+08:00</updated><title type='text'>Muhamad Nur Raih Adinegoro 2008 dan Rp50 Juta</title><content type='html'>Kamis, 05 Pebruari 2009  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta (ANTARA News) - Muhamad Nur, wartawan Batam Pos, meraih Anugerah Jurnalistik Adinegoro 2008 dan uang senilai Rp50 juta untuk kategori Pembangunan Kemanusiaan atas karyanya berjudul "16 Tahun Menyerah, Dikalahkan Ombak dan Hama Babi" yang dipublikasikan Batam Pos edisi 27 Desember 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Karya tulis jurnalistik Muhamad Nur meraih nilai 401, dan menyisihkan 36 tulisan lainnya yang termasuk unggulan dengan sisi penilaian secara tematik, materi dan penguasaan Bahasa Indonesia, demikan hasil keputusan Dewan Juri Anugerah Jurnalistik Adinegoro 2008, di Jakarta, Kamis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewan juri terdiri atas Artini Suparmo PhD (wartawan senior, pemenang Adinegoro sebanyak dua kali, dan dosen London School Public Relations/LSPR), Atmakusumah Astraatmadja (mantan Ketua Dewan Pers dan dosen senior Lembaga Pers Dr. Soetomo/LPDS), dan Radhar Panca Dahana (budayawan, dan pengasuh kolom sastra di satu media massa nasional).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, Tribuana Said (anggota Dewan Penasehat Persatuan Wartawan Indonesia/PWI Pusat, dan dosen senior LPDS), serta DR Yayah Bachria Mugnisjah Lumintaintang APU (pakar dari Pusat Bahasa Indonesia Departemen Pendidikan Nasional/Depdiknas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewan juri penghargaan tertinggi dari PWI Pusat untuk karya tulis jurnalistik tersebut juga memutuskan tidak adanya pemenang untuk Anugerah Jurnalistik Adinegoro 2008 kategori Pembangunan Demokrasi lantaran tidak ada yang memenuhi standar sesuai ketentuan lomba dan harapan yang didiskusikan para juri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhamad Nur dijadwalkan menerima Anugerah Jurnalistik Adinegoro 2008 dan uang senilai Rp50 juta pada Malam Pers Perjuangan, yang menjadi puncak dari serangkaian kegiatan Hari Pers Nasional (HPN) 2009 di Tennis Indoor Senayan, Jakarta, pada 9 Februari mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dijadwalkan hadir dalam acara puncak HPN 2009 yang bertema "Kemerdekaan Pers Dari dan Untuk Rakyat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PWI memberi nama Adinegoro untuk penghargaan tertinggi di bisang karya jurnalistik guna mengenang kejuangan salah seorang tokoh pers nasional yang memiliki nama lengkap Djamaluddin Gelar Datuk Maradjo Sutan, yang juga adik dari tokoh kemerdekaan nasional M. Yamin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adinegoro yang lahir di Talawi, Sumatera Barat, pada 14 Agustus 1904 dan wafat di Jakarta 8 Januari 1967 itu, mengeyam pendidikan kewartawanan di Munchen (Jerman) dan Amsterdam (Belanda) sebelum kembali ke tanah air tahun 1931 untuk menjadi Pemimpin Redaksi Panji Poestaka untuk kemudian memimpin surat kabar Pewarta Deli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya juga diabadikan untuk Yayasan Pendidikan Multimedia Adinegoro yang menaungi Lembaga Pers Dr. Soetomo (LPDS) sebagai satu institusi yang mengabdi untuk membangun/meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia di bidang jurnalistik. (*)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-1813172019336222972?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/1813172019336222972/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=1813172019336222972' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/1813172019336222972'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/1813172019336222972'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2009/02/muhamad-nur-raih-adinegoro-2008-dan.html' title='Muhamad Nur Raih Adinegoro 2008 dan Rp50 Juta'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-6251738772953392528</id><published>2008-11-13T16:35:00.001+08:00</published><updated>2008-11-13T16:37:38.105+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kolom'/><title type='text'>Sebagai Bajingan Aku Telah Kauterima</title><content type='html'>&lt;em&gt;- Sebuah Renungan untuk Hari Pahlawan - &lt;/em&gt;&lt;br /&gt; T&lt;br /&gt;TAK ada yang lebih membahagiakan bagi seorang penulis, selain mengetahui bahwa tulisannya dibaca oleh orang lain. Diam-diam, beberapa orang membuat sebuah organisasi yang amat lentur bernama PKK alias Penggemar Kolom Kamisan. Ada yang suka mengusulkan tema itu ini, ada juga yang rajin berkomentar. Kepada merekalah kolom ini kali ini saya tulis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Menjadi pahlawan itu ternyata mudah. Apalagi kalau kita tidak meniatkannya. Teman saya misalnya tiba-tiba bisa jadi 'pahlawan' ketika pada suatu hari dia mengembalikan kupon jatah bensin dari kantor, karena jatah itu amat berlebihan buatnya. Menjual kupon yang tidak bisa diuangkan itu buat dia adalah korupsi, jadi ya dia kembalikan saja. Apalagi dia tahu, manajemen kantornya sedang berhemat, dan dia tentu harus mendukung gerakan penghematan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kadar 'kepahlawanan' kawan saya itu bertambah ketika kemudian kantornya akhirnya meninjau kebijakan pembagian kupon bensin. Dan kelahiran seorang 'pahlawan' selalu makan 'korban'. Kolega kantor teman saya tadi yang telanjur mengeset gaya hidup tinggi - misalnya dengan memiliki dua atau tiga mobil di rumahnya - tentu saja menyumpahi dia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Kau itu memang seperti Robinhood," kata saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Robinhood, di mata sahabat-sahabatnya para penjahat di hutan Sherwood, adalah pahlawan. Ia juga pahlawan bagi orang-orang miskin di Nothingham. Tapi, bagi para bangsawan dan hartawan di kota itu - yang hartanya kerap dirampok -  dia adalah bajingan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Menjadi pahlawan itu ternyata memang mudah. Kita bisa jadi pahlawan dengan memakai sedikit keberanian untuk melawan sesuatu yang menyimpang ke arah yang salah. Kita bisa jadi pahlawan dengan sedikit saja menimbang - ketika menerima sesuatu - lantas bertanya adilkah ini buat saya dan buat orang lain yang terkait dengan saya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dua kali sudah saya sebutkan bahwa menjadi pahlawan itu mudah. Sebuah kelompok - sekecil apapun - selalu memerlukan seorang pahlawan. Dari Kamus Umum Bahasa Indonesia  saya menemukan kata 'altruisme'. Kata ini dilawankan dengan kata 'egoisme', dan diuraikan sebagai 'cinta yang tak terbatas terhadap sesama manusia; sifat yang tidak mementingkan diri sendiri'. Pahlawan saya kira adalah orang yang mampu mengalahkan egoisme dalam dirinya dengan altruisme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saya percaya bahwa sekelompok orang yang hendak lekas bergerak maju memerlukan seorang pahlawan. Bila kata pahlawan itu terasa amat kuno, maka para pemikir manajemen modern menerjemahkannya dengan amat baik dengan istilah leader atau pemimpin. Kita kini lebih nyaman menerima istilah 'leadership' daripada 'heroism'. Lihat istilah itu, hero ternyata lebih dekat pada 'isme' pada keyakinan atau kepercayaan. Lagi pula, kini terminologi 'pahlawan' itu sendiri sudah amat bias. Kawan saya mungkin sebenarnya tengah  diolok-olok dengan kalimat, "memang pahlawan betullah kau  ini..." Lihat, rasakan, ada nada mengejek di kalimat itu, bukan?       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Seperti kawan saya itu, saya teramat sering diselamatkan oleh tindakan-tindakan kecil orang-orang yang di mata saya adalah pahlawan saya. Mereka pasti tidak ingin saya pahlawankan. Tapi, buat saya tanpa bantuan mereka pada saya, maka saya tak akan pernah sampai ke mana-mana. Saya tahu mereka sekedar mengikuti altruisme dalam diri mereka. Karena saya tahu mereka tak menuntut balas dari saya, maka saya selalu terdorong untuk meniru mereka dengan menolong orang lain. Ah, betapa sok pahlawannya saya, bukan?    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Belajar dari kisah teman saya dari, maka, bila dihadapkan pada pilihan, saya sebenarnya lebih memilih jadi bajingan daripada pahlawan. Robinhood adalah bajingan. Dia adalah seorang kriminal yang di mata sherif punya seribu alasan untuk dijebloskan ke tahanan atau bahkan ke tiang gantungan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Baiklah, saya ingin menjadi bajingan yang seperti suka kutip dari bait sajak W.S. Rendra yang amat saya sukai, "...Sebagai bajingan aku telah kauterima". Rendra sebenarnya tidak bicara sepenuhnya tentang seorang bajingan, ada nada gagah seorang pahlawan dalam sajaknya yang berlatar Kota New York itu. Ia bercerita tentang percintaan yang membuat hidup bergairah tetapi tidak mengubah hidup itu sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt; Hidupku dan hidupmu&lt;br /&gt; tidak berubah karenanya. &lt;br /&gt; Masing-masing punya cakrawala berbeda.&lt;br /&gt; Masing-masing punya teka-teki sendiri&lt;br /&gt; yang berulang kali menggayangnya. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Demikianlah, Rendra mengakhiri sajak bertajuk "Kepada M G" dalam buku "Blues untuk Bonnie". Tetapi, sebelum diakhiri dengan bait itu, telah ia sebutkan bahwa ... Hidup telah hidup dan menggeliat. Waktu gemetar dalam ruang yang gemetar...  Rendra mungkin sangat sadar bahwa dalam lingkup kecil, hubungan antarpribadi misalnya, jarak antara seorang bajingan dan pahlawan teramat tipis. Seorang bajingan bisa saja dikenang abadi sebagai pahlawan, justru karena tindakannya yang amat jauh dari niatan untuk jadi pahlawan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kita mungkin lebih mudah menerima pahlawan yang seperti itu. Dan para pembuat karakter komik tampaknya amat tahu psikologi itu. Maka, Clark Kent pun tampil culun walkuper dengan kacamata dan rambut klimis agar orang tak serta merta tahu bahwa dialah Kar El si supermanusia itu. Peter Parker merancang cadar karet ketat dengan hanya bukaan sedikit pada dua mata, agar orang tak tahu bahwa dialah the human spider itu. Para superhero itu - serekaan apapun mereka - ketika beraksi di balik topeng, sesungguhnya juga tengah melupakan sisi manusianya. Dengan kata lain, saat itu mereka membuang jauh egoisme dan mengikuti setulus-tulusnya naluri altruisme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Maka, saya sebenarnya lebih memilih jadi bajingan daripada pahlawan. Ada semacam gairah dalam keinginan itu, seperti gairah bajingan dalam sajak Rendra. Hidup jadi lebih hidup, tidak seperti si Negro - dalam sajak "Blues untuk Bonnie - yang menegur sepi dengan mata terpejam."... Dan sepi menjawab dengan sebuah tendangan jitu tepat di perutnya". Betapa tidak bergairahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sebuah iklan politik kini dipersoalkan banyak orang. Jadi wacana yang hangat. Pangkal soalnya adalah sebuah nama, yakni Soeharto. Mantan penguasa kita itu  dijejerkan bersama nama lain dan diberi sebutan pahlawan dan guru bangsa. Rupanya bagi Soeharto sebutan pahlawan itu masih amat bermasalah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saya bukan Soeharto. Dia taktikus besar, tapi kemudian lupa bahwa kuasa punya batas. Saya hanya ingin jadi 'bajingan', yang paling tidak membuat hidup saya sendiri menjadi bergairah. Dan untuk itu saya harus berterima kasih kepada orang-orang yang mendorong-dorong saya untuk jadi 'bajingan'. Sebab, dengan gairah itu kemudian saya jadi tak gentar menghadapi apapun, menyerentaki hidup bergerak ke arah yang lebih baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ada satu aturan main penting dalam kredo seorang bajingan. Bajingan tidak perlu merasa takut pada bajingan. Ia hanya malas berurusan dengan orang yang 'sok pahlawan' dan terlebih lagi amat muak pada orang yang 'sok bajingan'. Kalau kemudian ada yang mempahlawankan saya, 'si bajingan' ini, maka itu artinya saya harus lekas menelepon Rendra, sebab, "sebagai bajingan aku telah kauterima!"***&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-6251738772953392528?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/6251738772953392528/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=6251738772953392528' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/6251738772953392528'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/6251738772953392528'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/11/sebagai-bajingan-aku-telah-kauterima.html' title='Sebagai Bajingan Aku Telah Kauterima'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-335616090969067784</id><published>2008-11-11T22:16:00.003+08:00</published><updated>2008-11-13T16:34:24.505+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='reportase'/><title type='text'>Yang Berkhidmat, Bukan Yang Berhormat</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_wBF3FgfDPDw/SRmUmvFuAGI/AAAAAAAAAkE/C7-aukRd24w/s1600-h/Dr+Maliki,+++anggota+parlemen.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_wBF3FgfDPDw/SRmUmvFuAGI/AAAAAAAAAkE/C7-aukRd24w/s400/Dr+Maliki,+++anggota+parlemen.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5267404632382898274" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*  Bagaimana Parlemen Singapura Melayani Rakyat &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;:: Laporan: Hasan Aspahani, Singapura&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; People Action Party (PAP) benar-benar berkuasa di Singapura. Partai warisan mantan Perdana Menteri Lee Kuan Yeuw - yang kini menjadi menteri senior itu - menempatkan 82 kadernya di parlemen. Partai berlambang bak gambar sambaran listrik milik tokoh animasi Flash ini hanya menyisakan dua kursi, untuk dua partai oposisi, yaitu Singapore Democratic Party dan Worker Party. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Dominasi PAP itu tidak diraih dengan mudah. Partai dan kader partai bekerja keras sebelum dan sepanjang masa mereka duduk di Parlemen. Kerja keras itu tujuannya cuma satu: mempertanggungjawabkan kepercayaan pemilih. Ada satu mekanisme yang menjamin anggota parlemen dan konsituennya tetap bersentuhan yaitu Meet-the-People Session (MPS).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pekan lalu, Selasa (28/10) malam, pukul 08.00 waktu Singapura (lebih lekas satu jam dari WIB), saya  menyaksikan sesi itu. Bersama sejumlah wartawan lain peserta 16th Indonesia Journalist Visit Programme atas undangan Ministry of Information, Culture and Art (MICA) Singapura, saya merasakan betapa percaya dan bergairahnya penduduk dari dua blok rumah susun di kawasan Woodland, Admilralty (semacam daerah pemilihan) Sembawang,  mengadukan masalahnya ke anggota parlemen yang menang dari  konstituen itu Dr Mohd Maliki Osman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; MPS adalah pertemuan mingguan. Dr Maliki memilih hari Selasa. Anggota parlemen lain - termasuk para menteri dan bahkan Perdana Menteri -  bisa membuat jadwal di hari lain. Dr Maliki tidak bekerja sendirian. "Saya dibantu enam relawan," katanya. Bersama tim relawannya itu, tiap pekan ia menggilir pertemuan dengan rakyat, tiap sesi cukup terlayani dua blok perumahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Kami benar-benar relawan. Tak ada bayaran apa-apa. Benar-benar kami hanya ingin menolong rakyat," kata Justus Chua, salah seorang relawan yang malam itu amat sibuk membantu Dr Maliki. Justus adalah pengacara. Kebetulan di PAP dia adalah Sekretaris Cabang Admiralty Sembawang. Lima relawan lain latar belakangnya beragam, dan mereka bukan pengurus partai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; MPS adalah mekanisme penyerapan dan penyaluran aspirasi rakyat yang amat efektif. Kalau pun masalah yang dihadapi rakyat tidak segera dipecahkan, setidaknya ada jaminan bahwa perkara itu telah sampai ke penguasa. Tak ada aspirasi yang buntu. Dari MPS itu pula kelak peraturan-peraturan baru dirumuskan, kebijakan-kebijakan prorakyat dikeluarkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Saya mau sampaikan ke Dr Maliki yang suami saya sudah lama tak kerja," kata Farida, seorang perempuan berkerudung yang antre di meja pendaftaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Kami mau minta bantuan buku untuk anak saya. Dia naik darjah, tapi sekarang mahal buku pelajaran," kata Eliza yang  juga menunggu dan seraya itu berbincang dengan Farida. Mereka tetangga rumah susun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pertemuan malam itu, sebagaimana pekan-pekan sebelumnya, diadakan di lantas dasar rumah susun di kawasan Woodland. Ruang-ruang itu sebenarnya adalah sebuah taman kanak-kanak Woodland Kindegarten.  Ruang-ruang kelas dan ruang guru ditata menjadi semacam tempat konsultasi. Ada meja yang ditunggui dua orang relawan yang mencatat nama-nama dan perkara apa yang hendak diadukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Baru dibuka setengah jam daftar nama pengadu sudah hampir penuh. "Sudah empat puluh orang," kata Justus Chua menunjuk ke daftar nama itu. Setiap sesi jumpa rakyat itu selalu tak kurang dari 60 orang datang ke "praktik politik" itu. "Sampai pukul satu, biasanya baru semua selesai," kata Dr Maliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saya menyebutnya praktik politik. Sebab, berlangsungnya persis seperti praktik dokter. Semua keluhan tercatat, semua terkontrol apakah nanti keluhan itu sudah diselesaikan. Petugas pencatat tidak sekedar mencatat nama dan memanggil nama-nama itu sesuai urutan. Dia juga mencatat keluhan pada lembaran kasus. Lalu, membuat draf masalahnya. Berdasarkan draf itulah kemudian Dr Maliki mencarikan jalan keluar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Kalau tiga atau empat minggu tak juga selesai, padahal sudah diberi jalan, berarti mereka sendiri yang mungkin salah. Apakah karena malas, atau soalannya terlalu pelik," kata Dr Maliki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dr Maliki orang yang efektif. Tegas dan lekas menawarkan solusi. Saya berada di ruangannya ketika ia menerima berturut-turut seorang lelaki etnis Melayu yang sudah tua, seorang perempuan etnis China dan anak gadisnya, serta sepasang suami istri etnis India dan anak lelakinya.  Itulah, tiga di antara  enam puluh orang yang mengadu padanya malam itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Si lelaki tua mengadukan ihwal flat yang ia tempati. Ia tak lagi bekerja dan tak sanggup mencicil kredit ke pemerintah. Ia ingin mengalihkan beban itu kepada anaknya yang sudah bekerja. Tapi ia cemas, bila kelak anaknya berumah tangga, bagaimana nasibnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Si perempuan China menangis ketika menyampaikan betapa hasil dagangnya tak menutup ongkos sewa kedai. Suaminya bekerja tak menentu, dan anak perempuan yang ia bawa belum bisa membantu apalagi bekerja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sementara pasangan India ingin pindah ke rumah yang lebih murah susun karena rumah susun yang mereka tempati sekarang terlalu mahal buat mereka akibat penghasilan berdagang yang juga anjlok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Si lelaki Melayu tua itu sempat berkeras hendek menemui Menteri Perumahan. "Tak boleh macam tu, Pak Cik. Kalau semua orang nak jumpa dia apa guna saya. Saya boleh bantukan Pak Cik selesaikan perkara ini," katanya merayu dengan nada bicara cepat, tegas, hingga akhirnya si Pak Cik bertongkat tadi berlalu dengan wajah yang tampak puas. Ia keluar ruangan, dan sempat juga menyalami saya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Saya menyaksikan betapa krisis ekonomi di negeri kota itu sudah terasa hingga ke lapisan rakyat terbawah. Surat kabar terbesar di Singapura, The Straits Times sudah meramalkan akan ada gelombang pengaguran besar tahun depan, seiring angka pertumbuhan yang anjlok hingga tiga persen, separo dari angka pertumbuhan tahun ini. Dan malam itu korbannya sudah mulai berjatuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dengan bahasa Inggris, Melayu dan Mandarin yang fasih Dr Maliki melayani mereka yang ia temui malam itu. Ia menjanjikan kepada perempuan China itu bahwa ia dua hari lagi mengutus relawan untuk menemui si pemilik kedai sewa. Solusinya, bisa keringanan sewa, penundaan sewa, atau bantuan voucher. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Setiap  anggota parlemen diberi allowance dan berhak mengeluarkan voucher seperti ini," kata Dr Maliki menunjukkan lembaran-lembaran voucer, seperti cek, di mejanya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Voucher biasanya tidak akan diberikan langsung pada malam MPS, kecuali pada keadaan khusus, misalnya bila penduduk itu datang membawa anak sakit dan tak benar-benar tak sanggup berobat. Relawanlah yang dua hari kemudian datang langsung ke rumah penduduk yang malam itu dijanjikan bantuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Ini untuk memastikan apa betul dia perlu bantuan," kata lelaki Melayu ini sudah dua kali duduk di parlemen. Ia tadinya pengajar yang tertarik dan sukses meniti karir politik dan menjadi anggota parlemen sejak 2001. Pemilu yang akan datang akan digelar 2010 nanti. Di kawasan ramai di Woodland saya lihat ada beberapa spanduk cetak digital memajang wajahnya dan ucapan selamat hari raya Devavali - hari raya umat Hindu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; MPS, kata Dr Maliki, adalah pertanggungjawabannya sebagai anggota parlemen kepada rakyat yang memilihnya. "Saya bisa pastikan apakah saya bisa menjaga dan memenuhi janji saya kepada rakyat yang memilih saya," kata lelaki yang juga menjabat sekretaris parlemen di Kementerian Pembangunan Nasional. Ya, Singapura menganut sistem parlementer. Para anggota parlemen juga duduk di kabinet. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Menjadi anggota parlemen adalah pekerjaan penuh waktu. "This is fulltime job. Saya hanya bekerja sebagai anggota parlemen, tak buka praktek dokter," katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ia punya perbandingan bagus. Ada kerabatnya yang juga duduk di parlemen Malaysia. "Di sana dia dipanggil Yang Berhormat, disingkat way be (YB, red). Saya di Singapura juga dipanggil YB, tapi artinya lain: Yang Berkhidmat," katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Khidmat, dalam Kamus Dewan - kamus resmi Bahasa Melayu - diuraikan dalam tiga lema. Dua di antaranya berarti perbuatan yang menunjukkan kesetiaan atau pengabdian kepada negara dan lain-lain; dan satu lema lagi berarti kerja untuk memenuhi keperluan orang ramai. Saya kira itulah yang dimaksud oleh Dr Maliki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Saya kira karena keseriusan dan keikhlasan berkhidmat itulah yang membuat seorang anggota perlemen di Singapura bertahan atau bila tidak terpental. Hau Gang, adalah anggota parlemen dari Worker Party di kawasan  pemilihan Potong Pasir. "Dia memang bagus. Pemilih di sana percaya dengan dia," kata Justus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Bahkan seorang menteri pun wajib menemui rakyat lewat MPS. "Saya pun masih ikut MPS. Tapi karena sudah tua saya tak kuat ikut seminggu sekali," kata Menteri Perdagangan dan Industri (MPI)  Singapura Lim Hng Kiang.***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-335616090969067784?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/335616090969067784/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=335616090969067784' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/335616090969067784'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/335616090969067784'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/11/yang-berkhidmat-bukan-yang-berhormat.html' title='Yang Berkhidmat, Bukan Yang Berhormat'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_wBF3FgfDPDw/SRmUmvFuAGI/AAAAAAAAAkE/C7-aukRd24w/s72-c/Dr+Maliki,+++anggota+parlemen.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-7036952516673163556</id><published>2008-11-11T22:14:00.000+08:00</published><updated>2008-11-11T22:16:20.709+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kolom'/><title type='text'>Tentang Tiga Orang</title><content type='html'>SAYA menyebutnya sebagai Efek Sahabat Pena. Menyenangkan sekali rasanya ketika kita akhirnya bisa bertemu dengan orang yang sudah lama kita kenal. Seperti inilah mungkin pertemuan kita dengan Allah di Hari Kebangkitan kelak. Sejak kecil kita dikenalkan dengan-Nya. Karena kita bukan nabi, maka selama hidup tak ada kemungkinan kita bertemu wajah dengan-Nya, bukan? Ah, itu perkara iman yang bisa sederhana dan kadang bisa pelik. Saya tidak hendak menukik ke situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saya hanya ingin bercerita tentang pertemuan saya dengan tiga orang yang sudah lama saya kenal jauh sebelum pertemuan itu. Pertemuan itu tentu saja menyenangkan. Mari saya ceritakan satu per satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Orang pertama saya kenal sebagai seniman. Sepenuhnya seniman. Kala itu saya tahu ia sudah tinggal di Amerika mengikuti tugas istrinya. Istrinya perempuan Hawaii, Amerika Serikat. Karena tinggal di Amerika, namanya di Indonesia nyaris hapus dari gebalau dunia kreatif yang belakangan makin ramai saja. Tapi di sana ia tak berhenti berkarya. Saya tahu, sebab ia kabarkan pada saya, di sana ia tampil di banyak tempat, mementaskan teater topeng yang ia kembangkan dari khazanah tradisional Bali, tanah kelahirannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saya menjemputnya di Bandara Hang Nadim, untuk kemudian membawa ke Tanjungpinang. Dia akan tampil di Bintan Art Festival, Oktober lalu. Saya kira dia akan buru-buru. Saat-saat ini dia memang amat sibuk. Dalam dua pekan, dia harus ada di Kuala Lumpur, Tokyo, Tanjungpinang, Belitung dan kembali ke Jakarta lagi. Senilah yang membawanya terbang ke mana-mana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Di mobil, saya menyetir, dia bercerita. "Saya belajar teater justru karena dulu saya pemalu," ujarnya. Ia sempat belajar di Yogya, di tahun 1960-an. Ekonomi negeri ini tak menentu. Politik apatah lagi. Suatu hari ayahnya tak lagi sanggup mengirim uang dan ia harus kembali ke Negara, Bali. "Saya membantu ayah saya berdagang kopra. Dari Bali bawa ke Surabaya," katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Hidup baginya memang seperti teater. Pernah suatu kali ia harus pulang dengan kawalan polisi karena cemas dengan keamanan uang hasil penjualan kopra. Seperti adegan panggung, tarikan magnet kesenian membawanya ke Jakarta, menjelang Taman Ismail Marzuki dibuka. Seorang kawannya meyakinkan bahwa di sanalah tempatnya. Dia selama di Yogya, Bali dan Surabaya beberapa kali mementaskan teater dengan naskah dramawan dunia yang bahkan ia tulis ulang dari ingatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Di Jakarta ia berkawan dengan Arifin C Noor dan kiprah seninya makin menjadi-jadi. "Ada ruang di TIM yang kalau malam jadi tempat tidur kami. Kalau pagi, petugasnya membangunkan kami, karena kalau ketahuan pengurus TIM akan memarahi kami dan dia," katanya mengenang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kalau Anda pencinta teater tentu tahu seperti apa pencapaian pementasan "Kapai-Kapai" oleh  Teater Ketjil. Nah, dialah yang berperan sebagai Abu dalam pementasan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Arifin menulis naskah di panggung. Bagian per bagian. Dia minta saya memainkan apa yang ada di kepalanya, lalu mengoreksi di sana sini, kalau dirasanya sudah pas, barulah dia tulis," katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Mereka pemuja teater, pemuja akting. Maka, industri film yang saat itu sedang tumbuh subur adalah wilayah haram. Tapi, dia melanggarnya. Pelanggaran yang semula cuma keceplosan lidah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Lu mau main film, gak?" tanya seorang suruhan Turino Junaidi, sutradara laris kala itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dia menolak, tapi secara main-main dia bilang, "Kalau sama Suzanna saya mau." Main-mainnya rupanya ditanggapi serius. Utusan tadi datang lagi kemudian hari dan menawarkan dia main dengan Suzanna, ratu film horor. Telanjur basah, ia berusaha menolak dengan jurus terakhir. "Kalau ada adegan pemerkosaan saya mau..." Sisanya adalah sejarah. Namanya tercantum di layar film "Bernafas dalam Lumpur". Dan film itu meledak. Ia sendiri jadi olok-olokan kawan-kawan seniman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dia kemudian identik dengan film laris. Di mana dia terlibat, filmnya akan meledak. Kita ingat "Kejarlah Daku Kau Kutangkap" dan kini "Laskar Pelangi". &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Saya kira dia akan buru-buru hari itu. Tapi, ternyata dia membawa sesuatu dari Tokyo untuk anak bungsu saya. Dulu saya memang pernah mengabarkan bahwa nama mereka sama. Saya memberi nama depan "Ikra" pada anak saya berdasarkan kesukaan pada namanya: Ikranegara. Dia pun singgah ke rumah kami, memberi t-shirt bergambar pesumo, memotret anak saya dalam gendongan Yana, istri saya. Itulah yang dipesankan oleh  istrinya. Dia sendiri belum punya cucu. Dua anak lelakinya tinggal di Amerika, dan saat ini dia menunggu kelahiran cucu pertamanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Darinya saya belajar dua hal penting: keseriusan memilih dan meniti hidup di bidang seni, dan kerendahan hati. Dia seorang seniman penting di negeri ini yang jauh dari kesan seorang seniman besar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Orang kedua yang ingin saya ceritakan adalah seorang pemuda. Belum dua puluh tahun. Dia memanggil saya Om. Kami bertemu di Singapura, pekan lalu. Dia bahkan harus menginap di hotel tempat saya tinggal. Puisilah yang mempertemukan kami. Saya kira, pada usia dia, wajar saja bila menghadapi semacam kegamangan pilihan. Dia punya bakat sastra. Ketika SMP dua kali dia menang lomba mengulas buku sastra. Dia menelaah buku Remi Silado dan Ayu Utami. Dia suka menulis puisi. Blog mempertemukan kami. Dia mengirim karya-karyanya dan saya mengulas sebisa saya. Saya lihat dia &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berkembang. Puisi-puisinya semakin menemukan kekhasan. Ini tentu saja menggembirakan.&lt;br /&gt; Dia sudah menerbitkan tiga antologi fotokopian. Saya kagum pada semangatnya. Ia harus menabung uang saku untuk buku puisinya itu. Saya memberi pengantar pada beberapa bukunya itu. Beberapa kali dia menelepon untuk konsultasi gratis mengenai perkembangan perpuisiannya. Tapi, saya tak mau dia jadi epigon saya. Kata saya, "Kamu harus lawan saya. Jangan jadi murid yang patuh. Membandellah..." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ayahnya tidak suka dengan kegiatannya menyair. Di Singapura dia sekolah seni di tahun pertama, merancang busana di tahun kedua, dan tahun ini dia belajar bisnis fesyen. Dia bilang sejak semula ayahnya tukang jahit di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Tukang jahit? Kok bisa sekolahkan kamu ke Singapura?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Papa saya nabung, Om..." kata pemuda yang melindungin mata sipitnya dengan kaca mata minus (pasti karena dia candu membaca) dan berambut lurus ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Yang pasti ayahnya ingin dia melanjutkan kelak usaha menjahit itu, katanya. Itu dunia yang hendak ia tolak. "Janganlah. Beruntung kamu bisa sekolah ke Singapura. Kamu kan bisa nanti jadi perancang busana, atau pengusaha garmen yang menyair. Kamu akan memperkaya dunia sastra Indonesia," saran saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Dari dia - ah, saya tak perlu sebut namanya, karena saya yakin dia kelak jadi seniman yang penting di Indonesia - saya belajar dua hal: keinginan kuat untuk mempertahankan dan mengembangkan bakat seni, dan juga kerendahan hati. Dua hal itu saya kira akan membawa dia arah yang benar. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Orang ketiga yang saya ingin ceritakan juga saya temui di Singapura. Dia seorang pengatur yang baik. Dia dulu mengelola mailing list (milis) di lingkaran Dewi Lestari yang kala itu baru akan menerbitkan buku Supernova. Milis itu berperan melambungkan Supernova menjadi buku laris. Rasanya tak ada buku yang dikelola seperti itu, dan kita tahu Supernova kemudian jadi sejarah penting dalam sastra Indonesia. Nah, lelaki Melayu Bangka inilah yang ada di balik milis itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kami berkenalan di sebuah milis sastra. Dia punya banyak ide. Suatu hari dia mengelola penerbitan on demand yang melayani cetak dan terbit buku sesuai permintaan. Bahkan satu buku pun bisa. Dia pernah diskusi dengan saya soal radio sastra yang disiarkan lewat internet. Saya sungguh tak sampai pada ide-ide inkonvensional itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ia juga mengelola berbagai milis tempat berkumpul orang-orang kreatif: musisi underground, peminat film, pekerja film, musisi jazz, pekerja seni pertunjukan, dan banyak milis yang lagi yang - bahkan oleh saya yang juga pernah menjadi moderator sebuah milis puisi - tak terbayangkan oleh saya. Iseng banget sih orang ini, pikir saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tapi keisengan itu membawanya ke berbagai hal yang tak ia dua. Suatu hari dia baca Yahoo! Asia mencari manajer komunitas, istilah internasionalnya Communitu Manager. Dia kirim aplikasi, dan dua bulan kemudian, ketika dia sudah melupakan lamaran itu, orang Yahoo memintanya datang ke Singapura. Ia lewat serangkaian tes, dan singkirkan banyak pesaing sampai akhirnya, malam itu, di Starbuck Cafe, di dekat Stasiun MRT City Hall, dia memberikan kartu namanya dengan jabatan yang aneh rasanya: Community Manager. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Saya juga heran, kok bisa. Ini kerjaan gak ada sekolahnya," katanya, kami tertawa. Dia dulu kuliah desain di ITB. Kecintaan pada musik ia rawat. Ia bekerja selalu tak jauh dari dunia kreativitas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Di Singapura, kesibukan kerja tak juga membuatnya berhenti berkreasi. Ia gagas puisi progresif - saya ikutan proyek ini -, dan ia kelola radio internet www.voiceofjakarta.com. Ini radio yang unik karena penyiarnya berserak di mana-mana. Ada yang di Chicago, ada yang di Singapura, ada yang di Jakarta. Pendengarnya ada di mana-mana, belum banyak, tapi ini sebuah stasiun yang dikelola serius, dan visinya jelas. Malam-malam deadline di kantor saya suka mendengarkan radio ini, terutama Sabtu malam. Ada Alfred Ticoalu yang fasih sekali dengan sejarah musik Jazz. Radio ini jadi mitra Jakjazz tahun ini.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dari dia saya juga belajar dua hal: kecintaan pada seni dan keberanian mencoba dan masuk ke wilayah-wilayah yang bahkan tak terbayangkan bila kelak itu bisa menjadi sesuatu yang bisa ditekuni dengan serius dan menjamin kehidupan. Saya tak akan sebutkan namanya, karena saya yakin dia kelak akan menjadi penting di ranah kesenian di negeri ini dan Anda pasti akan membaca namanya entah di sebuah publikasi mana.*** &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-7036952516673163556?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/7036952516673163556/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=7036952516673163556' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/7036952516673163556'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/7036952516673163556'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/11/tentang-tiga-orang.html' title='Tentang Tiga Orang'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-3782150274794986740</id><published>2008-10-18T20:24:00.003+08:00</published><updated>2008-10-18T20:30:53.264+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jurnalistik'/><title type='text'>Panduan Penulisan: Jenis Penuturan</title><content type='html'>[Dikirim oleh Rumah Pena di milis Jurnalisme, Sabtu 18 Oktober 2008]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menulis, kita bisa pula memakai beberapa jenis teknik penuturan untuk&lt;br /&gt;memperkaya tulisan. Ada beberapa jenis penuturan yaitu, Narasi, Deskripsi, Eksposisi dan dan Persuasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;A. NARASI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mengisahkan peristiwa atau obyek bagian per bagian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Rumah Badu sangat besar. Bergaya arsitektur Jawa, rumah itu terletak di Jalan Kencana. Di halaman rumah ada air mancur dengan patung anak kecil yang tangannya menunjuk pintu besar ruang tamu rumah utama. Pintunya berukir Jepara. Di dalam ruang tamu ada lemari buku besar dan lemari lebih kecil berisi koleksi keris serta kerajinan lain. Sebuah lukisan besar memisahkan antara ruang tamu itu dengan ruang keluarga yang berisi satu set home theater. Dan seterusnya…&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Menjelaskan sesuatu dari asal-muasalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Kopi kini menjadi jenis minuman yang paling banyak ditenggak di seluruh dunia. Konsumsi kopi terus meningkat di seluruh dunia. Tahukah Anda dari mana tanaman ini berasal? Tanaman kopi berasal dari Jawa. Tanaman ini mulai dibudidayakan sejak abad ke-18. Kopi yang ditanam di Jawa kala itu sudah diekspor ke berbagai belahan dunia termasuk Amerika dan Eropa.&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. DESKRIPSI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melukis dalam benak pembaca, cukup detil sehingga pembaca bisa merasakan lukisan itu dengan seluruh inderanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh 1:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Desa Adiluhung terletak di tepi air terjun Taman Nasional Mahakam. Anak-anak desa suka bermain di bawah air terjun yang jenih itu, demikian jernih sehinggga ikan-ikan tampak ikut berenang bersama mereka. Batu-batu di dasar sungai membentuk seperti mosaik yang kaya warna… &lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh 2:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Perempuan itu berdiri di bawah rintik hujan, mengenakan gaun hitam dan bertopi merah. Tetesan air menimpa wajahnya, mengalir melalui pipinya menuju dagunya yang berbelah pinang. Butir air menyerupai embun menempel di bibirnya yang dipoles lipstik merah delima. &lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;C. EKSPOSISI &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelaskan, memperlihatkan atau mengisahkan kenapa sesuatu terjadi, melalui rangkaian sebab dan akibat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Jakarta ibarat lelaki setengah baya yang tambun dan kebanyakan kolesterol. Metropolitan Jakarta sekarang berpenduduk 10 juta jiwa dan bertambah pesat pertumbuhan penduduknya. Sekitar 100.000 orang setiap tahunnya datang dari pelosok Indonesia. Daya dukung lingkungan Jakarta mulai terengah-engah memenuhi hidup sehari-hari warganya.&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;D. PERSUASI&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis untuk mengajak pembaca menyetujui sebuah sudut pandang akan masalah, untuk menggerakkan emosi mereka, bahkan untuk beraksi seperti dikehendaki penulisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Pencabutan subsidi BBM akan mempersulit hidup orang miskin. Jumlah orang miskin bahkan akan bertambah jutaan akibat naiknya harga barang dan layanan, termasuk layanan kesehatan dan pendidikan dasar.&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Jumlah subsidi BBM tidaklah besar. Dalam anggaran kita beberapa tahun terakhir, pos pembayaran utang selalu paling besar, sekitar 50% dari seluruh pengeluaran pemerintah. Kenapa pemerintah mencabut subsidi bukannya menegosiasikan pengurangan utang? Kenapa pemerintah lebih suka mempersulit hidup rakyatnya ketimbang membebani diri dengan rasa malu untuk meminta pemotongan utang dari kreditor internasional?&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Kenaikan harga minyak memang problematis. Tapi, adalah amoral mengalihkan beban kerja keras pejabat pemerintah menjadi beban rakyat kebanyakan yang sudah susah.&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-3782150274794986740?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/3782150274794986740/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=3782150274794986740' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/3782150274794986740'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/3782150274794986740'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/10/panduan-penulisan-jenis-penuturan.html' title='Panduan Penulisan: Jenis Penuturan'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-4786990336191263684</id><published>2008-10-16T23:01:00.003+08:00</published><updated>2008-10-16T23:04:26.207+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku dan Aku'/><title type='text'>Desain Sampul Buku</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_wBF3FgfDPDw/SPdXZ8kIajI/AAAAAAAAAh0/Ayy4Eh8vmGI/s1600-h/Sampul+Buku+Tak+Ada+Rahasia.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_wBF3FgfDPDw/SPdXZ8kIajI/AAAAAAAAAh0/Ayy4Eh8vmGI/s400/Sampul+Buku+Tak+Ada+Rahasia.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5257767193244363314" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kolom saya di blog ini saya atur menjadi satu naskah buku motivasi. Saya sudah tawarkan buku itu ke beberapa penerbit. Bila kelak buku itu terbit, saya bayangkan sampul depannya akan jadi seperti ini. Saya suka sekali buku-buku motivasi dan kepemimpinan John C Maxwell, desain ini saya rancang berdasarkan kesukaan itu, saya mengambil ide dari bukunya Failing Forward (Penerbit Interaksara).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-4786990336191263684?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/4786990336191263684/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=4786990336191263684' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/4786990336191263684'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/4786990336191263684'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/10/desain-sampul-buku.html' title='Desain Sampul Buku'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_wBF3FgfDPDw/SPdXZ8kIajI/AAAAAAAAAh0/Ayy4Eh8vmGI/s72-c/Sampul+Buku+Tak+Ada+Rahasia.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-8625793616979632786</id><published>2008-10-15T16:10:00.001+08:00</published><updated>2008-10-15T16:11:48.230+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kolom'/><title type='text'>Ganti Gigi</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Oleh Hasan Aspahani&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt; SAYA bukan manajer yang baik bagi gigi-gigi saya. Manajemen pergigian saya kacau. Tidak, saya bukan ingin bikin pengakuan bahwa saya orang yang malas menggosok gigi. Saya menggosok gigi sama dengan orang lain. Tapi saya harus akui bahwa gigi saya bukanlah bagian yang bisa saya banggakan. &lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sejak kecil gigi susu saya sudah tidak beres. Ini pasti gara-gara keseringan menggugut tebu. Di kampung dulu kami makan tebu dan mangga dengan langsung mengupasnya dengan gigi, tanpa pisau, lalu mengunyahnya langsung seperti mesin giling. Bayangkan kulit tebu yang keras itu beradu dengan gigi-gigi susu kami. Lama-lama rompal juga. Kebiasaan menggugut tebu dan mangga berlanjut sampai gigi-gigi baru kami tumbuh dan hasilnya sama saja, lapiran email gigi pun lama-lama menipis dan jebol juga akhirnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kondisi pergigian kami pun tambah buruk karena bagi kami yang tinggal di kampung kawasan pesisir dulu tak ada pilihan untuk berkumur dan menyikat gigi kecuali air sumur yang payau atau air hujan. Karena berkumur dengan air payau sungguh tak nyaman, rasanya gigi tak kunjung bersih, pilihannya sering kali jatuh pada air hujan yang nol kalsium dan dengan kejam menggerus lapisan gigi. Akibatnya, ya sama juga, rata-rata orang kampung kami giginya tidak beres. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Gigi dewasa saya mulai tampak rapuh sejak SMA, dan ketika kuliah saya harus mengenakan gigi palsu. Gigi depan saya yang asli patah ketika mengudap tempe goreng bersalut tepung. Ini makanan murah dan gurih plus lauk yang bergizi. Sebenarnya alasan utama jatuh pada tempe karena ya murahnya itu. Mungkin karena keseringan makan tempe gigi saya protes, maka patahlah dia. Gigi saya yang patah itu sesungguhnya masih bisa ditambal karena patahnya kurang lebih separo saja. Tapi uang kuliah dan fotokopi diktat  lebih penting daripada gigi. Biaya menambal gigi waktu itu sama dengan SPP setahun. Maka, dicarilah alternatif termurah: bikin gigi palsu. Patahan gigi yang tersisa dipotong habis tanpa dicabut. Saya harus membolos kuliah dua hari sampai gigi palsu itu jadi. Pada hari pertama dengan gigi baru itu, saya melangkah ke kampus sambil  menghibur diri dengan mengatakan bahwa Ratu Elizabeth I dari Inggris dan Presiden George Washington dari Amerika Serikat adalah tokoh yang memakai gigi palsu juga.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Bertahun-tahun saya hidup dengan satu gigi tambahan yang saya dapat dari tukang gigi di Bogor itu, sampai hari ini. Nah, sementara itu kerusakan pada gigi-gigi saya menjalar. Dua geraham bawah masing-masing di kiri dan kanan sudah lama dicabut juga. Kini dua geraham kiri atas dan dua geraham kanan atas juga tak bisa diselamatkan lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dan minggu-minggu ini saya pun berada di ruang dokter gigi lagi. Tak baik menakut-nakuti orang, tapi saya harus bilang berada di ruang dokter gigi itu seperti nonton film horor yang pemain korban utamanya kita sendiri. Dua kali kunjungan saya belum diperkenankan mencabut gigi sebab tekanan darah saya tinggi sekali. Mungkin karena tegang membayangkan bagian tubuh saya dilepas paksa, tekanan darah saya naik sampai 170. Setelah ditenangkan pun hanya turun sampai 150. Padahal saya punya kecenderungan darah rendah. Dua bulan sebelumnya, ketika cek tekanan darah saya hanya 90. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Bayangkan adegan 'horor' ini: saya hanya terbaring, dengan sorot lampu terang yang memaksa kita harus memejamkan mata - saya kira itulah fungsi utamanya, membuat silai pasien dan bukan  untuk menerangi lorong mulut -, dengan mulut terbuka, dan terus terbuka selama gigi-gigi saya digarap. Saya tak bisa menyaksikan bagaimana alat-alat itu menjelajah gigi-gigi dan mulut saya. Saya hanya bisa mendengar suara bor, dan suara gigi dicongkel, dikerik, dan suara pengisap jika cairan di mulut saya telah penuh. Suara-suara menyeramkan itu, sialnya, terdengar amat jelas, sebab terjadinya di rongga kepala yang sama dan hanya beberapa senti dari gendang telinga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Untungnya dokter dan asistennya yang mengurus gigi-gigi saya sekarang bisa mengurangi atmosfer  horor itu. Sepanjang dua jam lebih berbaring - untuk menambal dua gigi pada kunjungan kedua saya malam kemarin - mereka ngobrol dan bertukar cerita macam-macam sambil sesekali menyebut-nyebut istilah medis yang tak saya mengerti tapi saya pastikan itu berkaitan dengan kondisi parah gigi-gigi saya. Komunikasi saya dengan mereka selama itu hanya dengan mengangkat tangan bila bor telah menyentuh ujung syaraf dalam gigi dan saat itulah terasa ngilu. Istri saya bilang, para dokter itu memang begitu. Ia dapat pengalaman itu dari dua kali operasi caesar. Pada operasi kedua, dia dibius separo. Dokter Iman T Rahman dan Dokter Joni Kurnadi (alm), sambil membedah malah ngobrol tentang orang demo dan akhirnya ngomong tentang makanan. Istri saya heran, di depan darah dan tembuni - yang lebih 'horor' itu - kok membicarakan makanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dua jam setengah? Ya, itulah waktu yang diperlukan untuk menambal dua gigi depan saya. "Lama, Pak ya? Allah sekali kun fayakun jadi deh semua gigi kita, bagus lagi," kata Dokter Reffi yang seperti maestro seniman patung merekonstruksi gigi saya itu. Dalam hati saya, "ya, bagus dan Allah menggratiskan pula gigi-gigi bagus itu!" Ah, jadi ingat sebuah ayat Quran yang berulang-ulang menyebut, "nikmat Tuhanmu yang mana yang kamu dustakan?" Lewat nikmat gigi saja, saya tak akan pernah cukup mengucapkan rasa syukur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Urusan gigi saya masih jauh dari beres. Saya harus beberapa kali lagi datang ke Apotik Vitka Farma tempat praktek dokter tersebut. Dan nanti setelah gigi terakhir yang harus disingkirkan telah dicabut, maka saya harus menunggu dua minggu sebelum merancang pelat gigi palsu yang baru.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kalau saya hidup pada tahun-tahun sekitar 700 SM. Pada tahun itulah, menurut penelusuran pada dan catatan sejarah  gigi palsu mulai dikenal. Pada masa itu gigi palsu terbuat dari gading, tulang ikan paus atau tulang kudanil.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ada pada suatu masa, ketika orang miskin yang putus asa menjual gigi aslinya, untuk dibeli dan dijadikan gigi palsu oleh orang kaya yang kebetulan gigi aslinya tanggal, atau patah.  Jual beli ini tidak langsung, sangat mungkin lewat semacam pialang atau calo gigi yang saya bayangkan untung besar. Beli dari orang miskin dengan  harga murah, jual ke orang kaya dengan harga tinggi. Kepada orang kaya tentu dia akan mengarang cerita siapa pemilik asli gigi asli itu - yang pasti tidak akan dimiskin-miskinkan amat. Supaya harga komoditi giginya melonjak tinggi. Oh, ya kadang pialang gigi palsu tapi asli itu juga mendapat pasokan dari gigi mayat korban perang. Huh, tak terbayang kalau saya memakai gigi palsu dari mayat korban perang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Gigi palsu dan ban mobil ternyata bersaudara. Tak percaya? Ini ceritanya. Gigi palsu yang murah dan nyaman seperti sekarang diciptakan pada  1839 oleh Nelson Goodyear. Nelson membuat gigi dari karet keras atau vulcanite. Dia ini orang Amerika dan bersaudara kandung dengan Charles Goodyear - pengusaha yang terkenal dengan pabrik ban Goodyear-nya.  Gigi palsu made in Nelson laku keras dan dibuat besar-besaran dan Nelson kaya raya dari royalti atas paten atas ciptaannya ini. Tapi hak paten itu dilepaskan saja oleh Nelson pada tahn 1881 setelah pengacaranya Josiah Bacon tewas di tangan seorang dokter gigi yang kesal karena sang pengacara kelewat rajin menagih royalti.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Saya tentu tak perlu membayangkan gigi baru saya nanti terbuat dari gading, tulang ikan paus, tulang kuda nil, dan tak perlu pula saya membayar royalti pada Nelson Goodyear. Saya juga tak akan memilih emas untuk gigi baru saya itu. Dulu di kampung orang-orang Bugis suka memakai gigi emas. Sampai timbul seloroh, kalau musim laut ganas, maka gigi emas itu digadaikan karena kebanyakan pendatang Bugis di kampung saya hidup sebagai nelayan. Bila musim angin selatan, ombak besar, mereka tak bisa melaut. Saya tak tahu apakah Pegadaian sekarang mau menerima gigi emas untuk digadaikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Emas atau bukan emas, gigi itu mahal. Apalagi kalau gigi inplant seperti pernah saya baca dari tulisan Pak Dahlan Iskan beberapa tahun lalu jauh sebelum dia ganti hati, setelah dia sendiri menjalani proses ganti gigi di China. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Zig Ziglar bahkan menyebut gigi-gigi yang rata adalah aset sejati. Maka, dia pun tak pernah merasa rugi berinvestasi bagi gigi-giginya dan gigi-gigi empat anaknya. Investasi itu dia sebut dalam buku kecilnya "Something Else to Smile About" berupa kawat gigi. Dia sampai pada sebuah kesimpulan (saya setuju 100 persen pada kesimpuan ini) begini: "Luruskan gigi Anda maka Anda akan memiliki senyum kemenangan. Luruskan dan kuatkan karakter Anda, maka kehidupan akan tersenyum kepada Anda".*** &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-8625793616979632786?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/8625793616979632786/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=8625793616979632786' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/8625793616979632786'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/8625793616979632786'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/10/ganti-gigi.html' title='Ganti Gigi'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-2466239405275657511</id><published>2008-10-15T00:10:00.000+08:00</published><updated>2008-10-15T00:12:23.618+08:00</updated><title type='text'>Jeko II</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_wBF3FgfDPDw/SPTEuOkDwII/AAAAAAAAAhk/Lfq0azYBwwE/s1600-h/10-kalau.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_wBF3FgfDPDw/SPTEuOkDwII/AAAAAAAAAhk/Lfq0azYBwwE/s320/10-kalau.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5257042963510575234" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-2466239405275657511?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/2466239405275657511/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=2466239405275657511' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/2466239405275657511'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/2466239405275657511'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/10/jeko-ii.html' title='Jeko II'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_wBF3FgfDPDw/SPTEuOkDwII/AAAAAAAAAhk/Lfq0azYBwwE/s72-c/10-kalau.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-4219440382709803489</id><published>2008-10-15T00:02:00.003+08:00</published><updated>2008-10-15T00:06:30.778+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='karikatur'/><title type='text'>Jeko I</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_wBF3FgfDPDw/SPTDATiJqSI/AAAAAAAAAhc/c2maif2SzQQ/s1600-h/10-Jeeekoo.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_wBF3FgfDPDw/SPTDATiJqSI/AAAAAAAAAhc/c2maif2SzQQ/s320/10-Jeeekoo.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5257041075059140898" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jeko adalah karakter kartun saya di Posmetro Batam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tulis Akhir Postingan Anda&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-4219440382709803489?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/4219440382709803489/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=4219440382709803489' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/4219440382709803489'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/4219440382709803489'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/10/jeko-i.html' title='Jeko I'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_wBF3FgfDPDw/SPTDATiJqSI/AAAAAAAAAhc/c2maif2SzQQ/s72-c/10-Jeeekoo.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-5042001039106473289</id><published>2008-10-14T23:52:00.000+08:00</published><updated>2008-10-14T23:53:46.442+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kolom'/><title type='text'>Setelah Jatuh, Tegakkan Tangga</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Oleh Hasan Aspahani&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BOS BESAR, RUGI BESAR. Apa rasanya kehilangan kekayaan Rp25 triliun lebih? Ini hasil analisis firma informasi finansial CapitalIQ atas kerugian raksasa beberapa CEO perusahaan bersaham unggulan. Angka Rp25,2 triliun itu adalah kerugian CEO Oracle Laurance Ellison. Ini kerugian ranking pertama dibanding CEO perusahaan kesohor lain. Angka dihitung dari Oktober 2007 (puncak harga saham) hingga harga penutupan di hari keempat Februari 2008, yang jatuh bebas akibat melesunya pasar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, supaya angkanya mengejutkan kita tampilkan saja dalam rupiah dengan asumsi kurs Rp9.000 per dolar. Supaya dramatis juga, saya pilihkan nama-nama bos yang produk perusahaannya mungkin Anda manfaatkan setiap hari. Paling tidak buat saya, artikel ini diketik di komputer bermerek Dell, sejumlah data dalam artikel ini pun saya temukan berkat bantuan pencarian Google.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah berturut-turut daftar lima bos besar yang rugi besar itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Laurance Ellison, CEO Oracle Rp25,2 triliun  &lt;br /&gt; Michael Dell, CEO Dell   Rp15,3 triliun&lt;br /&gt;Jefrey Bezoz, CEO Amazon.com  Rp14,4 triliun&lt;br /&gt;Eric Schmidt, CEO Google Rp12,6 triliun&lt;br /&gt;Rupert Murdoch, CEO News Corp. Rp11,7 triliun&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, itu semua kerugian dalam triliun, deret angka dengan nol berbaris hingga dua belas. Besarnya kerugian mereka mungkin bisa membuat orang awam - seperti saya -  pingsan. Tapi, jangan kuatir, para bos kita itu tidak akan bunuh diri dan tak akan sampai harus tinggal di panti jompo, , tulis Businessweek Nomor 4, edisi Maret 2008.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sedang bicara tentang peluang dan tantangan yang amat lumrah dalam bisnis. Bila tujuan berbisnis adalah berlipatnya nilai kekayaan, maka risikonya adalah merosotnya nilai kekayaan. Karena risiko itulah, bisnis jadi menantang. Karena itu para pengusaha dituntut untuk terus kreatif dan inovatif. Dan memang itulah yang mereka lakukan. Maka, ketika pada bulan Mei 2008, majalah yang sama mengumumkan 25 Perusahaan Paling Inovatif, nama Google dan Amazon.com masuk dalam daftar itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau sudah jatuh dengan kerugian miliaran Amazon tetaplah perintis dan jawara e-commrece. “Saya berpendapat inovasi tak mengenal sulit ataupun masa jaya. Dan, kita harus melakukannya pada hal-hal yang dilakukan pelanggan,” kata Bezos dalam wawancara inspiratif dengan Businessweek, No,pr 12 Mei 2008. Dan, sebentar lagi, saya dan Anda mungkin akan terbiasa membaca e-book dengan perangkat bernama Kindle. Kindle adalah salah satu hasil inovasi Amazon.com.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;400, 140.  Rugi atau gagal adalah lumrah belaka dalam bisnis. Terbayangkah Anda membuka 400 restoran dan kemudian menutup 270 di antaranya? Itulah yang dilakukan Dr. Ir. H. Wahyu Saidi, MSc, pemilik Bakmi Langgara Group. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kan, masih untung punya 130 restoran,”  kata pengusaha dengan total aset  Rp15 miliar itu. Pria bergelar Doktor dan Alumni ITB yang dengan bangga menyebut diri tukang bakmi itu, saya yakin tidak akan berhenti mencari lokasi untuk buka restoran baru. Tak ada kata jera dalam kamus seorang pebisnis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jera? Nggak tuh! Kan, dalam kamus bisnis, itu hal yang lumrah. Gagal, ya terus harus bangkit cari peluang baru, bikin mesin-mesin uang baru,” katanya, kepada surat kabar Jurnal Bogor, suatu hari di bulan Juli 2008. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dia justru sedang mengatur strategi ekspansi besar-besaran. Dia menyiapkan apa yang ia sebut sebagai mesin-mesin pencetak uang baru. Ia tetap berkonstrasi pada bisnis waralabanya. “Saya mencoba bikin besar, dan banyak secara kuantitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Investasi untuk restoran yang kecil-kecilan nilainya Rp100 jutaan, sedangkan yang rada elite nilai investasinya Rp6 miliar,” katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita mungkin ditakut-takuti oleh gagal dan menganggap itu kemalangan dan mendramatisir dengan pepatah “sudah jatuh tertimpa tangga”. Mari kita lawan pepatah itu. Ketika jatuh, mari kita bangit berdiri, ambil itu tangga, lalu ulurkan lagi, tegakkan di tempat yang tepat dan kita menapakinya lagi ke atas.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kita yang baru memulai, atau yang belum tapi hendak memulai sebuah bisnis, keberhasilan hanya bisa dicapai bila kita berani menghadapi risiko kegagalan, jadi apa alasan kita untuk takut? ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-5042001039106473289?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/5042001039106473289/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=5042001039106473289' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/5042001039106473289'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/5042001039106473289'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/10/setelah-jatuh-tegakkan-tangga.html' title='Setelah Jatuh, Tegakkan Tangga'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-1339029986649776491</id><published>2008-10-14T22:02:00.000+08:00</published><updated>2008-10-14T22:06:45.474+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kolom'/><title type='text'>Memahami Penderitaan, Membalas dengan Kerja Keras</title><content type='html'>“Saya tidak akan pernah bisa berhasil dalam kehidupan saya. Saya berasal dari keluarga berantakan. Saya tidak punya apa-apa. Saya orang yang tidak ada harganya. Saya orang paling malang di dunia.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebangkitan, Kesempatan. Pernah mendengar seseorang berkata seperti itu kepada Anda? Atau Anda sendiri yang pernah mengeluh seperti itu? Sebaiknya, Anda menyimak ringkasan kisah berikut ini. &lt;br /&gt;Kisah tentang seseorang perempuan yang lahir dari orang tua yang tidak pernah menikah. Bapak biologisnya itu bahkan tidak tahu kalau si perempuan yang ia gauli mengandung dan melahirkan dia. Si perempuan memberi tahu hanya lewat iklan di surat kabar: Kirim Pakaian Bayi! Lelaki itu menikah dengan perempuan lain. Ibunya beberapa kali mengandung lagi dengan lelaki yang sama saja tidak pernah lewat pernikahan.&lt;br /&gt;Ia kemudian tinggal bersama ayah kandung dan ibu tiri. Untunglah dia pandai di sekolah. Beberapa kali melompat kelas. Tapi kemalangan seakan menjadi bagian dari hidupnya. Ia diperkosa sepupunya. Juga oleh sejumlah lelaki lain. Ia kemudian menjadi perempuan liar dan pada usia 14 tahun ia hamil. Ia harus cuti sekolah dan melahirkan bayi prematur.  &lt;br /&gt;Terbayangkah masa depan seperti apa yang akan dijelang oleh tokoh cerita kita sampai pada bagian itu?  Suram! Hancur! Berantakan!&lt;br /&gt;Tapi kisah ini tidak berakhir pada tiga kata itu. Berkat didikan ayahnya yang keras, membenahi kehidupannya. Ayahnyalah yang berkata, “Nilai C tak berlaku di rumah ini. Kalau kamu pulang dari sekolah membawa nilai C, kamu lebih baik tinggal di jalanan.” &lt;br /&gt;Ayahnya juga yang berkata ketika ia hamil dan melahirkan, “Ini pelajaran yang amat berharga. Kamu mau membiarkan dirimu hancur, hidup di jalanan dan tak terurus, atau menyesal dan berusaha memperbaiki hidupmu? Tuhan sedang menguji. Ia memberi kesempatan kedua, dan menurut saya, kamu harus mengambilnya. Kembalilah ke sekolah…” &lt;br /&gt; Ia pernah menjadi penjaga toko. Menjadi pembaca berita di radio lokal. Ia ikut kontes kecantikan dengan sponsor radio tempatnya bekerja dan menang. Ia raih beasiswa untuk empat tahun kuliah. Ia lalu bekerja di televisi. Setelah itu keberhasilan seakan tak terbendung lagi datang padanya. Ia main film seperti ia cita-citakan dan masuk nominasi piala Oscar. &lt;br /&gt;Ia punya acara talk show sangat popular yang sudah dua puluh tahun disiarkan di  122 negara. Ia punya studio yang memproduksi sendiri acara dan juga membuat film. Ia punya majalah dengan namanya sendiri dan pernah terjual 800 ribu eksemplar.  Ia sendiri menjadi tokoh yang amat berpengaruh, sebagai calon presiden Amerika, Barack Obama memanfaatkan dukungannya.  Ia menyumbang lebih dari 50 juta dolar AS untuk sekolah dan perempuan miskin di Afrika dan Amerika Serikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang mari kita sebut nama tokoh kita itu. Ya, Anda mungkin sudah sangat tahu, dia adalah Oprah Winfrey. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda mungkin masih bisa berkata sinis, “…dia kan mengakui masa lalunya yang kelam setelah dia sukses.” Tidak ada yang tahu cerita itu kecuali jika adik tirinya menjual cerita itu pada sebuah majalah. Dua tahun dia tidak menegur adiknya sebelum akhirnya berbaikan kembali. Oprah benar-benar melakonkan apa yang disarankan dalam acara bincang-bincangnya, yakni memaafkan orang lain. &lt;br /&gt; Telanjur basah, Oprah menjual hak menerbitkan kisah hidupnya tapi niatnya bukan dilandasi semata-mata pada uang. “Kalau sekedar menceritakan rasa sakit itu tak ada gunanya. Aku ingin buku ini menginspirasi kehidupan, memberdayakan, bukan kisah sedih penuh nama dan data.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, sekarang masihkah  sekarang Anda merasa sebagai orang yang paling malang di dunia? Kalau pun Anda punya kehidupan yang lebih tragis dari masa lalu Oprah, bukankah itu alasan bagi Anda untuk menjadi lebih hebat daripada dia? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dengan pemahaman yang benar atas penderitaan, membalasnya dengan kerja keras, bekerja penuh cinta, semua bisa kita raih,” kata Oprah. “Ayo berlarilah bersama saya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-1339029986649776491?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/1339029986649776491/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=1339029986649776491' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/1339029986649776491'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/1339029986649776491'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/10/memahami-penderitaan-membalas-dengan.html' title='Memahami Penderitaan, Membalas dengan Kerja Keras'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-3431393675957310966</id><published>2008-10-10T16:34:00.000+08:00</published><updated>2008-10-10T16:35:53.908+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kolom'/><title type='text'>Jaga Lima, Sebelum Lima</title><content type='html'>&lt;blockquote&gt;HAFALKAN empat puluh hadist, engkau akan terbebas dari siksa kubur. Saya ingat kalimat itu dulu diucapkan oleh guru sekolah arab kami dulu di kampung, nun di Kalimantan sana. Ia mengutip dari sebuah hadist.  Di kampung kami dulu setiap anak harus sekolah arab di sore hari. Bercelana panjang dan berpeci. Pagi kami sekolah melayu. Ya, begitulah orang-orang tua kami membedakan jalur pendidikan. Sekolah melayu adalah sekolah dasar yang guru-guru, bangunan sekolah, bangku-meja, dan buku-buku, semua disediakan oleh pemerintah. Sekolah arab itu madrasah yang sepenuhnya swadaya. Gedung, honor guru, buku-buku, diupayakan sendiri oleh orang-orang kampung.&lt;/blockquote&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Saya merasakan, bagi orangtua kami saat itu, kedua sekolah itu penting. Ilmu yang didapat di sekolah melayu untuk bekal mengejar kehidupan yang baik di dunia, sedangkan ilmu di sekolah arab untuk sangu kehidupan kelak di akhirat. Kami didorong untuk disiplin di kedua sekolah itu. Meskipun ya namanya juga anak-anak, kami rada indisipliner saat sekolah sore. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saya tak tahu kenapa kami menyebutnya sekolah arab. Mungkin karena sebagian besar ilmu yang diajarkan berasal dari kata arab. Mungkin itu diadaptasi dari pelajaran di pesantren, karena sebagian guru-guru sekolah arab adalah lulusan pesantren. Sejarah Islam disebut Tarikh, Bahasa Arab disebut Logat, menulis indah namanya Khot. Kami juga belajar Fikih, Tauhid, Adab dan Akhlak, Alquran dan Hadist, dan Hisab. Yang terakhir itu ilmu berhitung dalam aksara arab. Semacam matematika.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Pelajaran yang paling saya sukai di sekolah arab itu Khot dan Alquran dan Hadist. Khot itu menulis indah. Kami harus meraut mata pensil sedemikian rupa sehingga tulisan yang dihasilkan bergradasi tebal tipis. Garis tegak tipis, garis datar tebal. Ya, ini ilmu kaligrafi. Saya selalu mendapatkan nilai bagus untuk pelajaran ini. Mininal ponten saya dapat angka delapan-lah.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saya juga menggemari pelajaran hadist,  karena dalam pikiran saya dan kawan-kawan - para bocah yang belum lagi akil balig - targetnya mudah. Kami harus hafal empat puluh hadist. Supaya lepas siksa kubur. Kalau setiap minggu kami menghafal satu hadist maka dalam setahun target tercapai. Tentu saja guru pengajar menjelaskan intisari dari hadist yang diajarkan. Dia juga menjelaskan apa sebab nabi mengatakan sesuatu, melakukan sesuatu, atau berdiam saja terhadap sesuatu sehingga sebuah hadist pun tercatat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Salah satu hadist favorit kami adalah: jaga lima perkara sebelum datang lima perkara, sehat sebelum sakit, lapang sebelum sempit, muda sebelum tua, kaya sebelum miskin, dan hidup sebelum mati. Maaf, barangkali saya mengutip hadist ini tidak urut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Betulkah dengan hafal 40 hadist maka kami akan lepas dari siksa kubur? Padahal hadist itu kan ribuan jumlahnya? Kami tidak pernah bertanya waktu itu. Tapi, kini saya kira bukan hafalnya yang penting tapi bagaimana kami bisa mengamalkan ajarannya dalam kehidupan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tak usah mengamalkan 40 hadist, satu saja deh pasti selamat. Satu saja, saya pilihkan hadist tentang lima sebelum lima itu. Saya percaya hadist tadi cocok untuk diajarkan sedini mungkin kepada anak-anak, seperti kami dahulu. Anak-anak memiliki lima hal yang harus dijaga sebelum datang lima perkara berikutnya. Anak-anak punya harapan kehidupan, jelas masih muda, punya waktu lapang dan panjang, sehat, dan kalaupun kami lahir dari keluarga yang tidak kaya, kami tentu tidaklah terlalu miskin. Kalaupun orangtua kami tidak kaya, kami toh punya harapan untuk meraih kehidupan yang lebih beruntung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sekarang pun setiap kali melangkah saya sering mengukur diri dengan lima perkara itu. Jika ingin menunda suatu pekerjaan, maka saya bilang pada diri saya sendiri, ayolah kerjakan sekarang mumpung masih lapang, kalau sudah kepepet nanti malah tak sempat lagi. Jika saya malas belajar, saya akan ingatkan diri saya, ayolah jangan malas, selagi muda, kerja otak masih beres, ingatan masih kuat, otot masih kencang, belajarlah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Lantas bagaimana kalau kita sekarang sudah sibuk tak lapang lagi, sudah tua tak muda lagi, miskin tak kaya lagi, sakit tak sehat lagi? Hei, kita kan masih punya satu hal yang paling penting, kita masih hidup bukan? "Ini kunci dari segalanya. Kalau kita masih hidup kita masih bisa melakukan hal-hal yang baik," kata guru saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kini saya bisa membandingkan betapa makna hadist itu saya temukan dalam roh manajemen modern: manajemen waktu, manajemen aset, manajemen sumberdaya manusia. Saya kira ini bonus, spirit manajemen dalam hadist itu mendukung profesionalitas kerja saya, dan bersama 39 hadist lain yang masih saya hafal hadist ini menyelamatkan saya dari siksa kubur. Amin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Hadist itu mengilhami Raja Dangdut Rhoma Irama menggubah sebuah lagu. Liriknya dimulai begini: pesan Nabi kepada semua umatnya...(langsung diselingi solo gitar).. Jaga lima sebelum datangnya lima... Lagunya berirama menggugah. Temponya cepat dan menghentak-hentak. Dinyanyikan dengan sangat bergairah. Beda sekali dengan kelompok nasyid Raihan yang belakangan juga melagukan hadist itu. Gubahan Raihan lebih lembut, mengalun pelan dan syahdu. Saya tidak perlu menilai mana kedua lagu itu yang lebih baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Setahu saya belum ada kelompok musik lain yang melagukan hadist itu. Bagus juga kalau Gigi menyanyikan lagi lagu tersebut dengan aransemen baru. Kalau lagu Perdamaian milik kelompok GNR (bukan Gun 'n Roses, tapi Grup Nasyida Ria) saja cocok dibawakan oleh Gigi, saya yakin lagu Bang Haji Rhoma juga pasti pas. Meminjam istilah juri Indonesian Idol Indra Lesmana, saya kira Armand pasti dapat soul-nya lagu itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Nah, kalau lagu Raihan saya kira lebih cocok dibawakan sama Ungu. Pas banget. Bayangkan suara Pasha melagukannya:.... Ingat lima perkara sebelum lima perkara, sehat sebelum sakit. Lapang sebelum sempit. Muda sebelum tua. Kaya sebelum miskin. Hiduuuuup sebeeeeelum matiiiii.***  &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-3431393675957310966?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/3431393675957310966/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=3431393675957310966' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/3431393675957310966'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/3431393675957310966'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/10/jaga-lima-sebelum-lima.html' title='Jaga Lima, Sebelum Lima'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-7429190136830669043</id><published>2008-10-08T12:01:00.002+08:00</published><updated>2008-10-14T22:01:49.172+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='reportase'/><title type='text'>Parkir tanpa Juru Parkir, SPBU pun Swalayan</title><content type='html'>&lt;em&gt;Berlebaran di Rumah Orang Singapura di Johor Baru (3-habis) &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hasan Aspahani, Johor&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Saya mau pensiun nanti sebagai dosen,” kata Ramdzan pada saya. Ini sedang bersiap mengikuti kuliah lagi. Ia ambil bidang yang jauh dari teknologi informasi dunianya saat ini. Ia mendaftarkan diri di jurusan Kebudayaan Melayu.  Itu dilakukan pada usianya yang tahun ini  43 tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak terbayang bila nanti pada usia itu memulai lagi kuliah di bidang yang sama sekali baru buat saya. Apa yang mendorong Ramdzan? Ia bilang, menjadi ahli teknologi informasi berbeda dengan dokter. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bila dokter, makin lama dia bekerja, makin banyak dia punya ilmu. Sedangkan di IT ini, bila kita tak kejar perkembangan teknologi yang baru kita kalah dengan orang-orang baru yang lebih muda. Jadi kita nak kena kejar teruslah,” katanya. Dan itu melelahkan dia. Hanim, istri Ramdzan, telah dua puluh tahun mengajar. Dia kini pun mengambil kuliah lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putera, anak sulung Ramdzan, dipersiapkan untuk melanjutkan ke college atau university di Singapura.  Ayahnya tak menyarankan dia ambil kekhususan di bidang TI. &lt;br /&gt;“Kata saya, kuasailah IT  sebagai hobi saja, dia boleh jadi programer atau apa saja. Tapi tekuni karir di bidang lain. Putera mau jadi banker. Baguslah.” kata Ramdzan. Ia  memang amat cermat menyiapkan masa depan anak-anaknya. Termasuk membekali mereka dengan pendidikan agama. Itulah makanya dia memilih tinggal dan menyekolahkan anak-anaknya di tingkat dasar dan menengah di Johor Baru, tidak di Singapura yang pendidikannya ia nilai amat sekuler.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah Singapura memang mendorong warga seniornya untuk belajar lagi, mengambil pelajaran yang tak sama bahkan bertolak belakang dengan bidang yang mereka tekuni saat ini. Orang TI disarankan ambil bidang seni,  menekuni tanaman hias, melukis, atau membuat keramik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tahu betapa minat Ramdzan pada sastra – khususnya puisi - amat besar. Kami berkenalan dalam sebuah mailing list yang dulu saya kelola sebagai moderator. Ia pun mengelola sebuah blog puisi www.dzan.blogspot.com. Kami pernah merancang banyak  kerja untuk menjayakan sastra di Indonesia, Malaysia dan Singapura. Kami pernah merancang sebuah antologi buku puisi tiga Negara yang kemudian terkendala.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Straits Times (TST), surat kabar utama di Singapura, bulan lalu memberitakan tingkat pertumbuhan penduduk hingga empat persen, angka tertinggi dalam sejarah kependudukan negeri itu. Sebagian besar angka itu disumbang oleh pendatang. Singapura adalah surga para pencari kerja muda dari berbagai penjuru dunia. Perusahaan TI internasional memfavoritkan Singapura sebagai kantor pusat untuk kawasan Asia. Tak heran bila merek-merek global seperti Google, Yahoo, HP, Dell banyak beriklan di TST. Iklan di sesi Recruits – halaman khusus iklan lowongan kerja di koran itu selalu menjadi sesi yang paling tebal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa saja para tenaga TI muda yang yang bersaing di negara itu? “Yang terbanyak dari China, Filipina dan Indonesia. Ahli IT Indonesia sebenarnya hebat, ilmunya tak kalah. Hanya lemah saat bercakap dalam Bahasa Inggris,” kata Ramdzan. Para pemberi kerja lebih memilih tenaga muda dari luar negara Singapura itu dengan pertimbangan gaji awalnya tentu lebih rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila Singapura diserbu para pencari kerja, Malaysia kini kekurangan pekerjaan. Menurut Ramdzan tingkat pengangguran di negeri itu mencapai 30 persen. Angka yang tinggi sekali.  Apa sebab? Ekonomi masih tumbuh, tapi tak cukup banyak pekerjaan baru untuk angkatan kerja baru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang saya lihat di di Johor mungkin bisa menjelaskan. Saya melihat segalanya dijalankan dengan  tenaga kita amat efisien. Sebuah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), cukup dilayani satu orang. Ya, satu orang saja. Saya perhatikan bagaimana Ramdzan mengisi BBM untuk mobilnya. Di SPBU milik Shell itu ada empat stasiun. Kendaraan tak ramai. Setelah memarkir  kendaraan, dia menuju ke kasir di minimarket yang selalu melengkapi setiap SPBU di sana. Ia kembali dengan semacam kartu dan memasukkannya ke mesin pengisian BBM, mengarahkan pipa ke tangki, lalu secara otomatis bensin terisikan sesuai harga yang sudah dibayar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu harga per liter RM2,30. Itu harga baru karena pemerintah setempat menurunkan dari harga semula RM2,40. Turun 10 sen. Ini penurunan harga yang kedua sepanjang tahun ini.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kali lain, saya memperhatikan supir taksi yang mengantarkan kami kembali ke hotel mengisi gas di SPBU lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau taksi pakai gas, Ncik?” tanya saya pada supir itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, jimat-lah. Semua teksi kat sini pakai gas,” kata dia, “ke KL pergi-balik cukup RM40! Kalau pakai petrol habis RM200.”  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya perhatikan di mesin pengisan gas itu, harga per liter RM1,80. Harga lebih murah, pemakaian pun lebih hemat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti di Indonesia, Malaysia pun dibayangi kecemasan kekurangan BBM. Surat kabar Berita Harian, sehari menjelang hari raya kemarin, di halaman 2 memberitakan jaminan pemerintah bahwa pemerintah menjadi ketersedian “bahan api” cukup. Ada himbauan untuk tidak panik. Kecemasan itu beralasan karena sehari sebelumnya ada pula berita tentang beberapa SPBU di Lembah Klang yang tutup kehabisan stok. Bahkan diperkirakan 100 SPBU di Johor, Malaka dan Lembah Klang akan tutup pula karena perkara yang sama: tak ada suplai BBM. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah kini di Malaysia. BBM mahal, maka berhematlah. Tenaga kerja mahal, maka kurangi pemakaian tenaga kerja. Akibatnya, pengangguran pun tinggi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, itu tak bikin banyak pengemis berkeliaran. Di Pasar Larkin, siang itu, saya hanya bertemu dengan seorang pengemis wanita tua. Ia malu-malu menyodorkan mangkuk plastik kecil, sambil duduk bernaung di balik sebuah umbul-umbul bazaar jualan Ramadhan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu bukan dari sini. Dari luar Johor saya rasa,” kata Ramdzan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rangka efisiensi dan pengematan pula, maka perparkiran di beberapa tempat yang kami singgahi dikelola dengan otomatis pula. Sama sekali tanpa juru parkir. Ambil kartu parkir di gerbang masuk, lalu cari tempat kosong. Nanti ketika urusan sudah beres bayarlah pada mesin dengan memasukkan kartu parkir. Semuga dikerjaan otomatis. Di gerbang keluar, kartu yang sudah mencatat pembayaran tadi dimasukkan ke kotak sensor agar palang gerbang terangkat.*** &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-7429190136830669043?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/7429190136830669043/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=7429190136830669043' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/7429190136830669043'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/7429190136830669043'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/10/parkir-tanpa-juru-parkir-spbu-pun.html' title='Parkir tanpa Juru Parkir, SPBU pun Swalayan'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-4811736487886880361</id><published>2008-10-04T18:13:00.002+08:00</published><updated>2008-10-04T21:16:41.265+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='reportase'/><title type='text'>Ketupat Plastik dan Lampu Colok Elektrik</title><content type='html'>&lt;em&gt;Berlebaran di Rumah Orang Singapura di Johor Baru (2) &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Di Johor saya melihat bagaimana Melayu – dengan kearifan-kearifan budayanya – luwes bersikap: modernitas memang tak tertahankan, tetapi tradisi tetap bisa dipertahankan. Kejelian industri pun mengambil peluang di tengah dua arus itu. Maka, ketupat pun dibuat dari plastik  plus aroma daun kelapa buatan, dan lampu colok pun masuk supermarket. &lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kebiasaan saya kalau berada di negeri orang adalah menjadi pelanggan surat kabar dadakan. Sepagi mungkin saya keluar hotel dan membeli surat kabar lokal, apa saja yang ada, semuanya dibeli.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Pasar dan Terminal Larkin, sekitar lima menit jalan kaki dari Hotel Seri Malaysia tempat saya dan keluarga menginap - saya dapat lima surat kabar: New Straits Times (NST), Metro, Kosmo!, Berita Harian, dan Stars.  &lt;br /&gt;Kecuali Stars, empat koran lain diterbitkan oleh satu penerbitan yang sama, yakni New Strais Times (M) Bhd. NST dan Stars terbit dalam Bahasa Inggris, tiga lainnya terbit dalam Bahasa Melayu. Ini saja menunjukkan satu hal bahwa kedua bahasa sama dominannya dalam kehidupan di Malaysia.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di rumahnya, dengan anak-anak dan istrinya, Ramdzan berbicara terutama dalam Bahasa Inggris, dan sedikit bahasa Melayu. Di sekolah anak-anaknya di Johor, pelajaran Matematika dan Sains dihantar dalam Bahasa Inggris. Jadilah, Puteri, anak kedua Ramdzan hanya saling diam-diaman dengan Shiela anak sulung saya. Ah, bahasa memang mempersatukan, tapi juga mengendalakan. Kecuali Ikra,si bungsu lelaki saya “kepedean”  seperti kata dalam lirik lagu The Changchuter, lagu yang sering ia tirukan. Ikra lantak saja main mercon, main mercon dan bunga api, dan bicara dalam bahasa Indonesia-nya, kadang-kadang pun dengan dialek Melayu Tanjungbalai Karimun yang ia tiru dari atuk dan neneknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Harga bandrol surat kabar – yang semuanya dalam format tabloid, dengan 64 hingga 88 halaman itu – merentang antara 1 RM hingga RM 1,8, nah kalau dibandingkan, tak jauhlah dengan harga media kita  dengan kurs  RM 1 = Rp2.600. Tapi, kebijakan meliburkan diri beda dengan Indonesia. Di Malaysia koran-koran serentak libur satu hari saja pada hari raya kedua. Ini mungkin mempertimbangkan para pemasang iklan yang ramai beriklan tepat di hari raya.  Kosmo!, misalnya terbit di hari raya dengan iklan TV3 satu halaman penuh di halaman depan plus iklan programnya juga menyita halaman dua, dan dua halaman terakhir. Full color.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saya memperhatikan bagaimana institusi usaha seperti perbankan, perusahaan minyak, brand besar barang konsumsi, mencitrakan diri dalam iklan-iklan menyambut Hari Raya Idulfitri di koran-koran itu. Ada kerinduan untuk mempertahankan atau kembali ke tradisi. Desain iklannya bernada sama: anak-anak berbaju kurung (Etiqa, asuransi syariah) dan peci (Maybank), ibu menjahit tangan baju kurung (Petronas), berkunjung rumah panggung melayu (Telekom Malaysia), keramaian mengacau dodol (ini gambar kartunis paling mahsyur Lat untuk Astro), lampu colok (Panasonic), dan filosofi rangkaian ketupa (Nestle). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Iklan Nestle di NST yang saya sebut terakhir itu menarik. Iklannya didesain sederhana. Ada gambar berjajar vertikal di tengah halaman, semuanya menampilkan empat tahap menjalin ketupat dengan latar belakang blok warna hijau pucuk daun kelapa.  Gambar pertama, diberi teks: sejalur kasih anak; Kedua: serangkai budi suami; Ketiga: seikat jasa menantu; dan Keempat, sesusun doa ibu. Lalu sebaris teks kecil di bawah: Erat ketupat kerana anyaman, erat insan karena jalinan. Selamat Hari Raya Aidilfitri. Begitulah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Nyatanya, di dua pasar yang kami singgahi bersama Ramdzan, sahibulbait  kami, sehari sebelum hari raya itu nyaris tak ada orang berjualan ketupat. Hanim, si nyonya rumah,  kepada istri saya di dapur rumah mereka yang luas, menunjukkan ketupat instan  berbungkus plastik. Kelak kami tahu di mal besar Jusco di kawasan Tebrau, ketupat itu banyak dijual di sana dalam berbagai merek dan model. Salah satunya keluaran Adabi, merek pengeluar berbagai jenis bumbu dan bahan makanan tradisional melayu di Malaysia dan Singapura, beberapa juga beredar di pasar-pasar kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Adabi menjual produknya sebagai Ketupat Nasi alias Rice Cube. Satu bungkus berat totalnya 780 gram, berisi berbagai ukuran ketupat, harganya RM 5.90. Yana, istri saya membeli sebungkus berisi enam ketupat dengan berat masing-masing 130 gram. Di kemasannya terbaca: Bersih dan Asli. Keluaran Bumiputera. Dengan Haruman Ketupat Daun Kelapa Sejati. Dan jangan kuatir ancaman plastik yang kalau dipanaskan bisa bikin kanker, karena mereka membuat ketupat plastik itu dengan bahan tahan panas, tahan air mendidih hingga 106 derajat celcius. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Keluarga Ramdzan menjamu kami semalam saja, yakni di malam hari raya. Setelah menjemput di Stulang Laut, kami berpusing-pusing sebentar, lalu langsung ke rumahnya. Esok pagi, mereka hendak sembahyang Idulfitri di Singapura. Nyonya rumah, sudah memasak gulai, opor, sambal ketupat, dan sudah pula membeli beraneka kue. Hanya pesanan kek mertuanya yang tak ia penuhi. Dia dapur ia dibantu oleh Inung, 46, pembantu rumah tangga asal Sukabumi. Ini pembantu kedelapan yang pernah bekeja di rumah itu. Ia digaji sekitar RM 400. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Kalau masak saya suka, tapi buat kek saya tak pandai,” katanya. Amat kebetulan kami mengoleh-olehi mereka dengan satu paket berisi empat kotak Kek Pisang Villa, oleh-oleh khas Batam itu. Alhasil kek oleh-oleh itupun dijadikan oleh-oleh lagi. “Orang Singapura  suke betul kek macam ni,” kata Hanim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Selepas buka puasa terakhir, Magrib itu kami sembahyang berjamaah. Lalu bertakbir. Tak ada masjid di kawasan perumahan itu. Lantas anak-anak tuan rumah menyalakan colok. “Kita main bunga api,” kata Ramdzan. Ia bilang penjualan mercon dan bunga api di Johor dibatasi. Susah mendapatkannya. Di Singapura malahan sama sekali dilarang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saya memperhatikan colok itu. Cuma colok biasa, kaleng dengan sumbu minyak tanah, lalu diletakkan di atas sebatang bambu yang ujung atasnya telah dibelah-belah dan dianyam. Tak perlu menggali halaman untuk menegakkannya, sebab telah pula tersedia kawat yang dibentuk dengan dua lingkaran untuk menyangga tegaknya colok. Semula saya pikir sempat juga dia membuat colok. Tapi kemudian saya tahu, colok itu banyak dijual. Di Pasar Larkin dan Supermarket Jusco sampai hari raya itu masih juga menjual paket lampu colok itu harganya antara RM4,5 hingga RM5.  Yang lebih canggih pun ada. Pakai bambu juga, tapi yang menyala bukan sumbu. Saya menemukan colok dengan lampu listrik yang dibuat menyala seperti kelap-kelip obor minyak tanah  di konter penjualan tiket di Stulang Laut. Ah, betapa yang tradisional itu diberi sentuhan modern dan karena itu ia pun tak tergerus dan terus bertahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, tuan dan nyonya rumah mengantar kami ke hotel. Di Hotel pertama, di kawasan Tebrau kami dilayani oleh lelaki muda yang tak pandai bahasa Inggris tak juga mahir bahasa Melayu. Susah payah dia menyebut tarif  RM 64 per malam dan fasilitas kamar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu pekerja dari Myanmar,” kata Ramdzan. Malaysia sekarang memilih ambil pekerja dari negara-negara di utara daripada Indonesia. Reputasi pekerja Indonesia untuk perhotelan rupanya sudah cemar. Banyak yang tidak jujur, kata Ramdzan, padahal hotel-hotel itu perlu pekerja yang tak hanya jujur tapi juga ramah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak memilih hotel itu. Kami akhirnya jadi tamu di hotel Seri Malaysia di kawasan Larkin. Fasilitasnya nyaman, cocok dengan tarifnya yang RM 130. Ramdzan mencemaskan bila kami kesulitan dapat makan, karena restoran biasanya tutup pada hari lebaran. Nyatanya di pasar dan terminal Larkin itu banyak restoran yang tetap buka hingga malam, dari restoran India yang masih memasang pengumuman ‘Orang Muslim Dilarang Makan di Siang Hari di Sini” hingga restoran McDonald.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-4811736487886880361?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/4811736487886880361/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=4811736487886880361' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/4811736487886880361'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/4811736487886880361'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/10/ketupat-plastik-dan-lampu-colok-di.html' title='Ketupat Plastik dan Lampu Colok Elektrik'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-1752897769910890846</id><published>2008-10-04T18:11:00.000+08:00</published><updated>2008-10-04T18:13:38.034+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='reportase'/><title type='text'>Harga Minyak Api dan Selamat Kastari</title><content type='html'>Berlebaran di Rumah Orang Singapura di Johor Baru (1) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Saya, istri dan dua anak saya tahun ini merasakan malam lebaran di Johor Baru. Kami dijamu seorang kawan baik yang saya kenal lewat sebuah mailing list sastra. Ini memang silaturahmi di zaman internet.  Dia warga Negara Singapura yang tinggal di Johor. Inilah rampai-rampai laporan dari negeri yang maksimal memanfaatan kedekatannya dengan Singapura. &lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Saya mengirim kabar hendak beraya di Johor lewat pesan pendek dan surat elektronik. Ramdzan Minhat, 43, kawan baik itu, menunggu untuk menjemput kami di terminal penumpang Stulang Laut. Ini sebuah pelabuhan, plus pelayanan  keimigrasian yang terintergrasi dengan Zon, sebuah kawasan perbelanjaan besar. Konsepnya persis seperti Harbour Front Singapura. Negeri Johor memang diposisikan oleh Malaysia sebagai pintu gerbang selatan.  Kami sebenarnya tidak minta dijemput. Tapi dia cemaskan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Imigrasi di Stulang Laut, antara yang kurang bagus di Malaysia. Saya takut ada apa-apa dengan Hasan,” katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau ada apa-apa malah bagus, Bang. Saya dapat cerita menarik,” kata saya.&lt;br /&gt;“Itulah yang saya cemas,” katanya. Kami pun tertawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Di Singapura dulu saya pernah ditahan lama oleh petugas Imigrasi saat masuk dari Johor. Saya kira masalahnya karena jenggot dan jambang saya yang mudah sekali diidentikkan dengan  anggota kelompok fundamentalis. Belajar dari pengalaman itu makan, sebelum ke Johor saya sudah merapikan jenggot dan membuang jambang.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyatanya, urusan keimigrasian beres belaka. Saya melihat sijil tekad pelayanan di depan meja petugas Imigresen Malaysia itu. Ada satu kalimat yang menegaskan bahwa petugas bertekad menyelesaikan proses pengecapan paspor tak lebih dari 45 detik, alias tiga perempat menit, jika tak ada perkara yang mustahak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Banyak slogan-slogan pelayanan keimigrasian di terbaca di dinding-dinding ruang kedatangan di Stulang Laut itu. Nadanya cuma satu: layani pendatang dengan baik. Tekad mereka dirumuskan dengan tiga kata: Mudah, Amanah, dan Tegas.  &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt; Perkara besar justru saya rasakan ketika pulang. Kami berempat membeli tiket dua kali jalan, pergi-pulang. Nilainya sekitar Rp1,2 juta, ini termasuk dua tiket anak-anak. Lumayan murah, daripada kami harus mudik berlebaran di Kalimantan yang pasti akan menggerus anggaran sampai enam kali lipat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Nanti di Johor bisa naik kapal apa saja, tiap jam ada. Tinggal bayar 20 ringgit per orang,” kata petugas penjual tiket  Pintas Samudra Express di Pelabuhan Internasional Batam Center. Taksi harus mengelilingi nyaris satu kali putaran pusat perbelanjaan Zon sebelum sampai ke pintu masuk ke pelabuhan Stulang Laut itu. Beberapa orang sudah antre. Tiket dua kali jalan saya sodorkan bersama paspor dan uang 100 ringgit. Petugas langsung mengambilnya dan menyuruh kami menunggu di lantai dua, dan inilah perkaranya. Di lantai dua calon penumpang sesak dan cemas. Dua petugas Imigrasi – seorang lelaki dengan baju teluk belanga dan songkok tinggi berdiri di sisi luar meja imigrasi berhadapan langsung dengan para calon penumpang, seorang perempuan dengan baju kurung panjang di balik meja sambil memproses data dengan komputernya – bergantian meneriak-neriakkan nama calon penumpang yang ia baca dari paspor. Banyak yang bolak-balik bertanya lagi ke lantai satu. Tak kurang orang yang langsung saja bertanya soal tiket di lantai dua yang dijawab dengan rada judes, “kami tak jual tiket, ke lantai satu sana!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang petugas imigrasi lain dengan kotak kertas bolak-balik ke lantai satu membawa paspor para calon penumpang itu. Wah, itu paspor adalah dokumen penting. Dengan cara itu rawan sekali tercecer dan hilang. Saya melirik ke sebuah iklan rayuan agar Zon dipilih sebagai pelabuhan untuk menyeberang ke Tanjungpinang dan Batam. Iklan itu bertulisan: It’s Comportable, It’s Stress-Free, It’s Economical. Pulang lewat Stulang Laut, dengan sistem penjualan tiket dan pelayanan imigrasi seperti itu, mungkin memang murah, tapi sama sekali tak nyaman dan tak bebas dari stres. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Keluarga Ramdzan – istri dan tiga anak – semuanya berkewarganegaraan Singapura. Ia bekerja di sebuah perusahaan TI internasional di Singapura. Ia banyak menangani proyek-proyek perusahaannya di banyak kota di Malaysia dan negara lain. Ia kerap dikirim perusahaannya ke Filipina, Myanmar, Jakarta, Kuala Lumpur dan Bangkok. Istrinya, Hanim, seorang guru yang juga mengajar di sekolah negeri di Singapura. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ia menamai anaknya dengan kata tunggal: Putera, Puteri dan Budi. Nama-nama yang unik bagi lazimnya nama-nama di Malaysia, nama-nama itu lebih terdengar sebagai nama Indonesia. “Ya, satu kata saja. Putera bin Ramdzan, Puteri bin Ramdzan, dan Budi bin Ramdzan.”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ia sendiri pun bernama tunggal Ramdzan. Saya mengenalnya sebagai Ramdzan Minhat. “Minhat itu nama bapak sayalah. Jadi lengkapnya nama saya Ramdzan bin Minhat,” katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Libur Hari Raya Idulfitri di Singapura hanya satu hari. Hari kedua lebaran, dia sudah memulai lagi rutinitasnya menjadi “penglajo”, ini istilah yang saya kenal dalam mata kuliah Sosiologi Pedesaan di IPB dulu. Yaitu sebutan untuk orang yang bekerja di sebuah kota  dan menetap di kota lain. Ramdzan dan istrinya tidak sendiri. “Setiap hari, pada masa kerja, ada tak kurang 100.000 motor dari Johor masuk  Singapura. Mereka kerja kat Singapura. Kalau mereka mogok kerja, Singapura cemaslah,” kata Ramdzan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Jumlah kurang lebih 100.000 ribu itu baru motor, belum lagi mereka yang bermobil seperti Ramdzan dan istrinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramdzan berangkat kerja ke Singapura selepas Subuh. Dan baru akan tiba di rumah lagi nanti paling cepat pukul 08.00 malam. Ia pun harus membeli rumah di Johor dengan harga khusus untuk orang Singapura yang tentu saja jauh lebih mahal daripada harga jual untuk warga negara Malaysia.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak apalah, buat anak-anak,” katanya. Ia sebenarnya punya rumah di Singapura. Ibunya, seorang pensiunan polisi, pun menetap di Singapura. Tapi, demi anak-anak pula, katanya, ia lebih memilih tinggal di Johor. Lebih terasa macam kampung, katanya. Ramdzan tinggal di perumahan yang namanya Desa Tebrau. Ada penjaga di gerbang yang dilengkapi dengan portal otomatis. Penghuni tinggal memindaikan kartu di sensor sinar, seperti saat kita belanja di supermarket itu.  Saat mobil keluar pun ada kamera menghadang. Saya bertanya kenapa perumahan mewah seperti itu memakai kata Desa? Saya teringat kecenderungan terbalik disukai para pengembang perumahan di Batam yang gandrung dengan kata-kata Eropa. “Banyak kawasan seperti ini yang juga pakai nama Desa. Saya kira lebih bagus, sedap didengar,” katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kini berat ia rasakan adalah ongkos bahan bakar minyak. Malaysia beberapa waktu lalu menaikkan juga harga petrol dan diesel – dua “bahan api” itu. “Dulu cukup 300 ringgit  sebulan, sekarang 1.500 ringgitlah,” katanya membuat perbandingan. Saat ini harga bahan bakar minyak di Malaysia 2,3 ringgit. Harga itu lebih murah sebenarnya dibandingkan dengan di Singapura yang mengecer minyak dengan harga internasional, atau setara dengan 6 ringgit duit Malaysia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan Johor-Malaysia sebenarnya bisa ditempuh singkat. Tapi sekarang tempo perjalanan Ramdzan tak kurang dari 45 menit. Apa pasalnya? Ini disebabkan oleh kaburnya Mas Slamet Kastari dari penjara Singapura. Betulkah tokoh yang ditahan karena tuduhan keterlibatannya dengan jaringan Jamaah Islamiyah itu bisa lolos dari penjara Singapura yang ketat? Apakah dia sudah meninggal sebenarnya? Itu perkara-perkara lainlah. Yang jelas sekarang Singapura jadi lebih ketat, termasuk bagi para penglajo seperti kawan saya itu. “Sekarang tiap-tiap kereta diperiksa ketat sebelum masuk Singapura, tak ada kecuali,” katanya.&lt;strong&gt;(bersambung)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-1752897769910890846?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/1752897769910890846/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=1752897769910890846' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/1752897769910890846'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/1752897769910890846'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/10/harga-minyak-api-dan-selamat-kastari.html' title='Harga Minyak Api dan Selamat Kastari'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-1173400479957593929</id><published>2008-09-27T14:54:00.001+08:00</published><updated>2008-09-27T15:06:38.539+08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;font size = "5"; color = "green"&gt;kalau ada sumur di ladang&lt;br /&gt;boleh kita menumpang mandi&lt;br /&gt;kalau syawal sudah menjelang&lt;br /&gt;boleh ucap "selamat Idul Fitri" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumur di ladang airnya dingin&lt;br /&gt;badan basah dihembus angin &lt;br /&gt;Ucapkan Minal Aidin Walfaizin&lt;br /&gt;Maafkan Lahir, Maafkan Batin&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-1173400479957593929?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/1173400479957593929/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=1173400479957593929' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/1173400479957593929'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/1173400479957593929'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/09/kalau-ada-sumur-di-ladang-boleh-kita.html' title=''/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-5723329309063467072</id><published>2008-09-26T00:50:00.002+08:00</published><updated>2008-09-26T00:52:07.814+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='blowjoke'/><title type='text'>Pengumuman Penting</title><content type='html'>INI ada pengumuman penting menjelang lebaran nih. Dikabarkan bagi seluruh warga Indonesia yang mengetahui keberadaan Bang Toyib mohon untuk mengingatkan atau menasehatkannya untuk segera pulang ke anak dan istrinya. Kirim sebanyak-banyaknya pesan ini agar kita dapat membantu anak dan istri Bang Toyib biar mereka bisa bertemu kembali. Bayangkan sudah tiga kali lebaran dia belum pulang-pulang. Terima kasih. Cuma copy paste sudah ngebantu sesama. Mudahan disebarkan di blog Anda! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-5723329309063467072?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/5723329309063467072/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=5723329309063467072' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/5723329309063467072'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/5723329309063467072'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/09/pengumuman-penting.html' title='Pengumuman Penting'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-5789927716382020152</id><published>2008-09-24T23:04:00.001+08:00</published><updated>2008-09-24T23:04:58.726+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='INSPIRIT'/><title type='text'>Dengar Orang Hebat, Kita Bisa Jadi Hebat</title><content type='html'>&lt;blockquote&gt;“Saya sampai pada kesimpulan bahwa orang paling puncak memiliki satu tanggung jawab paling penting, yakni memberikan suasana di mana pekerja-pekerja keras bagian kreatif dapat melaksanakan pekerjaan yang bermanfaat.”&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kita sudah mulai dengan sebuah kutipan dari David McKenzie Ogilvy (1911-1999). Dia adalah imigran asal Skotlandia yang amat diragukan kemampuannya ketika merintis sebuah Biro Iklan Ogilvy &amp; Mather, tapi kemudian dia terbukti berhasil menaklukkan kota sekeras New York. Tidak hanya New York dan Amerika, ia kemudian juga menaklukkan dunia. Sebelum itu dia pernah hidup tanpa tujuan. Ia  jadi juru masak di Hotel Majestic di Paris, menjadi salesman dari pintu ke pintu, menjadi pekerja sosial di kawasan kumuh, bekerja di riset perfilman, dan dia juga pernah menjadi petani tembakau di Pennsylvania.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dia orang yang berani bermimpi dan kemudian berjuang keras untuk mewujudkan mimpi itu. Dan dia berhasil. Ketika memulai biro iklannya dia menulis daftar lima pelanggan yang ingin ia tangani: General Foods, Bristol-Myers, Campbell Soup Company, Level Brothers, dan Shell. Ia akui itu sebagai keinginan yang sombong dan gila. Tapi nyatanya kemudian kelima perusdahaan besar itu menjadi langganan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ketika ia menulis buku A Confessions of An Advertising Man pada tahun 1963  - buku yang seakan menjadi kitab suci pada orang iklan sedunia -  ia telah berhasil membesarkan biro iklannya dari satu kantor dengan 19 pelanggan pada awalnya menjadi jaringan 267 kantor dengan 3.000 langganan. Kini biro iklan itu di Amerika saja punya 35 kantor ditambah 359 kantor di 90 negara di dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang ia bilang pada tahun 1948 ketika ia memulai bisnis itu bahwa ia akan menjadi raksasa periklanan sebelum pada tahun 1960 terbukti. Tak berlebihan kalau dia dipandang oleh orang-orang iklan sebagai nabi periklanan yang sabda-sabdanya didengarkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Salah satu kunci keberhasilannya  adalah bagaimana dia memperlakukan orang-orang yang bekerja dengannya. Kecenderungannya pada hal-hal yang positif menjadi motivasi terkuat baginya dan bagi orang-orang yang bekerja padanya. Ia merumuskan sikap yang sangat jelas  perihal apa yang ia harapkan dari para pekerjanya. Inilah hal-hal hebat yang ditegaskan oleh Ogilvy:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;1. Saya mengagumi mereka yang bekerja keras, yang berani menghadapi kesulitan.&lt;br /&gt;2. Saya mengagumi mereak yang mempunyai otak kelas satu.&lt;br /&gt;3. Saya mengagumi mereka yang bekerja penuh gairah.&lt;br /&gt;4. Saya punya aturan yang tidak dapat dilanggar yaitu jangan pekerjakan saudara-saudara atau istri-istri mereka karena hanya akan menimbulkan intrik. &lt;br /&gt;5. Saya tidak suka para penjilat yang memuji-muji atasan mereka; biasanya merekalah yang melindas anak buahnya.&lt;br /&gt;6. Saya mengagumi para profesional yang penuh percaya diri, orang-orang terampil yang melakukan mereka dengan sangat baik.&lt;br /&gt;7. Saya menghargai mereka yang mempekerjakan bawahan yang cukup pintar untuk menggantikannya. &lt;br /&gt;8. Saya mengagumi mereka yang mendidik anak buah mereka.&lt;br /&gt;9. Saya mengagumi mereka yang santun yang memperlakukan orang lain sebagai sesama manusia. &lt;br /&gt;10. Saya mengagumi mereka yang pandai mengatur dirinya yang menyerahkan pekerjaannya tepat pada waktunya. &lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di manapun dan dengan siapapun kita bekerja sekarang, ataukah kita bekerja sendiri, rasanya kita bisa menjadi orang hebat dengan mengikuti saran orang besar itu. Bagikan juga nasihat  ini pada orang-orang di sekitar Anda yang ingin menjadi hebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-5789927716382020152?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/5789927716382020152/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=5789927716382020152' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/5789927716382020152'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/5789927716382020152'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/09/dengar-orang-hebat-kita-bisa-jadi-hebat.html' title='Dengar Orang Hebat, Kita Bisa Jadi Hebat'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-4304799354743102573</id><published>2008-09-24T22:57:00.001+08:00</published><updated>2008-09-24T22:58:34.101+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='INSPIRIT'/><title type='text'>10 Hal yang Harus Ada pada  Siapa Saja yang Ingin Berhasil</title><content type='html'>&lt;blockquote&gt;1. Berkepribadian dan penampilan menarik&lt;br /&gt;2. Kreativitas tinggi, inovatif dan dinamis &lt;br /&gt;3. Pekerja keras dan menyukai tantangan&lt;br /&gt;4. Bermotivasi kuat dan berjiwa pemimpin&lt;br /&gt;5. Bisa bekerja sama dalam sebuah tim &lt;br /&gt;6. Proaktif, cepat memecahkan masalah  &lt;br /&gt;7. Fleksibel pada lingkungan yang dinamis&lt;br /&gt;8. Mampu berkomunikasi dengan baik&lt;br /&gt;9. Berorientasi pada hasil, kuat menganalisa &lt;br /&gt;10. Bisa bekerja dengan tekanan dan tenggat waktu.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Seleksi, Koneksi.&lt;/strong&gt; Anda yang sudah bekerja atau sedang mencari pekerjaan saya yakin sering membaca sepuluh kalimat di atas. Anda yang belum mencari pekerjaan saya beri tahu, Anda akan kerap bertemu dengan kalimat-kalimat itu. Itulah kalimat-kalimat yang pasti akan Anda temukan dalam iklan-iklan yang menawarkan peluang pekerjaan. Tes penerimaan karyawan tujuannya tidak lain adalah untuk memastikan apakah Anda yang hendak dipekerjakan benar-benar memenuhi persyaratan tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu ada syarat-syarat lain di luar sepuluh hal itu, misalnya umur, pendidikan, kemampuan berbahasa asing, dan pengalaman kerja. Terhadap empat hal ini kita hanya bisa mencocokkan. Kalau yang diminta adalah pekerja berumur 25 tahun ke bawah, maka jangan memaksakan diri bila Anda berusia 35 tahun. Bila yang diminta adalah Sarjana Pertanian, maka Anda yang jurusan Hubungan Internasional jangan ikut+ menjajal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau yang diperlukan orang yang bisa berbahasa Spanyol maka Anda yang bisa bahasa Rusia tak usah kirim lamaran. Kalau yang diperlukan orang yang baru lulus, maka Anda yang punya pengalaman 15 tahun buat apa juga melamar.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kita tidak bicara tentang empat hal tadi. Kita bicara tentang sepuluh syarat umum yang sayangnya tidak  diajarkan di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi kita. Kita bisa menyayangkan tapi bisa pula melihatnya sebagai sebuah keuntungan. Kenapa? Sebab itu berarti sepuluh hal itu bisa kita pelajari, bisa kita dapatkan, bisa kita kuasai tanpa menempuh pendidikan resmi. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Maka pertanyaan saya, apakah kita sudah menguasai sepuluh sifat, sikap dan kemampuan itu? Apakah Anda mempunyai semua dari sepuluh hal tersebut? Atau delapan di antaranya? Atau tujuh? Enam? Lima? Saya bisa pastikan, semakin banyak Anda memenuhi persyaratan itu, maka peluang Anda untuk meraih keberhasilan di bidang apapun semakin besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, Anda akan bilang, “Saya kan tidak punya koneksi. Saya tak punya orang kuat, tak punya orang dalam, dan saya tak punya jaringan pertemanan.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bilang, perusahaan yang menerima pekerja karena tekanan orang kuat bukan perusahaan yang baik. Kenapa? Karena mau berkompromi pada kekuatan yang seharusnya bisa dilawan dan menerima pekerja yang hanya akan menjadi benalu pada sistem bahkan parasit bagi pekerja lain. Bersyukurlan bila Anda ditolak bekerja di perusahaan yang demikian dan percayalah akan ada perusahaan lain yang dengan senang mempekerjakan Anda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, koneksi, orang dalam, atau jejaring pertemanan bermakna positif apabila itu semua dimanfaatkan untuk memastikan bahwa pekerja yang diterima benar-benar memenuhi sepuluh syarat tadi. Ongkos tes rekrutmen itu mahal. Maka, bangunlah jejaring pertemanan, buka jalur-jalur konektivitas tetapi lebih dahulu tetap saja Anda harus memenuhi sepuluh syarat tadi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya petikkan cerita dari Businessweek, 6 Agustus 2008. Ini cerita tentang Ronny Tedjalesmana Sumantri, Country Manager Juniper Network Indonesia – sebuah perusahaan pendukung industri telekomunikasi. Ia adalah contoh orang yang berhasil membangun jejaring dan  karirnya cemerlang berkat jejaring itu. Sebelumnya bekerja dengan baik selama sebelas tahun di Motorola. Di Motorola  dia ditawari bergabung saat main golf (golf adalah ajang membangun jejaring yang baik, Anda tentu bisa memilih jenis olahraga atau kegiatan lain yang Anda senangi) dan kebetulan saat itu ada orang Motorola yang terkesan dengan permainannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada yang rahasia, jika ingin sukses kita juga bisa belajar dari lelaki yang gagal masuk Akademi Militer karena dalam tes kesehatan baru diketehuai bawha jantungnya ternyata miring 30 derajat. Baginya kunci membangun dan memelihara jaringan profesional  - ketika bekerja dengan mitra siapa saja – adalah selalu berusaha memberikan solusi yang tepat, dengan teknologi yang tepat dan pada waktu yang tepat.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ronny bergabung dengan Junifer pun berkat rekomendasi dari relasi yang mengenalnya.  Ketika Junifer ingin mengembangkan pasar di Indonesia, ia ditelepon untuk ikut seleksi bersaing dengan sekitar dua belas orang yang semuanya hebat. Setelah seleksi selama dua bulan, dialah yang akhirnya diterima. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari petikan cerita di atas bisa kita ambil pelajaran bahwa jejaring, relasi, pertemanan, koneksi atau sebutlah nama apa saja tidak ada gunanya, kalau kita sendiri tidak punya kemampuan yang sepuluh hal tadi. Orang akan senang memberikan rekomendasi bagi kita bila kita memang bisa bekerja dengan baik, tidak membuat malu orang yang merekomendasikan kita.***     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-4304799354743102573?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/4304799354743102573/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=4304799354743102573' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/4304799354743102573'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/4304799354743102573'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/09/10-hal-yang-harus-ada-pada-siapa-saja.html' title='10 Hal yang Harus Ada pada  Siapa Saja yang Ingin Berhasil'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-9111300984364515570</id><published>2008-09-24T22:52:00.000+08:00</published><updated>2008-09-24T22:53:37.407+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='INSPIRIT'/><title type='text'>Temukan Satu Hal, Lalu Fokuslah Pada Hal Itu</title><content type='html'>VONIS, FOKUS. Kepada ibunya,  guru sekolah dasarnya bilang, dia tidak akan pernah sukses. Anak itu menderita kelainan mental. Ia susah sekali untuk bisa berkonsentrasi pada satu hal. Jangankan memfokuskan pikiran duduk diam sebentar saja bocah tidak pernah bisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ibunya tahu anaknya menderita apa yang dalam istilah medis psikologi  attention deficit hyperactivity disorder (ADHD). Tapi ia menolak vonis guru anaknya itu. Ia yakin anaknya bisa berhasil pada satu hal. Ia menyalurkan  bakat anaknya pada ke satu hal yang tepat: ke kolam renang.  Sejak umur sebelas tahun dia mulai berlatih berenang di North Baltimore Aquatic Club. Ia punya pelatih khusus sebab jika tidak dia tidak akan pernah bisa duduk di tepi kolam renang. Ia hiperaktif, berlari kesana kemari mengganggu orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ia tidak mau duduk. Ia tidak pernah mau diam. Ia tidak pernah berhenti bertanya. Ia sangat energik,” kata ibunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia sendiri mengenang masa kecilnya yang luar biasa nakal itu. “Seperti tikus kolam, lari ke sana kemari, mencuri jajan atau kacamata renang orang, mengagetkan orang lain dengan menepuk punggungnya, bikin kacau,” katanya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dunia kemudian kagum dan baru saja sejarah mengabadikan namanya. Di Olimpiade Beijing 2008 dia menjadi peserta olimpade terbaik. Ia olimpian terbaik. Dia meraih delapan medali emas dari kolam renang untuk negaranya, dan sepanjang tiga kali keikutsertaannya di perhelatan olahraga sedunia itu, dia sudah mengumpulkan 14 medali emas! Sebuah rekor atas namanya sendiri. Dan mengingat umurnya yang baru 23 tahun besar peluang dia akan menambah koleksi medali emasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, dialah Michael Phelps, perenang Amerika Serikat. Perolehan delapan emas dari satu olimpiade adalah rekor baru mengalahkan Mark Spitz yang diraih dalam Olimpiade Muenchen, 1972. Rekor yang berumur 36 tahun! Spitz pun tulus memuji, “Ia atlet terbaik sepanjang masa. Dia perenang terbaik yang pernah ada di muka bumi.” &lt;br /&gt;Selain diuntungkan oleh keadaan fisiknya yang memungkinkan ia berenang lebih cepat, ada hal di luar itu yang bisa kita teladani dari Phelps.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Dia fokus pada satu hal. Divonis sebagai anak yang tak  bisa memusatkan pikiran, Phelps  dewasa justru punya kekuatan untuk berkonsentrasi pada satu hal, yaitu berenang lebih cepat daripada perenang lain. “Saya hanya harus meletakkan di tembok (kolam renang) sebelum yang lain melakukannya,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Dia mengubah marah menjadi energi.   Pada usia 15 tahun – artinya setelah berlatih baru empat tahun – ia sudah ikut tim nasional AS berlaga di Olimpiade  Sydney. Ia bertanding di nomor gaya kupu-kupu 200 meter. Dia hanya bisa menempati posisi ke-5, dan pulang tanpa medali.  Dia marah, dan kemarahannya dia jadikan energi untuk berlatih lebih keras. Hasilnya? Semua terbayar empat tahun kemudian di Olimpade Athena. Ia meraih enam medali emas dan dua perunggu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Dia dikelilingi oleh orang-orang yang tepat.  Ibunya Debbie Phelps, adalah ibu yang tahu potensi anaknya dan menyalurkannya pada hal yang tepat. Phelps juga dilatih oleh pelatih yang tepat, Bob Bowman yang tahu betul potensi anak asuhnya. “Phelps punya ketangguhan mental luar biasa. Ia mampu mengatasi semua harapan dan tekanan atmosfer olimpiade dan itu bikin dia jadi sangat fokus. Itu kemampuan terbaiknya,” kata Bowman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar-benar tak ada yang rahasia, bukan? Tiga hal biasa yang bisa dilakukan oleh siapa saja. Dan hasilnya? Saya kira siapapun yang menemukan satu hal yang dia cintai, lalu dia fokus pada hal itu, dan dia didukung oleh orang-orang yang tepat di sekeliling dia, maka dia bisa menjadi sebesar Phelps. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, Phelps adalah orang normal, yang mungkin kita lebih beruntung karena tidak seperti dia yang ketika kecil punya kelainan. “Dia orang normal, dia hanya orang biasa. Tapi berasal dari planet lain, dari galaksi lain.” Itu komentar kagum dari pesaing Phelps di kolam renang, Alexander Sukhourov, perenang Rusia. [h]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-9111300984364515570?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/9111300984364515570/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=9111300984364515570' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/9111300984364515570'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/9111300984364515570'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/09/temukan-satu-hal-lalu-fokuslah-pada-hal.html' title='Temukan Satu Hal, Lalu Fokuslah Pada Hal Itu'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-5277037223870594570</id><published>2008-09-24T22:50:00.001+08:00</published><updated>2008-09-24T22:52:04.064+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='INSPIRIT'/><title type='text'>Setelah Jatuh, Tegakkan Tangga</title><content type='html'>BOS BESAR, RUGI BESAR. Apa rasanya kehilangan kekayaan Rp25 triliun lebih? Ini hasil analisis firma informasi finansial CapitalIQ atas kerugian raksasa beberapa CEO perusahaan bersaham unggulan. Angka Rp25,2 triliun itu adalah kerugian CEO Oracle Laurance Ellison. Ini kerugian ranking pertama dibanding CEO perusahaan kesohor lain. Angka dihitung dari Oktober 2007 (puncak harga saham) hingga harga penutupan di hari keempat Februari 2008, yang jatuh bebas akibat melesunya pasar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Nah, supaya angkanya mengejutkan kita tampilkan saja dalam rupiah dengan asumsi kurs Rp9.000 per dolar. Supaya dramatis juga, saya pilihkan nama-nama bos yang produk perusahaannya mungkin Anda manfaatkan setiap hari. Paling tidak buat saya, artikel ini diketik di komputer bermerek Dell, sejumlah data dalam artikel ini pun saya temukan berkat bantuan pencarian Google.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah berturut-turut daftar lima bos besar yang rugi besar itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laurance Ellison, CEO Oracle Rp25,2 triliun  &lt;br /&gt;Michael Dell, CEO Dell   Rp15,3 triliun&lt;br /&gt;Jefrey Bezoz, CEO Amazon.com  Rp14,4 triliun&lt;br /&gt;Eric Schmidt, CEO Google Rp12,6 triliun&lt;br /&gt;Rupert Murdoch, CEO News Corp. Rp11,7 triliun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, itu semua kerugian dalam triliun, deret angka dengan nol berbaris hingga dua belas. Besarnya kerugian mereka mungkin bisa membuat orang awam - seperti saya -  pingsan. Tapi, jangan kuatir, para bos kita itu tidak akan bunuh diri dan tak akan sampai harus tinggal di panti jompo, , tulis Businessweek Nomor 4, edisi Maret 2008.  &lt;br /&gt;Kita sedang bicara tentang peluang dan tantangan yang amat lumrah dalam bisnis. Bila tujuan berbisnis adalah berlipatnya nilai kekayaan, maka risikonya adalah merosotnya nilai kekayaan. Karena risiko itulah, bisnis jadi menantang. Karena itu para pengusaha dituntut untuk terus kreatif dan inovatif. Dan memang itulah yang mereka lakukan. Maka, ketika pada bulan Mei 2008, majalah yang sama mengumumkan 25 Perusahaan Paling Inovatif, nama Google dan Amazon.com masuk dalam daftar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau sudah jatuh dengan kerugian miliaran Amazon tetaplah perintis dan jawara e-commrece. “Saya berpendapat inovasi tak mengenal sulit ataupun masa jaya. Dan, kita harus melakukannya pada hal-hal yang dilakukan pelanggan,” kata Bezos dalam wawancara inspiratif dengan Businessweek, No,pr 12 Mei 2008. Dan, sebentar lagi, saya dan Anda mungkin akan terbiasa membaca e-book dengan perangkat bernama Kindle. Kindle adalah salah satu hasil inovasi Amazon.com.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;400, 140.  Rugi atau gagal adalah lumrah belaka dalam bisnis. Terbayangkah Anda membuka 400 restoran dan kemudian menutup 270 di antaranya? Itulah yang dilakukan Dr. Ir. H. Wahyu Saidi, MSc, pemilik Bakmi Langgara Group. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kan, masih untung punya 130 restoran,”  kata pengusaha dengan total aset  Rp15 miliar itu. Pria bergelar Doktor dan Alumni ITB yang dengan bangga menyebut diri tukang bakmi itu, saya yakin tidak akan berhenti mencari lokasi untuk buka restoran baru. Tak ada kata jera dalam kamus seorang pebisnis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jera? Nggak tuh! Kan, dalam kamus bisnis, itu hal yang lumrah. Gagal, ya terus harus bangkit cari peluang baru, bikin mesin-mesin uang baru,” katanya, kepada surat kabar Jurnal Bogor, suatu hari di bulan Juli 2008. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dia justru sedang mengatur strategi ekspansi besar-besaran. Dia menyiapkan apa yang ia sebut sebagai mesin-mesin pencetak uang baru. Ia tetap berkonstrasi pada bisnis waralabanya. “Saya mencoba bikin besar, dan banyak secara kuantitas. Investasi untuk restoran yang kecil-kecilan nilainya Rp100 jutaan, sedangkan yang rada elite nilai investasinya Rp6 miliar,” katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita mungkin ditakut-takuti oleh gagal dan menganggap itu kemalangan dan mendramatisir dengan pepatah “sudah jatuh tertimpa tangga”. Mari kita lawan pepatah itu. Ketika jatuh, mari kita bangit berdiri, ambil itu tangga, lalu ulurkan lagi, tegakkan di tempat yang tepat dan kita menapakinya lagi ke atas.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kita yang baru memulai, atau yang belum tapi hendak memulai sebuah bisnis, keberhasilan hanya bisa dicapai bila kita berani menghadapi risiko kegagalan, jadi apa alasan kita untuk takut? ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-5277037223870594570?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/5277037223870594570/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=5277037223870594570' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/5277037223870594570'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/5277037223870594570'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/09/setelah-jatuh-tegakkan-tangga.html' title='Setelah Jatuh, Tegakkan Tangga'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-3007152646144756489</id><published>2008-09-24T22:46:00.000+08:00</published><updated>2008-09-24T22:48:08.478+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='INSPIRIT'/><title type='text'>Curigalah Bila Langkah Awal Anda Terlalu Mudah</title><content type='html'>&lt;blockquote&gt;Kemampuan alamiah kita itu seperti tanaman, supaya terbentuk perlu dipangkas dengan berlatih dan belajar - &lt;strong&gt;Francis Bacon&lt;/strong&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RIAU, RIDA. Saya tidak ingin bilang pada Anda bahwa pilihlah langkah yang sulit ketika memulai sesuatu. Tetapi langkah awal seperti sudah ditakdirkan akan terasa sulit. Dan memang sulit. Tokoh-tokoh yang kini kita kenal sebagai orang yang berhasil selalu bangga ketika menceritakan bagian tersulit dari langkah awal mereka. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Aburizal Bakrie rugi puluhan juta ketika menangani proyek pertamanya membangun sebuah jembatan. Ia sampai berminggu-minggu tak berani menghadap ayahnya, Achmad Bakrie. Untunglah, ketika bertemu dan melaporkan kerugian itu, sang ayah malah memberinya proyek baru yang nilainya jauh lebih besar. Kita tahu siapa Aburizal sekarang.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa langkah awal itu sulit? Karena sehebat apapun rencana disusun,  perjalanan kehidupan atau perjalanan sebuah usaha selalu menghadapi situasi tak terduga yang membuat kita harus pandai mengatur langkah berikutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Langkah awallah yang menentukan kemana perjalanan berikutnya diarahkan. Itu mungkin sebuah perjalanan panjang yang tanpa akhir. Bukan tidak ada tujuan, tapi setiap sampai pada suatu tahap, maka sebuah perjalanan harus diteruskan ke arah lain yang lebih baik, lebih jauh, lebih menantang. &lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situasi tak terduga itu bisa disebut halangan, bisa dianggap tantangan, bisa dilihat sebagai perintang keberhasilan, tetapi orang yang berhasil selalu saja melihat itu sebagai pelajaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rida K Liamsi, raja media Sumatera dari Riau, dalam wawancara dengan Warta UNRI Nomor 3 – XVI tahun 1999, menceritakan bagaimana Riau Pos dulu pada awalnya bahkan tidak mau dijual oleh para agen di Pekanbaru. Riau Pos adalah koran pertama yang ia terbitkan sampai akhirnya berkembang jadi sebuah grup media besar, jaringan televisi, percetakan dan gedung perkantoran di lima provinsi di kawasan utara Sumatera. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pada awal terbit orang tidak mau menjualnya. Mereka bilang, ‘sudahlah, Pak, Riau Pos tak usah letakkan di sini. Nanti tak laku.’ Ada juga agen yang bilang, ‘Dalam satu atau dua minggu lagi, Riau Pos ini juga akan mati’,” kata Rida.&lt;br /&gt;Pembaca, kenang Rida, dulu begitu kejam pada koran yang dia rintis itu. “Kami menangis menjual Riau Pos,” katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesulitan di masa-masa awal membangun Riau Pos itu teratasi hanya dan hanya dengan KERJA KERAS. “Ya, kerja keras. Kita yakinkan agen. Dia tak mau jual, kita jual sendiri. Semua wartawan dulu wajib jadi agen. Setelah agen yakin berangsur-angsur kita lepaskan. Memang berat,” kata Rida. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya suka membaca kisah para perintis di berbagai hal, bagaimana mereka memulai sesuatu pada awalnya karena pesan moralnya selalu sama: LANGKAH AWAL TIDAK PERNAH MUDAH. Bagaimana Jan N Wenner memulai majalah Rolling Stone hingga menjadi majalah yang berwibawa dan diperhitungkan tidak hanya di bidang musik tetapi juga politik dan terbit di berbagai negara termasuk di Indonesia;  bagaimana Wallace de Witt merintis majalah Reader Digest bersama istrinya, konsep majalah itu ditolak banyak penerbit sampai akhirnya mereka terbitkan sendiri dan kini majalah yang paling banyak dibaca di dunia; bagaimana Budiono Darsono memulai situs berita Detik.Com pada awalnya, bahkan wartawannya harus meyakinkan panitia dulu supaya  diakui sebagai wartawan resmi dan bisa meliput Sidang Istimewa di tahun 1999. Ia juga harus mengubah cara kerja wartawan, dan dia sendiri dengan kendaraan motor ikut meliput sebagai reporter lapangan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Maaf, bila saya terlalu banyak mengambil contoh nama-nama tokoh perintis media, tetapi sama saja, bidang apapun langkah awal selalu sulit, seperti cerita Aburizal Bakrie itu. Maka, saya kira saya boleh berbagi kecurigaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Curigalah, apabila ketika memulai sesuatu langkah awalnya kok terlalu mudah. Anda mungkin akan lekas kehilangan gairah untuk melangkah lebih jauh, sebelum sampai ke mana-mana.&lt;strong&gt;[h]&lt;/strong&gt;   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-3007152646144756489?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/3007152646144756489/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=3007152646144756489' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/3007152646144756489'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/3007152646144756489'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/09/curigalah-bila-langkah-awal-anda.html' title='Curigalah Bila Langkah Awal Anda Terlalu Mudah'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-5557883651975570545</id><published>2008-09-17T23:17:00.002+08:00</published><updated>2008-09-17T23:24:45.521+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kolom'/><title type='text'>Jaga Lima, Sebelum Lima</title><content type='html'>HAFALKAN empat puluh hadist, engkau akan terbebas dari siksa kubur. Saya ingat kalimat itu dulu diucapkan oleh guru sekolah arab kami dulu di kampung, nun di Kalimantan sana. Ia mengutip dari sebuah hadist.  Di kampung kami dulu setiap anak harus sekolah arab di sore hari. Bercelana panjang dan berpeci. Pagi kami sekolah melayu. Ya, begitulah orang-orang tua kami membedakan jalur pendidikan. Sekolah melayu adalah sekolah dasar yang guru-guru, bangunan sekolah, bangku-meja, dan buku-buku, semua disediakan oleh pemerintah. Sekolah arab itu madrasah yang sepenuhnya swadaya. Gedung, honor guru, buku-buku, diupayakan sendiri oleh orang-orang kampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saya merasakan, bagi orangtua kami saat itu, kedua sekolah itu penting. Ilmu yang didapat di sekolah melayu untuk bekal mengejar kehidupan yang baik di dunia, sedangkan ilmu di sekolah arab untuk sangu kehidupan kelak di akhirat. Kami didorong untuk disiplin di kedua sekolah itu. Meskipun ya namanya juga anak-anak, kami rada indisipliner saat sekolah sore. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saya tak tahu kenapa kami menyebutnya sekolah arab. Mungkin karena sebagian besar ilmu yang diajarkan berasal dari kata arab. Mungkin itu diadaptasi dari pelajaran di pesantren, karena sebagian guru-guru sekolah arab adalah lulusan pesantren. Sejarah Islam disebut Tarikh, Bahasa Arab disebut Logat, menulis indah namanya Khot. Kami juga belajar Fikih, Tauhid, Adab dan Akhlak, Alquran dan Hadist, dan Hisab. Yang terakhir itu ilmu berhitung dalam aksara arab. Semacam matematika. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt; Pelajaran yang paling saya sukai di sekolah arab itu Khot dan Alquran dan Hadist. Khot itu menulis indah. Kami harus meraut mata pensil sedemikian rupa sehingga tulisan yang dihasilkan bergradasi tebal tipis. Garis tegak tipis, garis datar tebal. Ya, ini ilmu kaligrafi. Saya selalu mendapatkan nilai bagus untuk pelajaran ini. Mininal ponten saya dapat angka delapan-lah.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saya juga menggemari pelajaran hadist,  karena dalam pikiran saya dan kawan-kawan - para bocah yang belum lagi akil balig - targetnya mudah. Kami harus hafal empat puluh hadist. Supaya lepas siksa kubur. Kalau setiap minggu kami menghafal satu hadist maka dalam setahun target tercapai. Tentu saja guru pengajar menjelaskan intisari dari hadist yang diajarkan. Dia juga menjelaskan apa sebab nabi mengatakan sesuatu, melakukan sesuatu, atau berdiam saja terhadap sesuatu sehingga sebuah hadist pun tercatat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Salah satu hadist favorit kami adalah: jaga lima perkara sebelum datang lima perkara, sehat sebelum sakit, lapang sebelum sempit, muda sebelum tua, kaya sebelum miskin, dan hidup sebelum mati. Maaf, barangkali saya mengutip hadist ini tidak urut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Betulkah dengan hafal 40 hadist maka kami akan lepas dari siksa kubur? Padahal hadist itu kan ribuan jumlahnya? Kami tidak pernah bertanya waktu itu. Tapi, kini saya kira bukan hafalnya yang penting tapi bagaimana kami bisa mengamalkan ajarannya dalam kehidupan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tak usah mengamalkan 40 hadist, satu saja deh pasti selamat. Satu saja, saya pilihkan hadist tentang lima sebelum lima itu. Saya percaya hadist tadi cocok untuk diajarkan sedini mungkin kepada anak-anak, seperti kami dahulu. Anak-anak memiliki lima hal yang harus dijaga sebelum datang lima perkara berikutnya. Anak-anak punya harapan kehidupan, jelas masih muda, punya waktu lapang dan panjang, sehat, dan kalaupun kami lahir dari keluarga yang tidak kaya, kami tentu tidaklah terlalu miskin. Kalaupun orangtua kami tidak kaya, kami toh punya harapan untuk meraih kehidupan yang lebih beruntung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sekarang pun setiap kali melangkah saya sering mengukur diri dengan lima perkara itu. Jika ingin menunda suatu pekerjaan, maka saya bilang pada diri saya sendiri, ayolah kerjakan sekarang mumpung masih lapang, kalau sudah kepepet nanti malah tak sempat lagi. Jika saya malas belajar, saya akan ingatkan diri saya, ayolah jangan malas, selagi muda, kerja otak masih beres, ingatan masih kuat, otot masih kencang, belajarlah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Lantas bagaimana kalau kita sekarang sudah sibuk tak lapang lagi, sudah tua tak muda lagi, miskin tak kaya lagi, sakit tak sehat lagi? Hei, kita kan masih punya satu hal yang paling penting, kita masih hidup bukan? "Ini kunci dari segalanya. Kalau kita masih hidup kita masih bisa melakukan hal-hal yang baik," kata guru saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kini saya bisa membandingkan betapa makna hadist itu saya temukan dalam roh manajemen modern: manajemen waktu, manajemen aset, manajemen sumberdaya manusia. Saya kira ini bonus, spirit manajemen dalam hadist itu mendukung profesionalitas kerja saya, dan bersama 39 hadist lain yang masih saya hafal hadist ini menyelamatkan saya dari siksa kubur. Amin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Hadist itu mengilhami Raja Dangdut Rhoma Irama menggubah sebuah lagu. Liriknya dimulai begini: &lt;em&gt;pesan Nabi kepada semua umatnya&lt;/em&gt;...(langsung diselingi solo gitar).. &lt;em&gt;Jaga lima sebelum datangnya lima&lt;/em&gt;... Lagunya berirama menggugah. Temponya cepat dan menghentak-hentak. Dinyanyikan dengan sangat bergairah. Beda sekali dengan kelompok nasyid Raihan yang belakangan juga melagukan hadist itu. Gubahan Raihan lebih lembut, mengalun pelan dan syahdu. Saya tidak perlu menilai mana kedua lagu itu yang lebih baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Setahu saya belum ada kelompok musik lain yang melagukan hadist itu. Bagus juga kalau Gigi menyanyikan lagi lagu tersebut dengan aransemen baru. Kalau lagu Perdamaian milik kelompok GNR (bukan Gun 'n Roses, tapi Grup Nasyida Ria) saja cocok dibawakan oleh Gigi, saya yakin lagu Bang Haji Rhoma juga pasti pas. Meminjam istilah juri Indonesian Idol Indra Lesmana, saya kira Armand pasti dapat soul-nya lagu itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Nah, kalau lagu Raihan saya kira lebih cocok dibawakan sama Ungu. Pas banget. Bayangkan suara Pasha melagukannya:.... &lt;em&gt;Ingat lima perkara sebelum lima perkara, sehat sebelum sakit. Lapang sebelum sempit. Muda sebelum tua. Kaya sebelum miskin. Hiduuuuup sebeeeeelum matiiiii&lt;/em&gt;.***  &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-5557883651975570545?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/5557883651975570545/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=5557883651975570545' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/5557883651975570545'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/5557883651975570545'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/09/jaga-lima-sebelum-lima.html' title='Jaga Lima, Sebelum Lima'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-4814591769974312456</id><published>2008-09-17T17:55:00.002+08:00</published><updated>2008-09-17T17:57:17.928+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='blowjoke'/><title type='text'>Turis Jepang</title><content type='html'>SEORANG turis Jepang sedang melancong di Batam. Karena kebiasaan di negaranya, ia tak mau naik taksi kecuali yang pakai argometer. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mula-mula dia minta antar ke Jembatan Barelang. Ketika taksi yang dia tumpangi disalip sedan Honda City, si turis melongok ke luar jendela sambil berseru, "Honda! Very fast. Made In Jepang!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Jembatan I ke Jembatan II taksi itu didahului lagi oleh sebuah mobil Toyota Corolla. Si Turis Jepang melongok keluar jendela dan berseru, "Toyota, very fast. Made In Jepang!" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah jalan-jalan, si Turis minta antar langsung ke Bandara Hang Nadim. Di jalan lagi-lagi taksi itu didahului oleh Mitshubishi Lancer. "Mitsubishi, very fast. Made In Jepang too..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di Bandara, si Turis pun melihat ke argometer dan kaget karena dia harus bayar Rp900.000 lebih.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Supirnya bilang, "Argometer Made In Jepang, very fast, Mister!" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-4814591769974312456?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/4814591769974312456/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=4814591769974312456' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/4814591769974312456'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/4814591769974312456'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/09/turis-jepang.html' title='Turis Jepang'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-3758156555565058601</id><published>2008-09-17T17:22:00.002+08:00</published><updated>2008-09-17T23:26:04.195+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku dan Aku'/><title type='text'>Aku dan Arswendo (4): Si Pemukul Lonceng</title><content type='html'>Arswendo adalah sosok ideal seniman di mata remaja saya. Jauh hari sebelum bertemu bukunya "Mengarang Itu Gampang" saya sudah terkagum-kagum padanya lewat karya-karya kreatifnya di televisi. Waktu itu hanya ada TVRI dan jarang sekali stasiun itu menayangkan acara bermutu. Tak beda jauhlah dengan sekarang. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; Dialah yang memperkenalkan istilah sinetron yang ia kreasi dari kata sinema elektronik, hingga menjadi selazim sekrang ini. Jangan bayangkan sintetron pada masa itu ditayangkan setiap hari seperti sekarang. Dulu sinetron serial diputar sebulan sekali. Waktu itu populer sekali sinetron "Losmen". Arswendo sendiri berkibar sebagai penulis skenario sinetron "Jendela Rumah Kita" dan Aku Cinta Indonesia" atau "ACI". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Di sinetron yang pertama dua nama bintangnya masih bercahaya sampai sekarang, meski tak secemerlang dahulu. Jojo tokoh protagonis utamanya diperankan oleh Dede Yusuf, dan peran gadis manis cantik baik hati dan ah pokoknya memenuhi semua bayangan seorang remaja lelaki tentang perempuan idealnya diperankan oleh Dessy Ratnasari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kami tak pernah melewatkan saat sinetron itu ditayangkan. menunggu sosok anak bungsu seorang pensiunan militer bernama Jojo yang jangan-jangan manifestasi dari Arswendo sendiri, pintar, cerdas, berani, ganteng, sok tidak pedulian, dan yang paling penting dicintai cewek cantik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Belum selesai memukai dengan "Rumah Masa Depan"  saya disuguhi tontonan yang amat menyentuh bernama sinetron ACI. ACI bisa singkatan dari Amir, Cici, dan Ito, tiga tokoh utama sinetron bersetting sebuah SMP itu. Atau bisa juga berarti Aku Cinta Indonesia. Kami sampai hafal theme songnya dan sambil bermain senang riang menyanyikan lagu itu. "..A bisa Amir, C bisa Cici, I bisa Ito.... tapi ACI Aku Cinta Indonesia." Belakangan saya tahu lirik lagu itu juga diperankan oleh Arswendo yang dalam sinetron itu juga ikut main, berperan sebagai: Pemukul Lonceng! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Arswendo juga manusia biasa yang bisa khilaf. Kasus jajak pendapat di tabloid Minotor yang heboh itu seakan meruntuhkan bangunan reputasinya. Tapi, sejak awal saya kagum pada energi kreatifnya saja, jadi apapun yang terjadi pada karirnya saya tetap menghikmati spirit itu: berkarya dengan kreatif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-3758156555565058601?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/3758156555565058601/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=3758156555565058601' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/3758156555565058601'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/3758156555565058601'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/09/aku-dan-arswendo-4-si-pemukul-lonceng.html' title='Aku dan Arswendo (4): Si Pemukul Lonceng'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-581540141544738852</id><published>2008-09-16T01:00:00.004+08:00</published><updated>2008-09-16T01:04:04.158+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perkartunan'/><title type='text'>Ayo Mulai Sindikasi Komik Strip</title><content type='html'>&lt;em&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;strong&gt;Pengantar:&lt;/strong&gt; Ini sebuah tulisan lama saya tentang sindikasi komik strip di Indonesia. Saya mengirimnya ke milis Komik Indonesia dan syukurlah tidak mendapat tanggapan apa-apa. Saya percaya ada yang bisa diwujudkan dari ide saya ini. Semoga. Saya menampilkan lagi di blog ini, semoga ada yang bisa mengambil manfaatnya.&lt;/blockquote&gt; &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Oleh Hasan Aspahani&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KREATOR "Peanut" mendiang Charles M Schulz termasuk jajaran maha-jutawan di Amerika. Setiap hari dia bekerja "hanya" menggambar kisah baru Si Anjing Snoopy, Charlie Brown, Lucy, Linus, dan kawan-kawan. Setiap hari, gambar beliau terbit di lebih dari 3.000 surat kabar di dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Amerika ada banyak sindikasi. Ini semacam lembaga agen yang menjualkan strip komik karya kartunis ke surat-kabar. Karakter-karakter kartun yang mendunia hampir selalu lahir lewat tangan sindikasi ini, selain Peanut tadi, juga Popeye, Garfield, Flash Gordon, Tarzan, dll. Ada beberapa sindikasi terkenal antara lain King Feature Syndicate, dan United Feature Syndicate.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana menembus sindikasi itu? Berikut ini beberapa hal yang bisa ditiru dari sistem itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sindikasi menerima strip komik dari siapa saja. Kartunis diminta mengirim contoh komik 18-24 gambar. Ada juga yang meminta gambar contoh untuk empat minggu (enam hari seminggu), atau enam minggu. Strip komik di Amerika terbit harian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Format strip komik mingguan biasanya lebih panjang ceritanya. Ini diminta contohnya oleh lembaga sindikasi apabila strip komik harian yang dikirim disetujui untuk dijual ke surat kabar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Menggambarlah di kertas dengan ukuran kotak panel panjang 13 dan lebar 4 inci.  Surat kabar biasanya menerbitkan kartun dengan ukuran panjang 6,5 inci. Persis 1/2 dari ukuran gambar asli yang dibuat kartunis. Yang dikirimkan adalah fotokopi atau printout saja, pada kertas ukuran 8,5 x 11 inci, satu kertas bisa muat empat salinan strip.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Kirimkan juga karakter utama kartun plus nama dan penjelasan ringkas soal karakter tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Nama lengkap dan alamat kartunis harus dicantumkan di amplop dan di sisi belakang tiap lembar kartun.  Editor penilai akan memberi penilaian dalam tiga bulan. Artinya dalam waktu itu akan ada jawaban diterima atau tidak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Apa yang dinilai? Keunikan! Karakter kartun harus unik. Keunikan lahir dari pandangan kartunis terhadap dunia dan selera humor yang baik. Karakter yang unik akan mengalirkan cerita dengan lancar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Mana yang penting cerita yang baik atau gambar yang menarik? Lembaga sindikasi memilih yang pertama: cerita yang ditulis dengan baik. Cerita yang baik akan menolong gambar yang lemah. Gambar memang penting, karena gambarlah yang pertama kali ditengok oleh pembaca.  Jadi, akhirnya ya kedua-duanya harus keren. Cerita bagus, gambarnya bagus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Kartunis yang dicari adalah kartunis yang bisa bertahan menghasilkan kartun hebat setiap hari bertahun-tahun. Persaingan di sana ketat sekali. Tiap tahun, sebuah sindikasi seperti King Features menerima 5.000 kiriman, dan hanya menerima tiga untuk disindikasikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Berapa kartunis dibayar? Pembagiannya 50:50. Separo untuk kartunis separo untuk lembaga sindikasi.  Nilainya?  Antara Rp160 juta ($20.000, kita hitung dengan kurs Rp8.000 saja) sampai Rp 800 miliar! ($1.000.000) setahun. Tergantung pada berapa banyak surat kabar yang berlangganan menerbitkan kartun tersebut dan berapa banyak produk dibuat berdasarkan karakter kartun itu.   &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;10. Lembaga sindikasi amat menganjurkan kartunis untuk membaca sebanyak-banyaknya. Membaca banyak hal -- fiksi, majalah, surat kabar. Humor yang baik berangkat dari kehidupan nyata. Semakin banyak kita tahu tentang kehidupan, semakin banyak kisah lucu yang bisa kita kartunkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Humor adalah bagian paling penting dalam sebuah strip komik. Lalu disusul karakter yang kuat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Banyak kartunis yang menulis teks dalam balon percakapan atau di kotak narasi dengan buruk. Kata-kata perlu ditulis dengan baik, cukup besarnya, sehingga mudah dibaca. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. Menggambarlah dengan tinta kedapair. Pakai tinta cina atau tinta india. Pakai pena boleh, pakai kuas boleh. Pokoknya gambar asli harus bisa direproduksi dengan kualitas tinggi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Peluang di Indonesia&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Saya melihat ada peluang besar sekali untuk mengembangkan sistem sindikasi di Indonesia. Di Jawa Pos Grup saja saat ini bergabung lebih dari 90 surat kabar. Belum lagi surat kabar lain di luar grup &lt;em&gt;Jawa Pos.&lt;/em&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Apa yang bisa kita lakukan? &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;1. Menyiapkan Pakarti menjadi semacam sindikat. Atau bila Pakarti ingin dipertahankan sebagai tempat yang guyup saja, ya dipersiapkan lembaga lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kartunis yang tertarik memulai sindikasi ini, silakan menyiapkan kartunnya dengan aturan yang bisa ditiru sebagaimana paparan di atas. Atau kita bikin standar ukuran  sendirilah. Bila barang sudah ada, maka nanti pasti ada pembeli dan pasti ada harga pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Perlu juga dipikirkan menerbitkan surat kabar mingguan khusus kartun. Surat kabar itu (formatnya tabloid saja) juga memuat karakter-karakter yang ditawarkan untuk disindikasikan. Surat kabar bisa dicetak murah. Ukuran tabloid 24 halaman dengan kertas koran bisa dicetak dengan ongkos tak lebih dari seribu perak. Cetak minimal dua ribu eksemplar. Ini harga di Batam, di Jakarta bisa lebih murah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Surat kabar kartun itu bisa dijual, bisa juga dikirim ke surat kabar di seluruh Indonesia sebagai promosi strip yang ditawarkan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Berapa harganya? Misalkan satu kartun tiap hari harganya Rp5.000 rupiah.  Satu bulan (anggap saja 30 hari) harganya Rp150 ribu. Kalau satu surat kabar mengambil lima kartun artinya dia cukup bayar Rp450 ribu. Masih lebih murah daripada menggaji seorang kartunis yang belum tentu bisa menghasilkan lima strip tiap hari.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Bila satu komik bisa terbit serentak di 10 surat kabar? Ada penghasilan Rp4.5 juta. Kalau dibagi dua, kartunis dapat Rp2 juta lebih. Lumayankan? Ini baru 10 surat kabar. Kalau 20? Atau 50? Belum lagi kalau ada penghasilan lain dari royalti karakter yang dipakai untuk produk cendera mata lain.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirulkalam, semoga tulisan ini bermanfaat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;* Penulis adalah kartunis, jurnalis dan penyair (www.sejuta-puisi.blogspot.com). Sajak-sajaknya bertema komik pernah dimuat sehalaman di Koran Tempo. Pernah membuat ilustrasi di Album Ganesha Bobo (Gramedia),  membuat kartun di Majalah Ananda (keduanya tidak terbit lagi), dan di majalah HumOr (juga tidak terbit lagi). Strip komiknya pernah terbit di Kaltim Post, Riau Pos, dan  "Jeko" di Posmetro Batam (www.posmetro.wordpress.com).  &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-581540141544738852?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/581540141544738852/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=581540141544738852' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/581540141544738852'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/581540141544738852'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/09/ayo-mulai-sindikasi-komik-strip.html' title='Ayo Mulai Sindikasi Komik Strip'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-1491751279316793710</id><published>2008-09-15T01:21:00.001+08:00</published><updated>2008-09-15T01:47:43.739+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jurnalistik'/><title type='text'>20 Unsur Dasar Desain Surat Kabar</title><content type='html'>&lt;em&gt;Oleh Hasan Aspahani&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Nama surat kabar dengan huruf khusus dan warnanya disebut LOGO. Logo adalah elemen grafis penting karena dipertaruhkan sebagai unsur pengenal pertama bagi surat kabar kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang 19 lagi? &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Logo ditambah nomor terbitan, tanggal terbit dan moto surat kabar disebut NAMEPLATE. Disebut juga MASTHEAD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Barisan teks judul yang dibuat besar disebut HEADLINE. Kenapa besar? Karena tujuannya memang untuk menggoda pembaca. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Kalau ada berita yang panjang, perlu diberi SUBHEAD atau SUBJUDUL. Supaya terbagi dalam segmen-segmen pendek. SUBHEAD juga bisa tampil dibawah judul HEADLINE.  SUBHEAD dibenarkan bahkan dianjurkan untuk membantu HEADLINE. Istalahnya HEADLINE yang menggoda, SUBHEAD yang memanas-manasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Dengan tujuan yang sama pula, KICKER bisa digunakan. Biasanya KICKER diletakkan di atas HEADLINE cukup satu dua kata. Kadang diberi garis bawah. Ukurannya lebih kecil dari HEADLINE. Idealnya KICKER ini menjadi pengklasifikasi berita. Misalnya "PEMILU DI IRAK", atau "LIMBAH PT APEL". Baru di bawahnya judul HEADLINE.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Kalau KICKER-nya lebih besar dari HEADLINE, karena memang menarik untuk dijual, maka namanya naik pangkat menjadi HAMMER! Letaknya di atas, baru di bawahnya HEADLINE. Paling banyak tiga kata saja. Tidak lebih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Berita boleh didahului oleh semacam ringkasan pendek. Namanya DECK. Kadang rancu mana DECK mana SUBHEAD. Tapi DECK gampang dibedakan dari isinya yang lebih panjang. Supaya pembaca lekas tahu apa isi berita kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. BYLINE  kita pakai pada berita utama di setiap halaman. Namanya juga byline, biasanya memang selalu diberi garis. Untuk mempertegas siapa yang menulis berita tersebut. Lalu diikuti jabatan atau daerah liputannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Teks berita kita disebut BODYCOPY. Ini kelihatannya sepele. Soalnya sekali tentukan jenis dan ukurannya, maka sudah selesai. Tak bisa diapa-apakan lagi. Karena itulah sebenarnya BODYCOPY menjadi penting. Bahkan paling penting (baca tulisan lain soal ini).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. INITIAL CAP atau DROP CAP.  Huruf di awal paragraf yang dibesarkan itu namanya DROP CAP atau INITIAL CAP. Lazimnya DROP CAP masuk mengambil ruang dua atau tiga baris dalam kolom.    &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;11. QUOTE dipakai kalau ada kutipan paling dramatis yang layak ditampilkan. Bisa juga fakta atau data yang paling mengagetkan. Namanya juga kutipan. Dia adalah pengulangan dari apa yang ada dalam berita. Kalau tidak ada memangnya kita mengutip dari mana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. CAPTION adalah teks yang mengiringi foto, ilustrasi atau grafis. Biasanya kecil tapi gampang dibaca (ada tulisan lain soal ini).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. Kalau ada gambar (bukan foto) dalam boks yang mengikuti HEADLINE itu namanya TEASER.  Kadang tidak informatif tapi wajib kreatif. Ini jarang sekali digunakan. Paling-paling disimpan sebagai jurus andalan, agar wajah surat kabar tidak jatuh membosankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14. Ah, tidak usah dijelaskan lagi betapa pentingnya FOTO dalam sebuah surat kabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15. KARIKATUR juga perlu terutama di halamaN opini. Sesekali di halaman 1 kalau isunya memang kuat dan tidak ada foto yang bagus. New Strait Times di Kuala Lumpur menampilkan kartun karya Lat di separo halaman 1 ketika berubah format jadi tabloid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16. INFOGRAFIC. Kita menyebutnya GRAFIS saja. Isinya bisa peta, tabel, atau diagram. Bisa juga kronologis kejadian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17. Bumbu penyedap dalam desain surat kabar adalah GARIS, BULLET (tidak boleh lebih besar dari huruf), dan DINGBAT (simbol internasioal seperti lambang jenis kelamin jantan dan betina, ikon komputer, dll).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18. Sambel dan kecap dalam desain adalah  BOXES dan BORDER. Kalau kebanyakan halaman jadi kacau, kalau diramu dengan pas, halaman pun jadi nikmat. Rumusnya cuma satu: jangan diumbar. Pemakaian unsur nomor 17 dan 18 ini harus sangat ditahan-ta han.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19. KOLOM juga merupakan unsur desain. KOLOM membagi teks berita kita. Dengan jenis huruf dan ukuran yang sudah kita pilih, lebar kolom tak boleh lebih dari 52 karakter tak kurang dari 34 karakter. Terlalu lebar atau terlalu sempit menyulitkan pembaca (baca tulisan lain soal ini).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20.  Terakhir unsur desain yang tidak kelihatan. Memangnya ada? Ya, ada. Sebenarnya sih kelihatan juga. Apa itu? Ruang kosong di antara kolom, antara judul dengan isi berita dll. Jangan terlalu kosong, jangan juga terlalu penuh. Sedang-sedang saja. Terakhir perlu juga diperhatikan MARGIN da GUTTER, batas tepi dan atas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Diolah dari&lt;a href="http://tameri.com/dtp/elements.html"&gt; Tameri Guide for Writers: Design Layout Element&lt;/a&gt;, diakses pada 11 Februari 2005, pukul 10.38. &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-1491751279316793710?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/1491751279316793710/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=1491751279316793710' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/1491751279316793710'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/1491751279316793710'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/09/20-unsur-dasar-desain-surat-kabar.html' title='20 Unsur Dasar Desain Surat Kabar'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-1134272983664236879</id><published>2008-09-09T14:36:00.001+08:00</published><updated>2008-09-09T14:39:47.494+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku dan Aku'/><title type='text'>Aku dan Arswendo (3): Senyum dan Sandal Jepit</title><content type='html'>SAMPUL depan buku "Mengarang Itu Gampang" khas sekali. Nama si pengarang diletakkan di atas Arswendo lalu di bawahnya Atmowiloto. Lalu MENGARANG ITU GAMPANG. Semuanya rata kiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Lalu yang paling tengil gambar karikaturnya itu. Tak ada keterangan siapa gambar itu, tapi yang kenal siapa Arswendo pasti tahu itu adalah dia. Rambut gondrongnya acak-acakan, wajahnya tersenyum lebar -  tepatnya nyengir, di sela giginya tertancap rokok dengan asap mengepul. Bajunya kusut. Dia duduk di depan mesin ketik. Ada buku terserak di bawah mejanya. Juga kertas kertas ketikan plus puntung rokok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Begitukah tipikal pengarang yang ingin dikesankan Arswendo? Mungkin, dengan kalimat yang sama: mengarang itu gampang. Jadi pengarang itu asyik. Dan memang demikianlah pula penampilan si pengarang. Foto di halaman terakhir buku itu jadi bukti. Rambut, ekspresi, minus nyengirnya. Itu foto Mas Wendo masih muda. Mungkin belum 40 tahun. Tahun ini umurnya 60 tahun. Berubahkah Wendo? Sejauh saya lihat di televisi dan di koran-koran ia tidak berubah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Saya ingat ketika SMA, Pak Sumantri, guru PMP saya - kalau Anda lupa, ini singkatannya Pendidikan Moral Pancasila - meminta setiap murid menyebutkan sepuluh nama tokoh favorit. Saya memasukkan nama Arswendo dalam sepuluh nama itu, bersama antara lain Soekarno, Charlie M Schulz, dan Mike Tyson. Guru saya bertanya kenapa nama Arswendo masuk dalam daftar saya? Saya harus menjelaskan di depan kelas. Tampaknya tak ada murid lain yang menyebut dia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Mungkin karena sampul itu pula, saya ketika SMA itu, pernah meminta kepada orang tua saya. Saya minta salah satu dari dua hal: kamera atau mesin ketik. Saya bilang, saya akan cicil dengan gaji saya sebagai kartunis di surat kabar. Orangtua saya tidak menjawab. Sampai saya lulus saya tidak dapat kedua hal itu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Mungkin karena sampul itu pula, saya ketika kuliah menjajal rokok dan memanjangkan rambut. Saya jadi perokok berambut gondrong dan membayangkan saya adalah dia. Menjadi pengarangnya belum dan entah kapan bisa seperti dia, tapi paling tidak gondrong dan merokoknya sudah persis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kalau sekarang banyak buku-buku serupa saya dalam hati cuma nyengir dan tidak pernah tergerak untuk membeli.  Saya punya standar tinggi untuk buku serupa, kalau masih saja berbau-bau Arswendo saya tidak akan pernah beli.   &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-1134272983664236879?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/1134272983664236879/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=1134272983664236879' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/1134272983664236879'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/1134272983664236879'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/09/aku-dan-arswendo-3-senyum-dan-sandal.html' title='Aku dan Arswendo (3): Senyum dan Sandal Jepit'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-5695562745408923228</id><published>2008-09-05T22:58:00.003+08:00</published><updated>2008-09-05T23:04:53.641+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jurnalistik'/><title type='text'>Tiga Contoh Siaran Pers</title><content type='html'>Ada yang baik, ada yang kurang baik, ada yang STD - standar! Silakan bandingkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Contoh 1.&lt;/strong&gt; Ini contoh yang sangat baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siaran Pers&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pengumuman Pemenang&lt;br /&gt;Sayembara Kritik Sastra DKJ 2007&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Jakarta, 11 Desember 2007 -- Pemenang Sayembara Kritik Sastra tahun 2007 yang diadakan Dewan Kesenian Jakarta telah diumumkan pada Malam Anugerah Sayembara Kritik Sastra pada Jumat, 7 Desember 2007 lalu di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Cikini. Tahun ini, Sayembara Kritik Sastra DKJ 2007 mengambil tema "Sastra Indonesia Memasuki Abad ke-21". Sayembara ini telah berlangsung sejak diumumkan pada Juli 2007 sampai akhir Oktober 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Penjurian dilakukan dengan kriteria penilaian yang telah diumumkan, yaitu kebaharuan (orisinalitas) dan perspektif yang segar dalam menelaah karya sastra, keterbacaan tulisan, kedalaman dan ketajaman menggali kekhasan karya, serta keabsahan argumentasi. Melibatkan Dewan Juri yang terdiri dari Melani Budianta, Franki Budi Hardiman, dan AS Laksana, dari 64 naskah yang lolos syarat administrasi (dari 75 naskah yang masuk ke panitia), berikut pemenang Sayembara Kritik Sastra DKJ tahun 2007:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pemenang I&lt;br /&gt;Tamsil tentang Zaman Citra: Perihal Segugusan Cerpen Nukila Amal, oleh Arif Bagus Prasetyo&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pemenang II (dua pemenang)&lt;br /&gt;Memandang Bangsa dari Kota : Telaah atas"Cala Ibi" (Nukila Amal) dan "Jangan Main-main dengan Kelaminmu" (Djenar Maesa Ayu) oleh Manneke Budiman&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Rumah, Puisi, Penyair (Kisah Rumah: Perpuisian Indonesia Modern) oleh Bandung Mawardi&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pemenang III&lt;br /&gt;Suara-suara Perempuan yang Terbungkam dalam "Sihir Perempuan" oleh Bramantio&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Nominee&lt;br /&gt;Selain empat pemenang di atas, Dewan Juri memilih enam naskah Nominee untuk dipublikasikan dalam buku acara* Malam Anugerah Sayembara Kritik Sastra DKJ 2007. Menurut Dewan Juri, keenam naskah tersebut dianggap menyampaikan aspek yang menarik dalam sastra Indonesia masa kini, dan memperkaya kritik sastra. Keenam naskah yang dimaskud adalah:&lt;br /&gt;-          Humor yang Politis, Humor yang Tragis (Mengingat Yudhis, Menikmati Jokpin) oleh Bandung Mawardi&lt;br /&gt;-          Hibriditas, Spiritualitas dan Interpertasi Baru Atas Omkara dalam "Supernova: Akar" oleh Bramantio&lt;br /&gt;-          "Saman": Identitas yang Bergelincir dalam Wacana Hutan yang Liar oleh Irsyad Ridho&lt;br /&gt;-          Ditunggu: Kehadiran Novel Polifonik oleh Tirto Suwondo&lt;br /&gt;-          Religiusitas dan Erotika dalam Sajak-sajak Acep Zamzam Noor oleh Tia Setiadi&lt;br /&gt;-          Etnisitas dan Kota oleh Katrin Bandel&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Masing-masing pemenang, selain mendapatkan Piagam Penghargaan dari Dewan Kesenian Jakarta, juga memperoleh sejumlah uang tunai, yaitu:&lt;br /&gt;Pemenang I     : Rp10.000.000&lt;br /&gt;Pemenang II    : Rp7.500.000&lt;br /&gt;Pemenang III   : Rp5.000.000&lt;br /&gt;Nominee         : @ Rp1.500.000&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;"Sebagian besar naskah yang masuk secara langsung dan tidak langsung bersoal dengan tema yang diangkat oleh Sayembara Kritik Sastra DKJ 2007, yakni "Sastra Indonesia Memasuki Abad ke-21." Salah satu hal yang diamati para penulis adalah gejolak penulisan yang meningkat. Tetapi seperti yang sering dibicarakan di media massa, gejolakini dianggap kurang diikuti dengan proses seleksi, pematangan dan pembelajaran sastra, karena kurang hidupnya kritik sastra, atau kurang sehatnya relasi-kuasa dalam produksi-reproduksi sastra, komunitas sastra, dan sistem pendukung bagi khalayak pengamat sastra. Sejumlah penulis menganggap bahwa posisi sastra Indonesiadalam konteks globalmasih perlu dikuatkan melalui berbagai cara." &lt;br /&gt;Kutipan catatan Dewan Juri –&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; * Bunga rampai naskah pemenang sayembara kritik sastra Dewan Kesenian Jakarta 2007 bisa didapatkan di Dewan Kesenian Jakarta dengan mengubungi: Nina Samidi / 0817.078.1719, khusus untuk wartawan untuk kepentingan penulisan berita. Jumlah terbatas!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tentang Dewan Kesenian Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) adalah salah satu lembaga yang dibentuk oleh masyarakat seniman dan dikukuhkan oleh Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, pada tanggal 17 Juni 1969. Tugas dan fungsi DKJ adalah sebagai mitra kerja Gubernur Kepala Daerah Propinsi DKI Jakarta untuk merumuskan kebijakan guna mendukung kegiatan dan pengembangan kehidupan kesenian di wilayah Propinsi DKI Jakarta. Pada awalnya anggota pengurus Dewan Kesenian Jakarta diangkat oleh Akademi Jakarta, yaitu para budayawan dan cendikiawan dari seluruh Indonesia. Kini dengan berjalannya waktu, pemilihan anggota DKJ dilakukan secara terbuka, melalui pembentukan tim pemilihan yang terdiri dari beberapa ahli dan pengamat seni selain anggauta Akademi Jakarta sendiri. Nama nama calon diajukan dari berbagai kalangan masyarakat maupun kelompok seni. Masa kepengurusan DKJ adalah 3 tahun.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kebijakan pengembangan kesenian tercermin dalam bentuk program tahunan yang diajukan dengan menitikberatkan pada skala prioritas masing-masing komite. Anggota DKJ berjumlah 25 orang, terdiri dari para seniman, budayawan dan pemikir seni, yang terbagi dalam 6 komite: Komite Film, Komite Musik, Komite Sastra, Komite Seni Rupa, Komite Tari dan Komite Teater.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Informasi lebih lanjut, silakan hubungi:&lt;br /&gt;Ranti Dradjat, Programme Officer&lt;br /&gt;Telp. (021) 3193 7639                  &lt;br /&gt;ranti_dradjat@ ...                                                  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nina Samidi, Humas&lt;br /&gt;Hp. 0817.078.1719&lt;br /&gt;midiasih@... &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dewan Kesenian Jakarta&lt;br /&gt;Jl. Cikini Raya No.73 Jakarta Pusat 13130&lt;br /&gt;Telp. (021) 3193 7639 / 316 7280&lt;br /&gt;Fax. (021) 3192 4616&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Klik www.dkj.or.id untuk melihat agenda kegiatan Dewan Kesenian Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Contoh 2&lt;/strong&gt;. Ini contoh siaran pers yang kurang baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siaran Pers&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Undangan Pameran dan konser COKELAT&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dear Sahabat....&lt;br /&gt;Galeri Foto Jurnalistik ANTARA dan Kementerian Pembangunan Daerah&lt;br /&gt;Tertinggal mengundang sahabat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembukaan pameran dan pengumumnan pemenang lomba foto Realitas Daerah&lt;br /&gt;Tertinggal,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;POINS SQUARE, 14 Desember 2007 Pukul 19.00 Wib&lt;br /&gt;( Pameran 14- 18 Desember 2007 )&lt;br /&gt;Di buka oleh : Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal&lt;br /&gt;Bpk. Ir.H.M. Lukman Edy M.Si&lt;br /&gt;Performance : Band COKELAT&lt;br /&gt;Mc: Ratna Listy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditunggu ya kehadiran sahabat semua....... .........&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;Diah K Wijayanti&lt;br /&gt;Ass Kurator GFJA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Contoh 3.&lt;/strong&gt; Ini contoh siaran pers yang terlalu singkat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siaran Pers&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Lomba Penulisan UU Administrasi Pemerintahan&lt;br /&gt;Dapat Mendorong Reformasi Birokrasi Di Indonesia&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama ini kami beritahukan Kementerian Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan SfGG GTZ menggelar Lomba Penulisan UU Administrasi Pemerintahan Dapat Mendorong Reformasi Birokrasi Di Indonesia yang terbuka bagi setiap jurnalis media pers cetak dan media pers online. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Total hadiah yang lomba adalah Rp27,5 juta. Batas akhir pendaftaran hingga 31 Januari 2008. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil karya (pengiriman) ditunggu panitia paling lambat pada 5 Februari 2007. Informasi lebih lanjut dapat menghubungi : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;panitialomba@ gtzsfgg.or. id&lt;br /&gt;atau menghubungi Desy Saputra 021 93105568, &lt;br /&gt;Shintawati Hadinoto 021 7398401, 7398301 &lt;br /&gt;atau silahkan download POSTER LOMBA&lt;br /&gt;Formulir pendaftaran silahkan FORMULIR PENDAFTARAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi rekan-rekan yang belum mendapatkan RUU AP edisi revisi, silahkan DOWNLOAD.&lt;br /&gt;Demikian informasi ini kami sampaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yus Ardiansyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-5695562745408923228?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/5695562745408923228/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=5695562745408923228' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/5695562745408923228'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/5695562745408923228'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/09/tiga-contoh-siaran-pers.html' title='Tiga Contoh Siaran Pers'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-1436371581243237907</id><published>2008-09-05T17:33:00.001+08:00</published><updated>2008-09-05T22:57:48.331+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jurnalistik'/><title type='text'>Bagaimana Memanfaatkan Media?</title><content type='html'>&lt;em&gt;Oleh&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;Hasan Aspahani&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bagaimana membuat siaran pers dan bagaimana caranya agar rilis kita mendapat tempat atau diperhatikan oleh kawan-kawan media? Saya menyarankan beberapa langkah berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;A. Kenali Media&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;1. Kantor Berita&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Ada kantor berita internasional seperti Reuters, Associated Press (AP), Agence France Presse (AFP), United Press International (UPI). Ada kantor berita nasional yaitu Antara. Ada kantor berita swasta seperti ARH 68, dan Pena Indonesia.  Kantor berita pada umumnya memiliki fungsi yang sama, yaitu mengirimkan tulisan dan foto pada para pelanggan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;2. Surat Kabar&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Perlu mengenali beberapa jenis surat kabar. Biasanya surat kabar dibedakan dari isinya, ada yang mengutamakan berita criminal, ada yang mementingkan berita umum. Koran memanjakan hard news, terutama di halaman depan, akan tetapi di halaman-halaman lain terdapat berbagai bagian yang bisa anda manfaatkan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;3. Majalah&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Ada berbagai jenis majalah yang dibedakan berdasarkan isinya. Ada majalah wanita, olahraga, ekonomi, bisnis, kesehatan, dan lain sebagainya. Melalui berbagai majalah Anda bisa menjangkau pembaca yang belum tentu terjangkau oleh berita koran, radio, dan TV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;4. TV&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak ragam TV di antaranya: ‘international wire feeds’ (misalnya Reuters TV), ‘international broadcasters’ (CNN, BBC, dsb), national broadcasters’ (RCTI, SCTV, Indosiar, AN TV, Metro TV, dan TVRI), dan TV yang hanya melakukan broadcasting regional di daerah seperti TVRI Banda Aceh, TVRI Pontianak, dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;5. Radio&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Radio juga menjangkau jauh lebih banyak orang dibandingkan media massa lainnya. Kenali semua stasiun radio di daerah anda. Jika bisa, terbitkan buletin informasi secara rutin sebagai servis anda pada semua stasiun radio yang ada. Upayakan faktual, singkat, ringan, padat, dan menarik. Para pembawa acara radio biasanya membutuhkan informasi ringan untuk diobrolkan dari waktu ke waktu. Manfaatkan peluang ini dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;6. Website &amp; Blog&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Media berbasis internet akan menjadi semakin penting. Media ini unggul pada kecepatan, dan kemampuannya untuk menyediakan tautan sehingga berita menjadi sangat lengkap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;B. Bina Hubungan dengan Media&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Membina hubungan melalui sentuhan kemanusiaan:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;1. Selalu kirim kartu ucapan pada para media atau wartawannya. &lt;br /&gt;2. Setiap awal tahun kirimi mereka kalender Anda.&lt;br /&gt;3. Bila anda menyelenggarakan konferensi pers, jangan meninggalkan arena konferensi pers sebelum semua wartawan yang hadir pulang.&lt;br /&gt;4. Siapkan selalu stiker dan poster ekstra, seringkali ada wartawan yang meminta stiker tambahan untuk anak atau adiknya.&lt;br /&gt;5. Hargai profesionalitas pekerjaan mereka. Bila informasi anda baik dan layak, pasti dimuat.&lt;br /&gt;6. Usahakan selalu tepat waktu, dalam menyelenggarakan setiap kegiatan yang melibatkan wartawan. Hargai keterbatasan waktu mereka.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;C. Berbicara Pada Media&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah media mengutip pernyataan Anda secara keliru? Untuk mengantisipasi kejadian seperti ini kita perlu mawas diri. Apakah kita sudah berbicara dengan cukup jelas? Ataukah kita berbicara terlalu cepat. &lt;br /&gt;Bila Anda dihadapkan pada pertanyaan yang tidak anda ketahui jawabannya, lebih baik anda mengatakan “saya tidak tahu, tapi saya bisa mencarikan informasi itu bagi anda segera”. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jaga agar jawaban-jawaban anda singkat dan jelas. Ulangi pesan utama yang ingin anda sampaikan sesering mungkin dengan tetap menjaga kewajaran. Ingat bahwa bila Anda diliput oleh TV, Anda hanya akan on air sekitar 5–10 detik, jadi bersiaplah untuk menyampaikan pesan dalam waktu sesingkat itu.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-1436371581243237907?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/1436371581243237907/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=1436371581243237907' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/1436371581243237907'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/1436371581243237907'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/09/bagaimana-memanfaatkan-media.html' title='Bagaimana Memanfaatkan Media?'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-4343889715612239592</id><published>2008-09-05T17:32:00.000+08:00</published><updated>2008-09-05T17:33:31.160+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jurnalistik'/><title type='text'>Jurnalis dan Beritanya</title><content type='html'>Oleh Hasan Aspahani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAYA percaya selain diajarkan, jurnalistik bisa ditularkan.  Keduanya bisa menghasilkan jurnalis yang baik. Saya percaya,  bahwa seorang jurnalis yang baik adalah dia yang menguasai serba  sedikit tentang banyak hal. Dan nanti di antara banyak hal itu  ada satu dua hal yang dia kuasai, yang dia tahu  sebanyak-banyaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KARENA itulah tuntutan media sekarang. Zaman ketika isi media  mengarah ke spesifikasi. Maka kita mengenal kini ada media untuk  wanita, anak-anak, remaja, ekonomi, dan tentu saja media umum.  Karena itulah juga ada jurnalis yang menguasai ekonomi,  kebudayaan, kriminal, hiburan bahkan lebih jauh lagi, ada wartawan yang hafal tentang Slank, Iwan Fals, atau pasar uang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEORANG jurnalis bekerja membuat berita. Proses membuat berita  dimulai sejak rapat redaksi, mendapat penugasan dari redaktur atau koordinator liputan, lalu berlanjut kepada pengumpulan bahan berita, dan kemudian menuliskannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PROSES pengumpulan bahan bisa dilakukan dengan wawancara, melihat langsung kejadian yang akan dilaporkan, atau riset data  tertulis di perpustakaan dll. Sumber berita bisa orang yang langsung terlibat dalam peristiwa itu, bisa juga saksi mata yang melihat langsung. Jangan percaya hanya dari keterangan orang yang tidak melihat langsung peristiwa yang hendak kita laporkan. Usahakan mendapatkan data dari dua sumber untuk satu laporan dalam satu berita. Apalagi kalau berita iltu memang menyangkut kedua sumber tadi. Ini namanya peliputan dua belah pihak (cover both side) untuk mendapatkan informasi dan akhirnya menghasilkan berita yang berimbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;APABILA kita melihat langsung peristiwanya, kita masih punya kewajiban untuk melengkapi laporan itu dengan kutipan dari pihak yang paling yang terkait dengan peristiwa. Tujuannya, kita bisa mendapatkan pendapat yang biasanya menarik, atau bahkan menjadi bagian penting dari peristiwa yang kita laporkan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BERITA adalah rangkaian data, cerita, kadang juga harus dilengkapi foto yang didapatkan oleh jurnalis dan sudah dituliskan, dan terbit di media. Kalau belum ditulis dan belum terbit dia belum jadi berita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DALAM sebuah berita yang lengkap pasti termuat apa yang populer disebut 5 W + 1 H atau 3 A + 3 M. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa itu? W yang pertama adalah WHAT (APA). Yaitu apa yang terjadi? Dan itu menarik pembaca. Menarik, artinya pembaca ingin tahu tentang itu. Makanya WHAT diurutkan pada nomor 1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;W yang kedua WHERE (diMANA). Dimana terjadinya peristiwa itu.  Atau di manakah kita bertemu dengan sumber-sumber yang memberikan pendapat atau data yang menjadi WHAT tadi. Secara umum makin dekat WHERE itu dengan pembaca, maka makin menariklah WHAT bagi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;W yang ketiga adalah WHEN (bila MANA). Kapan terjadinya. Setelah jarak tempat, maka jarak waktu yang menjadi perhatian pembaca. Dalilnya sama, makin dekat jarak waktu itu dengan pembaca makin menarik. Karena itulah, di Korea sekarang ada sebuah situs berita yang setiap hari rata-rata memberitakan 200 tulisan. Bahkan satu kejadian menarik bisa diperbaharui setiap menit. Artinya memperpendek jarak WHEN dengan pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WHO (siAPA) adalah W yang keempat. Bila WHAT kurang menarik secara umum. Maka WHO bisa membuat peristiwa kecil menjadi berita. Misalnya, orang punya hobi menyanyi lagu My Way tak ada istimewanya kan? Tetapi kalau hobi itu dimiliki oleh seorang Megawati Soekarnoputri yang presiden kita yang ke-5 itu, maka jadilah itu berita yang menarik. Apalagi kalau di setiap acara dia selalu menyanyikan lagu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WHY (mengAPA) adalah W yang kelima. Kenapa peristiwa itu terjadi? Dia sangat mendukung WHAT. Di sini WHAT diperjelas. Di WHY ini juga jurnalis harus cerewet ketika mengumpulkan data di lapangan, dan berhati-hati serta cermat ketika menuliskan laporannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NAH satu H yang terakhir adalah HOW (bagaiMANA). Di sinilah seorang jurnalis mempertaruhkan kemampuannya. Seorang jurnalis yang baik pasti tidak kesulitan mencari data untuk lima W yang pertama. Artinya jika sebuah peristiwa diliput oleh banyak media, maka kelima W yang pertama tadi tidak akan berbeda. Kalau laporannya sendiri yang tidak sama sementara banyak media lain menyebut data yang seragam maka bisa jadi si jurnalis itulah yang salah mencatat data. Tetapi HOW akan terlaporkan dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang disebut sudut pandang pemberitaan (angle), di HOW ini juga sudut itu dipertajam oleh masing-masing media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CONTOH:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gempa Bumi 5,6 Skala Richter Guncang Sumbar&lt;br /&gt; WHAT? Gempa bumi, 5,6 skala richter. 5 Orang Tewas.&lt;br /&gt; WHERE? Sumatera Barat&lt;br /&gt; WHEN? Selasa sekitar pukul 21.00 WIB&lt;br /&gt; WHO? Di berita ini ada banyak WHO, kepala BMG, nama-nama korban gempa, dan pejabat daerah setempat bicara soal bencana tersebut.&lt;br /&gt; WHY? Nah, ini sangat teknis. Ada pergeseran lempeng bumi dll dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menuliskan Berita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UMUMNYA sebuah berita ditulis dengan sebuah JUDUL, lalu kalimat  utama alias LEAD, lalu ISI. Judul adalah wajah si berita. Apakah pembaca naksir untuk membacanya, bisa disiasati dari judulnya. Tugas seorang reporter untuk mendandani judul beritanya, karena dia harus menyerahkan berita itu kepada seorang pembaca yang  paling cerewet, yang namanya redaktur. Judul -selain menarik - harus benar-benar mewakili isi beritanya. Kalau tidak, itu  namanya penipuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LEAD adalah alinea pembuka dari sebuah berita. Setelah membaca judul yang menarik, pembaca akan masuk ke berita lewat pintu  LEAD. Maka sambutlah pembaca kita dengan LEAD yang ramah, enak, supaya dia tidak balik kanan maju jalan. LEAD yang baik, harus memuat dua atau tiga unsur dari 5 W + 1 H tadi. Tentu saja unsur yang paling menarik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ISI berita atau TUBUH berita kemudian melerigkapi kenyamanan pembaca. Terpenuhi rasa ingin tahunya. Seluruh WHY dan HOW tadi biasanya diuraikan satu per satu di ISI berita. Sebanyak apa? Sebanyak-banyaknya selama bahan itu masih menarik untuk diketahui oleh pembaca. Atau sepanjang apa yang hendak  dilaporkan oleh tim liputan di media tempat jurnalis bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau JUDUL dan LEAD beres, biasanya ISI berita juga tak banyak masalah lagi. Umumnya, seorang jurnalis yang baru lemah pada LEAD dan JUDUL. Tapi berlatihlah. Kemampuan membuat LEAD yang baik terasah dengan banyak -berlatih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Piramida Terbalik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ISTILAH piramida terbalik juga lazim disebut dalam jurnalistk. Bayangkanlah sebuah piramida terbalik. Maksudnya  adalah bagian yang penting harus diletakkan atau disebutkan pertama kali dalam laporan atau berita. Semakin ke bawah semakin tidak penting, sampai akhirnya berhenti karena memang tidak ada lagi yang penting untuk dilaporkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;APA gunanya? Dalam media harian, berita-berita kadang suka disunat oleh redaktur untuk mengepaskan dengan ruang di halaman koran. Pemotongan itu harus dilakukan dengan cepat karena berkejaran dengan deadline. Supaya tidak salah potong, maka  berita yang ditulis dalam sebuah struktur piramida terbalik  tadi sangat membantu. Artinya, berita itu tidak akan kehilangan bagian yang paling menarik. []&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-4343889715612239592?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/4343889715612239592/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=4343889715612239592' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/4343889715612239592'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/4343889715612239592'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/09/jurnalis-dan-beritanya.html' title='Jurnalis dan Beritanya'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-4785601122253356833</id><published>2008-09-03T22:01:00.006+08:00</published><updated>2008-09-03T22:23:17.159+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kolom'/><title type='text'>Hidup Memang Ajaib, Sidney</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_wBF3FgfDPDw/SL6dsTXwAjI/AAAAAAAAAW8/n6-YAF4Uh0Q/s1600-h/the+other+side+of+me.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_wBF3FgfDPDw/SL6dsTXwAjI/AAAAAAAAAW8/n6-YAF4Uh0Q/s200/the+other+side+of+me.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5241800400745529906" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Oleh Hasan Aspahani&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;DIA anak lelaki pertama dari keluarga Schechtel. Jangan terburu bilang tidak kenal. Anda mungkin pernah membaca novelnya. Tapi saya tidak ingin bercerita tentang karya-karyanya. Saya ingin berbagi cerita tentang sisi lain hidupnya. Ya, itu kalimat seperti judul memoarnya: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Other Side of Me.  Sisi Lain Diriku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kenal dengan dia yang menerjemahkan buku itu, meski tak pernah bertemu. Saya di Batam, dia tinggal di Malang. Kami berkomunikasi lewat e-mail, saling menelepon,  kirim SMS, dan yang paling asyik lewat blog. Tiba-tiba saja saya dengar kabar dia sudah berada di Arkansas. Dia memberi tahu tautan blog baru dan foto-fotonya di negeri orang di mana ia berada. Dia kuliah disana setelah dapat beasiswa S2 bidang penerjemahan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ah, saya melantur. Saya ingin bercerita tentang lelaki bernama keluarga Schechter Schechtel tadi. Saya tadinya  ingin tidak mempercayai bahwa memoar itu adalah kisah  nyata. Terlalu mengada-ada rasanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada usia 17 tahun dia mencoba bunuh diri dengan segenggam pil tidur. Ia pada usia itu bekerja sebagai tukang antar barang di sebuah apotik. Ayahnya yang brengsek – seorang salesman yang besar bual, tapi kecil penghasilan – bisa menggagalkan niat bunuh diri itu. “Kalau kamu tidak buru-buru bunuhdirinya, ayo kita jalan-jalan dulu,” kata Ayahnya padanya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_wBF3FgfDPDw/SL6cK-kCGyI/AAAAAAAAAW0/vUsJOcvoIsw/s1600-h/sheldon.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_wBF3FgfDPDw/SL6cK-kCGyI/AAAAAAAAAW0/vUsJOcvoIsw/s320/sheldon.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5241798728712592162" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah dapat dari mana, ayahnya bilang begini: “Hidup ini seperti novel. Kalau kau berhenti membaca sebelum tamat, kau tidak akan tahu bagaimana akhirnya. Kita tidak tahu halaman berikutnya dari buku kita itu seperti apa. Jadi teruslah membaca. Jangan bunuh diri.” &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dengan kepala keluarga seorang salesman, keluarga Schechtelr terlalu sering berpindah. Ny. Schechtel kerap turun tangan mencari nafkah dengan bekerja di toko. Schechter muda pun bekerja serabutan sambil sekolah. Ia menjadi penjaga mantel di hotel, penjaga bioskop, pencipta lagu, pembaca dan pembuat ringkasan skenario di studio-studio Hollywood sampai  akhirnya menjadi penulis skenario dan novelis.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ia pernah gagal menjadi penyiar radio. Tapi, saat melamar di radio itulah dia punya nama baru. “Sidney… (Schechtel, nama itu terlalu susah disebutkan di radio, maka ia spontan saja mengganti namanya menjadi..) Sidney Sheldon,” katanya kepada orang yang mengetesnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggantian nama spontan itu malah diikuti oleh seluruh keluarganya. Ayahnya Otto Sheldon, ibunya Natalie Sheldon, adik lelakinya satu-satunya Richard Sheldon. Ketika Sidney merasa mapan ia menjemput adiknya Richard, tak lama ia berturut-turut mendapat kabar: pertama ayah-ibunya bercerai, kedua ibunya menikah lagi, dan ketiga ayahnya pun menikah lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ya, kita sedang membicarakan seorang novelis terkenal bernama Sidney Sheldon. Saya merasa seeprtinya dia masih saja hidup, padahal awal tahun 2007 lalu sudah meninggal pada usia 89 tahun. Ia menulis naskah drama yang dipentaskan di Broadway, sejumlah skenario film, menjadi produser film dan televisi, sutradara film, kreator karakter film televisi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;I Dream of Jeannie, Hart to Hart, Nancy, &lt;/span&gt;(yang saya tonton waktu kecil dulu tanpa tahu bahwa itu adalah karya dia), dan tentu saja sederet judul novel laris yang sebagian dijadikan film, juga buku  anak-anak. Memoarnya ditulis pada saat yang tepat, dua tahun sebelum ia meninggal. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya suka memoarnya itu.  Kualitasnya buat saya seteraflah dengan semi-memoar Stephen King yang juga lucu (nantilah ini saya ceritakan, atau jangan-jangan Anda sudah membacanya). Ia menulis dengan santai, jenaka, kocak, meskipun yang ia ceritakan adalah hidup yang pahit. Amat pahit. “Wah, memang kocak sekali dia di buku itu,” kata Wawan Eko Yulianto, si penerjemah yang tentu saja langsung menangkap kelucuannya dalam bahasa Inggris, kawan saya itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah membaca buku itu, saya simpulkan bahwa hidup itu benar-benar seperti panggung program televisi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Akhirnya Datang Juga &lt;/span&gt;(ada satu versi lagi yang disiarkan di lain hari dengan tambahan nama &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Plus Plus&lt;/span&gt;). TransTV mengadaptasi dari televisi Australia. Darimana pun ide program itu,  hidup saya kira memang seperti itu. Selalu ada yang kita tidak tahu dari apa yang akan terjadi di panggung kehidupan yang akan kita masuki. Yang bisa kita lakukan adalah bersiap sesia-siapnyamenghadapi apapun yang terjadi.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Seperti kawan saya si penerjemah. Tiba-tiba saja dia kirim kabar bahwa dia berada di luar negeri. Dia hanya bersiap: mengirim lamaran untuk dapat beasiswa, mengikuti tes sebaik-baiknya, dan mengikuti lakon berikutnya di panggung kehidupan tanpa skenario. Kami saling mengenal pun tanpa skenario. Dia melihat blog saya, dan tergoda untuk bikin blog juga. Saya tahu itu setelah blognya berusia setahun. Perayaan setahun mengelola blog ia  tandai dengan sebuah posting yang antara lain menyebutkan fakta itu: blog saya mengilhami blognya. Betul-betul sebuah lakon tanpa skenario. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tapi, saya kira hidup tidak sesederhana acara televisi. Hidup tidak sepenuhnya bisa dipasrahkan pada ketidaktahuan. Ada banyak sekali &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Plus Plus  &lt;/span&gt;dalam hidup kita ini. Ada bagian-bagian yang bisa kita rancang lebih dahulu. Kita boleh dan harus punya harapan. Kita harus mengharapkan apa-apa yang terbaik bagi kita. Langkah paling bijak adalah kita melangkah antara keberanian merancang skenario hidup dan kemudian kita bersiap menghadapi kemungkinan apapun yang tidak sesuai dengan skenario rancangan kita itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terbaik adalah, ketika kelak kita berkata, “Akhirnya datang juga,” maka yang datang itu adalah apa-apa yang sejak awal kita harapkan. Lalu, kita bisa menceritakan kepahitan, kepedihan, kegagalan, dengan jenaka seperti Sidney Sheldon bercerita dengan enteng dan memikat dalam memoarnya. Oh ya, buku itu dipersembahkan Sidney kepada cucunya, dengan pesan: “agar mereka kelak tahu betapa ajaib perjalanan hidupku.”  Ya, hidup memang ajaib, Sidney. []&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-4785601122253356833?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/4785601122253356833/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=4785601122253356833' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/4785601122253356833'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/4785601122253356833'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/09/hidup-memang-ajaib-sidney.html' title='Hidup Memang Ajaib, Sidney'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_wBF3FgfDPDw/SL6dsTXwAjI/AAAAAAAAAW8/n6-YAF4Uh0Q/s72-c/the+other+side+of+me.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-1457615625987798960</id><published>2008-09-02T23:06:00.004+08:00</published><updated>2008-09-02T23:18:07.536+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='INSPIRIT'/><title type='text'>Bersatu Kita Kuat, Sendiri Juga Hebat</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_wBF3FgfDPDw/SL1Y23zxLzI/AAAAAAAAAWY/HpW-u1MNh4w/s1600-h/benny-n-mice-kasir.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_wBF3FgfDPDw/SL1Y23zxLzI/AAAAAAAAAWY/HpW-u1MNh4w/s320/benny-n-mice-kasir.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5241443241046388530" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Oleh&lt;span style="font-weight:bold;"&gt; Hasan Aspahani&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Benny, Mice&lt;/span&gt;. Tiga tahun lamanya -  nyaris setiap hari - saya mengisi strip kartun di &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kaltim Post&lt;/span&gt;, urat kabar lokal di Balikpapan. Itu saya lakukan ketika saya masih sekolah di SMA Negeri 2 di kota itu. Jadi, sekarang saya memaklumi bila saat itu saya membuat kartun dengan karakter tokoh-tokoh meniru Charlie Brown dan kawan-kawan minus Snoopy, anjing spanil dalam strip kartun Peanuts karya mendiang Charlie M Schulz. Tokoh kartun saya bernama &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Si Ketupat&lt;/span&gt;. Nama itu saya ambil dari Kelas I–4, kelas saya ketika SMA.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mencari tokoh kartun yang baik, dengan karakter yang kuat bukan perkara mudah. Seorang kartunis seringkali harus membuat beberapa karakter sebelum akhirnya menemukan  karakter yang kuat. Dengan karakter kartun yang kuat, kartunis bisa menghasilkan karya yang mengalir tak habis-habisnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu saya salut dan kagum pada &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Benny &amp;  Mice&lt;/span&gt;. Ini nama kartun  karya duo kartunis Benny Rachmadi dan Muhamad ”Mice” Misrad. Kartun  sejak 2003 terbit di Kompas Minggu. Sejak tahun itu, popularitasnya menanjak, hingga tahun 2008, boleh dibilang adalah tahun puncak ketenarannya. Buku kartun karya duo ini laku keras. Benny dan Mice pun dalam satu bulan tampil dalam wawancara nyaris di semua media utama di Indonesia, dari Reader’s Digest, Intisari, Tempo, Rolling Stone Indonesia, hingga di program televisi Kick Andy.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya melihat sejumlah kunci keberhasilan mereka. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;, mereka tampil dengan kartun yang amat berbeda. Di Kompas sebelum ada Benny &amp; Mice sudah ada Panji Koming dan Konpopilan. Dwi Koendoro pencipta Panji Koming , menggarap tema-tema politik yang relatif “berat “ bagi pembaca.  Konpopilan karya Ade tampil tanpa teks. Benny &amp; Mice, menggarap tema-tema keseharian, snobisme, kelatahan, dengan bahasa yang ringan dan kocak. Itu bisa dengan mudah mereka lakukan karena….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_wBF3FgfDPDw/SL1YPWk3SuI/AAAAAAAAAWQ/rbamBEk-Luo/s1600-h/benny_mice_f_807_f_404.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_wBF3FgfDPDw/SL1YPWk3SuI/AAAAAAAAAWQ/rbamBEk-Luo/s320/benny_mice_f_807_f_404.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5241442562110606050" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;,  mereka menjadikan diri mereka sendiri sebagai karakter. Mereka bebas karena yang ditampilkan adalah diri mereka sendiri. Mereka mengolok-olok kebodohan sendiri. Kelatahan mereka sendiri. Di Indonesia, setahu saya tidak ada kartunis yang memakai diri sendiri sebagai tokoh, maka ini pilihan yang cerdas, meski tidak baru. Kartunis Malaysia Lat, juga sukses dengan tokoh Lat yang tipikal dirinya sendiri. Benny dan Mice memang penggemar Lat.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;, pilihan untuk menggarap satu strip kartun berdua juga cerdas dan unik. Uderzo dan Gosciny juga berdua menggarap komik Asterix, tapi mereka berbagi peran, satu sebagai tukang gambar yang lain membuat cerita. Benny dan Mice tidak. Keduanya bisa jadi tukang gambar, keduanya bisa bikin cerita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain mereka berdua, tidak ada yang tahu siapa yang minggu ini bikin cerita dan menggambar. Mereka bergantian. Mereka melebur dalam satu gaya gambar. Ini yang saya kira menyebabkan ide-ide mereka selalu segar. Sebagai kartunis, saya merasakan rutinitas membuat kartun saban minggu mudah terjebak pada pengulangan ide dan gagasan cerita yang membosankan. Sejauh ini, Benny dan Mice bisa mengelak dari kedua hal itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar proyek bersama itu, Benny dan Mice tetap berkarya dengan nama masing-masing. Saya punya peribahasa buat mereka berdua: bersatu kita kuat, sendiri juga hebat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejelian untuk memilih sesuatu yang berbeda dengan yang sudah pernah ada, tekad untuk menyatukan kekuatan bersama, tetapi sementara itu juga tak menghalangi kesempatan untuk tampil dengan kekuatan pribadi masing-masing, saya rasa merupakan pesan dengan nilai-nilai positif yang bisa kita pelajari dari kedua kartunis kita ini. Pesan itu  tentu bisa kita terapkan untuk mencapai keberhasilan kita di bidang apa saja.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-1457615625987798960?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/1457615625987798960/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=1457615625987798960' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/1457615625987798960'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/1457615625987798960'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/09/bersatu-kita-kuat-sendiri-juga-hebat.html' title='Bersatu Kita Kuat, Sendiri Juga Hebat'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_wBF3FgfDPDw/SL1Y23zxLzI/AAAAAAAAAWY/HpW-u1MNh4w/s72-c/benny-n-mice-kasir.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-2731503474338724613</id><published>2008-09-02T22:50:00.000+08:00</published><updated>2008-09-02T22:55:26.362+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='siaran pers'/><title type='text'>Undangan untuk Mengisi Antologi Sastra Dunia Muslim</title><content type='html'>Announcing the publication of and seeking submissions for: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Words Without Borders: An Anthology of Modern Literature from the Muslim World&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Background&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In 2009 Norton Publishers, in association with the literary journal “Words Without Borders” (WWB), will release Words Without Borders: An Anthology of Modern Literature from the Muslim World. This book will feature translations of important literary contributions of the twentieth century in Arabic, Persian, Turkish, Indonesian, Dari, and Urdu. This volume, with an estimated length of 400 pages, is intended to provide students and general readers with an accessible introduction to a rich and varied literary tradition that is all too unfamiliar to most Americans. The aim is to help move the American consciousness of the Muslim world away from the terrorists and fanatics, and thus open a window into the lives of that portion of the Muslim world. Organized by language/region, the book will present samples of the major literary writing forms that have come to dominate modern literature: short story, free verse lyrics, plays, novel excerpts, and memoirs. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WWB has invited Reza Aslan, author of No God But God: The Origins, Evolution, and Future of Islam, (Random House Trade, Jan 2006) to be guest editor of the anthology. He will be aided by a team of five sub-editors specializing in the literatures of specific languages and regions. I, John McGlynn, have been asked to serve as country editor for the section on Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Opinion Survey&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In the process of gathering together materials for the above publication, I would like to learn from Indonesian authors, literary critics, and other interested parties which authors they think would best represent Indonesia. If you fall into one of those categories and would like to weigh in on this matter, I hope you will take the time to fill in the questionnaire found below and return it to me. &lt;br /&gt;In weighing your choice of authors, there are a number of things of which you should be aware:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br /&gt;1. Given the limited amount of space/pages that will be allotted for the Indonesia section—approximately 100—it is unlikely that more than 10-12 authors can be included, comprising, perhaps, 7 prose writers (with short stories, essays, or excerpts from novels of 10-12 pages each in length) and 3-5 poets, each with 3-5 poems. An excerpt from a play or two would also be considered. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Because the volume editor (Reza Aslan) is using the end of the Ottoman Empire as the starting date for works to be included in the volume, country editors will not be able to consider works that were written or published prior to 1950. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. If possible, the country editor would like to include works spanning the last half of the 20th century period with samples of work from each decade. The country editor would also like to include both male and female authors.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Thus far, the volume editor has set no restriction on the religion of the authors—i.e., that they must be Muslim. Therefore, please do not use religion as a factor when making your choices.&lt;br /&gt;Titles of works chosen for selection in the anthology may have been published in translation previously. Both authors and translators will be paid an honorarium of US$100 per 1000 words for up to 1500 words. &lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Questionnaire&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;1. What is your name, position, and mailing address?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. What Indonesian authors of short fiction do you think should be represented in An Anthology of Modern Literature from the Muslim World? Please list up to ten authors and specific titles for each author.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. What Indonesian poets do you think should be represented in An Anthology of Modern Literature from the Muslim World? Please list up to five poets. (You need not cite specific titles of poems.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. What other authors do you think should represent Indonesia in An Anthology of Modern Literature from the Muslim World? Name up to three. Your choice may include dramatists, essayists, and writers of memoirs.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;After you have filled out this questionnaire, please return it to John McGlynn by email to john_mcglynn@lontar.org or by post to Jl. Danau Laut Tawar No. 53, Pejompongan, Jakarta 10210. All persons who complete the questionnaire and return it to John will receive a voucher for the purchase of books from the Lontar Foundation.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-2731503474338724613?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/2731503474338724613/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=2731503474338724613' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/2731503474338724613'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/2731503474338724613'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/09/undangan-untuk-mengisi-antologi-sastra.html' title='Undangan untuk Mengisi Antologi Sastra Dunia Muslim'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-5560663194767042717</id><published>2008-09-02T17:50:00.000+08:00</published><updated>2008-09-02T17:55:47.232+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='blowjoke'/><title type='text'>Beo Pendiam dan Beo Penyanyi</title><content type='html'>INI kisah tentang dua burung beo yang sama rupa tapi berbeda harga. Yang satu pandai menyanyi, banyak lagu ia kuasai, namanya beo penyanyi. Yang seekor lagi tak pernah berbunyi, ia cuma bisa geleng-geleng dan seperti bergumam ketika mendengar beo temannya menyanyi, namanya beo pendiam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beo penyanyi dijual dengan harga lebih murah, seperlima dari harga beo pendiam. Seorang penggemar burung beo bertanya kepada si penjual, "apa tidak salah Anda menetapkan harganya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak. Memangnya kenapa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yang pendiam kok lebih mahal?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dia memang tidak bisa menyanyi, tapi dialah yang menciptakan semua lagu yang dinyanyikan beo penyanyi itu."[H] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tulis Akhir Postingan Anda&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-5560663194767042717?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/5560663194767042717/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=5560663194767042717' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/5560663194767042717'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/5560663194767042717'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/09/beo-pendiam-dan-beo-penyanyi.html' title='Beo Pendiam dan Beo Penyanyi'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-2034173302281295949</id><published>2008-09-02T16:47:00.000+08:00</published><updated>2008-09-02T16:53:05.347+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='siaran pers'/><title type='text'>Announcement: Submissions Sought for: Young, Indonesian, and Female</title><content type='html'>The Lontar Foundation has scheduled for release, in 2009, two volumes of literary translations with the theme “Young, Indonesian and Female.” The first volume will be published, in association with Words Without Borders, as an issue of the on-line literary that goes by the same name. Volume editors are Dedi Feldman of WWB and John McGlynn of Lontar. The second volume will be released in print, both in Indonesia and abroad, as the eighth installment of Lontar’s Menagerie series. Volume editors are John McGlynn and Dorothea Herliany.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Both volumes will contain a mixture of literary genres: short stories, poetry, essays, and (possibly) drama. As is indicated by the theme, however, editors are primarily seeking works produced by younger Indonesian women writers. Their work may relate to the theme of the volumes, tackling issues of interest to younger women, but they may also be unrelated to the theme as well and be simply of pure literary merit. Male writers are also invited to contribute but their work must relate to the theme of the volumes in order to (possibly) counterpoint issues that the women writers raise.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.:. Other guidelines governing submissions include the following: &lt;br /&gt;• The work must have been written in Indonesian;&lt;br /&gt;• The work may have been previously published in Indonesian but must never before have been published in English;&lt;br /&gt;• The work should not have been published before 1998;&lt;br /&gt;• Copyright for translation of the work is held by the author;&lt;br /&gt;• Prose works—short stories and essays—should be no longer than 3,500 words;&lt;br /&gt;• Unless a poem is very long, submissions of single poems are not encouraged; poets are requested to submit between 5 and 10 works.&lt;br /&gt;All written contributions should be submitted to Lontar in digital form, either via email or on CD via post. Please send them by post to Dewi Andahlia, Editorial Assistant, Jl. Danau Laut Tawar No. 53, Pejompongan, Jakarta 10210 or by email to dewi_andahlia@ lontar.org. Potential contributors are requested to submit their work before 30 September 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As with previous volumes in the Menagerie series, Menagerie 8: Young, Female, and Indonesian, will also contain at least one photographic essay. Both male and female photographers are invited to submit photographic essays dealing with the theme of the volume—but only one essay per photographer. A photographic essay should contain approximately 15 to 20 black and white photographs along with a story or captions describing the action that is taking place in the photographs. Photographers should submit their work in the form of a CD containing medium-resolution jpeg files. If the essay is chosen for inclusion, editors will then request high resolution scans.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;For the publication of prose works contributors will be paid Rp. 1,000,000 per thousand words, capped at Rp. 1,500,000; for poetry, the same, with a minimum of Rp. 150,000 per poem. Translators will be paid the same. Photographers will receive Rp. 150,000 per photograph with a cap of Rp. 2,500,000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.:. About the Project Partners&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Literature is one of the primary avenues for encounter with other cultures and both Words Without Borders and The Lontar Foundation were established to promote the translation of literary works into English. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Words Without Borders (WWB), a not-for-profit organization based in Chicago, does this primarily through the on-line publication of its literary journal by the same name. This online magazine registers 200,000 page views a month and has an emailing list of nearly 6,000 subscribers. More information about WWB can be found at www.wordswithoutbor ders.org.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Lontar Foundation, established in 1987, has, since its founding published more than one hundred books pertaining to Indonesian literature and culture. In the coming year, the Foundation plans to establish an on-line magazine to further promote its goal of enhancing international knowledge of Indonesian literature and culture.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-2034173302281295949?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/2034173302281295949/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=2034173302281295949' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/2034173302281295949'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/2034173302281295949'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/09/announcement-submissions-sought-for.html' title='Announcement: Submissions Sought for: Young, Indonesian, and Female'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-454592458007845639</id><published>2008-09-01T23:51:00.002+08:00</published><updated>2008-09-01T23:54:29.088+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='blowjoke'/><title type='text'>Detektif Berseragam</title><content type='html'>SEORANG turis bertanya kepada seorang lelaki berpakaian seragam, "Anda polisi, ya?"&lt;br /&gt;"Oh, bukan. Saya detektif khusus untuk tugas-tugas penyamaran."&lt;br /&gt;"Lho? Kok Anda pakai seragam? Ketahuan dong penyamarannya?"&lt;br /&gt;"Ya, enggaklah, hari ini kan saya off!"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-454592458007845639?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/454592458007845639/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=454592458007845639' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/454592458007845639'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/454592458007845639'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/09/detektif-berseragam.html' title='Detektif Berseragam'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-2058406498004212653</id><published>2008-09-01T23:43:00.003+08:00</published><updated>2008-09-01T23:47:48.320+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='siaran pers'/><title type='text'>Penghargaan AJI dan UNICEF</title><content type='html'>Tahun 2008, AJI-UNICEF kembali menyelenggarakan `Penghargaan AJI-UNICEF untuk Karya Jurnalistik Terbaik tentang Anak'. Penghargaan ini terbuka untuk jurnalis media cetak/online, radio dan televisi. Total hadiah sebesar Rp 66 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;KETENTUAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Karya jurnalistik ( cetak/on line, radio, TV ) berupa feature tentang anak.&lt;br /&gt;2. Setiap jurnalis/media baik media cetak/online, radio dan televisi di seluruh Indonesia dapat mengikuti perlombaan ini.&lt;br /&gt;3. Karya harus pernah dipublikasikan atau disiarkan di media massa (bukan media internal).&lt;br /&gt;4. Setiap peserta bisa mengajukan maksimal tiga karya.&lt;br /&gt;5. Karya peserta harus pernah dipublikasikan pada media massa umum pada periode antara 26 Oktober 2007 –7 Oktober 2008.&lt;br /&gt;6. Karya harus sudah diterima panitia paling lambat 9 Oktober 2008&lt;br /&gt;7. Karya harus dilengkapi dengan pernyataan bahwa karya adalah karya orisinal. Jadi bukan saduran, terjemahan dan tidak termasuk advertorial komersial.&lt;br /&gt;8. Ralat, jika ada, harus disertakan.&lt;br /&gt;9. Karya belum pernah memenangi lomba jurnalistik.&lt;br /&gt;10. Karya yang sudah dikirim ke panitia tidak akan dikembalikan.&lt;br /&gt;11. Keputusan juri tidak bisa diganggu gugat.&lt;br /&gt;12. Untuk karya media cetak, peserta harus mengirim kliping beserta soft copy karya yang sudah dimuat. Untuk media online, peserta harus mengirim karyanya berupa print out yang sudah di-copy langsung dari situs beritanya. Karya harus dilengkapi dengan surat keterangan dari redaktur media online yang menyatakan bahwa karya yang dikirimkan pernah dimuat di media tersebut.&lt;br /&gt;13. Untuk karya media radio, peserta harus mengirim karyanya dalam bentuk CD (MP3 atau WAV). Karya harus dilengkapi dengan surat keterangan dari pimpinan (Pemimpin redaksi) yang menyatakan bahwa karya yang dikirimkan pernah disiarkan di radio tersebut. Peserta diwajibkan mengirimkan naskahnya.&lt;br /&gt;14. Untuk karya media televisi, peserta harus mengirimkan karyanya dalam bentuk VCD / DVD (MPEG atau AVI) dengan mencantumkan nama dan asal media di kepingan VCD / VCD . Peserta diwajibkan mengirimkan naskahnya.&lt;br /&gt;15. Sponsor hadiah oleh Mayora dengan total hadiah sebesar Rp 66 juta. Masing-masing sebesar Rp 10 juta (pemenang 1 per kategori), Rp 7 juta (pemenang II per kategori) dan Rp 5 juta (pemenang III per kategori)&lt;br /&gt;16. Kirimkan karya jurnalistik ke Sekretariat AJI Indonesia di : Jl. Kembang Raya 6, Kwitang, Senen, Jakarta Pusat 10420 atau via e-mail ke sekretariatnya_ aji@yahoo. com. Nomor Telepon/fax : 021-3151214 /021-3151261. Atau hubungi panitia 'Penghargaan AJI-UNICEF untuk Karya Jurnalistik terbaik tentang Anak' via email lidbahaweres@ yahoo.com atau 081330392480 (Alida) atau 08128572252 (Minda).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;DEWAN JURI AWARD&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Dewan Juri Kategori Cetak&lt;br /&gt;a. Lina Sofiani (UNICEF)&lt;br /&gt;b. Willy Pramudya (AJI)&lt;br /&gt;c. Ninuk Mardiana Pambudy (Kompas)&lt;br /&gt;d. Irwanto (Peneliti dan Dosen Psikologi Universitas Atmajaya Jakarta)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Dewan Juri Kategori TV&lt;br /&gt;a. Iwan Hasan (UNICEF)&lt;br /&gt;b. Eddy Suprapto (AJI/TPI)&lt;br /&gt;c. Don Bosco (KPI)&lt;br /&gt;d. Bobbi Guntarto (Ketua Yayasan Pengembangan Media Anak)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Dewan Juri Kategori Radio&lt;br /&gt;a. Kendartanti Subroto (UNICEF)&lt;br /&gt;b. Heru Hendratmoko (AJI/KBR 68H)&lt;br /&gt;c. Arya Gunawan (UNESCO)&lt;br /&gt;d. Arist Merdeka Sirait (Sekretaris Jenderal Komnas Perlindungan Anak) &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-2058406498004212653?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/2058406498004212653/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=2058406498004212653' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/2058406498004212653'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/2058406498004212653'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/09/penghargaa-aji-dan-unicef.html' title='Penghargaan AJI dan UNICEF'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-905832613746920733</id><published>2008-09-01T23:28:00.001+08:00</published><updated>2008-09-17T23:31:19.787+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku dan Aku'/><title type='text'>Aku dan Arswendo (2): Gramedia tanpa "G"</title><content type='html'>SAYA ingin bercerita tentang salah satu buku yang sangat mempengaruhi saya. Saya ingin memulai cerita dengan petikan dari buku itu. Begini: &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;      Mengarang itu gampang.&lt;br /&gt;      Semua bisa mempelajari asal bisa baca dan tulis dan mempunyai minat terus-menerus yang tak mudah patah. Yang terakhir inilah yang dimaksudkan dengan bakat. &lt;br /&gt;      Kenapa mengarang?&lt;br /&gt;      Ruang lingkupnya mendasar. Rasanya tak ada kegiatan selama ini yang bisa dipisahkan dari baca-tulis. Tidak hanya untuk bisa mengarang dalam pengertian umum: cerita pendek, novel, drama atau puisi. Melainkan juga bisa jadi wartawan, korektor, penerbit, perancang teks iklan, penulis lirik lagu atau menulis surat lebih baik. Semua bersumber pada karang-mengarang. Dan itu gampang. &lt;/em&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah Arswendo Atmowiloto - si pengarang - membuka prakata untuk bukunya "Mengarang Itu Gampang". Sebuah pengantar yang ringan tapi meyakinkan, seperti isi bukunya. Seperti seenaknya saja, tapi terbukti sangat memandu, seperti cara penyajiannya. Saya dan saya yakin juga ribuan anak muda saat itu tersihir oleh buku itu. Saya percaya bahwa mengarang itu gampang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya membeli buku itu tanggal 13 Oktober 1988. 20 tahun yang lalu. Waktu itu saya kelas satu SMA Negeri 2 Balikpapan. Saya membelinya di toko Ramedia - ya, Ramedia bukan bagian dari jaringan toko Gramedia, dan toko itu sekarang tak menjual buku lagi, berganti melayani jasa mencetak foto. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku yang saya beli itu edisi cetak ulang ke-5 tahun 1987. Buku itu dicetak pertama kali tahun 1982. Lima tahun, lima kali cetak ulang. Ini memang buku laris. Di toko buku di Batam, belum lama ini, saya masih melihat buku itu ada di rak buku. Dengan sampul yang sedikit diubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-905832613746920733?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/905832613746920733/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=905832613746920733' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/905832613746920733'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/905832613746920733'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/09/aku-dan-arswendo-2-gramedia-tanpa-g.html' title='Aku dan Arswendo (2): Gramedia tanpa &quot;G&quot;'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-644352413053864721</id><published>2008-08-31T23:30:00.000+08:00</published><updated>2008-09-17T23:31:01.051+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku dan Aku'/><title type='text'>Aku dan Arswendo (1): Dia Bilang, "Asyik"</title><content type='html'>+ Selamat mengarang. Di dunia itu kita akan saling bertemu, berbicara, berdebat, membagi pengalaman. Itu kalimat terakhir dalam buku Mengarang Itu Gampang. Terima kasih, Mas eh Pak Wendo. Berkat buku yang saya beli tanggal 13 Oktober 1988 itu, saya bisa menulis. Saya Hasan Aspahani, Pak. Puisi saya hari ini ada di Koran Tempo. Maaf, saya dapat nomor Anda dari Om Danarto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Syukurlah. Ya saya sudah baca. Bagaimana buku menulis puisinya? Sukses?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;+ Buku Menapak ke Puncak Sajak? Wah, itu mengarswendo banget. Kabar dari penerbit, sejauh ini penjualannya bagus. Tidak ada retur. Beberapa toko malah repeat order. Saya sudah dapat royalti Rp300 dari penjualan enam bulan pertama. He he he. Pada pengantar buku itu saya berterima kasih pada Anda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Asyik, selamat, ya. Saya suka sajak Sebelas Tahun Pernikahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;+ Ya. Terima kasih. Saya senang karena sekarang Anda menerbitkan novel baru lagi. Saya juga mengoleksi Senopati Pamungkas. Itu tokoh pahlawan masa remaja saya.(bersambung)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-644352413053864721?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/644352413053864721/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=644352413053864721' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/644352413053864721'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/644352413053864721'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/08/aku-dan-arswendo-1-dia-bilang-asyik.html' title='Aku dan Arswendo (1): Dia Bilang, &quot;Asyik&quot;'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-1225835193632412053</id><published>2008-08-30T01:55:00.002+08:00</published><updated>2008-08-30T01:57:33.944+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='blowjoke'/><title type='text'>Tikus yang Kedua</title><content type='html'>TIDAK selamanya menjadi yang pertama itu beruntung. Memang hanya burung yang bangun pertama mendapatkan cacing, tapi justru tikus kedualah yang mendapatkan keju, bukan?   - &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Anonim&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-1225835193632412053?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/1225835193632412053/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=1225835193632412053' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/1225835193632412053'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/1225835193632412053'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/08/tikus-yang-kedua.html' title='Tikus yang Kedua'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-796118375529150414</id><published>2008-08-30T01:03:00.002+08:00</published><updated>2008-08-30T01:05:58.251+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='INSPIRIT'/><title type='text'>Teruslah Termotivasi,   Cintai Pekerjaan, Kerja Keraslah</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Oleh &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hasan Aspahani&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mulai langsung dengan lima butir kesimpulan: &lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;1. Teruslah termotivasi&lt;br /&gt;2. Teruslah merasa underdog&lt;br /&gt;3. Bekerja keraslah &lt;br /&gt;4. Cintailah pekerjaan &lt;br /&gt;5. Jangan berhenti sebelum menghasilkan sesuatu yang hebat. &lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CHRIS, COLDPLAY. Anda tahu darimana saya dapatkan lima butir kesimpulan itu? Bukan dari seorang pengusaha besar. Bukan dari orang yang sangat berkuasa. Bukan dari motivator hebat. Saya dapatkan itu dari Chris Martin,  vokalis dan pendiri band asal Inggris Coldplay, band rock terbesar dan tersukses saat ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita harus selalu termotivasi," kata suami bintang Hollywood Gwyneth Paltrow itu dalam wawancara dengan majalah Rolling Stone Indonesia, Agustus 2008. Maka Coldplay adalah kelompok musik dengan album yang selalu sukses, pertunjukannya laris. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan saya kira bukan karena ingin merendah bila ia katakan bahwa ia dan bandnya masih merasa underdog. Ia tetap menganggap bahwa lagu yang baik itu datang seperti ilham. Ia tak tahu formula atau bagaimana proses lahirnya sebuah lagu yang hebat. Saya kira dengan sikap seperti itu  dia akan terus punya alasan untuk mencari formula itu dan bukan formulanya yang penting ditemukan tapi dari situ lahir lagu-lagu yang hebat. &lt;br /&gt;Satu hal yang perlu ditiru dari Chris Martin adalah dia amat percaya pada peran kerja keras. Ia sangat mencintai dan bersungguh-sungguh pada pekerjaannya sebagai musisi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ditanya, "Apakah Anda menyukai pekerjaan ini?" Dia jawab, "Anda bercanda? Saya berani mati untuk pekerjaan saya ini. Dan selama kami memiliki pekerjaan ini, kami akan mencoba menjadi sebaik mungkin.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apapun pekerjaan kita, siapapun kita, banyak yang bisa kita teladani dari Chris Martin. Dia yang setenar dan seberhasil itu saja kadang masih menyadari bahwa dia merasa  kurang percaya diri. Dan ia atasi itu dengan menguatkan lagi tekad untuk tidak berhenti sebelum menghasilkan sesuatu yang hebat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya merasa dia mencubit kesadaran saya ketika membaca bicara dengan kalimat, “Harus ada motivasi. Kalau tidak, untuk apa hidup?"  Maka, dapatkanlah motivasi itu. Tak perlu jauh, bangkitkan motivasi itu dalam diri kita sendiri. Anda tahu motivasi apa yang paling mudah didapat? Keinginan untuk menghasilkan yang terbaik. Nasihat ini sungguh sering  kita dengar, kali ini jangan malu untuk menerimanya dari seorang Chris Martin. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-796118375529150414?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/796118375529150414/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=796118375529150414' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/796118375529150414'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/796118375529150414'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/08/oleh-hasan-aspahani-saya-mulai-langsung.html' title='Teruslah Termotivasi,   Cintai Pekerjaan, Kerja Keraslah'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-3913567545711238411</id><published>2008-08-29T22:50:00.002+08:00</published><updated>2008-08-29T23:43:49.843+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='blowjoke'/><title type='text'>Sabuk Pengaman Superman</title><content type='html'>SUATU hari petinju legendaris Muhamad Ali naik pesawat. Ia diminta pramugari untuk memasang sabuk pengaman. Ali menolak. Ia terkenal sebagai petinju bermulut besar. &lt;br /&gt;"Superman tak perlu sabuk pengaman," kata Ali. &lt;br /&gt;Apa kata si pramugari? &lt;br /&gt;"Superman pun tak perlu naik pesawat," kata pramugari.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-3913567545711238411?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/3913567545711238411/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=3913567545711238411' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/3913567545711238411'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/3913567545711238411'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/08/sabuk-pengaman-superman.html' title='Sabuk Pengaman Superman'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-6280866882875042913</id><published>2008-08-29T22:24:00.002+08:00</published><updated>2008-08-29T22:31:07.601+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='INSPIRIT'/><title type='text'>Prinsip Lebah Terbang: Berusahalah Lebih Keras</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Oleh&lt;span style="font-weight:bold;"&gt; Hasan Aspahani&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LEBAH, LEBIH. Saya pengagum serangga lebah. Sewaktu kanak-kanak saya suka berburu madu. Rumah kami di Kalimantan dikelilingi perkebunan kelapa. Serbuk sari bunga kelapa rupanya amat digemari lebah, maka di pohon-pohon kayu dan di dinding-dinding rumah kami lebah suka sekali membuat koloni. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Bila berburu madu saya mematok target digigit lebah minimal lima ekor. Tentu saja bekas gigitan itu akan jadi bengkak. Tapi itu terbayar dengan nikmatnya menyesap madu langsung dari rumah-lilinnya itu. Lama-lama saya seperti kebal racun sengatan lebah. Gigitan lebah di tubuh saya hanya akan membuat sedikit bentol seperti digigit nyamuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kampung, kami sering bertemu kawanan lebah tumbar. Ini istilah dalam bahasa Banjar yang saya tak menemukan padanannya di kamus-kamus Bahasa Indonesia. Di bawah pimpinan lebah ratu, sebuah koloni lebah terbang bersama untuk mencari tempat baru, bila tempat semula dirasakan tidak aman. Mereka terbang dalam satu gerombol besar, suaranya sayap mereka hingar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kawan-kawan kecil saya takut, menghindar dan lari sembunyi, saya suka berada di tengah-tengah kawanan lebah tumbar itu. Tidak takut digigit? Kalau boleh berbangga barangkali saya akan menyatakan bahwa ini adalah semacam penemuan saya: Lebah tumbar tidak pernah menyengat. Setidaknya ini kepercayaan saya, karena saya memang tidak pernah disengat ketika berada di tengah kawanan lebah yang terbang bergerombol itu.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat saya sensasinya luar biasa, dengung sayap ribuan ekor lebah, dan ini tidak lama, karena mereka terbang cepat sekali berlalu dan ketika menemukan sebuah tempat aman perlahan mereka hinggap saling melindungi dengan tertib. Lalu akhirnya hanya lebah pekerja saja yang terbang hilir mudik mencari lilin untuk membuat sarang lalu mencari madu untuk diisikan pada lubang-lubang sarang mereka itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda pasti sudah pernah tahu betapa lebah adalah serangga yang pola kehidupannya banyak memberi hikmah bagi kita manusia. Dalam Alquran bahkan ada ayat yang dikumpulkan dalam satu bagian bernama  Surah Annahl, Surah Lebah. Saya ingatkan beberapa hikmah itu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;1. Lebah tak seperti lalat yang hidup di tumpukan sampah dan lingkungan-lingkungan kotor. Maka,  seperti lebah, jauhilah hal-hal buruk dalam kehidupan ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Seperti lebah, kunjungilah tempat-tempat yang baik, tidak mengundang fitnah, dan carilah rezeki yang halal dari sumber-sumber yang halal. Lebah  terbang dari bunga ke bunga menjemput sari madu dan mengumpulkannya di sarang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Lebah hidup rukun dalam satu koloni dan patuh pada seorang ratu, pemimpin koloni itu. Maka, taatilah pemimpin yang baik, kami kita percaya dan kita berikan amanah untuk menjadi pemimpin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Lebah taat pada pembagian kerja ada yang bertugas membuat sarang, ada yang mencari madu, dan ada yang menjaga sarang, ada yang menjaga ratu.  Kita pun harus menjalankan peran kita sebaik-baiknya. Jangan mengambil pekerjaan yang tidak kita kuasai, jangan merampas wilayah peran orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Lebah lebih beruntung daripada lalat karena punya sengat tapi itu tidak digunakan sembarangan. Karena sekali menyengat berarti sesudah itu kematian. Maka lebah hanya akan menyerang bila koloninya terancam. Lihatlah, betapa lebah tidak bertindak untuk kepentingan pribadi.  Buat kita, pelajarannya adalah kita tidak boleh diam ketika kita diganggu, kita harus rela membela bila kepentingan, martabat, dan harga diri kita  dilecehkan. &lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya baru tahu ternyata secara anatomi, bila kita membandingkan ukuran tubuh da sayap lebah, sesungguhnya sulit dipercaya lebah mampu terbang. Pada tahun 1934 seorang ahli matematika Prancis sampai pada kesimpulan itu setelah meneliti ukuran-ukuran aerodinamika seekor lebah. Nyatanya lebah adalah serangga yang mampu terbang menentang angin kencang. Mengagumkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang menyebabkan lebah mampu terbang? Majalah National Geographic edisi Agustus 2008 melaporkan hasil penelitian tim yang dipimpin oleh Michael Dickinson, seorang ahli biologi dari California Institute of Technology. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata lebah mengepakkan sayapnya yang kecil itu dengan cara yang tidak umum di kalangan serangga. Sebagian besar serangga menggerakkan sayapnya dalam gerakan panjang dan konstan. Lebah mengubah metode itu dengan gerakan pendek melengkung. Tetapi, rahasia pentingnya adalah lebah mengepakkan sayapnya lebih cepat. Bila rata-rata serangga lain terbang  dengan  kecepatan 200 kepakan per detik, maka lebah terbang dengan menggerakkan sayap kecilnya lebih cepat: 240 kali per detik! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sayap kecil bukan hukuman alam. Bukan pula kutukan Tuhan sang pencipta. Ini pelajaran baru yang saya dapat dari serangga yang saya kagumi itu: tak masalah bila kemampuan kita terbatas, untuk  bisa berhasil maka kita hanya harus berusaha lebih keras. Belajar dari kisah lebah di atas, saya menamakan ini Prinsip Lebah Terbang Itu saja. Jangan pernah menyesali keterbatasan. Jangan pernah mengutuki apa yang diberikan Tuhan.***  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-6280866882875042913?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/6280866882875042913/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=6280866882875042913' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/6280866882875042913'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/6280866882875042913'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/08/prinsip-lebah-terbang-berusahalah-lebih.html' title='Prinsip Lebah Terbang: Berusahalah Lebih Keras'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-1511331414561180155</id><published>2008-08-27T18:39:00.002+08:00</published><updated>2008-08-27T23:58:53.178+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kolom'/><title type='text'>Tindak Pidana Selingkuh</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_wBF3FgfDPDw/SLV5o3spCMI/AAAAAAAAAVo/_hQaqTO20LU/s1600-h/kamisan+.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_wBF3FgfDPDw/SLV5o3spCMI/AAAAAAAAAVo/_hQaqTO20LU/s320/kamisan+.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5239227484568357058" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;quote&gt;SAYA setuju dengan komentar Titi DJ ketika ia menanggapi lagu yang dinyanyikan oleh  Gisel, semifinalis Indonesian Idol 2008. Lagu itu bertema perselingkuhan.  Apa kata Titi? “Saya tidak kenal lagu ini. Tapi, ketika saya mendengar judulnya saya langsung kecewa. Tema perselingkuhan itu BASI,” kata Titi. Saya perhatikan bagaimana Titi mengucapkan kata BASI itu. Dia menguatkan hembusan napas pada lafal B, memanjangkan desis suaranya pada huruf S dan mengakhiri dengan telak, seakan-akan ada huruf K setelah vokal I. BASI!&lt;/quote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tapi, inilah petaka musik Indonesia, tema selingkuh laku keras. Kalau Departeman  Penerangan masih ada dan Menterinya masih dijabat oleh Harmoko saya kira sekarang beliau pasti akan mengeluarkan himbauan agar lagu-lagu selingkuh itu dihentikan saja. Dulu, beliau pernah berang dengan lagu-lagu cengeng. Itu zaman tahun 1980-an ketika Dewiq, Melly, personel Vagetoz, dan pentolan Kangen Band masih sekolah dasar. Kala itu yang merajalela adalah Rinto Harahap, Obbie Messakh dan Pance Pondaag. Lagu-lagu mereka dinyanyikan oleh Iis Sugianto, Christine Panjaitan dan terutama oleh Nia Daniati. Saya tidak selalu suka pada Harmoko tapi saya setuju sekali ketika dia menghimbau agar lagu cengeng itu dihentikan saja.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila bahasa menunjukkan bangsa, barangkali selera musik – terutama tema-tema lagunya - juga menunjukkan perilaku warga negara ini. Gampangnya kita ambil contoh wakil rakyat saja. Mereka kan wakil, jadi untuk contoh jelek pun mereka sudah cukup mewakili, bukan? Max Moein selingkuh dan syukurlah akhirnya dipecat juga dari DPRRI oleh Badan Kehormatan. Yahya Zaini merekam (atau direkam) adegan selingkuhnya dengan Maria Eva. Golkar pun memecat dia. Beberapa kepala daerah juga diributkan setelah beredar rekaman video atau gambar perselingkuhan mereka. Kalau para pejabat itu hanya memikirkan selingkuh dan selingkuhannya kapan memikirkan rakyat?  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya punya usul bagaimana kalau KPK – ya maksud saya Komisi Pemberantasan Korupsi – ditambah wewenangnya juga mengurusi perselingkuhan para pejabat negara. Ini penting. Sebab pejabat negara itu berselingkuh dengan uang negara. Gara-gara hasrat dan syahwat selingkuh maka uang negara pun ditilep. Nah, ujungnya kan ke tipikor juga. Tindak pidana korupsi. Mau contoh lagi? Wah, banyak kita ambil dari wakil rakyat lagi ya? Al Amin Nasution. Ada unsur selingkuhnya juga kan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika usul ini diterima maka saya usulkan nama KPK menjadi KPKP, Komite Pemberantasan Korupsi dan Perselingkuhan. Perlu dibuat undang-undang tentang perselingkuhan pejabat negara. Dalam undang-undang itu harus ditetapkan bahwa selingkuh adalah tindak pidana. Namanya, tindak pidana selingkuh. Singkatannya tipiling? Tipisel? Ah, lebih enak tipikuh!    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang seru nanti adalah sidang Pengadilan Tipikuh. Bayangkan barang buktinya nanti adalah rekaman rayuan gombal antara pejabat dengan pasangan selingkuhnya. Nanti ketahuan si pejabat punya panggilan kesayangan apa, dia juga memanggil kekasih gelapnya apa. Wah, seru itu. Asyik itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa hukuman yang pantas untuk pejabat yang terbukti bertipikuh? Tergantung berat ringan unsur pidana perbuatannya itu. Karena tidak boleh mengusulkan hukuman mati – korupsi aja tidak dihukum mati kok – maka saya usulkan hukuman terberat adalah dihukum satu sel bersama Ryan si Jagal Jombang.Hukuman lain adalah eksekusi alat kelamin. Negara harus bekerja sama dengan para pewaris ilmu alharhumah Mak Erot. Para pejabat yang terbukti bertipikuh dihukum dengan tindakan pengecilan alat kelamin. Makin berat hukumannya makin besar reduksi alat kelamin, makin kecil alat vital yang disisakan.  Dan namanya di-black list supaya tidak boleh kembali ke praktek serupa.  Saya yakin pasti pejabatnya akan kapok. Pasti tidak akan pede berselingkuh lagi dengan alat kelamin yang kecil bin mungil.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir soal seragam. Ya, mereka harus juga diberi seragam khusus seperti terpidana tipikor. Hmm apa yang cocok ya? Apa mereka hadir disidang cukup dengan cawat saja? Cukup dengan sempat saja? Atau celana dalam saja dengan label Tersangka KPKP? Ada usul? Ah, saya menunggu usul Anda saja. Kalau perlu kita sayembarakan.***   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-1511331414561180155?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/1511331414561180155/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=1511331414561180155' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/1511331414561180155'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/1511331414561180155'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/08/tindak-pidana-selingkuh.html' title='Tindak Pidana Selingkuh'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_wBF3FgfDPDw/SLV5o3spCMI/AAAAAAAAAVo/_hQaqTO20LU/s72-c/kamisan+.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-6829605253373341810</id><published>2008-08-25T22:35:00.001+08:00</published><updated>2008-08-26T23:01:31.325+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku dan Aku'/><title type='text'>Menapak dari Buku ke Buku</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_wBF3FgfDPDw/SLQaqkICMWI/AAAAAAAAAVg/aIEXXLabcKU/s1600-h/Menapak+Ke+Puncak+Sajak.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_wBF3FgfDPDw/SLQaqkICMWI/AAAAAAAAAVg/aIEXXLabcKU/s320/Menapak+Ke+Puncak+Sajak.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5238841585092931938" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JULI lalu saya ditelepon oleh Damhuri Muhamad. Dia adalah editor penerbit Koekoesan, Depok, sebuah penerbitan milik suami istri Donny Gahral Adian - Rieke Dyah Pitaloka. Penerbit itulah yang menerbitkan buku pertama saya "Menapak ke Puncak Sajak". Ini buku komersil, artinya memang diterbitkan dengan niat untuk dijual dan penerbitnya menghitung-hitung laba dalam pertimbangannya sebelum menerbitkan buku itu. Damhuri kala itu mengabarkan bahwa dia baru saja mengirim royalti ke rekening saya. Ini royalti pertama saya. Besarnya tidak seberapa, "baru Rp300 ribu, Bang!" kata Damhuri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu saya bilang, akhirnya kecintaan saya pada buku dan pengorbanan saya menyisihkan uang untuk membeli buku terbayar. Sekarang buku saya yang memberi saya uang. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tadi malam, saya menelepon Damhuri. Kami berbasa-basi sedikit tentang cerita pendeknya yang baru saja dimuat di Kompas. Dia juga bertanya kapan puisi saya dimuat lagi di Kompas. Damhuri juga mengabarkan nasib buku saya tersebut. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Untuk ukuran buku tentang puisi, buku itu laku. Saya tak pegang data penjualan. Setahu saya, tidak ada retur dari toko. Bahkan ada repeat order," kata Damhuri.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya tentu saja gembira. Buku saya itu - di luar  desain sampul yang kurang saya sukai - diterbitkan karena unik. Isinya berbentuk tanya jawab tentang bagaimana menulis puisi. Si penanya diposisikan sebagai orang yang hendak belajar puisi dan si penjawab adalah semacam mentor atau guru puisi. Sebenarnya isi buku itu adalah pertanyaan-pertanyaan saya sendiri, yang saya jawab sendiri. Saya mencari-cari sendiri jawabannya dari berbagai buku, situs sastra,  tulisan wawancara dengan sejumlah penyair dunia, bahkan saya meng-SMS penyair Joko Pinurbo dan Sapardi Djoko Damono. Wawancara lewat SMS dengan kedua penyair disajikan lengkap. Bahan buku itu sebelumnya saya terbitkan dalam rubrik Ruang Renung di blog saya sejuta-puisi.blogspot.com. Yang dibukukan itu baru sebaguan dari serial Ruang Renung yang sudah mencapai 235.   &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;Di ujung pembicaraan telepon semalam saya dapat kabar baik lagi. "Abang siapkanlah naskah untuk buku kedua serial Menapak ke Puncak Sajak itu. Kalau bisa sehabis lebaran," katanya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya lantas menyimpulkan sebuah pelajaran bahwa menerbitkan buku harus dimulai dengan menulis dan menulis, hanya dan hanya itu. Tulisan yang terkumpul adalah bahan penting bagi sebuah buku. Jadi, dengan atau tanpa niat menerbitkan buku, sebaiknya kita menulislah. Menulis apa saja. Tulislah apa yang kita sukai. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-6829605253373341810?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/6829605253373341810/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=6829605253373341810' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/6829605253373341810'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/6829605253373341810'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/08/menapak-dari-buku-ke-buku.html' title='Menapak dari Buku ke Buku'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_wBF3FgfDPDw/SLQaqkICMWI/AAAAAAAAAVg/aIEXXLabcKU/s72-c/Menapak+Ke+Puncak+Sajak.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-5949237018090829680</id><published>2008-08-22T22:52:00.000+08:00</published><updated>2008-08-22T22:54:25.065+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jurnalistik'/><title type='text'>Mau Bikin Karya Tulis Jurnalistik yang Hebat dan Menang Award?</title><content type='html'>Oleh Hasan Aspahani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Butir-butir berikut ini saya  sarikan dari pengantar Rida K Liamsi pada  buku  Dari Belaras ke Semenanjung,  Kumpulan  Karya Jurnalistik Rida Award 2007 (Yayasan Sagang, 2007, Pekanbaru). Beliau banyak merujuk pada karya-karya pemenang Anugerah Adinegoro, penghargaan yang diberikan oleh PWI. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya tulis jurnalistik dinilai dari lima aspek:&lt;br /&gt;1. Kualitas peliputan&lt;br /&gt;2. Aktualitas materi liputan&lt;br /&gt;3. Kedalaman liputan&lt;br /&gt;4. Kelengkapan informasi yang disajikan&lt;br /&gt;5. Teknik penyajian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kualitas Liputan . Liputan yang baik adalah liputan yang kata beliau “berpeluh”, yang tidak didapat lewat telepon dari belakangan meja.  Yang dinilai pada aspek ini adalah:  &lt;br /&gt;- Bagaimana materi liputan itu didapatkan? &lt;br /&gt;- Apakah si wartawan melakukan perjalanan jurnalistik yang memadai? &lt;br /&gt;- Berapa banyak sumber yang diuber? Seberapa relevan sumber tadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Aktualitas Materi Liputan. Yang dicermati adalah tren dan kecenderungan peristiwa yang diliput. &lt;br /&gt;- Apakah peristiwa yang diliput baru terjadi? Isu hangat yang menarik perhatian  umum?&lt;br /&gt;- Apakah masih aktual? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kedalaman Liputan. Aspek ini didapatkan dari seorang wartawan yang sabar dan tak mau cepat selesai ketika meliput di lapangan dan rajin mencari sisi-sisi lain dalam sebuah peristiwa. Yang dinilai: &lt;br /&gt;  - Bagaimana proses atau penggalian peristiwa atau isu yang diliput?&lt;br /&gt;  - Seberapa dalam, seberapa jauh sisi-sisi kemanusiaan yang diungkap? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Kelengkapan Informasi. Sebuah liputan harus dilengkapi dengan riset mencari referensi dan bahan yang sudah ada sebelumnya. Yang dinilai pada aspek ini: &lt;br /&gt;- Seberapa banyak informasi pendukung yang ditampilkan untuk memperkaya     liputan? &lt;br /&gt;-  Apakah ada penggalian dari kepustakaan? &lt;br /&gt;-  Apakah ada data empiris yang dimasukkan sehingga liputan menjadi sangat kaya dan informatif?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Teknik Penyajian. Setelah empat aspek pertama sudah dipenuhi yang tak kalah penting adalah bagaimana karya jurnalistik itu disajikan. Yang dinilai:&lt;br /&gt;- Apakah semua kaidah wajib liputan itu dipenuhi?&lt;br /&gt;- Apakah sumbernya berimbang?&lt;br /&gt;- Apakah sudah menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar?&lt;br /&gt;- Apakah mampu menceritakan semua peristiwa secara berurut dan berkaitan?&lt;br /&gt;- Apakah disajikan dengan gaya menarik dan memikat minat pembaca?&lt;br /&gt;- Apakah menyajikan solusi dan bukan hanya kecaman?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Demikianlah. Semuanya terukur. Semuanya mudah. Hanya perlu kegigihan dan ide-ide yang berani. Selamat mencoba! ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-5949237018090829680?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/5949237018090829680/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=5949237018090829680' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/5949237018090829680'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/5949237018090829680'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/08/mau-bikin-karya-tulis-jurnalistik-yang.html' title='Mau Bikin Karya Tulis Jurnalistik yang Hebat dan Menang Award?'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-6475995440574069408</id><published>2008-08-22T16:29:00.000+08:00</published><updated>2008-08-22T16:31:16.423+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jurnalistik'/><title type='text'>Petunjuk Praktis Bikin Siaran Pers</title><content type='html'>A. Elemen Dasar Siaran Pers&lt;br /&gt;ADA enam elemen dasar yang harus ada dalam setiap siaran pers. Apakah itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;1. Tulisan SIARAN PERS atau PRESS RELEASE. Kata-kata ini harus ada di tempat paling atas lembar siaran pers. Sebaiknya pakai huruf besar semua. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; 2. CONTACT PERSON. Di bagian akhir dari lembaran siaran pers cantumkan  nomor telepon, nomor faksimile, dan nama serta jabatan siapa yang bisa dan selalu bersiap untuk dihubungi berkaitan dengan isi dan tindak lanjut dari isi siaran pers tersebut. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; 3. HEADLINE atau JUDUL SIARAN PERS. Pembaca siaran pers bisa langsung tahu apa isi dan memutuskan apakah itu akan disiarkan dan ditindaklanjuti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. TANGGAL. Tanggal-tanggal yang dicantumkan dalam siaran pers harus jelas. Kapan siaran pers itu disiarkan, dan kapan kegiatan-kegiatan yang akan diadakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 5. PARAGRAF UTAMA. Paragraf Utama itu adalah paragraf pertama. Posisinya penting untuk MERAMPAS perhatian pembaca. Paragraf pertama harus berisi informasi penting yang relevan dengan pesan yang hendak kita sampaikan menyangkut  5W itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. TEKS atau ISI. Berisi informasi tambahan yang masih dianggap penting.  &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;B. Hal Penting Sebelum Menulis Siaran Pers.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;1. Pastikan bahwa informasi yang akan disampaikan itu memang bernilai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pastikan bahwa kita sudah memiliki semua data yang diperlukan untuk siaran pers yang hendak kita buat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Selalulah memulai siaran pers kita dengan deskripsi yang ringkas. Sepuluh kata pertama penting sekali!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;4. Ingatlah bahwa siaran pers adalah informasi awal dan bila isinya menarik perhatian media, maka pihak media akan menghubungi kita. Siapkan orang yang bisa dihubungi bila perlu orang itu adalah kita sendiri, orang yang menyusun siaran pers itu.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;5. Cantumkan kemana media bisa mencari informasi tambahan atau lanjutan setelah membaca siaran pers kita. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;6. Pastikan bahasa yang digunakan dalam siaran pers kita adalah bahasa Indonesia yang baik. Gunakan gaya bahasa jurnalistik, dengan kalimat dan paragraf yang sarat fakta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.  Sampaikan informasi esensial dalam paragraf pertama dan manfaatkan paragraf berikutnya untuk informasi yang lebih mendalam. Paragraf seyogyanya menyajikan urutan informasi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;8. Tampilkan fakta dan angka sesuai kebutuhan. Ini membuat berita anda tampil lebih solid dan amat membantu wartawan dalam menulis berita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-6475995440574069408?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/6475995440574069408/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=6475995440574069408' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/6475995440574069408'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/6475995440574069408'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/08/petunjuk-praktis-bikin-siaran-pers.html' title='Petunjuk Praktis Bikin Siaran Pers'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-2658956761421120151</id><published>2008-08-20T21:32:00.001+08:00</published><updated>2008-08-20T22:38:11.415+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kolom'/><title type='text'>Bersempit, Terpuruk, Berlelah, Tertumus</title><content type='html'>[Dari Beberapa Spanduk di Tarempa]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; SUARA kompang di pelabuhan Tarempa itu saya dengar berbeda iramanya dari yang pernah saya dengar di Batam atau Tanjungpinang. Lebih lambat temponya dan lebih lembut pukulannya. Tetap terdengar bersemangat tapi tak terlalu menggebu-gebu. Saya menduga mungkin itu sama dengan tipikal karakter orang-orang di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt; Saya berada di sana beberapa pekan lalu atas ajakan Wan Saros, orang muda yang saya kenal sebagai sekretaris Badan Pekerja Pembentukan Kabupaten Kepulauan Anambas (BP2KKA). Kala itu, masyarakat Anambas menggelar syukuran setelah kabupaten baru itu terbentuk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saya tak terlalu mengikuti bagaimana badan tersebut bekerja. Sejauh yang saya dengar dan ikuti perkembangan beritanya, Anambas menjadi kabupaten lewat jalan yang tidak terlalu berliku. Ada penolakan dari beberapa pihak tapi jauh lebih banyak dukungan, dan karena itu pembentukannya lancar. "Sejak digagas, paling-paling sekitar dua tahun lebih," kata Wan Saros. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kami berangkat ke Anambas dengan pesawat yang dikelola oleh Travira Air carteran perusahaan ekplorasi minyak PT Conono Phillips . Pesawat mendarat di Matak Base, Pulau Matak, salah satu pulau di gugusan kepulauan di Kabupaten Anambas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saya berada di tengah massa di lapangan sepakbola tempat pesta syukur itu digelar. Orang-orang di lapangan itu meruapkan kegembiraan. Umbul-umbuil Premier Oil berjajar. Spanduk besar dan kecil terbentang. Gubernur Kepri, Wakil Bupati Natuna, Ketua BP2KKA bergantian berpidato. Saya tidak mencatat. Tak ada yang saya ingat dari pidato-pidato itu. Saya ingat Truman Capote wartawan yang karyanya "In Cold Blood" dianggap contoh terbaik karya jurnalisme naratif itu tidak pernah merekam dan tidak pernah mencatat ketika wawancara. "Kalau saya tidak ingat apa yang dikatakan narasumber, berarti memang tidak ada yang penting untuk saya ingat dan saya kutip di tulisan saya," katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Di Tarempa beberapa pekan lalu itu, saya bukan Capote yang datang ke penjara mewawancarai dan bersimpati pada dua orang pembunuh. Kabupaten Kepulauan Anambas lahir tanpa membunuh siapa-siapa, juga tidak Natuna kabupaten induk.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Beberapa kawan baru sempat berbicara pada saya. Pertanyaan paling menarik adalah siapa yang dipercaya menjadi Pejabat Sementara Bupati Anambas. Ada beberapa nama disebut. Siapa saja nanti yang diusulkan oleh Gubernur dan disetujui Mendagri akan menghadapi tantangan besar yakni dan besarnya harapan masyarakat dana awal yang cuma Rp10 M (masing-masing Rp5 M dari Kabupaten Induk dan Pemerintah Provinsi). "Bayar gaji pegawai saja tak akan cukup," kata Bupati Natuna Raja Amirullah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Siapapun dia, namanya akan diumumkan dalam beberapa minggu ini. "Dalam bulan Agustus ini juga sudah kita putuskan," kata Gubkepri Ismeth Abdullah.   Saya tertarik pada salah satu spanduk. Begini tulisannya: Yang disebut pemimpin itu - mau bersakit tahan bersempit, mau berteruk tahan terpuruk, mau bersusah tahan berlelah, mau bertungkus lumus tahan tertumus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tidak ada yang enak, bukan? Apalagi kata terakhir itu. "Tertumus". Itu bukan kata yang saya kenal. Saya harus membuka kamus dan bertemu sebuah kata yang ditandai sebagai khazanah sastra lama yang artinya "tersungkur" atau "terjatuh". Wah! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ah tapi kan itu cuma spanduk. Lagipula di spanduk lain yang ukurannya jauh lebih besar ada kalimat lain: Bersama Berjuang, Bersama Menggalang, Bersama Gemilang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saya penggemar pemekaran. Menurut saya yang tak mengerti sedikitpun teori pemerintahan ini, semakin kecil sebuah wilayah pemerintahan daerah semakin baik. Belanda itu tidak cuma kurang lebih seluas Jawa Barat dan dari negara yang seluas itu lahir pelukis agung Van Gogh, penyair besar Marsman, dan pemain sepakbola Gullit. Indonesia terlalu luas. Rentang kendali yang tidak efisien, konsentrasi yang susah untuk terfokus, kontrol yang longgar menyebabkan apa yang kini meradang dan jadi penyakit kronis: pencurian uang negara yang seharusnya dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk rakyat.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saya ingin melihat Kabupaten Kepulauan Anambas sebagai sebuah laboratorium pembangunan yang cemerlang. Sepintas saya melihat kabupaten ini akan jadi kabupaten yang akan cepat melesat. Kalau boleh bilang, saya sudah kecewa pada beberapa kabupaten baru di Kepri ini, tapi apalah artinya kekecewaan saya ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saya percaya pada banyak orang hebat yang lahir di sini. Sejumlah profesor, politikus hebat, SDM yang piawai, sumber daya minyak dan potensi kelautan dan pariwisata yang luar biasa adalah modal penting. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Malam itu di Tarempa saya mengingap di Pondok Wisata Anambas. Anda jangan salah dengan nilai dengan kata Pondok Wisata. Fasilitas dan kualitas bangunannya sekelas resort mewah. Kamar-kamar dibangun dalam empat rumah panggung di tepi laut. Berdirilah di terasnya, tataplah ke bawah, anda disuguhi pemandangan menakjubkan: air laut jernih, terumbu dan ikan karang leluasa berenang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dulu, kata perempuan si empunya pondok wisata itu, kapal wisata mewah singgah di sana. Ia tunjukkan pada saya foto-foto sepasang pengantin  dari Jepang. "Mereka menikah dengan adat Melayu," katanya bangga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Padanya saya tanyakan perihal bendera partai Hati Nurani Rakyat di beberapa sudut di pelantar pondok wisata itu. "Oh, itu anak saya. Dia ikut-ikutan politik," katanya dengan cemas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ini kegairahan baru yang tumbuh di mana pun bila ada  wilayah kabupaten baru. "Kalau dihitung satu kursi DPRD nanti cukup dengan suara 500," kata Wan Saros pada saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Di jalan dari pelabuhan ke lapangan bola tempat pesta syukuran itu digelar saya juga melihat spanduk partai terbentang. Ada gambar lelaki muda berkaca mata dan logo Partai Matahari Bangsa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Anak si pemilik pondok wisata, lelaki muda berkacamata, keduanya tak saya kenal. Tapi meraka, saya kira seperti Wan Saros, adalah anak-anak muda Anambas yang "potensial, tinggal dipoles pengalaman akan jadi orang-orang penting." Kalimat itu saya kutip dari  Cornelia Oentari, pejabat dari Depdagri yang lincah dan banyak membantu kelahiran Kabupaten Anambas.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sekarang, mungkin spanduk-spanduk di sana sudah diturunkan. Tapi saya berharap mereka tidak lupa pada kalimat-kalimatnya bahwa "Yang disebut pemimpin itu - mau bersakit tahan bersempit, mau berteruk tahan terpuruk, mau bersusah tahan berlelah, mau bertungkus lumus tahan tertumus." Dan Kabupaten Anambas lahir karena semua bagian masyarakat di sana, "Bersama Berjuang, Bersama Menggalang, Bersama Gemilang."  &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-2658956761421120151?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/2658956761421120151/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=2658956761421120151' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/2658956761421120151'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/2658956761421120151'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/08/bersempit-terpuruk-berlelah-tertumus.html' title='Bersempit, Terpuruk, Berlelah, Tertumus'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-591927598828813378</id><published>2008-08-20T01:27:00.000+08:00</published><updated>2008-08-20T01:37:22.747+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kolom'/><title type='text'>Puisi yang Ditakuti Perdana Menteri</title><content type='html'>BISAKAH puisi kini menggentarkan seorang perdana menteri? Bisa. Itu terjadi di Israel. Perdana Menteri Ehud Barak tahun 2000 lalu, menolak proposal Menteri Pendidikan Yossi Sarid yang mengusulkan agar sajak-sajak penyair Mahmud Darwis dimasukkan kurikulum untuk dibaca dan dipelajari murid-murid sekolah di negeri Yahudi itu. "Masyarakat akar rumput belum siap membaca sajak-sajak itu," kata Ehud Barak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapakah Mahmud Darwis? Di paspor lelaki berkaca mata tebal dan perokok berat itu menyebut diri seorang Arab (sebagaimana ia tegaskan dalam sajaknya, "catat, saya seorang Arab") tapi sesungguhnya ihwal kewarganegaraan di dalam jiwanya tampaknya sulit dirumuskan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada usia tujuh tahun ia harus meninggalkan kampung kelahirannya di Palestina. Tentara Israel datang menjajah dan mengangkangi wilayah itu hingga ia meninggal 9 Agustus lalu. Ia mengungsi ke Lebanon bersama keluarganya. Ketika Israel membangun kamp penampungan, keluarga itu kembali tapi ayahnya yang sebelumnya tuan tanah tak mendapatkan lagi hak atas lahannya. Ia belajar membaca dari kakeknya, sedang ibunya buta huruf. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahmud tumbuh dalam situasi kejiwaan seperti itu: tinggal di tanah sendiri tetapi dengan identitas yang kacau. Lahir dari keluarga Sunni, di tanah yang dikuasai Yahudi. Ia fasih berbicara dalam bahasa Ibrani, Inggris dan Prancis, tetapi teguh menulis sajak dalam Bahasa Arab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mulai menulis sajak sejak sekolah menengah. Buku kumpulan puisi pertamanya terbit tahun 1960 ketika dia masih berusia 16 tahun. Empat tahun kemudian, ia memantapkan reputasi sebagai penyair lewat buku kedua Awraq Al-Zaytun (1960). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah tamat sekolah ia pindah ke Haifa dan ambil bagian dalam aktivitas politik di negeri itu dengan bergabung dengan partai komunis Israel, Rakah. Ia menghidupi diri dengan bekerja sebagai jurnalis. Sejak itu mulai pula ia berkenalan dengan penjara dan kerap dikenakan tahanan rumah, salah satunya karena kerap bepergian keluar Israel tanpa izin penguasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kemudian ia dikenal sebagai aktivis PLO dan penyair Palestina yang paling keras terdengar suaranya, ia dianggap paling fasih menerjemahkan keterusiran dan harapan rakyat Palestina - ia menulis lebih dari 30 buku sajak dan delapan prosa, dan diterjemahkan ke 20 bahasa - maka sesungguhnya ia menulis dengan obyek sajak yang sama dengan penyair Israel Yehuda Amitchai, penyair yang ia kagumi. Ia menyebut nama-nama tempat yang sama, seakan memuja tanah air yang sama. "Kami seakan bersaing, siapa yang menuliskannya dengan lebih baik," katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah lukaku yang degil! &lt;br /&gt;Tanahairku bukan jas-jubah &lt;br /&gt;Aku bukan musafir&lt;br /&gt;Aku kekasih dan tanah air ini belahan jiwa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tema-tema utama sajak Darwis adalah takdir tanah kelahirannya. Darwis memberdayakan kosa kata yang sederhana dalam sajak-sajaknya, imaji-imaji berulang: nganga luka, darah, cermin, batu, dan perkawinan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darwish kerap menyapa pembaca sajaknya dengan hujah yang sengit, semacam pembelaan, atau pertahanan, seperti suara ramalan dari sebuah paduan suara orang banyak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya-karya awalnnya banyak mengambil dua tema: cinta kasih dan gejolak politik. Perlahan tema cinta pada lawan jenis beranjak lebih luas menjadi hubungan tak terpisahkan antara penyair dan tanah kelahirannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berkata, "Saya akan terus mempermanusiakan orang pun bila ia seorang musuh. Guru pertama yang mengajar saya bahasa Ibrani adalah seorang Yahudi. Cinta pertama dalam hidup saya adalah pada seorang gadis Yahudi. Hakim pertama yang memvonis saya masuk penjara adalah seorang hakim wanita Yahudi. Jadi, sejak awal saya tak melihat Yahudi sebagai iblis jahat, atau malaikat, tapi sebagai manusia. Saya menulis beberapa sajak untuk kekasih saya orang Yahudi. Sajak itu tentang cinta kasih, bukan tentang perang." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyaris sepanjang hayat Darwis hidup nomaden. Sebelum kembali ke kampung halamannya yang telah diduduki Israel pada tahun 1996, selama 26 tahun ia menjadi orang eksilan di Lebanon, Ciprus, Tunisa, Yordania, dan Prancis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pengaruh di kalangan politik - ia pernah memimpin lembaga penting di PLO, ia tetap percaya bahwa sastra pun bisa jadi jalan perjuangan. Ia memimpin Al-Karmel, majalah sastra dan Kebudayaan Palestina. Ia percaya dan bilang sabar menunggu perdamaian yang ia yakini akan datang di Palestina, tapi tak urung ia juga sempat putus asa juga pada puisi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dulu saya pikir puisi dapat mengubah segalanya, dapat mengubah sejarah dan dapat memanusiakan manusia. Saya kira ilusi demikian sangat penting untuk mendorong penyair agar terlibat dan percaya, tapi sekarang saya yakin puisi hanya bisa mengubah penyairnya," katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudara, ada air mata di tenggorokanku&lt;br /&gt;ada api di mataku:&lt;br /&gt;Aku orang merdeka."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia melepas dan meninggalkan kegiatan politiknya setelah kecewa demi kecewa, termasuk ketika Yaser Arafat, Simon Peres, dan Israel Yitzhak Rabin bersama mendapatkan Hadiah Nobel Perdamaian pata tahun 1994. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun-tahun terakhir kepenyairannya Darwis percaya bahwa akhirnya nilai penting puisi tidak diukur dari apa yang hendak dikatakan penyair, tetapi bagaimana penyair mengucapkannya. Ia berkutat pada estetika puitika, dan tak lagi hanya peduli pada tema. Maka ia tidak lagi hanya meratapi tanah kelahirannya tetapi sajak-sajaknya bernada introspektif dan seperti penuh mimpi. Ia meminjam khazanah Yunani, Persia, Romawi dan mitos-mitos dari bibel. "Saya percaya penyair sekarang mesti menuliskan apa-apa yang tidak tampak," katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darwis tidak mendapat anak dari dua kali pernikahan yang keduanya berakhir dengan perceraian. Darwis meninggal pada 9 Agustus 2008, setelah operasi jantung di Memorial Hermann Hospital Houston, Texas. Setelah sebelumnya, dua kali dia menjalani operasi yang sama. Perdana Menteri Palestina Mahmud Abbas menyatakan negeri itu berduka tiga hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga akhir hayatnya, perkara warga negara masih rumit baginya. Ia punya amanat sederhana - tapi repot untuk diwujudkan - agar jasadnya dimakamkan di tanah kelahirannya Ramallah yang masih dikangkangi Israel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penyair Mahmud Darwis telah menuntaskan tugasnya, menuliskan sajak-sajak yang membela orang yang tertindas, melawan orang yang menzalimi sambil membesarkan harapan akan perdamaian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup dan karyanya pasti tidak sia-sia. Bukan salahnya bila perdamaian itu terasa masih akan jauh dan lama datangnya. Setelah kematiannya, Israel kembali membuka wacana agar sajak-sajaknya dikurikulumkan untuk dibaca oleh pelajar-pelajar di negeri itu, dan mereka bisa menangkap pesan-pesan damainya.***&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-591927598828813378?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/591927598828813378/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=591927598828813378' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/591927598828813378'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/591927598828813378'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/08/puisi-yang-ditakuti-perdana-menteri.html' title='Puisi yang Ditakuti Perdana Menteri'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-4382456104303953250</id><published>2008-08-07T16:22:00.000+08:00</published><updated>2008-08-22T16:37:34.772+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kolom'/><title type='text'>Sahibulhajat Visit Batam 2010</title><content type='html'>SAYA punya rumus sederhana tentang pariwisata. Apabila, seseorang wisatawan datang ke suatu tempat maka ada dua pertanyaan yang dia harapkan dapat jawaban, pertama di tempat itu dia akan melihat apa, dan kedua, pulang dari sana dia membawa apa.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  Saya baru saja bersama keluarga menjadi pelancong.  Kami singgah di beberapa kota, sesuai dengan anggaran yang kami tabung selama lima tahun. Salah satunya adalah Bogor.  Kami ke singgah di kampus IPB lama. Ini persinggahan kami pertama setelah wisuda tiga belas tahun lalu. Yang masih bertahan di sana hanyalah bangunan-bangunan lama dengan prasasti peresmian yang ditandatangani Presiden Soekarno, serta taman dengan pohon-pohon besar. Taman Koleksi namanya, kami menyebutnya Takol. Ada sebuah kafe sedang dibangun di pojok Takol itu. Ruang-ruang kuliah mahasiwa tahun pertama sudah berubah jadi Bogor Botanical Square, ini bukan museum, atau laboratorium. Ini sebuah mal.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Kok ke sini?" tanya si bungsu lelaki kami. Dia wajar saja bertanya begitu. Baginya kampus itu tak ada artinya sama sekali. "Di sini dulu, Abah dan Mama kuliah," kata saya sambil tertawa. "Dan pacaran," kata hati saya, dan saya yakin juga itu diucapkan dalam hati istri saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Sebagai pelancong, saya dan istri saya datang ke Bogor karena kami ingin mendapatkan kembali kenangan masa-masa disibukkan dengan kuliah siang malam, asistensi, praktikum, fotokopi diktat, mengetik laporan, titip tanda tangan absen, tidur di ruang kuliah, makan tempe goreng dan es doger di warung DPR (Dibawah Pohon Rindang), menunggu wesel, dan itu semua tentu saja tak terlalu ada nilainya bagi anak-anak kami.  Kalau si bungsu mulai tak betah, kami bilang,  "besok kita ke Taman Safari..." Dia menyambut girang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pengakuan ini sebenarnya agak memalukan. Lima tahun kuliah di Bogor kami tidak pernah ke Taman Safari yang masih berada di wilayah Bogor itu, tepatnya di Cisarua. Jadi, sama dengan anak-anak itulah kunjugan pertama kami ke sana. Saya harus katakan bahwa Taman Safari adalah sebuah obyek wisata yang nyaris sempurna. Bila pemandu wisata di bus safari itu menyebutkan "bertaraf international" sesungguhnya memang demikian adanya. Bila ingin bertemu binatang-binatang yang dibebaskan hidup di sana di habitat aslinya, maka kita harus benar-benar mengunjungi tempat di lebih dari separo dunia.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Itulah yang kami dapatkan di sana: pengalaman melihat dan berineraksi langsung berbagai binatang.   Bila di sepanjang jalan dari simpangan jalan Bogor-Puncak ke lokasi Taman Safari Anda melihat orang berjualan wortel seikat-seikat, belilah. Kami tidak tahu, ternyata wortel itu boleh  diumpankan ke beberapa jenis hewan. Ini pasti akan jadi pengalaman sederhana yang seru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tetapi taman Safari tidak hanya menjanjikan pengalaman melihat  dan berinteraksi &lt;br /&gt;hewan-hewan liar yang dibiarkan bebas. Ada banyak arena permainan, kolam renang, pertunjukan atraksi hewan terlatih, dan yang lebih penting mudah sekali menemukan toilet yang sangat bersih. Ada banyak restoran yang nyaman. Ada kereta gantung melintas tepat di titik-titik ramai Taman Safari itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Anak saya membeli sepasang boneka macan dan singa juga berfoto dengan Aming, nama seekor anak simpanse.  Itulah yang kami bawa pulang bersama kartu memori kamera digital yang penuh dengan  foto dan rekaman video, sebagai pengekal kenangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pengalaman sederhana menjadi pelancong di Taman Safari itu ingin saya bagikan kepada sahibulhajat Visit Batam 2010. Bila kita ingin mendatangkan wisatawan lebih banyak kelak di tahun 2010 itu, maka pertanyaannya sama saja, mereka nanti di Batam akan mendapatkan apa, dan pulang membawa apa.  Wisatawan, meskipun seorang backpacker, pasti membawa bekal uang yang berlebih untuk dibelanjakan. Wisatawan cenderung boros dan royal. Bekal uang mereka memang untuk dibelanjakan, agar apa yang "terbeli" betul-betul bisa lama dikenang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Apakah yang ditawarkan Batam di tahun 2010 itu? Adakah yang bisa kita persiapkan dalam jangka waktu yang tinggal 17 bulan itu? Cuma 17 bulan? Pasti ada, tapi pasti tak akan banyak lagi. Taman Safari dengan nama lain dan dengan konsep awalnya dulu mulai dibangun di tahun 1930, dipersiapkan untuk umum pada tahun 1980 dan baru dibuka  pada tahun 1990!  Thailand, saya tahu dalam satu kesempatan melancong ke sana beberapa tahun lalu menyiapkan sebuah museum patung tanah liat di Bangkok. Kala itu ada iklan satu halaman di koran-koran utama di Bangkok, dan beritanya  pun menghiasi koran utama di sana, padahal itu museum baru akan dibuka untuk umum: 10 tahun lagi!  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Rahman Usman, praktis pariwisata yang amat tahu kondisi Batam,  punya konsep bagus untuk Visit Batam 2010. Harus ada empat hal, katanya, yaitu Batam harus Bersih, Hijau, Aman dan Teratur. Tiga hal yang pertama jelas apa maunya dan bagaimana mewujudkannya, dan yang terakhir itu agak rumit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Teratur itu maksudnya pasti," katanya, dia pakai bahasa Inggris "orderly". Di Restoran Minang yang hendak disinggahi wisatawan harus ada daftar harganya, supaya wisaawan tahu berapa harga kepala kakap asam pedas, misalnya. "Berganti tiap hari daftar harganya tak apa-apa yang penting jelas pada hari itu harganya beraapa," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Teratur juga kena pada taksi. Nah, kalau yang satu ini Batam memang parah. Sudah ada rasanya peraturan daerah  tentang kewajiban memakai argometer pada semua taksi. Tapi, nyatanya  sampai sekarang bila pun ada mesin argometer  tak juga dipakai. Taksi di Batam yang tanpa argo itu sesungguhnya sangat mahal.  "Mau tidak mau, taksi kita harus pakai argo semua, kalau perlu ya kita datangkan operator taksi yang pakai argo," kata Rahman Usman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Bicara soal taksi, saya jadi ingat Bogor lagi. Dari Kota Bogor kami naik taksi Blue Bird sampai ke gerbang masuk Taman Safari, dengan tarif yang sungguh membuat kami kaget, karena sangat murah.  Alhasil, semuanya membuat kami ingin kembali melancong ke sana. Dan ini menurut saya adalah sesuatu yang  paling penting yang harus diusahakan oleh sahibulhajat Visit 2010 agar didapatkan oleh para pelancong itu: mereka harus dapat kesan baik dan harus bangkit keinginan untuk kembali ke Batam lagi.*** &lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-4382456104303953250?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/4382456104303953250/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=4382456104303953250' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/4382456104303953250'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/4382456104303953250'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/08/sahibulhajat-visit-batam-2010.html' title='Sahibulhajat Visit Batam 2010'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-7939155834698183683</id><published>2008-08-01T17:48:00.001+08:00</published><updated>2008-08-01T17:55:53.061+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kolom'/><title type='text'>I Love You, Kanker</title><content type='html'>SEKARANG setiap kali melihat orang menghirup dan menghembuskan asap rokok, saya seperti mendengar orang tersebut sedang mengucapkan kalimat: I love you, kanker, I love you… I miss you, kanker, I miss you… Berkali-kali berulang-ulang. Setiap kali melihat ada sekelompok orang sedang merokok, sekarang, saya selalu melihat mereka sebagai sekelompok calon penderita kanker (atau sudah menderita), kanker hati, kanker otak, kanker paru-paru, kanker prostat, kanker darah… satu per satu atau serentak beberapa atau semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rokok sesungguhnya bukan satu-satunya penyebab kanker. Tapi, rokok sungguh terbukti menyebabkan kanker. Dan ah ada bonusnya, kanker bukan satu-satunya penyakit yang disebabkan oleh rokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peringatan pemerintah di bungkus rokok itu bukan basa-basi: merokok memang bisa menyebabkan kanker, serangan jantung, ganggunan kehamilan dan nah ini dia gangguan kemampuan seksual. Ketika merokok maka seseorang memasukkan radikal bebas ke dalam tubuh. Namanya juga radikal bebas, di dalam tubuh dia berkeliaran dan bebas hinggap di sel mana saja, kemudian dimulailah sebuah proses pertumbuhan kanker yang kelak menjadi ganas dan tak terkendali lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mendapat penjelasan tadi dari seorang teman kuliah yang kini menjadi konsultan dan sekaligus praktisi pertanian organik. Dia pernah menjadi pemasok berbagai sayuran organik ke beberapa supermarket di Jakarta. Omzetnya pernah mencapai sampai Rp200 juta sebulan.  Sekarang dia banyak memasarkan beras organik langsung ke sejumlah konsumen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berbicara lewat telepon. Padanya saya bercerita soal penyakit kanker kandung kemih yang diderita bapak saya. Saya kira teman saya itu tidak sedang mempromosikan produk sayuran organiknya, dan menakut-nakuti saya dengan ancaman kanker. Saya tahu, kawan saya itu tidak merokok. Dia pasti tahu juga bahwa saya sudah lama juga tidak merokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kuliah saya sempat jadi perokok. Sebagai mahasiswa yang sok sibuk – sebenarnya kesibukan itu hanya untuk tameng yang bisa jadi alasan kalau nilai-nilai mata kuliah saya tidak cemerlang. Bagi saya, rokok adalah penyelamat. Malam-malam menjelang ujian, maka rokok yang dikombinasikan dengan kopi adalah resep manjur untuk membuat mata melek di hadapan diktat-diktat tebal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak saya adalah seorang perokok sejati. Sejak kanak-kanak saya melihat dia merokok. Dulu saya ingat rokoknya kalau tidak Kapal Api, Jembatan Mas, atau Ngebut. (Ya, ngebut itu merek rokok).  Sampai ada olok-olok, kalau sudah capek ngebut, singgah dulu di jembatan mas, lalu naik Kapal Api. Belakangan rokok bapak saya naik kelas, sedikit lebih mahal, dan jumlah batang yang dibakarnya setiap hari tidak pernah berkurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada usia 63 tahun – pada tahun ini – tepatnya awal bulan ini, barulah bapak saya berhenti merokok. Artinya dia sudah merokok lebih dari 40 tahun. ”Sudahlah, bapakkan sudah puas merokok,” kata saya. Dan dia benar-benar berhenti merokok setelah operasi pengangkatan kanker di kandung kemih yang rupanya sudah lama dia derita. Tiga bulan sebelum operasi ada darah keluar setiap kali buang air kecilnya. Pada hari-hari menjelang operasi itu darah yang keluar banyak sekali, dia terjatuh dan harus diinfus beberapa botol darah. Setelah operasi pun dia saya lihat sempat menahan sakit yang luar biasa karena tidak bisa buang air kecil. Dokter memastikan kanker itu tumbuh karena kebiasaannya merokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya terlambat, risiko terserang kanker buat bapak saya tidak hilang serta merta setelah dia berhenti merokok. Bukankah radikal bebas itu sudah bersarang 40 tahun lebih di tubuhnya? Apapun, kami sepakat untuk menjaga agar jangan sampai bapak merokok lagi. Istri saya melihat banyak batang rokok yang masih panjang di pot bunga di teras rumah dan dia bertanya itu rokok siapa? Rupanya itu adalah hasil razia ibu saya. Setiap kali ia melihat bapak saya menyalakan rokok ia segera mengambil rokok itu dan mematikannya di pot bunga itu. Abah tidak marah. Tiap kali abah duduk di teras rumah – itu tempat favoritnya menikmati rokok -  saya selama cuti dari kantor menemaninya pascaoperasi awal bulan lalu - saya akan dekati dia dan mengajaknya ngobrol sampai dia bisa melupakan rokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang tugas itu dijalankan oleh adik lelaki saya yang rela meninggalkan pekerjaannya sementara menamani bapak yang setelah operasi kanker harus menjalani delapan kali kemoterapi untuk memastikan semua benih-benih kankernya bersih. Saya dan istri saya juga membelikan sejumlah herbal yang kami yakini bisa membantu melawan pertumbuhan kanker. Ibu saya rajin merebus sejumlah rempah, yang juga dipercaya bisa melawan kanker.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada cek terakhir ke dokter yang mengoperasi bapak, kami mendengar kabar baik, berat badannya naik, nafsu makannya meningkat, dan badannya fit. Ini kondisi yang baik untuk menjalani kemoterapi. Saya kira itu berkat dia tidak merokok lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, kata teman saya perokok berat, ”merokok itu nikmat,”.  Saya tahu ada seorang kawan yang beberapa kali mendeklarasikan berhenti merokok. Beberapa kali dia dengan bangga berkata, ”saya sudah seminggu tidak merokok.” Tapi saya lihat sekarang dia masih merokok.  ”Kok merokok lagi?” tanya saya. ”Karena saya bisa berhenti kapan saja,” katanya. Lho?  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Susahkah berhenti merokok? Buat saya tidak. Tapi, tentu saja saya tidak bisa jadi ukuran. Saya tidak lama jadi perokok. Saya tidak bisa memberi saran apa-apa pada teman yang ingin berhenti merokok. Saya tidak tahu seberat apa bapak saya menahan keinginannnya merokok setelah 40 tahun merokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya percaya pada satu teman yang pada usia 40 benar-benar berhenti merokok. ”Jangan pernah berpikir untuk merokok lagi. Tekadkan stop merokok, dan sejak itu jangan pernah merokok lagi.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah lelucon saya ingat dari seorang kawan tentang bagaimana menghentikan kebiasaan atau kecanduan merokok. ”Isaplah rokok pada ujung yang menyala,” kata si kawan itu. Anda memang berhenti merokok, tapi lidah bibir dijamin melepuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau merokoklah dalam mimpi saja. Ini cerita sungguhan. Paman Tyo, seorang blogger terkenal, blogger sejuta umat mengirim SMS ke saya: Ada cerita  luru cari Danarto. Stop merokok sejak 1979. Tapi masih sering mimpi beli rokok ke agen bukan pengecer. Rindu candu nikotina dibawa ke dalam mimpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau mau cara lain? Setiap kali merokok ingatlah paragraf pembuka kolom ini. Setiap hirup-hembus nafas Anda bersama asap rokok, bayangkanlah kalimat, I love, kanker, I love you. I  miss you, kanker, I miss you…***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-7939155834698183683?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/7939155834698183683/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=7939155834698183683' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/7939155834698183683'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/7939155834698183683'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/08/i-love-you-kanker.html' title='I Love You, Kanker'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-5212116935057328763</id><published>2008-06-25T14:59:00.003+08:00</published><updated>2008-06-25T15:11:10.609+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kolom'/><title type='text'>Guru yang Mencium  Kartu Nama Muridnya</title><content type='html'>ADA jalan melingkari kampung saya saat ini. Bulan lalu  saya bepergian dinas kantor ke Balikpapan, dan saya sempat singgah sehari ke Sungai Raden – nama kampung saya itu - sebuah kampung di pesisir Kalimantan Timur. Ini singgah, setelah lima tahun saya tak pulang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Secara acak, lekas dan buru-buru saya menemui teman-teman kecil dahulu. Ada yang sudah jadi kepala sekolah SMP, ada yang jadi juragan ikan, ada yang bertahan sebagai buruh tani, tenaga harian lepas. Kami berpelukan. Dan saling bertanya, “berapa anakmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kegembiraan mengenang masa kecil dulu, dan sedih karena kehidupan di kampung ternyata lambat sekali beranjaknya, meskipun di lepas lautan itu, di bukit tak jauh itu, berdiri kilang-kilang  yang menampung minyak dari bawah lapisan bumi kampung kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menemui beberapa orang tua yang tersisa. Beberapa? Tepatnya tinggal tiga orang. Saya menemui mereka karena saya kira jangan-jangan itulah kesempatan terakhir untuk bertemu, batas usia mana kita tahum bukan? Bagi saya penting juga bicara pada mereka untuk tambahan bahan novel saya yang sedang macet di bab ke-8.  Haji Imlan, usianya sudah 80 tahun, yang masih tergolong paman saya, bercerita dengan gerak mulut dan lidah yang terganggu akibat stroke ringan. Dan seorang tua lain, veteran perang zaman Belanda dan Jepang, masih juga mengenali saya sebagai bocah yang ditabrak mobil bioskop. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau ingat, ada tiga kali kutinju muka sopirnya!” katanya, lalu dia lalu tertawa lepas sekali.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga menemui nenek teman saya yang usianya sudah lebih dari 90 tahun. Dia sudah bungkuk tapi masih bisa menjemur pakaian bayi cicit-cicitnya. Dan dia masih ingat pada saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berapa anakmu, Hasan?” tanyanya sambil mengelus-ngelus pundak dan kepala saya, setelah saya mencium tangannya. Saya menjawab, dan dia tersenyum. “Aku tidak bertanya berapa mobilmu kan, Hasan? Aku bertanya berapa anakmu. Kalau kamu sudah punya anak, kamu sudah kaya,” katanya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ada jalan melingkar di kampung saya sekarang. Dulu saya sering membayangkan jalan itu ada seperti sekarang.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dan adik lelaki pagi itu menempuh jalan itu. Orang tidak lagi menghanyutkan buah kelapa di sungai ke muara karena mobil bisa mencapai kebun. Kelapa langsung dikupas dan dimuat di sana. Ada sebagian batang-batang kelapa semakin tinggi. Ada pemanjat kelapa sedang ambil upah memanen kelapa. Seharusnya kelapa itu diremajakan, tapi mungkin karena membayangkan harus menunggu 7 tahun baru berbuah, peremajaan tidak dilakukan. Ini menyedihkan. Saya mencoba mengingat lagi batas-batas kebun kelapa. Ini milik si A, ini milik si B, dan adik saya banyak mengoreksi, karena sebagian sudah pindah tangan, dijual oleh si empunya semula. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dalam perjalanan keliling jalan lingkar kampung itu ada pertemuan tak terduga. Saya bertemu dengan Pak Pentung. Dia guru SD saya dulu di kelas lima dan enam. &lt;br /&gt;“Itu Pak Pentung, Kak,” kata adik saya menunjuk pada lelaki tua bertopi, berkaca mata, tanpa kumis dengan motor tua dan membawa galon air disadel boncengannya. Saya tak mengenalinya, karena ketiadaan kumis itu. Dulu dia berkumis dan suka mengancam, “saya pentung nanti kamu.” Dari ancanam itulah dia beroleh gelar kehormatan: Pak Pentung.  Saya kira dia juga tidak mengenali saya karena saya sekarang berkumis, janggut dan cambang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami putar arah motor, dan mengejar dia. Bahkan ketika saya memeluk dan mencium tangannya, sambil menyebut namanya, dia masih tidak mengenali saya. Ketika saya sebut nama saya lihat matanya berkaca-kaca. Saya tak tahu kenapa, saya juga ingin ikut menangis saja. Saya berjanji akan singgah di rumahnya. Dia sudah lama pensiun dan hidup dengan uang pensiun yang seada-adanya, sebagai tambahan dia menjajakan air isi ulang.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia guru yang luar biasa. Dia mengajarkan banyak hal diluar kurikulum. Dia bikin les malam hari di rumahnya, tanpa dibayar. Semacam bimbingan belajar gratis. &lt;br /&gt;Dia merantau dari Jawa dan semula menjadi pembuat perahu. Dia lalu menikah dengan perempuan Kutai dan dengan bekal pendidikan resmi yang memang layak dia punya kesempatan menjadi guru SD.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertahun-tahun dia hanya mengajar di kelas lima, dan saya tak tahu kenapa ketika saya selesai setahun di kelas lima  dia pun meminta mengajar saya lagi di kelas enam. Maka dua tahun saya menjadi murid dengan dia sebagai wali kelasnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memberinya kartu nama karena hanya itu yang saat itu ada di dompet saya. Dia membaca apa saja yang tertulis di situ kemudian tersenyum dan menggeleng-geleng seakan tak percaya. Saya tak bertanya apa-apa. Dia lalu mencium kartu nama saya itu dan menyimpannya seakan itu adalah sesuatu dokumen yang sangat berharga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau saya rindu kamu lagi nanti, saya baca kartu namamu saja,” katanya. Sampai kami harus berpisah, saya tak tahu harus bicara apa. Saya hanya berjanji akan singgah di rumahnya. Ada janji lain yang tak saya ucapkan padanya: satu bagian dari novel saya itu nanti akan saya persembahkan buatnya. []  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-5212116935057328763?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/5212116935057328763/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=5212116935057328763' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/5212116935057328763'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/5212116935057328763'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/06/guru-yang-mencium-kartu-nama-muridnya.html' title='Guru yang Mencium  Kartu Nama Muridnya'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-5336826760194645797</id><published>2008-06-25T14:53:00.003+08:00</published><updated>2008-12-10T19:03:59.757+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kolom'/><title type='text'>'E-mail' dari Belitong</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_wBF3FgfDPDw/SGHsoi7gxGI/AAAAAAAAAU8/Nd3ehvzqW9g/s1600-h/local-0604-ikra-06.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_wBF3FgfDPDw/SGHsoi7gxGI/AAAAAAAAAU8/Nd3ehvzqW9g/s320/local-0604-ikra-06.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5215710024787084386" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh Hasan Aspahani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAYA sejauh ini tidak pernah diuntungkan atau dirugikan oleh kesukuan saya. Saya rasanya tetap menjadi saya yang seperti sekarang ini apa pun suku saya. Orang sering salah menebak suku saya. Dari cara bicara saya dikira suku A, dari format wajah saya ditebak dari suku B. Saya tidak memilih pasangan hidup saya berdasarkan sukunya. Istri saya orang Melayu kelahiran Manggar, Pulau Belitong. Dan kami menikah di Daik Lingga. Saya tidak pernah mencocok-cocokkan suku orang lain yang akan menjadi teman saya. Tapi, saya juga tidak pernah menolak atau malu menyebutkan saya dari suku apa. Suku adalah sesuatu yang terberi bukan sesuatu yang bisa saya pilih, saya tak bisa menolaknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sering bercanda dengan kawan-kawan saya orang Batak. ’’Kalau saya jadi orang Batak, kira-kira saya ini marga apa ya?” Tanya saya. Alih-alih menjawab, teman-teman Batak saya malah tertawa. Hanya Bang Depan Maju Sihite yang pernah menjawab pertanyaan saya itu dan saya suka jawabannya. ’’Marga kau Banjarnahor,” katanya, ’’Kau kan orang Banjar.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, saya sejauh ini tidak pernah mengambil manfaat dan tidak pernah pula tertimpa mudharat dari kesukuan saya. Saya mungkin bisa bilang begini karena saya tidak hidup sebagai orang Hutu yang tinggal di Rwanda, di mana kebencian antarsuku dikobarkan oleh orang Tootsie. Bila saya orang Hutu atau Tootsie saya mungkin sudah dibunuh, karena saya sungguh tidak terampil memegang senjata apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kampung dulu ketika sudah beranjak besar dan sudah bisa dibawa bekerja di kebun, dan parang panjang lengkung buat saya adalah alat untuk menebas semak di gawangan antara batang pohon kelapa. Parang dumpak lurus dan berujung bulat buat saya cuma alat untuk menombak buah kelapa dan memuatnya ke lanjung yang saya hambin di pundak. Saya tak membayangkan parang-parang itu melukai apalagi sampai membunuh orang lain, apalagi dengan alasan mereka berbeda suku dengan saya, seperti di Rwanda sebagaimana saya tonton dalam film ’’Sometime in April” itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paman saya dulu pernah memberi nama anak-anaknya dengan nama yang kejawa-jawaan. Dia bilang, kalau pakai nama Banjar susah nanti dapat pekerjaan. Di mana-mana waktu itu yang jadi pejabat orang Jawa. Di Kalimantan Timur waktu itu gubernurnya selalu dari Jawa dan selalunya orang militer. Berarti kalau mengikuti jalan pikiran paman saya itu tak cukup hanya menjawakan nama untuk dapat pekerjaan atau menjadi pejabat tetapi juga harus jadi militer. Untunglah bapak saya tidak sealur sepemikiran dengan paman saya itu. Maka nama-nama anak-anaknya tidak menjawa atau membanjar dan juga tidak kebarat-baratan supaya tampak modern.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya percaya sekarang bahwa dengan memilihkan nama yang baik, bapak saya sudah mengajarkan sesuatu hal penting dan mendasar: jadilah orang terbuka, berani dan jangan menilai orang dari sudut pandang sempit, kesukuan itu misalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak saya juga memberi contoh, dia berkawan dengan siapa saja. Maka saya pun secara tak terduga-duga mendapat teman dari mana saja, usia berapa saja, dan tak peduli apapun sukunya.  Salah satunya: Ikranegara. Saya ingin bercerita tentang dia. Saya mengingat dia sebagai aktor yang beradu akting dengan Dedi Mizwar dalam film ”Kejarlah Daku Kau Kutangkap” sebagai Markum. Dia sejak lama telah bermukim di Amerika bersama istrinya guru besar dan seorang pengajar di perguruan tinggi di sana. Dia orang Bali. Dia orang teater, aktor dan sastrawan. Saya kira sastralah yang mempertemukan kami. Kami menjadi warga sebuah mailing list. Dia senang ketika saya kabarkan anak kedua saya saya beri nama depan Ikra, seperti namanya. Sejak itu kami sering berkirim kabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal Mei lalu dia mengirim e-mail. ’’Hasan, saya ada di Belitong. Riri Riza mengajak saya main di film ’’Laskar Pelangi’’. Dekatkah Batam dengan Belitong? Bisa kita jumpa?” Saya kira aktor kita ini kurang geografis. Batam-Belitong tentu saja jauh. Pak Ikra waktu itu meminta saya merahasiakan dulu rencana main filmnya. ’’Nanti kalau sudah teken kontrak kabarkanlah ke kawan-kawan,” tulisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabar itu akhirnya merebak sendiri. ’’Dengan demikian rahasia sudah saya jaga,” kata saya membalas e-mail-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira Film Laskar Pelangi akan jadi tontonan yang sangat menarik. Kita tahu novel superlaris itu ditulis oleh Andrea Hirata, budak Melayu Belitong. Ia bercerita dengan latar belakang kontras sosial antara penduduk asli Melayu yang rata-rata miskin dengan kemakmuran pegawai PT Timah. Tapi, Andrea tidak menceritakannya dengan cengeng. Ia bercerita dengan gagah, dan saya kira itulah sebabnya novelnya menginspirasi tidak hanya orang Melayu tapi seluruh suku di Indonesia: hadapilah kemalangan akibat sistem yang tidak adil itu dengan gagah. Andrea tidak meratapi kemelayuannya, ia tidak tersekat pada sukunya, walaupun tentu saja dia tidak bisa menguras darah Melayu yang mengalir dalam tubuhnya dan tentu saja dia berhak membela dan melakukan sesuatu untuk mengangkat harkat Melayunya itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel itu berhasil mengadvokasi Melayu Belitong dengan sangat baik. Lihatlah bagaimana Andrea menyebut Belitong bukan Belitung. Konon, nama-nama tempat di Belitung eh Belitong, kini ditulis sebagaimana lidah orang Melayu sana menyebutnya. Saya kira nanti peta-peta pulau itu akan dicetak ulang dengan banyak revisi pada nama-nama tempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikranegara akan berperan sebagai Harfan, ketua yayasan sekolah Muhamadiyah, tempat Bu Mus mengajar. Bu Mus diperankan dengan baik (ini isyarat dari Ikranegara yang dalam film itu banyak beradu) oleh Cut Mini, perempuan Aceh yang bermukim di Jakarta itu. Cut Mini harus sedikit menghitamkan kulitnya supaya pas dengan sosok Bu Mus. Film itu diproduseri oleh Mira Lesmana (yang pasti bukan orang Melayu Belitong), dan disutradarai oleh Riri Riza (kelahiran Makassar).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu teman Andrea Hirata yang ia ceritakan dalam novelnya (salah seorang dari sepuluh anggota Laskar Pelangi) ada mengantar anaknya ikut proses dapukan menjajal bila mungkin cocok jadi salah satu pemain. Mira Lesmana baru tahu bahwa ayah si pengantar anak itu adalah teman Andrea - dan karena itu ia pun kagum - setelah si anak dan bapaknya pulang karena tidak dapat peran yang cocok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, upaya kultural seperti yang dilakukan Andrea Hirata dengan menulis novel itu saya kira kelak akan saya tiru bila suatu saat saya harus melakukan sesuatu dengan alasan kesukuan yang melekat dan terberi pada saya, sebab jalan itu elegan sekali tampaknya, dan hasilnya terbukti sangat efektif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah pasar kue di Balikpapan pekan lalu, saya membeli kue-kue banjar yang sudah lama tidak saya cicipi. Saya membeli setuangan bingka dan beberapa potong sarimuka. Saya menawar dengan Bahasa Banjar dengan harapan saya diberi harga lebih murah. Tapi, ah lelaki bersuku Tionghoa yang juga berbelanja di lapak si ibu penjual kue juga menawar dengan Bahasa Banjar.  Alhasil si ibu tetap berdagang dengan pertimbangan modal dan untung sedikit yang ia cadangkan, apapun suku pembeli kuenya. Jadi, sungguh saya tidak pernah diuntungkan atau dirugikan dengan kesukuan saya.*** &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-5336826760194645797?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/5336826760194645797/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=5336826760194645797' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/5336826760194645797'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/5336826760194645797'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/06/e-mail-dari-belitong.html' title='&apos;E-mail&apos; dari Belitong'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_wBF3FgfDPDw/SGHsoi7gxGI/AAAAAAAAAU8/Nd3ehvzqW9g/s72-c/local-0604-ikra-06.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-1349454922610180677</id><published>2008-06-11T20:33:00.003+08:00</published><updated>2008-06-25T15:05:04.000+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kolom'/><title type='text'>Weblog, Blogspot, Blogger</title><content type='html'>KALAU Anda membaca puisi saya beberapa minggu lalu di sebuah koran Jakarta yang beredar banyak di Batam, Anda akan bertemu saya di biodata singkat saya sebagai: wartawan, penyair dan blogger. Ya, ketiganya itulah saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; Saya menafkahi keluarga dan diri saya sendiri dari gaji sebagai wartawan. Saya meninggalkan jejak kelak di ranah kreatif Indonesia sebagai penyair dengan sajak-sajak saya. Lalu saya juga seorang blogger? Apa perlunya saya sebut? Dan kenapa baru saya sebut belakangan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saya sudah punya blog sejak Desember 2002. Waktu itu menjadi blogger bukan perkara nyaman. Roy Suryo bilang kala itu blog adalah tren sesaat. Murkalah para blogger pemula itu. Sekarang ramalan Roy Suryo sang pakar telematikan itu salah total, dan entah apakah dia sudah meralatnya, saya tak tahu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Membuat blog puisi waktu itu sama saja menyiapkan diri menjadi bahan olok-olok. "Anda frustasi ya? Puisi Anda tak pernah dimuat di koran ya? Lantas Anda dendam dan bikin blog supaya biar pun Anda menulis puisi seratus biji sehari Anda bisa memuatnya semua di blog Anda?" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Begitulah, kala itu bahkan seorang redaktur koran di Jakarta kota yang hebat itu sampai pada kesimpulan: sastra di internet (dengan demikian blog juga masuk kategori itu) adalah tong sampah! Semua ditampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tapi kesadaran bahwa saya adalah seorang blogger memang baru datang belakangan. Saya baru berani menyebut diri sebagai blogger ya saat puisi saya dimuat beberapa minggu lalu itu, meskipun di koran yang sama dan di beberapa  koran Jakarta lainnya sudah belasan kali puisi saya dimuat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Lalu kenapa? Ada beberapa alasan. Pertama, ternyata saat ini saya sudah menampilkan lebih dari dua ribu postingan di blog saya itu. Blog yang terkenal itu. Anda belum kenal? Wah, kalau begitu saya salah, saya ralat saja ya: baiklah, blog yang setiap hari diklik oleh rata-rata 300 orang, blog yang bernama Sejuta-Puisi (www.sejuta-puisi.blogspot.com) itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini sebuah konsistensi postingan yang lumayan layak untuk dikomentari dengan kalimat begini: "huh, dasar wartawan keisengan, kerjaannya posting melulu, kapan bikin beritanya...." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kedua, Januari lalu ketika saya mulai berhak mencantumkan &lt;br /&gt;dua kata jabatan saya di koran ini (baca lagi ke baris nama saya di bawah judul tulisan nama ini, sudah? Nah itu dia!) salah satu alasan yang disebut Pak CEO,  Rida K Liamsi adalah, "kau wartawan yang rajin ngeblog, artinya kau sudah tak asing lagi dengan IT." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kurang lebih begitulah. Saya terkejut, dua kali: karena diberi jabatan itu, dan karena alasan penunjukan itu.  Blog? Blog? Blog? Begitulah berulang kali saya bertanya, sambil membayangkan blog Sejuta Puisi yang hijau kelon itu. Ya, hijau kelon. Itu warna yang ditebak-tebak sendiri oleh sahabat saya di Yogya TS Pinang ketika ia merancang template blog saya itu dan ketika dia tanya warnanya apa saya jawab asal saja, "hijau kelon". Itu kalimat saya petik dari penyair Sutardji Calzoum Bachri, lengkapnya adalah "hijau kelonte-kelontean". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ketiga, mulai beberapa hari lalu saya benar-benar serius mengurus blog. Si Hijau Kelon tidak akan saya tinggalkan. Tapi, saya sudah membayar untuk sebuah situs dotcom. Namanya: www.hasanaspahani.com.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Abracadabra! Jadilah saya seorang blog yang tidak gratisan lagi. Blog saya berbayar sekarang. Isi dari dotcom itu sementara ini persis sama dengan si hijau kelon. Warnanya pun akan tetap bernuansa kelon. Dua ribu lebih isi postingan di blog gratisan semua sudah dipindahkan oleh dua orang berbakat yang saya kira kelak bisa jadi seperti dua pendiri Google itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ada alasan lain kenapa saya sampai memutuskan membina sebuah blog berbayar. Beberapa bulan lalu Ananda Sukarlan, pianis Indonesia yang tinggal di Spanyol itu meminta sejumlah sajak saya untuk dijadikan indpirasi bagi rekaman komposisi asli karya dia.  Semula saya bilang, cari saja di blog saya. Rupanya, di Spanyol dengan jaringan internet yang kata dia supercepat blog itu susah dibuka. Akhirnya dia memilih dua sajak saya dan kabar terakhir dia sudah merampungkan komposisi atas dua sajak itu: "Bibirku Bersujud di Bibirmu" dan "Nepi, Nyepi". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saya ingat kata-kata ini, "Dengan blog, seorang wartawan bisa lebih terkenal daripada media korannya," ujar Rida K Liamsi di lain ketika. Saya setuju. &lt;br /&gt;Tapi, niat dan kesempatan saya terkenal lewat Ananda Sukarlan nyaris saja kandas karena keleletan blog gratisan. Saya curiga jangan-jangan blogspot diblokir di Spanyol. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, daripada saya berdosa karena curiga, maka saya putuskan untuk membuat blog yang berbayar saja. Dan pengunjung pertama blog baru itu adalah: Ananda Sukarlan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Keempat, sebagai blogger saya pun rajin meracuni orang supaya menjadi blogger itu. Ini ciri khas blogger. Semacam dakwah bilblogger begitlah. Maka di jagad blogosfer Indonesia orang akan menyebtu Paman Tyo (www.blogombal.org) sebagai blog sejuta umat. Pakde Totot www.pakde.com) menyebut Paman Tyo sebagai nabi blogger. Kenapa? Blognya itu sangat mencerahkan, meskipun gaya menulisnya amat gombal. Pokoknya, bila Anda rutin berkunjung ke sana sebulan saja, Anda dijamin terjangkit faham gombalisme, atau kalau pakai istilah kesehatan Anda terjangkit radang gombalisitis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Salah satu orang yang saya rayu untuk bikin blog adalah Dahlan Iskan. "Bikin blog, Pak...," kata saya, sebenarnya iseng saja, tapi dia menanggapi serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Nanti, nanti, saya akan bikin blog nanti. Kalau ada waktu. Soalnya saya kan harus menanggapi komentar-komentar orang," kata beliau yang kini berhati seorang lelaki muda setelah operasi ganti hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Wah, rupanya beliau tahu kalau hakikat blog itu adalah interaktivitas, dengan bahasa sederhana pembaca dan pemilik blog bebas bertukar tanggapan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Nah, dengan empat alasan itu, maka sekarang izinkan saya secara resmi dengan ini menyatakan bahwa saya adalah blogger, dan sekalian saya perkenalkan lagi blog berbayar saya: www.hasanaspahani.com. []  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-1349454922610180677?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/1349454922610180677/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=1349454922610180677' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/1349454922610180677'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/1349454922610180677'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/06/weblog-blogspot-blogger.html' title='Weblog, Blogspot, Blogger'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-5923922723517187497</id><published>2008-06-04T23:07:00.002+08:00</published><updated>2008-12-10T19:03:59.907+08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_wBF3FgfDPDw/SEawOmY3ibI/AAAAAAAAAU0/goQ3qswseN4/s1600-h/kamisan.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_wBF3FgfDPDw/SEawOmY3ibI/AAAAAAAAAU0/goQ3qswseN4/s320/kamisan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5208043783970064818" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilustrasi Dalbo untuk Kolom Kamisan "Samson, Superman, dan Smart Grid"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-5923922723517187497?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/5923922723517187497/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=5923922723517187497' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/5923922723517187497'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/5923922723517187497'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/06/ilustrasi-dalbo-untuk-kolom-kamisan.html' title=''/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_wBF3FgfDPDw/SEawOmY3ibI/AAAAAAAAAU0/goQ3qswseN4/s72-c/kamisan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-3171430915915640483</id><published>2008-06-04T22:40:00.001+08:00</published><updated>2008-06-04T22:43:20.258+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kolom'/><title type='text'>Dia Tak Mau Menyusahkan Orang</title><content type='html'>BULAN Agustus nanti umurnya sudah 65. Saya memanggilnya Mama, sebagaimana sebutan dia ketika meng-aku-kan diri kepada orang-orang muda seperti saya. Selasa kemarin, saya bertemu dia. Itulah pertama kalinya saya singgah di rumah yang ia bangun sendiri di Batubesar.  Ya, ia bangun sendiri. Ia beli sendiri tanahnya. Ia rancang sendiri bangunannya. Bangunan yang amat sederhana, tapi tampak sekali ia sangat bangga dengan rumah itu. Di depan dan di belakang rumah itu ia tanami berbagai jenis tanaman obat.  Ia beberapa kali menyebut kumis kucing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Saya sudah pelajari, obat-obat hasil pabrik farmasi itu kebanyakan bahan bakunya kumis kucing," katanya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ingatannya masih sangat bait untuk seorang seumur dia. Dia masih sangat sehat. Kemarin ketika saya telepon lagi, dia bercerita baru saja mencari buku untuk hadiah ulang tahun menantu perempuannya. Kepada anak-anaknya pun dia selalu memberi hadiah ulang tahun buku. Dia memang suka membaca. Amat suka. Mungkin karena itu ingatannya tak menumpul. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ia bahkan mengingat jam ia dilahirkan. "Jam 12, hari Minggu. Di Batusangkar. Sekarang tinggal di Batubesar," dia lantas tertawa. Kalau bertemu dengannya saya tak pernah tidak menjumpainya sebagai seorang yang periang. Kelihatannya dia tak pernah bersedih, ah lebih tepat dia tampak selalu ingin membuat orang lain bersemangat. Ia ingin menularkan semangat hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saya mengagumi dia sebagai orang yang luar biasa. Dulu dia bekerja sebagai perawat. Ah, bahkan sampai sekarang pun di depan pintu rumahnya yang amat sederhana itu ia pasang papan nama dan kata "bidan" di depannya. Saya bertanya dengan hati-hati, takut membuat dia tersinggung,"Kenapa mama masih juga praktek bidan?" Dia tertawa dan ah syukurlah tawa itu bukan keluar dari hati seseorang yang tersinggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Hasan, Mama tak mau membebani anak-anak. Kalau ada orang yang minta tolong mama bantu," katanya.  Saya lalu meminta dia memeriksa tekanan darah saya. "Wah, rendah sekali, Hasan. Kamu harus banyak minum jus wortel dan tomat. Suruh Yana menyiapkannya," ia menyebut nama istri saya, yang juga dia kenal baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kalau dia mau, dia bisa memilih tinggal di salah satu dari empat anaknya yang pasti tak akan merasa direpotkan oleh kehadirannya. "Mama tak mau merepotkan orang lain. Tak mau merepotkan anak-anak. Mama masih bisa berguna bagi Tuhan, diri sendiri dan orang lain." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saya bilang bukan kah anak-anaknya juga harus diberi kesempatan untuk membalas jasanya? Dia tidak mengharapkan itu. "Kalau Mama serumah dengan anak-anak, nanti suatu saat ada kalanya mama marah, atau bosan atau anak-anak yang bosan. Pasti akan jadi masalah. Lebih baik terpisah tapi kan juga tidak jauh, jadi sayangnya dobel. Sayang karena tidak serumah, dan sayang karena Mama memang harus disayangi," ujarnya, lagi-lagi dia tertawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ia lantas mengambil sekeping obat dari lemari kaca di depan mejanya. Ada buku panjang, buku catatan keuangan yang baginya digunakan untuk mencatat apapun. Beberapa nomor telepon, dan tulisan berikut ini yang paling menarik: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;blockquote&gt;Bicara 10 Persen&lt;br /&gt; Mendengar 45 Persen&lt;br /&gt; Membaca 25 Persen&lt;br /&gt; Menulis 20 Persen.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saya bertanya apa maksud tulisannya itu. Lagi-lagi dia tertawa. "Itu pola hidup Mama," dan ia bilang begitulah kalau ingin mencapai keberhasilan. Orang harus mendengarkan orang lain lebih banyak daripada bicara tentang diri sendiri. Dan tentu saja saya amat tertarik dengan persentase membaca dan menulis itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Sejak tahun 1971 sampai sekarang, Mama langganan Intisari. Banyak ilmu pengetahuan bisa didapat dari majalah itu," katanya. 1971? Ah, itu  tahun kelahiran saya. Dan dia sudah membaca majalah itu?  "Sekarang mama juga langganan majalah lain, dan beli buku. Sekarang lagi baca buku ESQ," katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tapi, rasanya dia melanggar persentase pola hidupnya tadi. "Mama membaca Quran sehari satu juz, katanya. Lalu dia menyebut beberapa surat kabar, majalah, dan beberapa judul buku. Jangan-jangan persentase membaca dia lebih dari 25 persen! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saya suka tulisan tangannya, khas tulisan orang-orang yang berpendidikan di sekolah lama. Saya ingat begitulah tulisan Ayah saya. Tersambung rapi dari huruf ke huruf, dengan derajat kemiringan konsisten dan selalu terasa ditarik dengan kecepatan tetap. Hmm, pernah lihat tanda tangan Soekarno? Nah, kira-kira seperti itulah. Dia sekolah perawat dulu di RSU Ahmad Muhtar, Bukittinggi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Hal lain yang sangat saya teladani dari dia adalah semangat belajarnya. Beberapa waktu lalu dia kursus Bahasa Jepang! Ya, Bahasa Jepang. Saya tanya alasannya. "Anak angkat Mama kan menikah dengan orang Jepang. Kalau bertemu dengan keluarga Jepang itu, Mama bisa  bicara dan belajar banyak, termasuk tentang ilmu pengobatannya," katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dia mengagumi Hembing, si pakar pengobatan herbal itu. Dia menyebut sudah tamat belajar pada Profesor itu tentang berbagai khasiat obat dari berbagai tanaman. Di mana belajarnya? "Saya ikuti dari televisi," katanya. Lihatlah, betapa dia tak memandang media belajar. Dia bisa belajar di televisi, dari siapa saja, dari buku, dari majalah.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Berapa saya membayar untuk konsultasi dan sekeping obat penambah tekanan darah? Gratis. Kami sepakat membarter jasa itu dengan sebuah handgrip - alat melatih otot tangan milik saya yang kebetulan saat itu saya kantongi. &lt;br /&gt; "Tiap pagi Mama kesemutan, ini bagus buat mama, kamu beli saja lagi. Iklhas, Hasan?" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Ikhlas," kata saya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sepulang dari pertemuan dengannya, saya lalu terpapar pada sejumlah pertanyaan: seberapa merepotkan saya bagi orang lain? Seberapa tergantung saya pada orang lain? Apakah saya sudah menularkan semangat hidup pada orang lain, atau sebaliknya merepotkan dan membuat orang lain tidak bersemangat? Seberapa merepotkan saya bagi kantor tempat saya bekerja yang tiap bulan menggaji saya? Seberapa merepotkan saya bagi negara saya?  Apakah saya terlalu menuntut? Seberapa manjakah saya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Setiap pertanyaan itu akhirnya hanya memingatkan saya pada Mama: Dia yang  tak mau menyusahkan orang lain, bahkan orang yang akan sangat ikhlas ketika harus ia repotkan.  Saya ingin bertemu lagi dengan dia, dan seperti setiap kali saya bertemu dia, saya akan menyalaminya dan mencium tangannya.&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;[]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-3171430915915640483?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/3171430915915640483/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=3171430915915640483' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/3171430915915640483'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/3171430915915640483'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/06/dia-tak-mau-menyusahkan-orang.html' title='Dia Tak Mau Menyusahkan Orang'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-2250759214581103030</id><published>2008-05-28T22:32:00.002+08:00</published><updated>2008-12-10T19:04:00.148+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kolom'/><title type='text'>Samson, Superman, Smart Grid</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_wBF3FgfDPDw/SD1vWWY3iYI/AAAAAAAAAUc/HQitL3tJc-8/s1600-h/superman.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_wBF3FgfDPDw/SD1vWWY3iYI/AAAAAAAAAUc/HQitL3tJc-8/s320/superman.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5205439174067849602" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAYA percaya di luar sana -  maksud saya di luar Galaksi Bima Sakti tempat Tata Surya dan Bumi yang kita diami kita ini - ada galaksi-galaksi lain, ada tata surya lain, dan ada Bumi yang lain. Rasanya sia-sia Tuhan menciptakan alam raya tak terbatas ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bumi lain? Mungkin Anda akan bertanya, berarti ada manusia lain? Atau setidaknya makhluk lain - apapun namanya? Dengan peradaban yang lain? Ya, saya percaya begitu. Ah, bukankah dalam kitab-kitab suci kita tak ada disebutkan itu? Saya yakin bahwa kitab suci itu kabar dari Tuhan, dan karena itu Tuhan boleh memilih apa-apa yang hendak ia kabarkan kepada manusia. Bisa saja Ia menyimpan rahasia tentang Bumi lain, manusia lain dan peradaban lain itu.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ha ha ha!" pecahlah tawa  sahabat berseni-seni saya Samson Rambah Pasir yang saya abangkan itu. "Mengapa awak berfikir seperti itu?" tanyanya lebih lanjut, pada suatu malam  di Tanjungpinang, setelah tampil bersajak-sajak dalam perhelatan Bintan Arts Festival. "Eh, kita ini kan seniman, Bang. Khayalan harus tingkat tinggi," kata saya. "Iya juga," kata Bang Samson. Kami pun sama-sama berhahaha lagi. Hahaha yang kesekian kali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai hari ini, saya tak bisa membuktikan apakah memang benar khayalan saya itu. Tapi, itu kan memang tidak untuk dibuktikan. Sebagaimana halnya Jerry Shutter yang berkhayal tentang Superman, Planet Krypton, dan batu Krypton yang menjadi sumber energi abadi bagi Kar El alias Clark Kent si Superman itu. Superman bisa menahan gempuran hujan peluru, bisa mengangkat mobil dengan enteng sambil terbang  melayang karena terenergikan oleh batu Krypton itu. Dahsyat sekali, bukan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber energi bagi jagoannya selalu menjadi ide utama para penulis cerita fiksi ilmiah atau komik hero,selain mutasi genetik. Selalu ada peristiwa yang memaksa si orang biasa menjadi luar biasa dan berubah jadi superhero, ikhlas atau tidak. Peter Parker disengat laba-laba yang teradiasi energi nuklir. Hulk si raksasa hijau itu juga terpapar sinar radiasi nuklir. Tak jarang cerita utama cerita johan-pahlawan itu pun berpusat pada perebutan untuk menguasai energi. Pihak yang menguasai energi adalah pihak yang menguasai pihak lain. Superman diburu oleh Lex Luthor - musuh berdatu-datu Jor El, ayah Superman - agar mengembalikan kepingan krypton yang masih ia simpan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar komik dan fiksi ilmiah, perebutan energi tergelar dengan cara lain. Indonesia, konon negara yang kaya sumber energi: gas, minyak bumi, dan batubara. Tapi, apa yang terjadi kini? Kita adalah Superman yang terusir kalah oleh Lex Luthor dalam wujud yang bermacam-macam. Gas kita disedot oleh perusahaan Amerika, minyak kita ditambang oleh perusahaan Prancis, dan batu bara kita digali oleh perusahaan China. Lalu dijual dengan kontrak jangka panjang ke luar negeri. Kita punya perusahaan minyak Pertamina tapi kabar yang keluar tak jauh dari cerita rugi dan korupsi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pihak yang kalah - karena PLN kita tak dapat kontrak yang tetap, dan perusahaan gas kita terikat kontrak tetap penjualan gas dengan singapura, tentu dengan harga yang lebih mahal - kita hari-hari ini harus rela setiap hari beberapa jam hidup tanpa listrik.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pihak yang kalah - negara masih mengandalkan penghasilan dari penjualan gas dan minyak keluar negeri - maka kita harus ikhlas menerima kenaikan harga BBM, akibat selisih harga jual dalam negeri dan harga minyak di pasaran dunia yang jomplang, dan negara tak mau bangkrut kalau harus memberi subsidi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pihak yang kalah, kita sebenarnya amat miskin. Tapi, lihatlah, ah betapa kita bergaya bak orang kaya. Kita tidak bisa hidup prihatin. Kita terbiasa santai. Kita tidak getol bekerja keras. Kita tidak menyadari betapa parahnya kekalahan kita. Kita tak mampu berfikir panjang. Daya jangkau pikiran kira cuma sejangkauan ke depan. Dan itulah yang terjadi pada PLN kita di Batam. Swastanisasi itu - dengan kata lain keikhlasan pemakai energi untuk membayar lebih mahal - dimaksudkan agar PLN kita itu leluasa mengembangkan diri demi kelangsungan persedian listrik. Tapi apa yang terjadi?  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana contoh berfikir jauh ke depan itu? Ini saya kutipkan berita pendek dari majalah BusinessWeek. Sebuah perusahaan penghasil dan pengelola energi di Colorado, Amerika Serikat mengembangkan sistem jaringan listrik pintar. Ya, begitulah namanya, mereka menyebutnya smart grid. Mereka percaya dan menganggap bahwa "penghematan" adalah "sumber energi" kelima setelah batubara, minyak bumi, energi yang terbarukan (tenaga air, udara, angin, matahari, dan energi nabati), dan nuklir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik dari smart grid itu adalah rumah-rumah tidak hanya bisa menjadi pemakai energi. Rumah-rumah warga bisa menjadi produsen energi listrik misalnya dengan memasang panel energi surya. Bila pemakaian energi lebih kecil dari energi yang dihasilkan, maka pemilik rumah justru dibayar dari selisih biaya pemakaian dan penjualan. Ya, energi listrik yang dihasilkan di rumah warga bisa dijual kembali ke jaringan listrik. Meteran pencatat listrik otomati mencatat pembelian dan penjualan listrik itu. Kunci dari sistem itu adalah jaringan listrik yang tidak "buruk",tidak bocor dan tidak ada manipulasi petugas pencatat.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila Anda bepergian beberapa bulan, misalnya, ketika Anda kembali Anda justru dibayar oleh perusahaan itu, karena selama Anda pergi Anda tidak mengkonsumsi listrik, sementara panel surya Anda memasok listrik terus menerus ke jaringan listrik dan dikonsumsi oleh rumah lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini bisa berlanjut jauh, dan jatuh ke tulisan yang lebih serius. Tapi, nanti Bang Samson akan menelepon saya, "San, awak terlalu serius!" Jadi, sudahlah.***  &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-2250759214581103030?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/2250759214581103030/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=2250759214581103030' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/2250759214581103030'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/2250759214581103030'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/05/samson-superman-smart-grid.html' title='Samson, Superman, Smart Grid'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_wBF3FgfDPDw/SD1vWWY3iYI/AAAAAAAAAUc/HQitL3tJc-8/s72-c/superman.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-6527851698149262200</id><published>2008-05-22T00:04:00.001+08:00</published><updated>2008-05-22T00:10:58.034+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kolom'/><title type='text'>(Bukan) Begini Cara Memilih Pemimpin</title><content type='html'>Mari kita bayangkan para anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai juri kontes menyanyi yang sedang ramai di stasiun-stasiun  televisi kita itu.  Dan sistem pemilihan presiden, gubernur, walikota dan bupati itu kita ganti juga, persis seperti sistem pemilihan idola-idolaan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jamin sistem ini jauh lebih murah, dan kita tidak usah cemas dengan rendahnya tingkat partisipasi pemilih.  Asal acara pemilihan  itu disiarkan langsung pada jam tayang utama, dibawakan oleh pembawa acara yang kocak. Kalau boleh usul saya mengajukan dua nama: Olga Saputra dan Ruben Onsu. Kenapa tidak Eko Patrio? Atau Daniel Mananta? Eko sudah terlalu lama ngelaba, humor-humornya sudah kurang daya gelitik. Daniel? Ah, terlalu anak nongkrong, kurang dangdut. Jangan protes dululah, setuju saja sama pilihan saya Olga dan Ruben. Mari kita lanjutkan aturan mainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Calon pemimpin dipilih dengan audisi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Audisinya tentu saja dilakukan di semua ibukota provinsi. Tim Audisi bergerak serentak. Di sinilah peran partai. Peserta audisi harus mendaftar lewat partai. Ya, calon independen tentu juga boleh ikut. Tapi, risikonya dia harus menyediakan dana sendiri untuk mengumpulkan dukungan lewat SMS nanti. Kalau lewat partai, maka otomatis nanti para kader partailah yang mengirim SMS. Misalnya kalau saya jadi calon, maka dukungan berupa SMS dengan mengetik REG (spasi) HASAN kirim ke 6666. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Apa materi utama ujiannya? Menyanyi. Dan harus dangdut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa dangdut? Lho, bukankah dangdut is the music of our country, man?  Pemimpin yang baik harus bisa menjadikan dangdut sebagai duta bangsa.Dangdut harus menjadi komoditas ekspor di sektor budaya. Dangdut harus menjadi musik yang mendunia seperti reggae dari Jamaika, atau samba dari Brazil. Kenapa dangdut tidak? Apa bedanya reggae, samba dengan dangdut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan prospeknya. Bila seluruh dunia keranjingan dangdut, maka ada permintaan penyanyi dan pemusik dangdut yang besar sekali. Berapa jumlah kafe, bar atau music lounge di dunia? Ah, saya yakin kalau kita memenuhi permintaan Amerika saja, maka kita harus menarik semua TKW, melatihnya menjadi penyanyi dangdut dan mengirimnya lagi sebagai penghibur terlatih. Ini pekerjaan terhormat. Posisi tawar negara ini akan luar biasa kuatnya. Kalau China mengembargo ekspor ikan kita, misalnya, maka kita tarik saja semua penyanyi dangdut yang berada di sana, maka dijamin, dalam jangka waktu yang tidak lama, tingkat stress warga negari itu meningkat tajam. Lantas presidennya pun mengutus Menteri Kebudayaan dan Hiburan untuk merayu presiden kita akan membuka lagi keran ekspor penyanyi dangdut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, pemimpin kita harus bisa menyanyi dangdut. Ini cara mudah untuk menduniakan Bahasa Indonesia. Dangdut tak pas kalau tidak dinyanyikan dalam lirik berbahasa Indonesia. Coba bayangkan bagaimana menerjemahkan dan menyanyikan lirik lagu Meggy Z sungguh teganya teganya teganya teganya teganya teganya ….  di dalam bahasa Inggris? Atau China? Atau Belanda? Atau Prancis? Atau Jerman? Saya tak bisa membayangkan! &lt;br /&gt;Di dalam negeri efeknya juga luar biasa. Akan ada SMK jurusan Dangdut. Tiga tahun siap pakai dan siap didangdutkan di seluruh dunia. Tidak akan ada lagi penyanyi yang mati mata pencahariannya karena dilarang bupati tampil seperti Dewi Persik itu. Toh, dia bisa tampil di mana saja di seluruh dunia? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan ada industri garmen khusus menghasilkan kostum dangdut. Kita lihat nanti para remaja Jepang akan berdandan ala pedangdut kita di kawasan Harajuku, bukan sebaliknya. Orang-orang di seluruh dunia akan mengunduh RBT dangdut. Penjualan poster pada pedangdut kita meningkat dan itu artinya industri percetakan akan panen besar. Bayangkan, saudara. Bayangkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Nah, sekarang kita sampai pada babak spektakuler.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dalam pemilu biasa waktu mencoblosnya hanya satu hari, maka dalam sistem ini, semua calon harus mengikuti waktu pemilihan yang lama. Tiap minggu satu calon tereliminasi. Pada babak inilah, para anggota KPU kita itu berperan, persis seperti juri idola-idolaan itu. Siapakah nama yang saya usulkan? Anang Hermansyah tidak masuk bursa. Nama yang cocok untuk menggantikannya adalah A Rafiq. Indra Lesmana tidak terpakai, karena kalah bersaing dengan jagoan saya: Jaja Miharja. Titi DJ? Ah, apa bisa dia mengalahkan kedangdutan Hajjah Elvi Sukaesih? Konon Ratu dangdut kita ini bernafas, batuk dan bersin pun cengkoknya dangdut. Saya tidak pernah mendengar tapi konon kabarnya kalau Mama Elvi kita ini bersin maka suaranya seperti ini: hatsyi, hatsyi, hatsyiiiiii (coba bersinkan seperti Anda sedang menyanyikan lagu Helo Dangdut)&lt;br /&gt;Dan best of the best of the best siapa lagi kalau bukan: Rhoma Irama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para calon pemimpin harus membawakan lagu wajib Dangdut Is The Music of My Country dan  salah satu lagu Rhoma Irama yang ada syairnya ..dangdut suara gendang rasa ingin berdendang.  Judulnya? Ya, betul itu. Anda memang layak ikut kontes ini. Calon pemimpin juga harus membawakan  lagu sendiri, yang tentu saja boleh diciptakan oleh tim sukses mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Salah satu materi ujian persis seperti acara Akhirnya Datang Juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, seperti yang disiarkan Trans TV tiap Rabu malam.  Calon pemimpin kita itu dihadapkan pada situasi yang tidak terduga. Misalnya? Bagaimana mereka bersikap ketika sedang duduk-duduk di lobi hotel, lalu tiba-tiba datang anggota KPK menangkap mereka. &lt;br /&gt;Mereka juga harus diuji bagaimana kepiawaian mereka melobi anggota DPR, ketika sebuah kebijakan terkendala keputusan lembaga itu. Mereka juga harus dites bagaimana caranya menjawab ketika diperiksa oleh KPK. Pokoknya, semua persyaratan seorang pemimpin saat ini harus dikuasai, dan itu ditunjukkan kepada penonton televisi, sekaligus para pemilih ya kita-kita ini. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;5. Para calon pemimpin kita harus menciptakan rekor MURI. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini penting. Catatan pencapaian dalam Museum Rekor Indonesia (MURI) jauh lebih menarik daripada penghargaan lain seperti Anugerah Adipura atau Satya Lencana, Konon para juri MURI itu tidak bisa disogok karena Jaya Suprana di penggagas itu sudah sangat kaya dari penghasilan sebagai pengusaha jamu. Lagi pula, gelar kota terbersih, atau kesetiaan mengabdi pada negara bisa juga dicatat sebagai rekor, bukan?  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Para calon pemimpin kita itu harus pakai batik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa batik? Pertama, supaya tidak diakui oleh negara tetangga lagi. Kedua, batik lebih cocok dengan iklim Indonesia. Indonesia akan mengalami krisis listrik karena gas habisi diijon oleh Singapura, batubara habis dikontrak beli oleh China, dan minyak? Pun sudah dibayar depan oleh Amerika. Jadi, Istana Negara, Kantor Bupati, dan Ruang Rapat DPR tidak boleh pakai AC. Bayangkan betapa  panasnya kalau dalam ruangan tanpa AC itu pemimpin kita rapat dengan jas dan dasi mencekik leher. Maka, tak ada pilihan: batik. Dan hanya batik.  Biarlah, nanti dalam kontes pemilihan pemimpin itu Madam Ivan Gunawan saja yang jadi juri. Oke, oke, Iwan Tirta memang pakar batik, tapi dia tidak menghibur kalau harus dia yang jadi anggota KPU eh juri kontes kita itu.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-6527851698149262200?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/6527851698149262200/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=6527851698149262200' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/6527851698149262200'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/6527851698149262200'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/05/bukan-begini-cara-memilih-pemimpin.html' title='(Bukan) Begini Cara Memilih Pemimpin'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-4835378845512096224</id><published>2008-05-15T00:03:00.000+08:00</published><updated>2008-05-15T00:05:00.611+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kolom'/><title type='text'>Api Sangat Mencintaimu, Mei</title><content type='html'>BAGAIMANA cara Anda mengenang Kerusuhan Mei 1998, peristiwa yang mengawali reformasi di negeri ini? Saya mengenangnya lewat sajak penyair favorit saya Joko Pinurbo alias Jokpin.  Penyair asal Yogyakarta itu menulis sajak berjudul “Mei” di tahun 2000 (“Di Bawah Kibaran Sarung”, 2001), dua tahun setelah peristiwanya ia saksikan sendiri di Jakarta. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tubuhmu yang cantik, Mei,” demikian bait awal Jokpin, “telah kaupersembahkan kepada api. Kau pamit mandi sore itu. Kau mandi api.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini bait yang sangat Jokpin. Ia mengorangkan Mei. Mei-nya Jokpin tak lagi sekadar nama bulan kelima dalam penanggalan Masehi.  Mei telah ia luaskan kemungkinan pemaknaannya. Dan ia menulis tidak dengan emosi marah. Tidak juga sedih. Ia seakan menulis tanpa emosi apa-apa. Ia seakan telah begitu akrab dengan Mei itu. Jokpin, penyair kita ini tidak marah, karena apa gunanya lagi kemarahan? Jokpin hanya mengaduk-aduk emosi dari bait ke bait. Coba rasakan nada bait-baitnya: tubuhmu yang cantik, Mei (lembut), telah kau  persembahkan kepada api (keras), kau pamit mandi sore itu (lembut), kau mandi api (keras).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu belum apa-apa. Jokpin melanjutkan permainan ironinya, dia masih ingin mengaduk-aduk perasaan kita. “Api sangat mencintaimu, Mei,” katanya. Lihat, kalimat itu. Kenapa Mei mempersembahkan tubuhnya kepada api? Karena cinta. Karena cinta pula maka “api mengucup tubuhmu sampai ke lekuk-lekuk tersembunyi. “Api sangat mencintai tubuhmu….” Ini penegasan dari larik awal di bait kedua ini. Tubuhmu, Mei. Tubuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa jeli dan arifnya penyair kita ini. Dia tak perlu membebani sajaknya dengan fakta-fakta kekerasan terhadap etnis Tionghoa (Andreas Harsono lebih setuju pada Pramudya Ananta Tur, dengan memilih istilah Hoakia alias etnis Cina yang merantau) di Jakarta yang entah karena apa dijadikan sasaran lain dalam kerusuhan itu. Ia cukup menyebut nama bulan kejadian itu: Mei. Kata itu terdengar seperti nama lazim bagi perempuan Tionghoa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Api sangat mencintai tubuhmu sampai dilumatnya yang cuma warna yang cuma kulit yang cuma ilusi.” Kemarahan yang getir terasa di bait ini. Itupun tidak diteriakkan. Jokpin memang tidak ingin berteriak. Dengan bait ini ia seakan hanya menuliskan kalimatnya dalm lembaran notes dan meminta orang membacanya: …kenapa harus dilumatkan?  Bukankah tubuh itu sama? Yang berbeda itu hanya kulit, hanya warna dan itu semua ilusi saja. Ah, kita memang sering tersesat dengan ilusi sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil membuat catatan ini, stasiun televisi menayangkan lagi gambar-gambar kerusuhan Mei 1998 di Jakarta itu. Di mana saya saat itu? Di Tarakan. Jauh di utara Kalimantan sana. Jauh dari Jakarta. Saya tahu, ada sesuatu yang besar dan penting terjadi saat itu di Jakarta sana dan pengaruhnya akan lama dan terasa di seluruh Indonesia.  Perasaan saya tak lagi sama ketika dulu pertama kali menyaksikan gambar-gambar kerusuhan itu. Padahal saya ingin kembali bersedih, dan saya harus terharu ketika melihat lagi gambar-gambar itu. Karena itu untuk mempertahankan rasa sedih saya, saya amat bergantung pada sajak Jokpin tadi. Saya kira pada titik inilah kerja menyair seorang Jokpin telah memberi manfaat pada saya. Mempertahankan kemanusiaan saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tubuh yang meronta dan meleleh dalam api, Mei adalah juga tubuh kami.” Nah, dengan sangat berhati-hati Jokpin memasukkan sikapnya. Ia mengingatkan kita kembali pada solidaritas. Api, katanya, ingin membersihkan tubuh maya, tubuh dusta kita, tapi dengan cara yang tidak adil yaitu dengan membiarkan tubuh Mei yang cantik itu terbakar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerusuhan Mei, seharusnya menjadi pelajaran penting buat kita untuk tidak lagi membenihkan sikap diskriminatif. Mei sudah selesai mandi. Mei sudah mandi api. Mei sudah berkorban, dengan sangat terpaksa, dan posisi sebagai korban itu saat itu tampaknya bukan pilihan. Siapa yang mau jadi korban? Tapi, Mei kita saat  itu tak dihadapkan pada pertanyaan itu. Tubuhnya telah hancur, telah lebur bersama tubuh bumi, terbakar bersama bangunan-bangunan yang dirusak massa yang entah digerakkan oleh siapa, terbakar api yang entah siapa yang menyulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyair kita dengan amat bijak menutup sajaknya lewat sebuah harapan: “… tak ada lagi yang mempertanyakan nama dan warna kulitmu, Mei,” katanya. Begitulah, maka saya pun menjadikan bait sebagai harapan saya. Begitulah, saya mengambil manfaat dari kerja menyair seorang Jokpin. Kerja yang sungguh tidak sia-sia. Begitulah cara saya mengenang Kerusuhan Mei 1998. Bagaimana cara Anda? Bagaimanapun, asal jangan sampai Anda melupakannya. Apalagi bila lupa itu membuat kita berpotensi untuk mengulang lagi, membakar tubuh Mei yang lain, di tahun yang bukan 1998[] &lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-4835378845512096224?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/4835378845512096224/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=4835378845512096224' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/4835378845512096224'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/4835378845512096224'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/05/api-sangat-mencintaimu-mei.html' title='Api Sangat Mencintaimu, Mei'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-7289034816445234337</id><published>2008-05-09T00:25:00.002+08:00</published><updated>2008-05-09T00:30:20.237+08:00</updated><title type='text'>The Google Poet &amp; Poetry 2008</title><content type='html'>&lt;em&gt;&lt;blockquote&gt;Saya dan buku saya "Orgasmaya" menurut sebuah mesin pencari. Hajatan oleh &lt;strong&gt;Lembaga Jajak Sastra&lt;/strong&gt;, Jakarta. Kabar ini disampaikan oleh &lt;a href="http://binhadnurrohmat.com/the-google-poet-poetry-2008-36.php#more-36"&gt;Binhad Nurrohmat&lt;/a&gt;.&lt;/blockquote&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;The Google Poet &amp; Poetry 2008 adalah 10 peringkat tertinggi hasil jajak data perkabaran nama-nama penyair Indonesia kelahiran dasawarsa 1970 yang sudah menerbitkan buku kumpulan puisi tunggal dalam bahasa Indonesia dan 10 peringkat tertinggi hasil jajak data perkabaran buku-buku kumpulan puisi tunggal dalam bahasa Indonesia karya para penyair Indonesia kelahiran dasawarsa 1970 yang ditelusuri melalui mesin pencari data www.google.co.id  pada Sabtu, 3 Mei 2008. Hasil-hasil jajak ini bisa diuji secara bersama dan terbuka. Jajak ini diselenggarakan oleh Lembaga Jajak Sastra. Jajak ini akan diselenggarakan satu kali setiap tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;The Google Poet 2008&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;The Google Poet 2008 adalah 10 peringkat tertinggi hasil jajak data perkabaran nama-nama penyair Indonesia kelahiran dasawarsa 1970 yang sudah menerbitkan buku kumpulan puisi tunggal dalam bahasa Indonesia yang ditelusuri melalui mesin pencari data www.google.co.id pada Sabtu, 3 Mei 2008. Setiap nama penyair ditelusuri dengan kata kunci “nama penyair” dan “penyair” (melalui web dan halaman Indonesia) dan kemudian disusun peringkat berdasarkan data perkabaran tertingginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misal, jajak data perkabaran penyair Fulan:&lt;br /&gt;Klik: Fulan - Penyair melalui web berjumlah 150&lt;br /&gt;Klik: Fulan - Penyair melalui halaman Indonesia berjumlah 300&lt;br /&gt;Maka, data perkabaran tertinggi penyair Fulan adalah 300&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tata-cara demikian jajak ini dilakukan dan 10 Peringkat The Google Poet 2008 adalah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. &lt;strong&gt;Hasan Aspahani&lt;/strong&gt; (lahir di Sei Raden, Kalimantan Timur pada 1971) &lt;br /&gt;2. Arif B. Prasetyo (lahir di Madiun, Jawa Timur pada 1971) &lt;br /&gt;3. Nanang Suryadi (lahir di Serang, Banten pada 1973) &lt;br /&gt;4. Wayan Sunarta (lahir di Denpasar, Bali pada 1975) &lt;br /&gt;5. Dino F. Umahuk (lahir di Capalulu, Maluku Utara pada 1974) &lt;br /&gt;6. Binhad Nurrohmat (lahir di pedalaman Lampung pada 1976) &lt;br /&gt;7. Raudal Tanjung Banua (lahir di Lansano, Sumatera Barat pada 1975) &lt;br /&gt;8. Marhalim Zaini (lahir di Bengkalis, Riau pada 1978) &lt;br /&gt;9. Riki Dhamparan Putra (lahir di Gunung Talamau, Sumatera Barat pada 1975) &lt;br /&gt;10. Zen Hae (lahir di Jakarta pada 1970) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;The Google Poetry 2008&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;The Google Poetry 2008 adalah 10 peringkat tertinggi hasil jajak data perkabaran buku-buku kumpulan puisi tunggal dalam bahasa Indonesia karya penyair Indonesia kelahiran dasawarsa 1970 yang ditelusuri melalui mesin pencari data www.google.co.id pada Sabtu, 3 Mei 2008. Setiap judul buku kumpulan puisi ditelusuri dengan kata kunci “judul kumpulan puisi” dan “nama penyairnya” (melalui web dan halaman Indonesia) dan kemudian disusun peringkat berdasarkan data perkabaran tertingginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misal, jajak data perkabaran buku kumpulan puisi Denyar Syair karya Fulan:&lt;br /&gt;Klik: Denyar Syair - Fulan melalui web berjumlah 300&lt;br /&gt;Klik: Denyar Syair - Fulan melalui halaman Indonesia berjumlah 100&lt;br /&gt;Maka, data perkabaran tertinggi buku kumpulan puisi Denyar Syair  adalah 300&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tata-cara demikian jajak ini dilakukan dan 10 Peringkat The Google Poetry 2008 adalah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. &lt;strong&gt;Orgasmaya &lt;/strong&gt;(2007) karya Hasan Aspahani &lt;br /&gt;2. Pada Lingkar Putingmu (2005) karya Wayan Sunarta &lt;br /&gt;3. Metafora Birahi Laut (2008) karya Dino F. Umahuk &lt;br /&gt;4. Telah Dialamatkan Padamu (2002) karya Nanang Suryadi &lt;br /&gt;5. Mahasukka (2000) karya Arif B. Prasetyo &lt;br /&gt;6. Paus Merah Jambu (2007) karya Zen Hae &lt;br /&gt;7. Ekspedisi Waktu (2004) karya Indra Tjahyadi &lt;br /&gt;8. Bau Betina (2007) karya Binhad Nurrohmat &lt;br /&gt;9. Ngaceng (2007) karya Mashuri &lt;br /&gt;10. Kuda Ranjang (2004) karya Binhad Nurrohmat &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-7289034816445234337?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/7289034816445234337/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=7289034816445234337' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/7289034816445234337'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/7289034816445234337'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/05/google-poet-poetry-2008.html' title='The Google Poet &amp; Poetry 2008'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-7291500956457104235</id><published>2008-05-07T22:27:00.007+08:00</published><updated>2008-12-10T19:04:00.591+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kolom'/><title type='text'>Kennedy, Kekuasaan, dan Puisi</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_wBF3FgfDPDw/SCG9082vSzI/AAAAAAAAAT0/B-00Z79OslI/s1600-h/robert_frost.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_wBF3FgfDPDw/SCG9082vSzI/AAAAAAAAAT0/B-00Z79OslI/s200/robert_frost.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5197644162348829490" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_wBF3FgfDPDw/SCG9ss2vSyI/AAAAAAAAATs/4X8lEeHMkj4/s1600-h/jb_modern_kennedy_1_e.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_wBF3FgfDPDw/SCG9ss2vSyI/AAAAAAAAATs/4X8lEeHMkj4/s200/jb_modern_kennedy_1_e.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5197644020614908706" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DI depan para anggota perkumpulan alumni Harvard, di Cambridge, Massachusetts, 14 Juni 1956, seorang anggota senat Amerika Serikat berusia 39 tahun berkata, "jika lebih banyak politisi yang tahu puisi, dan lebih banyak penyair tahu politik, saya yakin dunia akan menjadi tempat hidup yang sedikit lebih baik." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Tujuh tahun kemudian orang yang sama, tetapi kala itu telah menjadi Presiden Amerika Serikat yang ke-35 berkata, "ketika kekuasaan membawa manusia mendekati arogansi, puisi mengingatkan kepada keterbasannya. Ketika kekuasaan mendangkalkan wilayah kepedulian manusia, puisi mengingatkan betapa kaya keberagaman eksistensi. Ketika kekuasaan menyimpang, puisi membersihkannya. " &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dia, John F Kennedy, berpidato seperti itu ketika meresmikan Perpustakaan Robert Frost, di Amherst College, 26 Oktober 1963, sembilan bulan setelah kematian sang penyair. Kalimat itu lantas dikutip dalam berita The New York Times sehari kemudian. Penyair itulah yang membaca puisi tepat sehabis pidato pertama Kennedy, setelah sang presiden dilantik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Frost, lengkapnya Robert Lee Frost (1874- 1963) adalah salah seorang penyair Amerika  terbesar. Ia menulis tentang  kehidupan pedesaan di New England, wilayah  timur laut Amerika Serikat. Ia menyajakkan kuda, salju, hutan yang dikurung salju dan keterpukauan si penunggang kuda pada pemandangan kampung bertudung salju. Ia juga menuliskan  tema-tema sosial dan filsafat.  Frost empat kali menerima penghargaan Pulitzer, sebuah penghargaan yang kemudian mengilhami berbagai helat serupa di berbagai negara lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pidato Kennedy itu sering dikutip ketika orang bicara tentang politik dan puisi. Meski sering diselewengkan terjemahannya. Kutipan itu lebih bermakna ketika dibaca lengkap dengan kalimat lanjutannya. Begini: ... adalah nyaris sebuah kebetulan bahwa Robert Frost mengawinkan puisi dan kekuasaan, karena dia melihat puisi sebagai upaya menyelamatkan kekuasaan dari kekuasaan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tak berselang sebulan setelah pidatonya itu, pada tanggal 22 November 1963, Kennedy ditembak. Dan mati. Dor, dengan sebuah peluru, sebuah kekuatan sedang mengotori politik Amerika. Tapi Frost saat itu tak ada lagi untuk menuliskan puisi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tapi buat apa puisi? Bisakah ia membersihkan kekotoran politik dan kekuasaan seperti yang diyakini oleh Kennedy? Saya kira banyak politisi kita akan menjawab dengan cibiran. Puisi? Apa itu? Cuma pekerjaan para penyair yang kelak mati dan matinya pun iseng sendiri.  Mungkin karena itu Soesilo Bambang Yudhoyono lebih memilih jaket kulit hitam lalu menghafal lagu Zamrud "Pelangi di Matamu" dan berkampanye dengan lagu itu. Politikus lain berjoget campur sari. Tidak ada yang memilih untuk menghafal sajak Chairil atau Rendra atau Sutardji. Di tengah massa yang berhimpit, lagu dan musik bisa melenakan, membuat lupa, dan ketika itu janji-janji kampanye diucapkan tanpa sempat diingat. Itulah sebabnya Rano Karno mengajak Dewi Persik untuk mengumpulkan massa di saat kampanyenya, meski setelah menang si ratu goyang ... ah entah goyang apa namanya... dicekal di Kota Tangerang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kekuasaan politik di Indonesia saat ini tampaknya tidak memerlukan sesuatu dari luar dirinya, sesuatu yang bisa mengingatkan, membersihkan dan meluruskan. Dengan kata lain, peduli amat sama Kennedy, politik tidak perlu puisi. Penyair dan puisinya adalah musuh politik. Dan apapun yang dianggap sebagai musuh harus diberangus. Ingat, saat ini sudah ada wacana di DPR agar Komisi Pemberantasan Korupsi dihapuskan saja. Ketika KPK hendak menggeledah  ruang kerja anggota DPR yang hendak dibuktikan tindakan kotornya, bahkan sang ketua DPR menghalang-halangi dulu, sebelum akhirnya terpaksa mengizinkan.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ketika puisi bermusuhan dengan politik saya kira itu jauh lebih baik daripada politik itu memanglimakan diri di hadapan puisi. Dan itu pernah terjadi atau hendak dijadikan di Indonesia. Semua harus menghamba pada politik. Semua memperbudakkan diri  pada politik. Kennedy menolak penghambaan itu.  "Kita jangan sampai lupa bahwa seni bukan sebentuk propaganda. Seni adalah sebentuk kebenaran," katanya, lalu ia sindir Stalin,  " di masyarakat yang bebas, seni bukan senjata dan seni tidak pernah menjadi alat ideologi  Seniman bukan insinyur jiwa manusia." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kennedy, dengan pidatonya yang dikenang abadi itu, mungkin gagal mengingatkan pada politisi sesudahnya. Saya kira George W Bush tidak baca puisi. Tetapi puisi dan penyair di Amerika bisa maksimal memberdayakan perannya membersihkan politik dan berbagai bidang kehidupan lain di sana. Allen Ginsberg menentang perang Vietnam dengan puisi-puisinya. Dan para tahanan di penjara Abu Ghraib menulis puisi untuk kemudian diterbitkan sebagai sebuah cara meperingatkan betapa ada kezaliman disana, dan itu  pasti tidak sia-sia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Penyair, sekali lagi kita dengar Kennedy, dengan terus berpegang dengan komitmen pada kebenaran,  sesungguhnya telah juga memberikan hal terbaik untuk negaranya. Ia mengutip Frost,  negara yang memberikan keleluasaan kepada penyair sesungguhnya membuka jalan agar siapa pun di negara itu bisa "melihat ke masa lalu dengan bangga, dan menatap ke masa depan dengan penuh harapan."***  &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-7291500956457104235?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/7291500956457104235/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=7291500956457104235' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/7291500956457104235'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/7291500956457104235'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/05/kennedy-kekuasaan-dan-puisi.html' title='Kennedy, Kekuasaan, dan Puisi'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_wBF3FgfDPDw/SCG9082vSzI/AAAAAAAAAT0/B-00Z79OslI/s72-c/robert_frost.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-7386459789330108118</id><published>2008-05-03T22:57:00.003+08:00</published><updated>2008-12-10T19:04:00.841+08:00</updated><title type='text'>Jurnalistik Enam Jam di UIB</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_wBF3FgfDPDw/SBx-u2zWg6I/AAAAAAAAATk/NoeMxvwTmUE/s1600-h/Batam+Pos+beri+platihan+UIB2+f,Yusuf.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_wBF3FgfDPDw/SBx-u2zWg6I/AAAAAAAAATk/NoeMxvwTmUE/s200/Batam+Pos+beri+platihan+UIB2+f,Yusuf.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5196167413528691618" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_wBF3FgfDPDw/SBx9-mzWg5I/AAAAAAAAATc/C_GdShhkT9Y/s1600-h/Batam+Pos+beri+platihan+UIB1+f,Yusuf.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_wBF3FgfDPDw/SBx9-mzWg5I/AAAAAAAAATc/C_GdShhkT9Y/s200/Batam+Pos+beri+platihan+UIB1+f,Yusuf.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5196166584600003474" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;break&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koordinator Liputan Batam Pos Muhamad Iqbal, fotografer M Yusuf, Penata Wajah Helmi "ucok" Yunus, dan Pimred Magang Hasan Aspahani, mengajar jurnalistik kepada mahasiswa dan dosen UIB.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-7386459789330108118?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/7386459789330108118/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=7386459789330108118' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/7386459789330108118'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/7386459789330108118'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/05/jurnalistik-enam-jam-di-uib.html' title='Jurnalistik Enam Jam di UIB'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_wBF3FgfDPDw/SBx-u2zWg6I/AAAAAAAAATk/NoeMxvwTmUE/s72-c/Batam+Pos+beri+platihan+UIB2+f,Yusuf.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-3114822920391861361</id><published>2008-05-02T23:58:00.003+08:00</published><updated>2008-05-02T23:59:48.378+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kolom'/><title type='text'>Gelman, Macarena, dan Cervantes</title><content type='html'>Pulanglah, Nak, Pulang/ Sebab mesti kukabarkan kematianmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebait sajak di atas ditulis oleh Juan Gelman. Kita bisa mengerti bagaimana bait itu lahir setelah membaca sekilas riwayat hidupnya. Ia lahir di Buenos Aires, di kawasan Villa Crespo, 3 Mei 1930. Dia anak ketiga dari imigran Rusia-Yahudi. Pada umur tiga tahun dia sudah belajar membaca. Seperti bocah lelaki kebanyakan dia menghabiskan masa kanak dengan bersepeda, main bola, dan membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak 1956, dia telah menerbitkan lebih dari 20 buku. Dan pada bulan April 2008, namanya diumumkan sebagai penerima Hadiah Cervantes 2007, sebuah penghargaan sastra dari Kerajaan Spanyol untuk karya-karya yang ditulis dalam bahasa Spanyol. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia dinilai layak mendapat penghargaan itu "untuk keteguhan komitmennya pada puisi, dimana keadilan dan perdamaian di dunia menjadi perhatian utamanya sebagai penyair". Dan bagi Gelman penghargaan senilai lebih dari Rp1 miliar itu, telah membela dan mempertahankan puisi agar tetap bertahan sebagai "pohon gugur daun yang bisa menaungi".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelman adalah sastrawan Argentina keempat yang menerima hadiah serupa, setelah Sabato (1979), Jorge Luis Borges (1984) dan Adolfo Bioy Casares (1990). Tahun ini Gelman mengalahkan para kandidat lain Nicanor Parra (Chile), Mario Benedetti (Uruguay), Blanca Varela (Peruvia) , Fina Garcia Marruz (Kuba) dan tiga nama dari Meksiko Elena Poniatowska, Margo Glanz , Jose Emilio Pacheco. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sajaknya bertema kekayaan budaya Yahudi, keluarga, Argentina, keterusiran dan tango. Sajaknya merayakan kehidupan tetapi juga menyentuh dengan komentar-komentar sosial dan politik, refleksi dari kepedihannya sendiri akibat terlindas mesin politik di negerinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketertarikan pada puisi telah terbangun pada dirinya sejak usia dini. Ada lahir anekdot pada kurun usia kanaknya itu. Pada usia 11 atau 12, Gelman kerap mengigaukan puisi. Puisi yang ia rasakan luar biasa, yang sayangnya ketika ia bangun, tak sebait pun yang bisa ia ingat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hari ini kita berkumpul di sini, untuk memastikan sekali lagi, bahwa puisi Anda bukan mimpi, tetapi kenyataan yang dahsyat, bergerak, dan tak terlupakan," kata Raja Spanyol Juan Carlos ketika menyerahkan medali simbol Hadiah Cervantes di Alcala De Henares, tempat kelahiran Miguel de Cervantes Saavedra, sang pengarang "Don Quixote" itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada usia delapan tahun ia sudah membaca karya Dostoevsky 'The Insulted and Humiliated'. Ketika remaja dia bergabung dengan beberapa komunitas sastra dan kemudian mendapatkan pekerjaan penting sebagai wartawan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai tahun 1975, dia menjadi aktivis politik yang gigih dan terlibat jauh dengan Mononeros, walaupun kemudian dia menjarakkan diri dengan kelompok itu. Setelah kudeta di tahun 1976, dia terpaksa melarikan diri dari Argentina, menjadi kaum eksilan, selama duabelas tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1976, anaknya Marcelo dan menantunya yang sedang hamil, Maria Claudia diculik, disembunyikanentah di mana dan kemudian mati dieksekusi. Dua orang terkasih yang hilang bersama ribuan orang yang dihabisi tanpa jejak selama rejim militer berkuasa di Argentina. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menetap di Eropa hingga tahun 1988, dan ketika ia kembali ke Argentina dia bekerja untuk surat kabar terbitan Buenos Aires Pagina 12. Tahun 1997, Gelman menerima Hadiah Puisi Nasional Argentina, sebagai pengakuan atas karya sastranya. Saat ini ia tinggal Meksiko bersama istrinya dan tetap menulis untuk Pagina 12.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya sudah mati berulang kali, dan lebih menderita lagi ketika mendengar berita kawan dan kerabat saya yang terbunuh dan hilang," ujar lelaki berambut kelabu, berbicara lembut dan bermata sedih ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tahun kemudian di tahun 2000 di Uruguay, ia menemukan cucunya yang sempat dilahirkan sebelum sang menantu dibunuh. Bayi itu diadopsi dan dirawat oleh seorang keluarga yang propenguasa. Macarena nama anak itu. Anak perempuan itu segera mengubah nama belakangnya menjadi Macarena Gelman, dan dia dengan bangga menjadi penyaksi dari segelintir keluarga Gelman, saat kakeknya, sang penyair menerima medali simbol anugerah Cervantes.&lt;strong&gt;[]&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-3114822920391861361?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/3114822920391861361/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=3114822920391861361' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/3114822920391861361'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/3114822920391861361'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/05/gelman-macarena-dan-cervantes.html' title='Gelman, Macarena, dan Cervantes'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-7061919315229232492</id><published>2008-04-23T17:32:00.002+08:00</published><updated>2008-12-10T19:04:01.126+08:00</updated><title type='text'>Tifatul Sembiring di Batam Pos</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_wBF3FgfDPDw/SA8EGmzWg3I/AAAAAAAAATM/iXJjdJGP30c/s1600-h/diskusi.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_wBF3FgfDPDw/SA8EGmzWg3I/AAAAAAAAATM/iXJjdJGP30c/s320/diskusi.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5192373406923129714" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-7061919315229232492?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/7061919315229232492/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=7061919315229232492' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/7061919315229232492'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/7061919315229232492'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/04/tifatul-sembiring-di-batam-pos.html' title='Tifatul Sembiring di Batam Pos'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_wBF3FgfDPDw/SA8EGmzWg3I/AAAAAAAAATM/iXJjdJGP30c/s72-c/diskusi.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-3451497896804798625</id><published>2008-04-23T15:57:00.002+08:00</published><updated>2008-04-23T16:08:34.546+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kolom'/><title type='text'>Ujian Nasional dan Evaluasi  Belajar</title><content type='html'>SEBAGAIMANA orang yang normal pendidikannnya saya tiga kali mengikuti ujian nasional. Dulu namanya Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional, disingkat Ebtanas. Ebtanas Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ebtanas? Kedengarannya manis dan tidak menyeramkan. Coba perhatikan: evaluasi belajar. Bukan ujian. Jadi hasil belajar saya dulu selama enam tahun di SD, tiga tahun di SMP, dan tiga tahun di SMA, dievaluasi, bukan diujikan.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Evaluasi, mungkin padanannya yang pas adalah ditinjau. Hasilnya adalah kita jadi tahu apa-apa saja yang sudah kita dapatkan selama belajar. Intinya: mengetahui apa yang sudah didapatkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kalau diuji, maka kesannya adalah ingin mengetahui seberapa banyak pelajaran yang sudah dikuasai atau seberapa mampukah kita menyerap semua pelajaran.  Penguasaan dan kemampuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Setelah Ebtanas saya dapat Daftar Nilai Ebtanas Murni (NEM) selain Ijazah. SMA tertentu menetapkan NEM minimal bagi tamatan SMP yang masuk. Modal NEM SMP saya lumayanlah, saya bisa masuk SMA yang baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Meskipun  tujuannya sama saja sebenarnya. Nilai yang saya dapat setelah  dievaluasi menurut saya menunjukkan bahwa saya bisa mengingat sekian persen pelajaran. Nilai yang saya dapat dalam ujian rasanya kok seperti menilai kemampuan saya menguasai pelajaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pendidikan di Indonesia sampai hari ini rasanya belum benar-benar menemukan bentuknya yang ideal bagi semua orang. Masih juga ada kritik di sana-sini, masih juga ada ejekan "ganti menteri ganti kurikulum." Ganti kabinet ganti sistem pelajaran. Nyatanya memang begitu. Saya berpikiran baik sajalah. Pergantian itu pasti untuk mengganti yang buruk dengan sesuatu yang baru dan lebih baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sekarang murid SD sampai SMA dihadapkan pada Ujian Akhir Nasional. Nilai kelulusan dipertinggi. Mata pelajaran yang diujiannasionalkan diperbanyak. Kesan mudahnya, anak murid sekarang semakin sulit lulus. Seingat saya Wakil Presiden Jusuf Kalla paling getol membela sistem ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ini cerita dari Bapak saya. Dia kelahiran tahun 1945. Ketika SR katanya, semua murid tamat belajar setelah enam tahun. Semua murid dapat Surat Tamat. Lantas murid yang ingin melanjutkan harus ikut ujian kelulusan. Bila lulus ya dapat Surat Lulus. Dengan modal surat lulus, tanpa tes lagi, si murid berhak melanjutkan ke mana saja. Seangkatan Bapak saya, kata beliau, dari semua murid yang tamat hanya beberapa orang yang ikut ujian dan tiga orang yang lulus, termasuk beliau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saya belum pernah tidak lulus. Saya tidak tahu bagaimana rasanya tidak lulus itu. Tapi sekarang yang saya tangkap orangtua malu kalau anaknya tidak lulus. Lantas apapun dilakukan supaya anaknya lulus. Maka saya pun agak heran juga melihat berita di televisi, tentang berbagai persiapan menjelang Ujian Nasional. Di sebuah kota di Jawa ada yang menggelar istigosah, berdoa bersama agar dihapuskan dosa supaya tenang mengikuti ujian. Wah, anak-sanak sekolah sekarang apa sudah pada penuh dosa ya? Di Batam juga ada doa bersama, dihibur pula dengan orkes Debu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Waktu SD, saya dan teman-teman saya ujian eh Ebtanas di sekolah lain. Istilahnya dirayonkan. Yang mengawas guru dari sekolah lain. Gugupkah saya? Ah, biasa-biasa saja. Kebiasaan saya sejak SD ketika ujian adalah keluar lebih dahulu, menyelesaikan ujian lebih cepat dari peserta ujian lain. Ini tindakan sembrono memang. Setelah menyelesaikan jawaban soal, saya akan memeriksa sekali lagi, dan setelah itu saya tidak betah lagi. Saya keluar saja. Soalnya saya sering dimintai jawaban oleh teman-teman saya. Lho, padahal jawaban saya belum tentu betul. Soal-soal yang tidak bisa saya jawab ya saya kosongkan. Salah saya sendiri kenapa tidak bisa. Saya kira saya jujur dengan bentindak demikian. Toh, tujuan ujian itu adalah mengetahui seberapa banyak pelajaran yang saya bisa ingat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kebiasaan keluar ujian lebih cepat dari orang lain terbawa hingga kuliah dengan tambahan beberapa variasi tindakan. Saya misalnya suka datang terlambat sedikit, atau pas saat masuk. He he. Satu lagi saya suka duduk di deretan kursi paling depan, bila ujiannya tidak memakai nomor dan saya tidak harus duduk di kursi bernomor yang sudah ditentukan. Kenapa di depan? Hmmm soalnya rasanya gagah. Lagi pula kalau duduk di belakang saya akan dicurigai suka mencontek. O, maaf, saya tidak bilang Anda yang suka duduk ujian di depan adalah orang yang suka mencontek. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Akhirnya, saya setuju bahwa sebuah proses belajar harus ditinjau ah apapun namanya diuji. Tujuannya satu: berhasilkah proses itu? Adakah yang salah pada proses itu? Ini bukan gengsi-gengsian. Dan bukan malu-maluan. Kalau rata-rata nilai ujian atau tingkat kelulusan di suatu dareah jelek, pasti ada yang salah pada sistem atau pada pelaksaan pendidikan  di situ. Nah, temukanlah kesalahan itu, perbaikilah. ***  &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-3451497896804798625?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/3451497896804798625/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=3451497896804798625' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/3451497896804798625'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/3451497896804798625'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/04/ujian-nasional-dan-evaluasi-belajar.html' title='Ujian Nasional dan Evaluasi  Belajar'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-772532223581408763</id><published>2008-04-22T17:23:00.004+08:00</published><updated>2008-04-22T17:29:24.974+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jurnalistik'/><title type='text'>Tertib dengan Bahasa Asing</title><content type='html'>&lt;blockquote&gt;PEMAKAIAN kata dari bahasa asing dalam Bahasa Indonesia tidak perlu dihindari. Tetapi harus ditertibkan. Kenapa tidak perlu dihindari? &lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh &lt;strong&gt;Hasan Aspahani&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pertama, terutama dalam kutipan langsung, sumber berita kita sangat suka memakai kutipan berbahasa asing. Mungkin karena kebiasaan, atau mungkin untuk gagah-gagahan supaya orang tahu dia pandai bahasa asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, banyak istilah yang belum diindonesiakan. Perkembangan teknologi ternyata jauh lebih cepat daripada kemampuan Bahasa Indonesia untuk mengikuti dengan menyediakan istilah-istilah baku. Ini terjadi misalnya dalam teknologi komputer dan komunikasi. Baru tahun ini Microsoft dan pusat bahasa bekerja sama membakukan istilah-istilah TI dalam Bahasa Indonesia. Proyek itu belum selesai. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bagaimana menertibkan pemakaian kata asing dalam berita kita? Ada beberapa hal yang harus diperhatikan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Ketika bertemu kata asing, pertama kita harus bertanya adakah padanannya dalam Bahasa Indonesia? Kalau ada, pakai padanannya itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Misalnya: Perkembangan dunia properti di Batam hingga pertengahan tahun 2005 bisa membuat pengembang berlapang dada. &lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Properti' sudah diserap ke dalam Bahasa Indonesia dari Bahasa Inggris &lt;em&gt;'property' &lt;/em&gt;. Kata ‘pengembang’ adalah terjemahan dari &lt;em&gt;'developer'&lt;/em&gt;.  Hindari memakai developer karena sudah ada kata ‘pengembang’. Kecuali dalam kutipan ucapan langsung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kalau padanannya belum &lt;em&gt;ngetop &lt;/em&gt; malah lebih popular kata asingnya maka pakai dua-duanya. Hitung-hitung sebagai amal ibadah memperkenalkan kata itu kepada pembaca. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;blockquote&gt;  Misalnya begini: a) Data-data itu bisa diunduh &lt;em&gt;(download)&lt;/em&gt; di situs gratisan.&lt;/blockquote&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kalau pemakaian kata asing itu tidak bisa dihidari, maka pakailah dan ikuti aturan EYD. Kata asing selalu ditulis miring. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;blockquote&gt; Misalnya: “&lt;em&gt;Saya wait and see &lt;/em&gt;saja, tak perlu buru-buru,” kata Aries Kurniawan. &lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. EYD sudah mengatur tata tertib menyerap kata asing. Baca &lt;strong&gt;Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan &lt;/strong&gt;(Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1997) Bab IV halaman 26-38. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       &lt;blockquote&gt;Misalnya: &lt;em&gt;Cartoon &lt;/em&gt;(Inggris) menjadi ‘kartun’, &lt;em&gt;komfoor &lt;/em&gt;(Belanda) menjadi ‘kompor’.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Kata asing yang didahului oleh awalan dan atau akhiran cara menulisnya tetap dimiringkan.  Awalan dan akhirannya tetap tegak dan diberi tanda hubung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Misalnya: di-&lt;em&gt;uppercut&lt;/em&gt;, pen-&lt;em&gt;tackle&lt;/em&gt;-an.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Terakhir, jangan jauh-jauh dari kamus. Yang lebih penting lagi, jangan malas membukanya. Belajarlah bagaimana cara membaca kamus. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-772532223581408763?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/772532223581408763/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=772532223581408763' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/772532223581408763'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/772532223581408763'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/04/tertib-dengan-bahasa-asing.html' title='Tertib dengan Bahasa Asing'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-2283360985242288658</id><published>2008-04-22T16:13:00.003+08:00</published><updated>2008-04-22T16:26:22.949+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jurnalistik'/><title type='text'>Lead Dua Berita di Lima Media</title><content type='html'>Pengantar:&lt;br /&gt;Pada hari yang sama, Selasa 17 Mei 2005, hampir semua media di Indonesia memuat dua berita yang sama di halaman satu. Pertama berita penembakan Brimb di Maluku dan penggantian Direktur Utama Bank Mandiri. Menarik untuk membandingkan kepala berita (lead) kedua berita itu beberapa koran. Saya mengumpulkan dari lima media. Saya tidak memberi ulasan. Silakan bandingkan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh &lt;strong&gt;Hasan Aspahani&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;A. Lead Berita Penembakan Brimob&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;1. AMBON (Media): Lima personel Brimob yang bertugas di desa Loki, Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku, dan dua warga sipil tewas dalam sebuah serangan kelompok tidak dikenal yang mengendarai kapal cepat dini hari kemarin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;em&gt;5 Personel Brimob Tewas Diserang&lt;/em&gt;, &lt;strong&gt;Media Indonesia&lt;/strong&gt;, Selasa, 17 Mei 2005).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. AMBON, KOMPAS - Pos Satuan Brigade Mobil Kalimantan Timur di Dusun Wailisa, Desa Loki, Kecamatan Piru, Seram Bagian Barat, diserang massa tak dikenal Senin (16/5) sekitar pukul 03.00. Akibatnya, lima anggota brimob tewas seketika. Serangan itu juga menewaskan seorang warga setempat dan seorang yang diduga kelompok penyerang. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;(&lt;em&gt;Pos Brimob Diserang&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Tujuh Orang Diserang&lt;/em&gt;, &lt;strong&gt;Kompas&lt;/strong&gt;, Selasa, 17 Mei 2005)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. POS Brimob bawah kendali operasi (BKO) Kalimantan Timur di Desa Loki, Kecamatan Piru, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), Maluku, mendadak diserang kelompok tak dikenal. Penyerangan berlangsung Senin (16/5) sekitar pukul 03.00 WIT. Lima anggota Brimob dan seorang sipil yang membantu di pos tersebut tewas. Seorang penyerang juga tewas. Selain itu, seorang anggota Brimob terluka.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;em&gt;Tujuh Tewas Saat Pos Brimob Diserang&lt;/em&gt;, &lt;strong&gt;Republika&lt;/strong&gt;, Selasa, 17 Mei 2005)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. AMBON - Pos Brigade Mobil di perbatasan antara Desa Loki dan Dusun Ketapang, Kecamatan Piru, Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku, mendapat serangan tiba-tiba dari kelompok tak dikenal pada pukul 03.00 Waktu Indonesia Timur kemarin. &lt;br /&gt;   Lima anggota Brimob yang tengah terlelap dan seorang warga sipil yang menjadi koki di pos itu tewas. Dari pihak penyerang, seorang tewas terkena tembakan balasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;em&gt;Pos Brimob Diserang&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;7 Orang Tewas&lt;/em&gt;, &lt;strong&gt;Koran Tempo&lt;/strong&gt;, Selasa, 17 Mei 2005)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. KOMPLOTAN bersenjata api yang menyerang markas Brimob di Desa Loki, Kecamatan Piru, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), sangat mungkin terlatih dan profesional. Sebab, lima anggota Brimob yang tewas dalam penyerangan pada pukul 03.00 WIT kemarin itu rata-rata tertembak di bagian kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;em&gt;Lima Brimob Tewas Ditembak&lt;/em&gt;, &lt;strong&gt;Batam Pos&lt;/strong&gt;, Selasa, 17 Mei 2005)&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;B. Lead Berita Penggantian Dirut Bank Mandiri&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;1. JAKARTA (Media): Rapat umum pemegang saham (RUPS) Bank Mandiri, kemarin, menyetujui Agus Martowardojo menjadi Direktur Bank Mandiri menggantikan ECW Neloe. Sedangkan mantan Kepala Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPP) Edwin Gerungan ditetapkan sebagai komisaris utama menggantikan Binhadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;em&gt;Agus Martowardojo Gantikan Neloe&lt;/em&gt;, &lt;strong&gt;Media Indonesia&lt;/strong&gt;, Selasa, 17 Mei 2005)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Jakarta, Kompas - Rapat Umum Pemegang Saham Bank Mandiri, Senin (16/5), menyetujui penunjukan Agus Martowardojo sebagai direktur utama, menggantikan Eduard Cornelis William Neloe, yang kini berstatus tersangka dalam kasus kredit berindikasi pidana. Seluruh anggota komisaris diganti dan rapat menyetujui pengangkatan Edwin Gerungan sebagai komisaris utama menggantikan Binhadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;em&gt;Agus Martowardojo Dirut Bank Mandiri &lt;/em&gt;, &lt;strong&gt;Kompas&lt;/strong&gt;, 17 Mei 2005)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. JAKARTA - Direktur Utama terpilih Bank Mandiri, Agus Martowardojo, siap mendukung pemeriksaan kredit macet di bank tersebut. Pihaknya, papar Agus, akan memberikan data-data yang diperlukan Kejaksaan Agung jika memang diminta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;em&gt;Agus Siap Berikan Data Kasus Mandiri&lt;/em&gt;, &lt;strong&gt;Republika&lt;/strong&gt;, 17 Mei 2005).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. JAKARTA - Rapat Umum Pemegang Saham PT Bank Mandiri Tbk. kemarin menetapkan Agus Martowardojo sebagai direktur utama, menggantikan E.C.W Neloe. Sementara itu, Edwin Gerungan menjadi komisaris utama menggantikan Binhadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;em&gt;Neloe Lengser, Agus Naik&lt;/em&gt;, &lt;strong&gt;Koran Tempo&lt;/strong&gt;, Selasa, 17 Mei 2005)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Agus Martowardojo terpilih menjadi direktur utama (Dirut) PT Bank Mandiri. Dia menggantikan E.C.W Neloe yang kini berstatus sebagai tersangka dalam skandal kredit macet berilai triliunan rupiah di bank plat merah terbesar itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;em&gt;Agus Dirut Mandiri&lt;/em&gt;, &lt;strong&gt;Batam Pos&lt;/strong&gt;, Selasa, 17 Mei 2005). &lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-2283360985242288658?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/2283360985242288658/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=2283360985242288658' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/2283360985242288658'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/2283360985242288658'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/04/lead-dua-berita-di-lima-media.html' title='Lead Dua Berita di Lima Media'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-4580366646988122959</id><published>2008-04-22T15:54:00.004+08:00</published><updated>2008-04-22T16:06:56.735+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='reportase'/><title type='text'>Dari "Preman" ke "Lampu Merah"</title><content type='html'>&lt;blockquote&gt;INI feature saya tentang suratkabar &lt;em&gt;Lampu Merah &lt;/em&gt;yang fenomenal itu. Saya menulis untuk tugas Kursus Jurnalisme Sastrawi, Yayasan Pantau, 2005 lalu.  Janet Steele menyukai tulisan saya ini dan bilang hendak menerjemahkannya ke Bahasa Inggris. &lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh &lt;strong&gt;Hasan Aspahani&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp&lt;br /&gt;     ADA tujuh unit komputer di meja melingkar itu. Gatot Wahyu (32) mendampingi penata wajah di salah satunya. Delapan berita sudah tertata rapi lengkap dengan foto dan judulnya. Tinggal berita utama yang belum diberi judul. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp "Katanya supaya pinter azan," kata Arif, editor berita yang bekerja di komputer lain. Masih di meja yang sama. Sementara redaktur lain bekerja di empat meja lainnya. &lt;br /&gt;&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp    "Jangan pakai azan. Sensitif," kata Gatot sambil mengerai-geraikan rambutnya yang kini sebahu. Jam 19.00 adalah tenggat untuk halaman terakhir Lampu Merah. Salah satu dari dua telepon genggam yang tergantung di leher Gator berdering. Dari percetakan.&lt;br /&gt;&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp    "Sebentar lagi, ya.  Tinggal halaman satu kok," ujar Gatot. Dia tak beranjak dari depan komputer. &lt;br /&gt;&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp    "Coba begini: Anak SMP Dirayu, Dijanjiin Suara Bagus. Anunya Diremas, Diusap, Disedot. Oke nggak?" kata Gatot, pria kelahiran  Jakarta itu. &lt;br /&gt;&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp   "Kalau disedot diganti diisap-isap gimana, Mas?" kata Arif yang kini bergabung di komputer yang sama. &lt;br /&gt;&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp   "Coba ganti. Diisap sama disedot beda, ya?" kata Gatot. &lt;br /&gt;&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp    Selesai penggantian judul itu, file halaman dalam bentuk PDF langsung dikirim lewat ke dua percetakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt; &amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp   Bagi  &lt;em&gt;Lampu Merah &lt;/em&gt;judul adalah segalanya. Di grup &lt;em&gt;Jawa Pos&lt;/em&gt;, inilah koran yang termasuk paling cepat melejit. Diterbitkan sejak 26 November 2001, dengan tiras coba-coba 30 ribu. Enam bulan sejak itu tirasnya mencapai 180 ribu. Itulah angka tertinggi yang pernah dicapai &lt;em&gt;Lampu Merah&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp    "Sekarang 108 ribu," kata Gatot. Petang Senin (10/1) di kedai kopi tepat di depan Graha Pena. Kedai itu tempat dia ngobrol dengan awak redaksinya. Rapat redaksi pun kerap digelar di sana. &lt;br /&gt;&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp    Tiras 108 ribu adalah angka tertinggi sejak sempat anjlok di bulan puasa lalu ke angka 70 ribu.  Jumlah terendah itu sempat membuat Gatot ketar-ketir. &lt;br /&gt;&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp    "Akhirnya kita ya balik lagi ke judul-judul panjang, kayak waktu pertama-pertama  terbit dulu. Kita memang sempat bosan juga, sih," ujarnya.  &lt;br /&gt;&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp    Soal judul panjang yang jadi salah satu kekuatan &lt;em&gt;Lampu Merah&lt;/em&gt;, sering menjadi olok-olok yang kerap diterima awak redaksi yang berkantor di Graha Pena Lantai 9, Kebayoran Lama. Dengan membaca judulnya saja, orang sudah tahu isi beritanya.&lt;br /&gt;&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp    "Ya, nggak apa-apa. Yang penting orang beli. Mau dibaca judulnya aja, atau mau dibaca isinya terserah. Tapi, saya yakin orang akan membaca isinya," kata Gatot. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp    Pria beranak satu ini kini mengendalikan nyaris seluruh operasional redaksi, sejak Imam "Ipung" Sumarsono, General Manager,  harus berkonsentrasi di Surabaya. Di kota tempat kapal induk Jawa Pos Grup berjangkar itu,  &lt;em&gt;Lampu Merah  &lt;/em&gt;menerbitkan koran dengan konsep yang sama. Namanya &lt;em&gt;Rek Ayo Rek. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp    Gatot kini dipercaya sebagai Redaktur Eksekutif. Jabatan setingkat Pemimpin Redaksi. Istilah itu biasa dipakai di surat kabar Amerika. Pemakaian nama jabatan ini tak lazim dipakai di koran lain dalam Jawa Pos Grup. Apapun nama jabatannya, Gatot masih ikut menentukan judul di halaman satu, hingga mengecek berapa tiras cetak setiap hari.  &lt;br /&gt;&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp    "Nama jabatan itu kan cuma simbol. Yang penting fungsinya," kata Gatot. Dia adalah Redaktur Eksekutif kedua membawahi 12 redaktur, sembilan reporter, lima tenaga pracetak dan dua pegrafis. Sebelumnya, dia juga pernah mengelola  &lt;em&gt;Bandung Euy &lt;/em&gt; di Bandung dengan konsep koran yang setali tiga uang dengan  &lt;em&gt;Lampu Merah &lt;/em&gt;. Koran di Bandung itu tak bertahan lama.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp    Gatot masih reporter di Rakyat Merdeka, ketika Pemimpin Umum koran itu, Margiono, mengajaknya ikut rapat, dua minggu sebelum  Lampu &lt;em&gt;Merah &lt;/em&gt;terbit.  Dia langsung dipercaya menjadi Koordinator Liputan. Dalam waktu dua minggu itu pula dia harus ikut merekrut reporter, redaktur, dan pracetak. Ketika  &lt;em&gt;Lampu Merah &lt;/em&gt; meroket, karirnya pun terangkat.&lt;br /&gt;&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp    Nama  &lt;em&gt;Lampu Merah &lt;/em&gt; pun punya cerita sendiri. Margiono saat itu menginginkan koran baru yang harus berbeda dengan koran yang sudah ada.  "Koran kriminal tapi harus jenaka, menghibur," katanya seperti dikenang Gatot. &lt;br /&gt;&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp    Margiono mengusulkan nama &lt;em&gt;Preman&lt;/em&gt;. Nama itu ditolak oleh salah seroang  peserta rapat yang mengusulkan nama lain,  yaitu &lt;em&gt;Lampu Merah&lt;/em&gt;. Alasannya dalam kata itu  terkandung banyak hal: premannya ada, tukang koran  ada, pedagang asongan ada, kemacetan ada, copet juga  ada.  &lt;br /&gt;&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp&amp;nbsp&lt;br /&gt;    "Saya lupa siapa yang waktu itu mengusulkan nama &lt;em&gt;Lampu Merah&lt;/em&gt;. Pak MG langsung setuju," kata Gatot. MG adalah sapaan Margiono.*** &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-4580366646988122959?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/4580366646988122959/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=4580366646988122959' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/4580366646988122959'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/4580366646988122959'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/04/dari-preman-ke-lampu-merah.html' title='Dari &quot;Preman&quot; ke &quot;Lampu Merah&quot;'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-6035656424841895880</id><published>2008-04-22T15:14:00.004+08:00</published><updated>2008-12-10T19:04:01.293+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='karikatur'/><title type='text'>Formasi Terakhir Slank</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_wBF3FgfDPDw/SA2SoWzWg2I/AAAAAAAAATE/t15pgzLfubs/s1600-h/slank.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_wBF3FgfDPDw/SA2SoWzWg2I/AAAAAAAAATE/t15pgzLfubs/s400/slank.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5191967167441437538" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling susah menggambar wajah Ridho. Paling gampang Abdee. Gambar dicontek dari Tempo.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-6035656424841895880?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/6035656424841895880/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=6035656424841895880' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/6035656424841895880'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/6035656424841895880'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/04/formasi-terakhir-slank.html' title='Formasi Terakhir Slank'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_wBF3FgfDPDw/SA2SoWzWg2I/AAAAAAAAATE/t15pgzLfubs/s72-c/slank.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-2296045722637758099</id><published>2008-04-21T23:42:00.005+08:00</published><updated>2008-12-10T19:04:01.491+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='karikatur'/><title type='text'>Giring "Nidji" Ganesha</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_wBF3FgfDPDw/SAy69RsK-aI/AAAAAAAAAS4/CoSiEcI552I/s1600-h/giringnidji.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_wBF3FgfDPDw/SAy69RsK-aI/AAAAAAAAAS4/CoSiEcI552I/s400/giringnidji.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5191730032334797218" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Gambar ini jadi setelah mengerahkan Snowman Marker; Snowman Drawing Pen 0,3; Zebra Milipen 0,1; Kuas Pagoda 6 (khusus untuk menghitamkan rambut); Eraser Joyko; Tinta Cina; Pensil Lyra Art Design 669 2B; Drawing Book A3 Panda No 80. Gambar diplototin dari Rolling Stone Indonesia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-2296045722637758099?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/2296045722637758099/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=2296045722637758099' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/2296045722637758099'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/2296045722637758099'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/04/giring-nidji-ganesha.html' title='Giring &quot;Nidji&quot; Ganesha'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_wBF3FgfDPDw/SAy69RsK-aI/AAAAAAAAAS4/CoSiEcI552I/s72-c/giringnidji.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-2910421174965497968</id><published>2008-04-21T23:04:00.005+08:00</published><updated>2008-12-10T19:04:01.631+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='karikatur'/><title type='text'>Dave "Foo Figther" Grohl</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_wBF3FgfDPDw/SAyxshsK-ZI/AAAAAAAAASw/7HewoSbuXDA/s1600-h/grohl.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_wBF3FgfDPDw/SAyxshsK-ZI/AAAAAAAAASw/7HewoSbuXDA/s400/grohl.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5191719848967338386" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/P&gt;&lt;br /&gt;Gambar asli dicontek dari Rolling Stone Indonesia; Kuas Pagoda nomor 2 dan 4; Milipen Zebra 0,1; Pensil Lyra 2B; Snowman Marker.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-2910421174965497968?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/2910421174965497968/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=2910421174965497968' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/2910421174965497968'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/2910421174965497968'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/04/dave-foo-figther-grohl.html' title='Dave &quot;Foo Figther&quot; Grohl'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_wBF3FgfDPDw/SAyxshsK-ZI/AAAAAAAAASw/7HewoSbuXDA/s72-c/grohl.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-4351502053234793334</id><published>2008-04-21T22:24:00.003+08:00</published><updated>2008-04-21T22:50:19.999+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jurnalistik'/><title type='text'>Bagaimana LEAD Berita Vonis Pollycarpus?</title><content type='html'>&lt;blockquote&gt;Jumat (29/1), berita vonis Mahkamah Agung atas Peninjauan Kembali atas Pollycarpus, tersangka pembunuh aktivis HAM Munir, menjadi berita utama hampir di semua koran di Indonesia. Bagaimana kepala berita (lead) koran-koran tersebut? Mari kita lihat. &lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh &lt;strong&gt;Hasan Aspahani&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;strong&gt;Republika: Polly Divonis 20 Tahun &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAKARTA -- Berakhir sudah 'jam terbang' Pollycarpus Budihari Priyanto di meja hijau. Mahkamah Agung (MA) memvonisnya 20 tahun penjara. Majelis hakim agung yang menangani permohonan kembali (PK) menyatakan Polly terbukti secara sah melakukan pembunuhan berencana kepada aktivis HAM, Munir, serta memalsukan surat tugas.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lead Republika terdiri dari 41 kata. Ini lead yang lurus-lurus saja. Semata-mata berpijak pada fakta keras, kecuali kalimat pertama yang agak berbau 'opini'. Kata 'jam terbang' dipilih mungkin karena Pollycarpus adalah seorang pilot, sekalian menyiratkan setelah vonis itu kebebasannya berarkhir.  Kenapa tidak ada unsur waktu di situ? Unsur waktu pun tidak ada di alinea kedua. Saya kira ini adalah kelemahan dari lead Republika. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;strong&gt;Koran Tempo: Polly Langsung Dibui&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Masih ada aktor intelektual yang berkeliaran." &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAKARTA -- Terpidana dalam perkara pembunuhan berencana terhadap Munir, Pollycarpus Budihari Priyanto, kemarin malam dijemput paksa aparat kejaksaan dan langsung dibui di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang, Jakarta Timur. Bekas pilot Garuda Indonesia itu dibawa dari rumahnya di kawasan Pamulang, Tangerang, disertai istrinya.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Koran Tempo memulai berita dengan lead yang lengkap. Ini didukung dengan pilihan berita yang 'melompat' dari peristiwa utama yang jatuhnya vonis. Koran Tempo memilih sudut pandang Polly yang langsung ditangkap dan dijebloskan ke penjara, malam itu juga setelah vonis jatuh. Untuk sebuah hard news, lead dengan 39 kata ini sangat baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Jawa Pos: Polly Dijebloskan Lagi ke Cipinang &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dinilai Terbukti Bunuh Munir, Siang Divonis 20 Tahun, Malam Eksekusi &lt;/em&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAKARTA - Drama pembunuhan aktivis HAM Munir kembali memunculkan kejutan baru. Pollycarpus Boedihari yang sudah menghirup udara bebas harus meringkuk lagi di penjara. Pilot Garuda yang menjadi terdakwa pembunuhan menggegerkan itu, tadi malam (25/1) dijebloskan ke Lapas Cipinang setelah siangnya Mahkamah Agung (MA) menjatuhkan vonis 20 tahun.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ini gaya Jawa Pos. Lead yang ingin membangkitkan emosi pembaca.  Unsur 5 W 1 H pun disajikan lengkap. Lead 45 kata ini unggul meski dimulai dengan kalimat pembuka yang agak beropini. Opini seperti ini dibenarkan karena masih beranjak dari fakta. Vonis itu memang mengejutkan, bukan? Kelamahannya? Nama Pollycarpus tidak dituliskan dengan lengkap. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;strong&gt;Media Indonesia: Munir Dibunuh karena Politik&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAKARTA (MI): Mahkamah Agung (MA) menghukum Pollycarpus Budihari Priyanto 20 tahun penjara karena terbukti secara sah melakukan pembunuhan berencana terhadap aktivis Munir.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini lead Media Indonesia yang lugas. 21 kata saja.  Leadnya memang "kurang menggigit" tapi tepat. Unsur waktu tidak ditampilkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;strong&gt;Pikiran Rakyat: Pollycarpus Divonis 20 Tahun&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAKARTA, (PR) - Majelis Hakim Mahkamah Agung (MA), Jumat (25/1), menjatuhkan vonis 20 tahun penjara kepada Pollycarpus Budihari Priyanto, dalam putusan Peninjauan Kembali (PK) kasus kematian aktivis HAM Munir. Sementara itu, mantan Direktur Utama PT Garuda Indonesia, Indra Setiawan, dituntut satu tahun enam bulan penjara karena dianggap bersalah membantu Pollycarpus.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiran Rakyat tidak meng-HL-kan berita ini, meski tetap di halaman satu juga. Saya tidak mengerti apa perlunya tuntutan vonis kepada Mantan Direktur Garuda itu digabung ke lead berita itu? Untung menciptakan kontraskah? Supaya menarik. Saya kira tidak perlu itu. Vonis Poly saja sudah cukup menarik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;strong&gt;Tribun Batam: Saya Bukan Pembunuh        &lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAKARTA, TRIBUN-Yosepha Hera Iswandari (43), Jumat (25/1), langsung menangis tersedu-sedu ketika mengetahui Mahkamah Agung (MA) mengabulkan permohonan Peninjauan Kembali (PK) yang diajukan Kejaksaan dalam kasus pembunuhan aktivis HAM Munir.  MA menjatuhkan hukuman 20 tahun penjara terhadap Pollycarpus Budihari Priyanto (47), suaminya. &lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini lead yang agak berbeda. Lebih mengambil pada sisi manusiawinya. Beremosi juga. Lead dimulai dengan deskripsi istri Poly yang menangis tersedu-sedu. Sangat menarik. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-4351502053234793334?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/4351502053234793334/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=4351502053234793334' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/4351502053234793334'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/4351502053234793334'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/04/bagaimana-lead-berita-vonis-pollycarpus.html' title='Bagaimana LEAD Berita Vonis Pollycarpus?'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-7597185621482852044</id><published>2008-04-21T22:10:00.005+08:00</published><updated>2008-04-21T22:14:33.780+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jurnalistik'/><title type='text'>25 Jurus Ampuh, Jurnalis Tangguh</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Mencari Berita dengan Kreatif, &lt;br /&gt;dan Menjadi Reporter Produktif&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Oleh Hasan Aspahani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;ANDA reporter baru? Jangan khawatir. Anda bisa menjadi reporter yang produktif. Ikutlah saran-sara berikut ini. Ini bukan sembarang nasihat karena dikumpulkan dari sejumlah jurnalis hebat yang dengan  suka rela berbagi pengalaman. Dua editor Albert L Hester dan Wai Lan J To meringkas dan memuatnya dalam buku yang diterjemahkan oleh Abdullah Alamudi. Buku itu dalam bahasa Indonesia berjudul &lt;em&gt;Pedoman untuk Wartawan &lt;/em&gt;(USIS, Jakarta). Berikut inilah ke-25 jurus ampuh itu. Beberapa di antaranya diubah di sana-sini. &lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Anda harus punya rasa ingin tahu. Kalau tidak punya itu, maka lupakanlah cita-cita menjadi reporter yang baik. Kalau Anda tidak bisa cerewet terus menerus dengan pertanyaan MENGAPA begini, MENGAPA begitu? Maka, sudahlah tidak ada harapan buat Anda. Bahkan gaya menulis yang baik pun masih kalah penting dan menduduki peringkat kedua setelah keinginan untuk tahu sebanyak-banyaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tinggalkan kantor. Berita tidak muncul dari balik komputer. Anda tidak mendapat apa-apa kalau hanya duduk membaca koran Anda sendiri atau mengisi teka-teki silang. Kalau Anda toh masih tampak di kantor ketika seharusnya Anda keluar, oleh Koordinator Liputan  Anda akan disuruh segera ke lapangan. Artinya, Anda kan harus keluar kantor juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Jangan tanya sumber Anda, “Ada berita apa?” Tak ada satu pun yang baru bagi mereka, karena mereka biasanya terjebak rutinitas. Mereka biasanya tak sepeka kita, walaupun ada sesuatu yang bisa jadi berita bagus dan itu menimpa kepala mereka. Andalah pemburu beritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Berbicaralah dengan berbagai macam orang. Perhatikan seremeh apapun percakapan yang Anda dengar di warung dan restoran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Baca buletin, majalah atau media lain yang sesuai dengan bidang liputan Anda. Berlanggananlah kalau Anda punya dana lebih, atau sarankan kantor Anda untuk berlangganan. Kalau Anda menulis tentang pemerintah lokal, misalnya, mungkin ada publikasi mengenai kantor pemerintah itu yang dibaca oleh pegawainya. Dapatkanlah dan bacalah juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Hadirilah pesta, pelantikan, buka puasa bersama, resepsi, pertemuan organisasi masyarakat, parpol, atau instansi pemerintah. Apalagi kalau Anda memang diundang untuk datang. Banyak yang bisa Anda dengar di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Baca koran Anda sendiri. Jangan juga malas membaca berita dari koran lain. Ikuti perkembangan di dalam koran Anda sendiri. Setiap reporter wajib membaca korannya dan surat kabar lain. Sebuah berita bisa menjadi ide untuk berita selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Jangan segan meniru dari surat kabar luar asing. Kalau di tempat Anda susah mendapatkan surat kabar dari negeri lain, Anda kan bisa mencari situsnya. Lihatlah di sana. Situs itu kan memang untuk diklik. Tidak ada hak  cipta atas ide. Cobalah sering-sering melokalkan isu di luar yang relavan dengan tempat Anda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.  Baca pernyataan-pernyataan resmi, meskipun seperti umumnya sebuah pernyataan, dia selalu membosankan. Cermati saja, bisa jadi pernyataan itu menjadi bibit berita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Perhatikan televisi dan dengarkan radio lokal. Media itu sekali-sekali ada menampilkan berita baik yang bisa diangkat dan dikembangkan. Perhatikan juga siaran-siaran televisi dan radio luar negeri. Kalau tidak dapat ide berita, toh siaran itu bisa mendidik dan memperluas persfektif Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Sediakan sebuah kalender dan peta peristiwa mendatang. Ini akan mengingatkan Anda dan mendorong Anda memikirkan berita yang perlu diliput. Redaktur akan menghargai Anda sebagai reporter yang terorganisasi kalau Anda mempunyai peta atau catatan tentang peristiwa yang akan terjadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12.  Perbaiki hubungan Anda dengan sumber-sumber berita Anda. Semakin sering Anda menemuinya, semakin percaya mereka. Kecuali kalau Anda seorang yang tidak bisa dipercayai, semakin sering mereka melihat Anda, semakin mereka tidak mempercayai Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. Jangan abaikan pengusaha. Mereka sering harus mengetahui apa yang sedang terjadi, kalau mereka terus ingin berusaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14.  Bergaullah dengan orang-orang LSM. Mereka biasanya haus pemberitaan. Dan ada berita dari mereka yang menarik perhatian pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15. Para pekerja di bandara dan pelabuhan seringkali mempunyai pengetahuan luas mengenai orang-orang penting yang akan datang atau berangkat. Carilah sumber yang mengetahui soal kedatangan dan keberangkatan. Bersahabatlah dengan perusahaan-perusahaan penerbangan dan pelayaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16. Kunjungilah pameran. Hal ini penting untuk mendapatkan perasaan langsung tentang keadaan di tempat pameran itu. Anda tidak akan dapatkan perasaan itu dari pembicaraan dengan pejabat atau duduk-dudk di kedai kopi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17. Kuasai bahasa asing. Minimal bahasa Inggris. Dengan demikian Anda tidak perlu mendapat informasi dari tangan kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18. Mengobrollah dengan rekan-rekan wartawan lain. Mungkin hal ini akan membosankan, tapi sesekali Anda bisa mendapatkan ide baik untuk satu berita. Sesekali pergilah meliput bersama mereka. Apalagi bila sumber berita itu sudah mereka kenal dan mintalah mereka mengenalkan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19. Ada kalanya dosen dan mahasiwa menjadi sumber berita yang menarik. Berkenalanlah dengan beberapa dari mereka, dan cek apa yang sedang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20. Sadarlah Anda tidak selalu mendapatkan berita setiap kali Anda menghubungi sumber berita Anda. Ada kalanya bijaksana untuk mengetahui apa kesenangan mereka dan apa yang membuat mereka terbuka. Hal ini akan membantu Anda mendapatkan berita dari mereka di kemudian hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21. Bergunjinglah dengan politisi atau pejabat setempat. Umumnya mereka suka mendengar apa kata orang lain tentang mereka dan juga akan memberi Anda informasi yang menarik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22. Gunakan waktu Anda berkeliling kota. Pandanglah dengan mata segar apa yang sedang terjadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23. Berbaurlah dengan masyarakat – jangan asingkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24. Sesekali pergilah menyendiri dan berpikir. Bawa buku catatan dan tuliskan segala sesuatu yang mungkin menjadi ide untuk berita. Ini bukan waktu untuk berkhayal. Tapi waktu untuk mendapatkan ide yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25. Ingatlah redaktur menyenangi reporter yang datang dengan ide-ide segar dan asli. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-7597185621482852044?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/7597185621482852044/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=7597185621482852044' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/7597185621482852044'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/7597185621482852044'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/04/25-jurus-ampuh-jurnalis-tangguh.html' title='25 Jurus Ampuh, Jurnalis Tangguh'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-4161750422400722850</id><published>2008-04-19T23:44:00.005+08:00</published><updated>2008-12-10T19:04:01.798+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='karikatur'/><title type='text'>Wimar "Perspektif" Witoelar</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_wBF3FgfDPDw/SAoVQhsK-XI/AAAAAAAAASc/lYSkkTgxyqI/s1600-h/KATUR+WIMAR+WITULAR.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_wBF3FgfDPDw/SAoVQhsK-XI/AAAAAAAAASc/lYSkkTgxyqI/s400/KATUR+WIMAR+WITULAR.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5190984894163646834" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;A3, Lyra B2, Tinta Cina, Kuas Pagoda No.3, spidol Snowman, drawing pen PILOT 0,3.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-4161750422400722850?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/4161750422400722850/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=4161750422400722850' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/4161750422400722850'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/4161750422400722850'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/04/wimar-persfektif-witoelar.html' title='Wimar &quot;Perspektif&quot; Witoelar'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_wBF3FgfDPDw/SAoVQhsK-XI/AAAAAAAAASc/lYSkkTgxyqI/s72-c/KATUR+WIMAR+WITULAR.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-4120284159001375745</id><published>2008-04-19T23:34:00.004+08:00</published><updated>2008-12-10T19:04:02.020+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='karikatur'/><title type='text'>Barack "Barry" Obama</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_wBF3FgfDPDw/SAoSTRsK-WI/AAAAAAAAASU/yU6mT10aoyU/s1600-h/KATUR+OBAMA.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_wBF3FgfDPDw/SAoSTRsK-WI/AAAAAAAAASU/yU6mT10aoyU/s400/KATUR+OBAMA.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5190981642873403746" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;A3, Lyra B2, Tinta Cina, Kuas Pagoda No.3, spidol Snowman, drawing pen PILOT 0,3.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-4120284159001375745?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/4120284159001375745/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=4120284159001375745' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/4120284159001375745'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/4120284159001375745'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/04/barack-barry-obama.html' title='Barack &quot;Barry&quot; Obama'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_wBF3FgfDPDw/SAoSTRsK-WI/AAAAAAAAASU/yU6mT10aoyU/s72-c/KATUR+OBAMA.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-4721994825032821733</id><published>2008-04-16T15:11:00.002+08:00</published><updated>2008-04-16T15:38:01.303+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kolom'/><title type='text'>Daik Lingga, Setelah Sebelas Tahun</title><content type='html'>DI Daik saya bertemu banyak orang yang kecewa. Ini kabupaten termuda di Provinsi Kepri. Ketika dulu ia dibentuk dengan perjuangan banyak orang, mereka pun banyak berharap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saya melihat Daik itu dulu seperti kapal besar tua yang masih berada di galangan. Ini kapal yang hebat. Sejarahnya memukau. Ketuaannya adalah modal yang tak dimiliki oleh daerah lain, seperti Batam misalnya. Batam adalah kapal baru dengan mesin-mesin berkapasitas besar. Cadangan bahan bakarnya seolah tak terbatas. Batam bisa berlayar cepat. Sementara Daik, adalah kapal indah, antik, dan sudah lama menunggu seorang nakhoda yang pandai, lalu kapal itu ditarik ke laut untuk berlayar, tak usah laju, tapi arahnya jelas dan pasti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Itulah yang saya kira tidak terjadi di Daik.  Kapal antik ini sudah berada di lautan sekarang. Tapi lihatlah apa yang terjadi. Mana haluan dan mana buritan tidak jelas. Kapal jadi maju mundur, tak maju-maju jadinya. Bupati dan wakilnya tak rukun. Eksekutif dan legislatif tak satu kata. Orang Dabo masih juga menggerutu meminta ibukota tak diletakkan di Daik. "Daik itu ibu, Dabo kotanya," begitulah olok-olok yang saya dengar di sana. "Yang makmur pejabat-pejabatnya saja," kata gerutu yang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saya kira gerutu itu ada benarnya. Selama dua hari berada di sana, saya hanya melihat mobil-mobil bagus para kepala dinas yang lalu lalang di jalan-jalannya yang di sana sini masih belum selesai. Saya juga mendengar kalimat-kalimat kekecewaan lainnya, "pejabat A punya rumah tiga, di Tanjujngpinang satu, di Batam satu, di Daik satu. Pejabat B bahkan punya rumah di Bandung, anaknya kuliah di sana." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Infrastrukturnya parah. Di lima kecamatan di Kabupaten Lingga, bila Anda berkendaraan dengan kecepatan 60 kilometer per jam, maka seluruh jalan yang ada sudah Anda lewati dalam waktu 10 jam saja. Panjang jalan di sana seluruhnya kurang dari 620 kilometer. Kondisinya pun buruk. Hanya 144 kilometer yang mulus, 80 kilometer agak mulus, selebihnya rusak (219 km) dan rusah parah (176 km). Sebentar dulu, itu jalan hanya 40,45 persen yang beraspal. Parah, kan?  &lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Di Daik kemarin saya tidak bertemu Abdul Bar Ahisa, S.Sos. Sebelas tahun lalu, di akhir tahun 1997, dia sekretaris camat. Daik masih berupa kecamatan, di Kabupaten  Kepulauan Riau. Dia meminjamkan mobil Toyota Kijang seri lama.  Kami akrab karena bisa bercakap-cakap dalam Bahasa Banjar,bahasa ibu kami.  Mobil itu saat itu  salah satu dari sedikit (konon cuma ada tiga) mobil yang layak untuk membawa pengantin. Pengantin itu saya. Saya diarak dari Panggak Laut ke Kampung Tengah, rumah keluarga besar istri saya. Jalan itu tak banyak berubah. Hanya ada dua menara milik operator telepon selular, seakan mengangkangi Masjid Sultan. Saya kira kesimpulan saya tidak tidak adil, tapi saya lihat mungkin itulah satu-satunya tanda pembangunan, yang sayangnya tak dibangun oleh pemerintah kabupaten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Di tepi Sungai Daik yang kecil dan pasang surut itu, kami singgah makan. Sebuah warung yang tempat dan menunya tak istimewa. Ada dua anak perempuan yang sebentar lagi akan jadi gadis asyik bermain SMS entah dengan siapa sambil menonton cerita kuntilanak dari VCD bajakan.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ada sebuah bis sekolah yang selama saya di sana cuma parkir siang dan malam. Bis itu kalau pun jalan menjemput murid bergantian. Maksudnya begini, dua hari bis menjemput siswa dari Panggak Laut, dua hari berikutnya dari Mepar, dua hari lagi dari kampung lain. Saya kira, bila saya murid di sana, saya akan naik sepeda saja tiap hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Di Daik saya bertemu Wiranto dan Dian Sastro. Pensuinan Jenderal itu kini punya kendaraan baru yang tampaknya laju juga ngebutnya. Bahkan di Daik, di warung makan di tepi sungai itu, ada posternya. Dengan jas kuning, senyum penuh harapan di wajah tegasnya, dia menggenjot becak. Dua penumpang duduk: seorang lelaki dengan topi dan anduk kecil khas pengemudi becak, dan perempuan yang saya kira istrinya. Ada teks hebat di poster itu: Jangan biarkan rakyat sengsara! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dan Dian Sastro saya temui di simpang jalan. Kios-kios kecil penjual pulsa banyak sekali dan laku. Senyum Dian Sastro manis sekali di salah satu spanduk operator selular. Ah, telepon selular. Begitu cepatnya dia merata, tapi sebesar apa manfaat bisa diambil dari sana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saya teringat kata-kata seorang kawan wartawan dari surat kabar lama saya di Kalimantan. "Iklan-iklan operator selular kita tidak mendidik. Mereka bersaing dengan tarif murah, tapi menyuruh konsumen untuk boros seboros-borosnya, disuruh menelepon berlama-lama. Sangat tidak mendidik," katanya, saya kira saya setuju dengannya. Maafkan aku, Dian Sastro! Kamu memang dibayar untuk membuat orang tidak hemat. Tak apa. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Di Daik saya bertemu dengan suasana kampanye yang terlalu dini. Seakan-akan pemilihan umum sudah dimulai. "Ini curi start," saya bilang pada diri saya sendiri. Kalau dendanya per hari maka si caleg itu saya kira harus membayar mahal sekali. Ya, di resepsionis hotel eh penginapan Lingga Pesona, disingkat LP, di Kampung Cina, ada poster caleg dari sebuah partai. Ia menjual diri untuk pemilu 2009 nanti, mewakili Lingga untuk duduk di DPRD Provinsi Kepri. Saya menemukan dia juga dalam baliho di depan sekretariat partai dan eh saya ketemu dia lagi di tepi jalan ramai di Tanjungpinang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dia tidak sendiri. Di sebuah kedai makan di Sungai Buluh, Singkep saya juga bertemu kalender seorang dengan visi misi sebagai calon Bupati Lingga periode yang akan datang. Dia pasang tiga foto: 1. Dalam pose sekeluarga berpakaian adat melayu - untuk menunjukkan bahwa dia adalah orang Melayu sejati, 2. Dalam pakaian resmi jas dan dasi - untuk menunjukkan bahwa dia profesional dan moderen, 3. Foto dengan anak dan istri - untuk meyakinkan bahwa dia adalah kepala keluarga yang baik.  Maka, kesimpulan saya: kalender dan kedai adalah alat dan tempat kampanye kepagian yang paling aman.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Di Daik saya tidak bertemu hotel yang baik. Setelah empat tahun umur kabupaten ini, LP tadi adalah tempat yang paling representatif, termasuk untuk presentasi rencana besar Rida K Liamsi membangun sebuah BUMD untuk mempercepat laju kapal antik ini. Ke Daik saya memang diminta menyertai beliau, termasuk ikut melihat lahan calon hotel yang akan dia bangun bersama sahabat-sahabatnya pengusaha asal Daik yang berhasil di kota lain. Tapi, ketika berada di tanah yang dicadangkan oleh Bupati untuk hotel itu apa katanya? "Feeling bisnis aku tak berdenyut!" Kami pun melihat lahan alternatif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Daik membuat saya menjadi tidak lucu. Kolom ini yang biasanya saya tulis dengan jenaka kok jadi melankolik begini ya? Saya kira saya tidak sendiri. Rida K Liamsi saya kira dia tidak sedang berkelakar, ketika sepulang kami dari Daik itu dia berkata, "saya tidak akan kembali ke Daik lagi kalau bukan untuk menghadiri peresmian BUMD yang saya presentasikan itu." ***   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-4721994825032821733?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/4721994825032821733/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=4721994825032821733' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/4721994825032821733'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/4721994825032821733'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/04/daik-lingga-setelah-sebelas-tahun.html' title='Daik Lingga, Setelah Sebelas Tahun'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-415381864378055417</id><published>2008-04-10T23:12:00.001+08:00</published><updated>2008-04-10T23:25:57.026+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='reportase'/><title type='text'>Cap Gunung Daik, Dikirim ke Cirebon dan Surabaya</title><content type='html'>&lt;em&gt;Pabrik Sagu Ratusan Tahun di Kabupaten Lingga &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; BAU masam karbohidrat yang teroksidasi meruap dari tong kayu bergaris tengah sedepa itu. Arjan (35) berdiri menunduk di dalam tong rendah itu. Kakinya terbenam hingga nyaris selutut. Tong itu berisi sagu kotor yang dilarutkan dengan air yang ia timba dari bak kayu besar tepat di depannya. Air itu dipompa dari sungai kecil yang mengalir tak jauh dari pabrik sagu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Kami kerja mulai jam lima subuh. Sampai jam tiga sore," kata Arjan kepada Batam Pos, Selasa (9/4) lalu, sambil terus mengaduk larutan sagu. Kalimatnya pendek-pendek, nafasnya berdengus, sebab ia bicara sambil terus menggerakkan kakinya dengan cepat agar larutan sagu tak mengendap.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dari sisi tong, Bujang (40), rekan kerja Arjan, dengan piring plastik menangguk  dan perlahan-lahan menuangkan larutan  sagu itu ke sebuah tapisan dan  dari situ kemudian  mengalir ke saluran miring sepanjang lima depa. Di tapisan itu kotoran tertinggal, dan di saluran itu sagu bersih  mengendap. Menyalurkan sagu, adalah tahapan penting dalam industri tepung sagu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Bila kita tiba di dermaga Tanjung Buton, lalu menuju ke Daik, ibukota Kabupaten Lingga, kita juga akan melewati hutan sagu. Pokok yang sudah cukup umur menjulang tinggi dengan lingkaran batang sama dari pangkal ke ujung. Pada beberapa bagian hutan itu tampak bekas pokok sagu yang sudah ditebang. Batang sagu itu lantas dipotong setual-setual. Setual panjangnya kira-kira setengah depa. Puluhan tual itu dirakit dan dibiarkan terendam lama terapung di Sungai Daik. Warna tual itu akan berubah jadi hitam. Kera suka mencuri mengorek sagu dari penampang tual-tual itu, lalu langsung menyantapnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tual sagu itu kemudian ditarik pompong kecil ke pabrik-pabrik rakyat yang banyak tersebar di sepanjang Sungai Daik, untuk diparut, dan diproses menghasilkan sagu kotor dan serampin atau ampas sagu. Proses ini makan banyak air, makanya tempat yang paling tepat memang di tepi sungai.    Sagu kotor itulah yang dibawa ke pabrik tempat Arjan dan Bujang bekerja untuk dibersihkan dengan proses sederhana yakni disaring dan disalurkan, dan diendapkan. Proses pembersihan itu menghasilkan sagu bersih basah setebal satu jengkal yang mengendap di saluran dan keesokan harinya dibawa ke  tempat pengeringan. Tempat pengeringan berupa ruang terbuka beratap dan berlantai ubin kasar. Di bawah lantai itu ada dua lorong tembus dari sisi ke sisi. Di salah salah satu sisinya, api dinyalakan. Panas api itulah yang mempercepat pengeringan tepung sagu. Arjan dan Bujang bekerja borongan. Setiap satu karung sagu kotor mereka dibayar Rp3.000. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Sehari bisa dapat tiga puluh, pernah sampai lima puluh karung," kata Arjan, lelaki beranak empat itu. Arjan dan Bujang bekerja tanpa baju, tubuhnya berpeluh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Inilah satu-satunya pabrik besar pengolah tepung sagu di Kabupaten Lingga. Pabrik itu ada di desa Seranggung, Kecamatan Lingga Utara. Letaknya terpencil tapi tak jauh dari pusat kota. Dengan mobil, tempat itu bisa dicapai hanya beberapa menit melewati jalan berbatu. Lewat jalan itu sagu-sagu dari beberapa tempat di Lingga diangkut dengan lori antara lain dari Kampung Musai, Panggak Laut, dan Mepar, ke pabrik itu. Pabrik ini membeli sagu kotor basah seharga Rp700 per kilogram. Satu karung sagu basah beratnya berkisar antara 80 hingga 112 kilogram. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ada tiga saluran di sana. Dua tidak terpakai. Arjan dan Bujang bekerja pada satu saluran saja. Ada empat bak besar penampung air. Dua bak kosong, dan satu bak berisi karung bekas sagu kotor. Seorang perempuan diupah untuk mencuci dan melipat karung-karung itu. Dua pekerja lain , Bahri dan Ismail, bekerja memikul karung-karung sagu kotor dari tempat penumpukan di tengah pabrik itu ke tempat Bujang dan Arjan menyalur. Mereka tidak satu tim. Bahri dan Ismail dibayar sebagai tenaga harian lepas. Sehari Rp25 ribu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Bila Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Lingga mencatat pada tahun 2006 ada produksi sagu sebesar 1.793 ton, maka itulah angka produksi pabrik ini. Menurut Bujang yang sudah sepuluh tahun memborong kerja menyalur sagu di pabrik itu, angka itu kecil karena di tahun-tahun sebelumnya jauh lebih banyak. "Yang bekerja sampai delapan orang, tak hanya kami berdua," katanya.      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sejak kapan pabrik ini ada? "Tanya aja sama Kerani," kata Ismail, menunjuk pada lelaki yang baru tiba dan tampak sibuk membantu menimba air dan mengaduk tong sagu dengan tangannya. Ia mencuci tangan dan menyalami  kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Pabrik ini? Wah sudah ratusan tahun," kata lelaki bermarga Goh, yang dalam tiga tahun terakir ini mengawasi pabrik sagu tersebut. Seingat lelaki yang dipanggil Mantang oleh para pekerja, pabrik itu dilanjutkan oleh majikannya Acuang dari orangtuanya. Acuang, adalah pemilik "Toko Bahagia" di Kampung Cina, Lingga. Kerani Mantang sudah berumur enam puluh lebih, anaknya enam, cucunya sembilan, tapi ia tampak jauh lebih muda dari usianya.      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Seingat warga setempat, pabrik itu dididirikan oleh salah seorang Sultan Lingga. Sultan kala itu melihat banyak tanaman sagu dan kalau ada pabrik, maka rakyatnya bisa mendapatkan penghasilan dengan menjadi petani, menebang sagu untuk diolah di pabrik tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pabrik sagu itu hampir semua bagiannya dibuat dari bahan kayu. Salur, tong, bak air, tiang-tiang, lantai papan semuanya tampak menghitam. Itu bukan warna cat. Atap rumbia di beberapa tempat tampaknya sudah  harus diganti. Semua pekerjaan dikerjakan manual, kecuali, mesin diesel pemompa air yang sepanjang kami berada di pabrik pagi itu terus dihidupkan.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Di masa-masa produksi tinggi, pabrik itu bisa menumpuk 500 hingga 600 karung sagu kering sebelum diangkut ke kapal besar yang kemudian membawanya ke Cirebon dan Surabaya. "Sekarang ini sudah sepuluh hari baru ada 120 karung," kata Kerani Mantang sambil menunjuk pada deretan rapi karung-karung sagu di gudang penumpukan. Di bagian dalam gudang itu masih ada tumpukan sagu kering yang belum dikarungkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Karung-karung sagu itu berisi 60 kilogram sagu bersih. Ya, namanya memang sagu bersih, sebagaimana tersablon dengan cat merah di karung itu. Sagu Bersih Gunung Daik. 60 Kg Netto. Di tengah-tengah huruf-huruf itu ada gambar Gunung Daik yang kesohor itu. Gunung berpuncak tiga cabang.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kenapa produksi merosot? "Sekarang susah cari sagu, tak banyak lagi," kata Kerani Mantang. "Kalau banyak pun cari orang yang mau kerja susah juga. Tak tahan bau," katanya, diiringi tawa. Matanya menyipit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Menurut BPS Lingga yang merujuk data dari Dinas Sumber Daya Alam Kabupaten Lingga pada tahun 2006 ada 2.872 hektare lahan sagu, tersebar di dua Kecamatan, yakni Lingga dan Lingga Utara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tidak semua produsi sagu bermuara di pabrik ini. Sebagian kecil ada yang diolah langsung menjadi berbagai makanan khas Daik Lingga, seperti kue bangkit, atau dijual basah. Di Lingga saat ini, industri yang mengolah sagu sebagai bahan bakunya ada 38 industri yang nonformal dan 45 yang terdaftar resmi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Berapa harga sagu kering? Kerani Mantang bilang kalau dijual di Tanjungpinang harganya sekitar Rp4.000. "Kalau dijual di Daik sini antara dua sampai tiga ribulah," katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Mantang menyorongkan potongan kayu bakar besar untuk mempertahankan nyala api di lorong pengeringan sagu. Walau sedang tak ada sagu yang dikeringkan, tempat itu tampaknya harus tetap dijaga hangat. Nyala api, suara mesin pompa, dan aktivitas Arjan dan kawan-kawan tadi tak cukup untuk membuat gairah. Pabrik itu tampak lesu. Kejayaannya dahulu mungkin terwakili oleh empat poster film besar di dinding gudangnya. Poster film laga lama yang dibintangi Barry Prima dan Suzanna itu diselingi kalender berhias kaligrafi tikus dalam huruf cina. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Lahan cocok, potensi alam ada, permintaan pun tak pernah surut. "Berapa yang ada dibawa kapal semua," kata Mantang. Seharusnya Lingga bisa kembali berjaya sebagai daerah penghasil sagu tersohor. Sagu Cap Gunung Daik.***   &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-415381864378055417?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/415381864378055417/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=415381864378055417' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/415381864378055417'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/415381864378055417'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/04/cap-gunung-daik-dikirim-ke-cirebon-dan.html' title='Cap Gunung Daik, Dikirim ke Cirebon dan Surabaya'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-8268730963877742879</id><published>2008-04-03T21:32:00.002+08:00</published><updated>2008-04-19T23:31:23.366+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kolom'/><title type='text'>Betapa Memukaunya Kemalasan</title><content type='html'>INI semacam kombinasi yang parah dari seorang pembaca yang sok tahu dan calon penulis novel yang kurang rajin. Ini bukan soal orang lain, saya bercerita tentang diri saya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya  sudah lama merasa bisa mengarang. Sudah lama ingin membuat sebuah novel. Merasa bisa, dan ingin membuat. Itulah masalahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sok tahu, maka saya selalu terlambat membeli novel hebat. "Saman" karya Ayu Utami saya beli sekitar tiga tahun setelah novel itu melambung. "Laskar Pelangi"-nya Andrea Hirata saya beli pada cetakan ke-20. Sedangkan novel Habiburrahman El Shirazy "Ayat-ayat Cinta" saya beli pada cetakan ke-30. Sangat terlambat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bertanya kepada diri saya sendiri: Kenapa novel? Bukankah saya sudah menulis sekitar 30 cerpen? Sudah menerbitkan satu buku puisi dan satu buku tentang menulis puisi? Saya selalu percaya bahwa novel itu lebih keren karena lebih susah menulisnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kombinasinya  tambah satu lagi: pembaca yang sok tahu + calon  novelis yang kurang rajin + teoritikus yang  tanggung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tambahan penyakit terakhir itu didapat setelah saya banyak membaca teori-teori mengarang. Karena efek racun dari teori-teori  itu saya jadi ingin menulis novel yang hebat. Akibatnya novel-novel saya terbengkalau di bab pertama, kedua, dan yang terbaru ngadat di bab keempat. Itulah kontraindikasi dari gabungan tiga penyakit tadi: saya belum bisa menyelesaikan satu pun novel. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini sungguh memalukan karir dan biodata kelak sebagai penulis. Maka, beberapa bulan terakhir ini, saya rajin membeli novel. Bukan untuk dibaca jalan ceritanya, tapi saya - ah itu tadi - sok pintar menganalisa bagaimana pengarang-pengarang hebat itu membuat plot, membangun karakter, membuat deskripsi, mengatur narasi dan menciptakan metafora-metafora yang spesial.  Ini cara membaca yang merugikan dan berisiko. Saya kehilangan kesempatan menikmati cerita itu sendiri. Tapi, saya sadar itu adalah pengorbanan yang harus saya ambil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekan lalu, teman-teman pengurus Forum Lingkar Pena (FLP) Batam membawa novelis Habiburrahman El Shirazy ke Graha Pena. Dengan sok akrab yang berlebihan saya memandu beliau berdiskusi di ruang redaksi kami. Keesokan harinya saya pun diminta untuk menjadi pembahas karyanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertemu dengan pengarang yang novelnya sudah dicetak ulang lebih dari 30 kali, dan filmnya sudah ditonton lebih dari 4 juta orang, tentu saya manfaatkan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit kepenulisan saya. Saya ceritakan rencana novel saya padanya. Dia memberi beberapa saran, bertanya apa judulnya dan bahkan menyarankan agar novel itu diterbitkan pas pada bulan April karena pada bulan itu ada hajatan buku besar di Jakarta. Bagus kalau bisa diluncurkan di sana, katanya.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di depan peserta diskusi buku "Ketika Cinta Bertasbih" yang sudah pantas pula diberi label "megabestseller"  bertajuk "Behind The Book" Kang Abik, sapaan akrab Habiburrahman, justru memulai pemaparan dengan menjalaskan betapa dahsyatnya nama belakang saya Aspahani itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu ulama dan sastrawan besar. Di Alazhar bukunya sampai sekarang menjadi rujukan penting..." katanya. "Jadi nanti kalau novelnya Mas Hasan sudah selesai namanya Hasan El Esfahan." Dia menyebut dengan makhraj yang pas, dengan tajwid yang betul. Huruf arab tidak mengenal "p". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Kang Abik akan terus bercerita tentang kehebatan nama itu kalau saya tidak menghentikannya. "Kang, ini acara judulnya Behind The Book, bukan Behind The Name," kata saya memohon agar dia berhenti membebani saya. Waktu kecil saya pernah sakit-sakitan. Konon, karena keberatan nama. Nama itu memang dipilihkan oleh paman saya.Dia mengambil nama seorang ulama asal Esfahan, Iran. Untunglah saya tidak harus berganti nama, karena sakit-sakitan saya hilang dengan sendirinya. Maka nama penulis di kolom ini tetap seperti yang Anda baca sekarang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alih-alih mendapat dorongan semangat saya sekarang justru mendapat tambahan beban. Maka, aduh saya semakin ragu apakah novel saya itu akan selesai juga nanti akhirnya? Saya teringat petikan kalimat dalam pengantar Antonio Scarmeta pada novelnya "Il Postino".  "...sedemikian mengharukannya bakat saya, dan begitu memukaunya kemalasan saya." Novel kecil itu dia selesaikan dalam kurun waktu: 14 tahun! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di jagad perpuisian di dunia maya, saya konon diberi berbagai gelar. Ada yang menyebut saya penyair palsu, ada yang memberi gelar guru puisi. Dua gelar yang bertentangan. Saya kira bila positif dan negatif dipertemukan yang terjadi adalah negatif. Contohnya begini, "saya memang suka main judi (berdosa), tapi hasilnya saya buat untuk menyumbang anak yatim (berpahala?)". Apa yang terjadi? Pahala tak dapat, dosanya pasti. Perumpamaan itulah yang berlaku dalam hal gelar saya di dunia maya. &lt;br /&gt;Penyakit-penyakit calon novelis tadi untungnya masih membuat posisi saya aman. Paling tidak saya belum digelar novelis palsu atau guru novelis. Penyakit-penyakit tadi sampai saat ini membuat saya merasa masih perlu untuk membaca buku sakti kepengarangan saya "Mengarang Itu Gampang". Itu buku saya beli pada tahun 1988, ketika saya masih kelas 1 SMA. Saya percaya satu novel saya akan selesai tanpa harus menunggu waktu 14 tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling tidak saya sudah punya judul untuk novel itu. Judul ini saya bisikkan kepada Kang Abik ketika dia bertanya, dan sementara - maaf - saya tidak sampai hati untuk memberitahukan Anda dengan menuliskannya di kolom ini. *** &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-8268730963877742879?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/8268730963877742879/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=8268730963877742879' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/8268730963877742879'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/8268730963877742879'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/04/betapa-memukaunya-kemalasan.html' title='Betapa Memukaunya Kemalasan'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-1028093154853922520</id><published>2008-03-27T21:29:00.002+08:00</published><updated>2008-04-19T23:30:30.234+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kolom'/><title type='text'>PLN dan Lampu Semprong</title><content type='html'>SAYA tak sempat menikmati listrik di kampung saya nun jauh di sana di Kalimantan Timur. Ketika tiang listrik pertama berdiri di sana, saya sudah berada di kota lain untuk menuntut ilmu. Jadi sewaktu SD dan SMP saya belajar dengan lampu semprong berminyak tanah. Kadar terangnya lampu diatur dengan kenop yang bisa menaikkan dan menurunkan sumbu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Selesai belajar tinggal tiup saja ujung atas semprong kacanya. Lampu pun padam. Lumayan, sembilan tahun lampu itu menemani saya belajar. Selain dapat terang tentu saja saya dapat asap berjelaga hitam yang kadang terhirup dan menempel di dinding hidung bagian dalam.  Di rumah kami ada empat lampu semprong dan satu lampu strongking. Yang terakhir ini hanya dinyalakan pada saat-saat istimewa, misalnya pada saat kenduri. Tiap sore salah satu tugas saya adalah membersihkan kaca semprong dari jelaga, supaya nyala lampu tak terhalang terangnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kalau Nilai Ebtanas Murni (NEM, ini semacam Ujian Akhir Nasional sekarang) SMP saya waktu itu cuma 39,  saya punya alasan permakluman. Untunglah, nilai itu pas di batas  bawah untuk masuk ke SMA Negeri di Balikpapan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampung saya itu memang selalu terlambat atau dilambatkan mendapat bantuan fasilitas apapun dari negara belakangan. Tak pernah duluan. Padahal waktu itu deretan tiang listrik dari Balikpapan sudah sampai di ujung selatan kampung, dan dari Samarinda sudah sampai juga di utara, dan sudah pula menyala. Konon penyebabnya karena di kampung kami dari pemilu ke pemilu yang menang selalu partai Kabah. Beringin tumbang, Banteng keok. Waktu itu masih tiga partai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu-satunya pelang organisasi yang saya ingat ada di kampung saya adalah Nahdlatul Ulama yang sangat jelas afiliasinya kemana. Saya melihat papan itu ada di sebelah masjid, di depan rumah seorang paman jauh yang turun-temurun menjadi anggota DPRD di Samarinda.  Saya tidak tahu setelah partai datang silih berganti sekarang masihkah PPP berjaya di kampung yang sudah 15 tahun saya tinggalkan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hidup dengan listrik pertama kali saat tinggal di Balikpapan. Saya tidak mengerti ketika anak-anak ibu angkat saya berteriak-teriak tak bisa belajar karena lampu mati, karena tidak bisa belajar dan tak bisa menghidupkan AC. Saya? Tinggal beli lilin dan meneruskan membaca. Waktu itu kangen juga saya sama di lampu semprong. Waktu lulus dengan nilai yang juga berada di batas bawah untuk masuk ke perguruan tinggi, saya tidak punya alasan permakluman lagi. Listrik ternyata tidak menggenjot prestasi belajar saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan, setelah tua begini saya baru mengerti bahwa soal listrik adalah perkara yang rumit. Ada sisi manajemen penguasaan energi. Ada singgungannya dengan ketahanan bangsa, subsidi bahan bakar sampai kerusakan lingkungan. Wah! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu lalu, Anda pasti ikuti berita pemadaman listri bergilir di Jawa-Bali. Itu terjadi karena cuaca buruk di Laut Jawa, gelombang besar sehingga tongkang pengangkut batubara dari Kalimantan ke Jawa tak berani berlayar. Cilaka dua belas, kan? Kata orang PLN, stok batu bara itu dianggap aman kalau tersedia untuk menggerakkan pembangkit selama sebulan. Jadi, kalau laut betah berombak selama sebulan  maka pemadaman bergilirlah akibatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terlalu bertele-tele? Ya, pasti Anda sudah bisa menebak kolom ini kali ini mau bicara soal rencananya kenaikan tarif listrik di Batam. Usulannya 12 persen. Ini bukan angka yang sederhana. Ada hitung-hitungan rumit, rapat-rapat ribet dan biasanya juga akan ada aksi penolakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak mau ikut merumit-rumitkanlah. Soalnya PLN Batam kan bukan Perusahaan Listrik Negara. Tapi Pelayanan Listrik Nasional. Bedanya? Koran ini sudah sering memberitakan. Ini perusahaan swasta yang tarifnya khusus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya suka kata "pelayanan" itu. Kata dasarnya "layan", jadi kerjaannya ya "melayani". Kesannya tidak mencari untung. Bukan perusahaan yang "berusaha" mencari untung. Jarang-jarang lho ada perusahaan pakai kata itu. Coba sebutkan ada dimana?  Saya tidak tahu apa alasan dulu kata itu dipilih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuma kata "Nasional" di akhir itu kok kurang sreg ya. Soalnya yang dilayani kan hanya Batam. Baiklah, saya mau usul, dengan tetap mempertahankan PLN Batam, namanya bisa diganti menjadi "Pelayanan Listrik Nang (versi Jawa Timuran berarti 'di') Batam".  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya suka kata "pelayanan" itu karena membuat saya seolah-olah seperti orang yang dilayani. Menjadi tuan, begitulah. Jadi, kalau si pelayan minta gajinya naik, saya kan tinggal mengevaluasi kualitas kerja dan pelayanannya. Kalau bagus, ya layak naik, dong.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anu, Tuan, harga gas sekarang naik, minyak tanah naik, apa-apa semua naik. Kalau Tuan masih ingin makan enak sampai akhir bulan, berarti anggaran bulanan belanja rumah harus ditambah. Praktis gaji saya juga harus ditambah," kata si pelayan kepada saya Si Tuan. Masalahnya, saya tak punya pilihan lain selain dilayani oleh pelayan yang satu ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak punya? Tunggu, saya kan pernah sembilan tahun hidup dengan lampu semprong? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah, gak bisa main game," kata anak sulung saya.&lt;br /&gt; "Mau nonton Power Ranger gimana?" tanya anak kedua saya.&lt;br /&gt;"Oke, oke, kalau begitu lupakan lampu semprong. Kita berhemat saja...." kata saya.&lt;br /&gt;"Hore," kata anak saya. Si sulung lantas menghidupkan tape memutar lagu Gita Gutawa. Si bungsu lalu berteriak-teriak mengikuti lagu The Changchuters.  Wah, mereka berkhianat, bukannya tadi mereka setuju untuk berhemat....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lupakan kegagalan awal saya untuk berhemat di rumah. Gerakan penghematan ini perlu digalakkan oleh PLN Batam. Saya usulkan agar PLN membeli hak cipta lagu plesetan Project P ketika masih bernama Padhyangan Project. Lagu 4 Non Blonde "Whats Going On" yang diganti jadi "Lampu Neon".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;... itu listrik kan jadi hemat bila bohlam diganti dengan neon. Inah! matikan lampu bohlamnya.... (yang menyanyikan lagu ini Denny Chandra yang timbre suaranya pas banget meniru vokalis Linda Perry)  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, lihatlah plesetan itu, ada seruan kepada Inah, si pembantu untuk menjaga gawang akhir gerakan hemat listrik. Ganti bohlam menjadi lampu neon! ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-1028093154853922520?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/1028093154853922520/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=1028093154853922520' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/1028093154853922520'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/1028093154853922520'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/03/pln-dan-lampu-semprong.html' title='PLN dan Lampu Semprong'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-7890100496699378436</id><published>2008-03-18T14:17:00.001+08:00</published><updated>2008-04-19T23:29:37.436+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kolom'/><title type='text'>Perihal Sandra Dewi, Roy Suryo dan "Rekayasa"</title><content type='html'>"Sandra Dewi, ternyata sudah kawin..."&lt;br /&gt;"Oh, ya dengan siapa?"&lt;br /&gt;.......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sandra Dewi, ternyata sudah kawin..."&lt;br /&gt;"Oh, ya dengan siapa?"&lt;br /&gt;.......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Jangan tertawa dulu. Itu lucu-lucuannya Pongky Jikustik di Majalah Rolling Stone Indonesia. Jawabannya di akhir tulisan ini. Nama Sandra Dewi memang berbeda bolak-balik dengan Dewi Sandra. Urusan nama atau kata yang diputar balik itu memang ampuh bikin kelucuan. Almarhmum maestro lawak Srimulat Asmuni paling jago memainkan jurus ini. Ingat dengan frasa "hil yang mustahal"? &lt;br /&gt; Tetapi, bila wajah dan tubuh yang ditukar - meski awalnya oleh si pengiseng tujuannya cuma melucu - urusannnya bisa menjadi tidak lucu lagi. Sandra Dewi pasti tidak bisa tertawa ketika menemukan wajahnya - yang gabungan Marsya Timothy dan Dian Sastro itu - dikrop lalu ditempel ke tubuh lain (yang telanjang), lalu gambar jadi-jadian itu beredar dari situs ke situs, dari e-mail ke e-mail. Ah, Anda tentu sudah melihat foto itu. &lt;br /&gt; Kenapa Sandra Dewi? Foto iseng itu mungkin membuktikan bahwa saat ini dialah yang ada dalam benak banyak lelaki. Dialah nama (dan wajah) yang menguasai imajinasi para lelaki lajang (dan nonlajang, tapi masih jalang). Setelah wajah, yang paling empuk untuk diimajinasikan tentu "tubuhnya", bukan? Ah, ini bukan pembenaran. Ini semacam upaya meraba-raba permakluman. Seperti lirik lagu Iwan Fals: Salah sendiri kau manis, punya wajah teramat manis... Percayalah Sandra, Omaswati (maaf ye, mpok), Yati Pesek (nuwun sewu nggih, mbak), tidak akan diisengi seperti itu.  &lt;br /&gt; Saya yakin saya tidak akan pernah jadi korban keisengan seperti itu, walaupun wajah saya ini konon perpaduan kegantengan Rano Karno dan Mat Solar. Jadi, siapapun yang belum menyusul Sandra Dewi, berharaplah, sebab tindakan itu bisa jadi semacam pengakuan bahwa Anda memang cantik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kalau mau sok bijaksana, maka saya mau bilang selalu ada berkah di balik setiap peristiwa. Berkah terbesar tentu saja datang ke alamat (tepatnya ke laptop) Kanjeng Raden Mas Tumenggung Roy Suryo. Saya yakin di sana - maksudnya di laptopnya - bertambah lagi koleksi foto-foto tanpa busana. Dan dia menyimpan itu secara sah dan dibenarkan. Dia selalu diminta menganalisa dan memastikan apakah foto-foto itu asli atau tempel-tempelan saja. Makin sah juga dia dengan gelar yang disematkan oleh infotainmen: Pakar Telematika. &lt;br /&gt; Saya bayangkan di laptopnya itu ada juga foto adegan syur lelaki dan wanita. Kepala si lelaki sudah diganti dengan kepalanya, sementara kepala si wanita tinggal ditempelin artis manapun yang dia mau. Lho, buat apa? Ya, buat contoh saja, bahwa foto-foto seperti itu mudah sekali memuatnya. Dia kan pakar, Bung! Walaupun kepakarannya kerap diragukan. Paling tidak, selebriti-selebriti kita tahu harus memanggil siapa dan minta dampingi oleh siapa ketika jumpa pers untuk menjelaskan bahwa foto-foto asli atau tidak. &lt;br /&gt; Jadi, jangan kuatir, untuk heboh-hebohan kita, kasus-kasus seperti ini pasti akan ada lagi. Besok mungkin Gita Guttawa (hati-hati, Git), besoknya Nafa Urbach (apa? bukannya sudah? Ups, sori, kemana aja saya ya?), lusa Intan Nuraini yang baru saja meraih gelar Sarjana Psikologi di Paramadina (usul: kasus ini bisa buat tesis S2 dengan judul "Dampak Kejiwaan Selebriti yang Dihantam Isu Foto Bugil"), terus yang paling sering ya siapa lagi kalau bukan Azhari Angel's (Ayu, Rahma, Sarah). Sebenarnya saya berharap (huss!) Mulan Jameela si Makhluk Dhani Paling Sexy. Eh, sudah ada ya? Wah, terlambat lagi tahunya. &lt;br /&gt; Yang tidak terungkap di media, terutama di infotainmen itu, adalah kedatangan seekor anjing dan seekor kucing ke rumah Roy Suryo. Keduanya konon minta dipastikan apakah sebuah foto asli atau tidak. Foto itu berupa anjing berkepala kucing. Si anjing keberatan karena kepalanya diganti kucing di foto itu, sebaliknya si kucing juga protes karena badannya diganti dengan badan kucing. Di sinilah ujian berat Roy Suryo sebagai pakar telematika diuji. Sayang, ceritanya tak pernah diberitakan. Dia konon mencak-mencak dan menuduh kedua binatang itu hanya ingin menumpang popularitas padanya. Wah! Popularitas kok ditumpangi, memangnya bis kota!   &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kita masih bisa berdebat apakah selebriti yang fotonya diedar-edarkan (tentu setelah disyur-syurkan) itu korban atau malah diuntungkan. Konon ada juga lho yang sengaja melakukannya supaya namanya terangkat naik. Ah, saya tak perlu menyebut namanya. Yang pasti si korban sebenarnya adalah kata "rekayasa". Ya, kata tersebut maknanya rusak hancur berantakan. &lt;br /&gt; "Foto itu rekayasa..." &lt;br /&gt; Kita gampang saja mendengar kalimat itu bahkan ikut mengucapkannya. Padahal ada kesalahan besar pada pemakaian kata rekayasa di sana. "Rekayasa", pada awalnya diperkenalkan oleh Pusat Bahasa sebagai terjemahan kata "engineering". Kata itu misalnya dipakai untuk mengalihbahasakan frasa "biotechnological engineering" menjadi "rekayasa bioteknologi" atau "genetical engineering" menjadi "rekayasa genetika", atau "social engineering" menjadi "rekayasa sosial". &lt;br /&gt; Tidak ada nada miring pada kata rekayasa dalam frasa-frasa di atas, bukan? Tapi, kini kata "rekayasa" kita temukan dalam kalimat "wah, kasus itu sudah direkayasa", "ada upaya-upaya merekayasa jalan persidangan", "proses pemungutan suara itu sudah tidak murni lagi, ada pihak-pihak yang merekayasa..." Nah, kenapa ada nada negatif pada kalimat-kalimat itu? &lt;br /&gt; Kata-kata baru memang punya nasib sendiri. Ia bisa dilazimkan (seperti kata "canggih" yang berhasil menggantikan "sopisticated"), ia bisa populer tetapi disalahmengertikan (seperti kata "rekayasa" tadi), ia bisa menjadi tidak populer (seperti kata "sangkil" dan "mangkus" yang diusulkan menjadi pengganti kata "efektif" dan "efisien").    &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi dia menikah dengan siapa?"&lt;br /&gt;"Fredly Glenn."  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Lucukah? Tertawalah. Bukan tawa yang "direkayasa". Karena ini bukan tulisan yang "direkayasa".  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiban Indah, 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-7890100496699378436?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/7890100496699378436/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=7890100496699378436' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/7890100496699378436'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/7890100496699378436'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/03/perihal-sandra-dewi-roy-suryo-dan.html' title='Perihal Sandra Dewi, Roy Suryo dan &quot;Rekayasa&quot;'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-2209060699144735257</id><published>2008-03-12T19:02:00.004+08:00</published><updated>2008-04-19T23:20:33.282+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kolom'/><title type='text'>Dagang Perkara eh Permata</title><content type='html'>PERKENALKAN nama saya Urip Tukang Gombal alias UTG. Mirip dengan Koordinator Jaksa BLBI itu ya? Memang. Sesungguhnya saya ini juga jaksa. Tapi tidak akan lama lagi. Saya mau berhenti saja. Jadi jaksa ternyata tidak enak. Pekerjaan ini mengharuskan saya menuntut dan menuntut orang lain karena perbuatan salahnya. Saya sendiri menuntut pada siapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; Anda tahu? Gaji saya sebagai seorang jaksa - jaksa terbaik di negeri ini - hanya Rp3,5 juta. Dua bulan Rp7 juta. Empat bulan Rp 14 juta. Nah. Hitung sendirilah, kalau hanya mengandalkan gaji, kapan saya bisa punya villa di Bali? Rumah mewah di Jakarta? Empat mobil mewah? Kapan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Jadi, tolong jangan salahkan saya kalau di luar jam kantor saya dagang permata. Kadang-kadang saya juga dagang coklat. Coklat rasa uang tunai. Atau uang tunai rasa coklat, eh uang tunai dibungkus coklat. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Itu lebih baik daripada dagang perkara. Meskipun, sesungguhnya, permata dan perkara adalah komoditas yang berharga tinggi. Kalau Tuan dan Nyonya tidak berkantong tebal - ah, kantong saja tidak muat, anda harus siapkan kotak untuk uang tunai - jangan coba ikutan berdagang barang ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ah, ada jugalah untung dari pekerjaan saya sebagai jaksa kalau dikaitkan dengan profesi kedua saya sebagai pedagang permata. Saya jadi tahu siapa saja yang punya duit tunai berkotak-kotak dan suka beli permata.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Tapi, saya ingin berhenti saja jadi jaksa. Saya akan sepenuhnya menjadi pedagang permata. Apa hebatnya sih jaksa? Bu Acin -  ah Anda pasti sudah pernah dengan namanya -  yang sering keluyuran di Gedong Bunder toh tidak kenal saya sebagai jaksa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, kemana saja saya selama ini? Kasihan deh saya. Saya ternyata terlalu sibuk mengurus perkara besar bernama BLBI, Bantuan Lunak Bank Indonesia. Ini menyangkut uang negara triliunan. Penjahat-penjahatnya sudah pada kabur dan hidup makmur di luar negeri. Saya kira mereka - para obligor kakap itu - tidak salah. Namanya saja Bantuan, bukan Pinjaman. Jadi, apa harus dikembalikan? Setahu saya mereka tidak minta dibantu. Pemerintah sendiri yang ingin membantu. Maka, tolong, jangan salahkan saya dan 35 jaksa terbaik di negeri ini kalau memutuskan bahwa tidak ada tindak kriminal dalam perkara BLBI. Apa lagi sampai mengaitkan bisnis perkara eh permata saya dengan keputusan kami yang kontroversial itu: Tutup Kasus BLBI Salim Nursyamsul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Bu Acin ternyata tidak tahu kalau saya seorang jaksa. Ah, jangan tertawa, Anda dengar pernyataan pengacaranya OK Caligula? Masak sih pengacara berbohong? Saya kenal Bu Acin. Saya kira selama ini dia tahu kalau saya seorang jaksa. Ternyata? Tidak! Entahlah, dia tahunya saya sebagai apa sebenarnya. Ternyata menjadi jaksa sama sekali tidak menopang profesi saya sebagai pedagang permata. Bu Acin mau meminjami saya Rp35 miliar dan belakangan Rp6 miliar tanpa memandang apakah saya sebagai jaksa atau bukan. Ini bisnis murni. Bisnis permata. Jadi, buat apa saya bertahan jadi jaksa? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saya kapok jadi jaksa. Soalnya sekarang ada KPK, Komisi Pemberangus Koruptor. Saya jadi tidak leluasa berdagang permata, karena saya jaksa. Ada orang yang beli permata dihubung-hubungkan dengan perkara. Saya jual beli permata, dikira jual beli perkara. Ah, KPK itu tahu apa? Apa mereka iri mau dagang permata juga? Kalau memang mau, bilang saja, saya kan bisa ajak mereka kerja sama. KPK pasti punya data siapa saja koruptor yang punya duit banyak. Nah, supaya duitnya selamat, cuci saja dengan permata. Maksudnya dibelikan permata, dijual lagi, beli lagi, jual lagi. Nah, uang hasil korupsi jadi bersih, tidak berbau lagi. Kinclong seperti permata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sebagai jaksa saya dibilang terlalu ringan menuntut pejabat koruptor. Saya juga dituding yang bukan-bukan karena menuntut hukuman mati kepada tukang bom Amrocker dan Ombak Samudera. Tuntutan itu lagi-lagi dihubung-hubungkan dengan side job saya sebagai pedagang permata. Kata orang, saya lembut kepada pejabat koruptor karena mereka berjanji akan membeli permata saya, sebaliknya saya keras kepada tukang bom karena mereka kere, tongpes, dibiarkan hidup pun tak akan pernah membeli permata dagangan saya. Susah. Susah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Jadi, kalau perkara saya dengan Bu Acin beres, maka saya bersumpah akan berhenti jadi jaksa dan saya akan total sepenuhnya menjadi penjual permata. Kalau Anda butuh permata silakan hubungi saya. Permisi, sampaikan maaf saya kepada Jaksa Agung Hendardji Suparman. Kalau beliau mau beli permata, hubungi saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Nanti, dengan modal pinjaman dari Bu Acin, saya mau bikin toko permata. Namanya BLBI - Berlian Lebih Berkilau dan Indah. Ya, mirip-mirip BLBI itu sih. Supaya orang tahu saja, bahwa toko permata itu milik saya, mantan Jaksa yang pernah menangani kasus BLBI. Oh ya, saya juga akan mengumpulkan para pencinta permata dan mengumumkan sebuah komunitas bernama KPK, Kelompok Pencinta Keindahan. ***&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2190196550600179053-2209060699144735257?l=hasanaspahani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/feeds/2209060699144735257/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2190196550600179053&amp;postID=2209060699144735257' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/2209060699144735257'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2190196550600179053/posts/default/2209060699144735257'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanaspahani.blogspot.com/2008/03/dagang-perkara-eh-permata.html' title='Dagang Perkara eh Permata'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2190196550600179053.post-2324458671395517304</id><published>2008-03-04T19:30:00.005+08:00</published><updated>2008-04-19T23:16:45.065+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kolom'/><title type='text'>Bersama Gibran ke Batuaji</title><content type='html'>ADALAH baik memberi ketika diminta, tapi lebih baik memberi dengan kesadaran, tanpa diminta  - Khalil Gibran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; JUMAT pekan lalu, kami berangkat ke sebuah perumahan sederhana di Batuaji. Di salah satu  rumah di perumahan itu terbaring Mariani, ibu muda beranak tiga. Sudah lebih dari setahun ia hanya bisa berbaring tak sadar.  Tanda-tanda yang menunjukkan bahwa dia masih hidup hanyalah nafasnya. Kami mengantarkan uang bantuan yang terkumpul dari pembaca Batam Pos. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Dia baru dimandikan," kata Marzini ibunya. Mariani yang kurus sekali, baru berganti baju. Selang kekuning-kuningan terpasang di hidungnya. Lewat selang itulah dia mendapatkan cairan pengganti makanan. Selang itu - bersama selang kateter - harus diganti tiap hari Rabu.  Itulah yang menjadi beban Marzini. Tiap minggu dia harus membawa anaknya itu ke rumah sakit, membayar uang transport, biaya dokter dan membeli selang. Sekarang, katanya, mengurus surat miskin repot. Harus minta tanda tangan  lurah dan RT. Dia tak punya banyak waktu luang, karena sendiri mengurus Mariani dan tiga cucunya. Lelaki ayah dari cucu-cucunya itu, sudah pergi sejak Mariani masih terbaring di rumah sakit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saya sempat menggendong si bungsu,  anak yang dilahirkan Mariani dan karena kelahirannya itu kini ia terbaring.  Ah, tentu tidak bisa kita menyalahkan anak itu.  Saya sempat memperhatikan si sulung, anak lelaki yang menemani kami dengan pensil dan buku. Ia belajar menulis huruf, angka dan huruf Arab. Ia belum masuk SD. "Tahun ini," kata Neneknya. Ada kepala sekolah di sana yang sudah menawarkan bantuan, agar si sulung bisa belajar di sana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Si Sulung bercerita, sesekali ia dijemput orang untuk bertemu dengan ayahnya. "Tapi, ayah pesan, bilang sama nenek, kami tak jumpa," kata bocah itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Begitulah, percuma juga dicari. Ketemu dia lari, sembunyi," kata Marzini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Mariani seperti mendengarkan percakapan kami. Sesekali ia tampak menggerakkan tangan dan mulutnya. Hanya itu. Ia dibaringkan di katil di ruang tamu. Tak ada kursi, tak ada meja tamu, kecuali  meja - sepert
